
Xavier mencuci tangannya pada westafel putih yang ada di suatu ruangan di rumah sakit. Air jernih terkadang berubah warna menjadi bersemu kemerahan. Xavier lalu melihat ke arah kaca yang ada di depannya. Wajahnya datar tanpa ada ekspresi apa pun.
Sama seperti perasaannya sekarang. Terasa kosong dan juga dingin. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang. Melihat ayahnya meregang nyawa di depannya dan juga karena ulahnya sendiri. Dia kira dia akan puas tapi ternyata dia tak merasakan sedikit pun perasaan itu.
Xavier melihat ke arah ranjang rumah sakit. Tubuh ayahnya sudah tertutup oleh kain putih. Tak lagi bergerak sama sekali. Xavier menarik napasnya. Ini bukan pertama kali dia berurusan dengan mayat atau penembakan di depan matanya yang sampai merenggut nyawa. Tapi baru kali ini dia sekosong ini.
Pintu ruangan itu terbuka tiba-tiba. Memunculkan sosok Stevan yang langsung menatap ke arah Xavier yang mengalihkan padang ke arahnya. Wajah Stevan tampak simpati. Dia juga melihat ke arah tubuh kaku tertutup kain putih yang sedikit ternoda darah di bagian dadanya.
“Aku tidak tahu harus mengatakan berbela sungkawa atau bagaimana?” tanya Stevan sambil menggaruk ujung alisnya yang sama sekali tak gatal.
“Tak perlu,” ujar Xavier mengelap tangannya yang basah dengan tisu yang ada di sana. Matanya kembali melihat ke arah mayat ayahnya.
“Aku tahu kau juga tidak ingat apa yang sudah dilakukan oleh Ayahmu pada dirimu dan Graciella. Jadi bagaimana bisa kau melakukan ini pada ayahmu sendiri? Apakah kau sudah mati rasa?” ujar Stevan yang tak habis pikir. Dia memang tak menyukai David Qing, kelakuannya yang sudah membuat Graciella dan Moira menderita sangat tidak bisa dimaafkan olehnya. Jika tadi ada orang lain yang melakukan ini pada David Qing, dia pasti akan sangat senang bahkan akan mengucapkan terima kasih. Tapi jika Xavier yang melakukan hal ini pada ayahnya sendiri. Stevan sedikit takut melihat apa yang bisa Xavier lakukan pada Robert nantinya.
Xavier sejenak diam, dia lalu melirik ke arah Stevan dengan wajahnya yang datar dan tatapan yang tajam. Melihat itu Stevan sedikit ciut nyalinya, baginya Xavier sekarang bagaikan seorang psikopat.
“Aku memang tak ingat, tapi aku tahu rasanya seorang ayah yang dipisahkan dari putrinya. Dia juga harus merasakan bagaimana rasa sakitnya diakhir hidupnya bahwa nyawanya terenggut oleh tangan anaknya sendiri.”
“Baiklah, aku mengerti,” ujar Stevan yang tidak lagi bisa mengatakan apa pun. Jujur, sekarang dia takut melihat Xavier yang begini. Singa yang tertidur ternyata jika dibangunkan akan begitu menakutkan.
Suara riuh tiba-tiba terdengar dari luar ruangan. Xavier dan Stevan teralih olehnya dan segera melihat ke arah pintu ruangan berkaca buram itu. Stevan menarik napasnya melihat ke arah Xavier.
“Aku rasa, ibu dan nenekmu sudah datang,” ujar Stevan. Tidak tahu bagaimana Xavier akan bertindak menghadapi kedua wanita itu.
Xavier hanya diam memandang dengan seksama pintu itu, menunggu dua orang wanita yang sebentar lagi akan memecah kesunyian dari tempat itu.
Pintu itu akhirnya terbuka, dan benar apa yang ada di dalam pikiran Stevan dan juga Xavier. Monica dan juga Liliana langsung menghambur masuk memeluk tubuh kaku David Qing yang terbaring di ranjang rumah sakit itu. Tangis mereka pecah dan juga raungan yang menyayat hati langsung terdengar memenuhi ruangan itu. Xavier hanya diam, Stevan melirik pria itu, menebak bagaimana perasaannya sekarang. Dia yang sudah merenggut nyawa ayahnya sendiri dan juga membuat ibunya kehilangan suami dan juga menjadi seorang janda.
“David? Apa yang terjadi padamu? Bagaimana ini bisa terjadi?” raung Monica melihat wajah suaminya yang sudah pucat tak lagi bersinar. Tubuhnya sudah mulai kaku.
“Anakku! Bagaimana bisa begini!” teriak Liliana yang terdengar menyayat hati siapa pun. Tak akan ada yang menyangka, anaknya akan mendahuluinya.
Stevan kembali melirik Xavier. Pria itu bergeming melihat keluarganya menangis. Tapi dia bisa melihat pula, tangannya mengepal dengan sangat erat. Bagaimana pun, dia juga seorang anak, sekejam apa pun, pria itu pernah menggendongnya dengan sepenuh hati.
“Xavier? Bagaimana ayahmu bisa begitu? Bagaimana kau izinkan dia seperti itu?” ujar Monica yang tampak sangat terpukul dengan kejadian ini. Dia menarik jas milik Xavier, mengguncang tubuh anaknya yang terkaku karena kelakuan ibunya.
Beberapa jam yang lalu pria itu masih ada di sisinya. Walaupun sifatnya keras dan juga terkadang begitu ambisius. Pria itu sudah menemani hidupnya selama belasan tahun ini. Monica langsung terkulai lemas yang langsung di tahan oleh Xavier, Xavier langsung menggendong tubuh ibunya yang sudah lunglai karena tidak bisa menerima keadaan ini. Xavier hanya menarik napasnya. Ingin berucap tapi kelu rasanya. “Xavier, berjanjilah padaku, kau harus menemukan pembunuh ayahmu,” pinta Monica dengan meracau lagi sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri.
“Aku pasti akan menemukannya, Bu,” ujar Xavier yang melangkah melewati Stevan yang hanya bertampang miris. Bagaimana jika mereka tahu, Xavier juga membiarkan ayahnya mati seperti ini.
Susana ruangan serba guna di rumah sakit itu riuh dipenuhi oleh para wartawan yang sudah menunggu kedatangan Stevan dan juga Xavier dari tadi. Mereka sudah siap dengan segudang pertanyaan dan juga kameranya. Semua terpusat pada kematian mantan perdana menteri yang tewas begitu saja diterjang peluru dari seorang pembunuh bayaran. Sebuah kabar yang pastinya sangat menghebohkan negara ini.
Suara dan Blitz lampu kamera langsung memenuhi ruangan itu ketika Stevan dan Xavier akhirnya muncul di sana. Xavier harus membawa ibu dan juga neneknya yang lemas melihat keadaan terakhir dari ayahnya ke ruang perawatan, karena itu mereka cukup lama datang ke tempat ini.
“Kami di sini. Saya Jenderal kepolisian Stevan akan mewakili keluarga yang berduka dengan ini menyatakan bahwa benar kabar kematian dari mantan perdana menteri David Qing pada pukul 20.13 di restoran Teratai Putih, malam ini.” Stevan memulai membuka konferensi pers itu. Semua orang terdiam menyimak apa yang dikatakan oleh Stevan.
“Jenderal Xavier! Kami turut berduka cita dengan kematian ayah Anda, lalu bagaimana ini bisa terjadi?” ujar seorang wartawan yang langsung mendapatkan giliran begitu Xavier dan juga Stevan masuk.
“Aku akan menjelaskan kronologinya, pastinya Jenderal Xavier masih terpukul melihat kematian ayahnya sendiri di depan matanya. Tuan David Qing meninggal terkana peluru dari seorang sniper saat beliau melakukan pertemuan dengan Tuan Peter bersama dengan Jenderal Xavier juga. Sebenarnya mereka mengincar Tuan David dan juga Jenderal Xavier, tapi naas, Tuan David Qing yang menjadi korbannya,” ujar Stevan yang mengambil alih konferensi pers.
“Lalu, siapakah dalang dari penembakan ini?” tanya wartawan yang lain.
“Ya, di sini juga kami ingin memberitahukan bahwa kami sudah menangkap dua orang yang berperan sebagai pembunuh bayaran itu dan mereka sudah memberikan kami satu nama yang menjadi dalang utama dari pembunuhan ini,” ujar Stevan langsung menjawab.
“Apakah benar seperti yang banyak dibicarakan oleh orang-orang bahwa dalangnya adalah Tuan Robert Kim yang merupakan kakek dari mantan istri Jenderal Xavier?”
Suasana senyap sejenak. Stevan melirik ke arah Xavier dengan tarikan napas yang panjang. Seharusnya dia tidak boleh langsung mengatakan tersangkanya sekarang.
“Benar! Dia adalah Robert Kim, karena itu aku juga akan melakukan pengumuman untuk membatalkan pengunduran diriku dari militer dan akan ikut dalam tim untuk menginvestigasi kematian ayahku juga akan menahan Robert Kim segera!” ujar Xavier langsung mengambil alih. Semua orang bisa melihat kobaran api kebencian yang tampak di wajah Xavier yang membuat mereka juga merasa marah pada Robert Kim.
“Tuan Robert Kim sekarang dalam masa pencarian karena beliau melarikan diri sebelum kami bisa bertindak. Karena itu kami meminta pada masyarakat untuk berperan aktif jika menemui orang dengan perawakan dan wajah seperti di gambar ini, segera laporkan pada kami,” ujar Stevan lagi memampangkan wajah Robert Kim. Semua orang langsung fokus ke arah foto itu. “Baiklah, hanya itu yang bisa kami sampaikan sekarang. Kami undur diri dulu,” ujar Stevan yang merasa hal ini sudah cukup untuk pemberitahuan kepada publik. Xavier dan Stevan segera pergi dari sana.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Stevan mengikuti langkah Xavier yang menurutnya sangat cepat, dia bahkan kesusahan untuk mengikutinya.
“Berhadapan dengan Robert Kim. Kita harus cepat sebelum dia memakai Moira sebagai sanderanya lagi,” ujar Xavier melirik Stevan.
Stevan mendengar itu langsung berhenti melangkah, “Moira masih hidup?” tanya Stevan dengan secercah harapan yang timbul kembali di matanya. Xavier hanya mengangguk pelan.
“Kau ingat tugasmu. Graciella, itu adalah prioritas utamamu. Jika aku sudah tahu di mana Moira, apapun yang terjadi padaku, selamatkan dia,” ujar Xavier yang tak tahu akan bagaimana jadinya nanti. Dia harus memikirkan semua hal yang paling buruk yang bisa terjadi.
“Aku mengerti. Tapi sebisa mungkin kembalilah, bagaimana pun mereka membutuhkanmu,” ujar Stevan. Sudah empat tahun mencoba menggantikan Xavier dan dia gagal, bagaimana lagi dia bisa menggantikan sosok ayah dari anaknya?
Xavier hanya mengangguk pelan. Dia langsung memegang alat komunikasinya. "Laporkan lokasinya padaku secepatnya. Siapkan semua keperluan. Kemana pun dia pergi! kita harus siap untuk penyergapan!" ujar Xavier pada tim yang memang sudah dia perintahkan untuk mengikuti Robert Kim bahkan sebelum dia melakukan eksekusi pada ayahnya. Jadi kemanapun Robert Kim pergi, Xavier akan bisa langsung menangkapnya. Dia hanya menunggu, apakah ada kemungkinan Robert Kim membawanya kepada anaknya. Itu sekarang adalah tugas utamanya!
...****************...