Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 98


Xavier langsung turun dari mobilnya saat mobil itu sudah terparkir sempurna di halaman rumah Jenderal Marco. Xavier tak lupa mengirim sebuah pesan ke ponsel Graciella yang menyatakan dia sudah sampai, di liriknya sekilas tanda terkirim dari pesan itu sebelum dia masuk ke dalam rumah yang dibukakan oleh salah satu penjaga yang sebelumnya memberikan hormat pada Xavier. Dia juga melihat tak ada notifikasi dari Fredy, semuanya seperti berjalan baik-baik saja.


 


 


"Lapor, Jenderal Marco menunggu Anda di ruangan kerja beliau!" ujar ajudan Jenderal Marco dengan hormat juga suara ala militernya. Xavier segera mengangguk dan berjalan ke arah ruang kerja Jenderal Marco. Ini bukan kali pertama dia datang ke rumah Jenderal Marco. Jadi dia tahu di mana ruangan kerja Jenderal Marco.


 


 


Ajudan Jenderal Marco langsung membukakan pintu untuk Xavier. Xavier langsung masuk. Tapi seketika saja dia langsung diserang dari belakang oleh tiga orang pasukan khusus yang diperintahkan oleh Jenderal Marco untuk melumpuhkan Xavier.


 


 


Kedua tangan Xavier langsung di tarik ke belakang. Masing-masing dari mereka memegang tangan Xavier. Salah satunya dari mereka menendang bagian belakang dari lutut Xavier hingga Xavier dipaksa berlutut.


 


 


Xavier yang terkejut dan juga dalam keadaan belum siap apalagi tubuhnya yang masih terluka bisa ditaklukkan dengan cepat. Sekarang mereka sudah mengunci semua gerakan Xavier yang langsung berwajah kesal dan marah.


 


 


Xavier mendongak melihat seseorang dengan setelan jas abu-abu gelapnya datang dengan santai bersama Jenderal Marco. Tentu dia sudah tahu itu siapa.


 


 


"Aku rasa penyergapan ini terlalu berlebihan, Marco," ujar David Qing melihat anaknya yang menatap sangat kesal padanya. Seolah dari tatapannya Xavier ingin sekali membunuhnya, sejujurnya, memang itulah yang terlintas sekarang dalam pikiran Xavier. Dia tak tahu otak dan hati ayahnya terbuat dari apa? Bagaimana bisa dia melakukan hal ini pada anaknya sendiri.


 


 


"Maafkan aku Xavier. Aku tidak bisa menolak keinginan ayahmu," ujar Jenderal Marco yang memang punya hubungan dengan David Qing. Xavier tahu itu tapi dia tak menyangka Jenderal Marco akan bekerja sama dengan orang tuanya dengan cara begini, padahal selama ini Xavier begitu menghormati sosok Jenderal Marco yang selalu menjadi panutannya. Karena itu dia begitu percaya dengan Jenderal Marco, dia benar-benar tak menyangka dia akan dikhianati seperti ini.


 


 


Xavier menatap sangat tajam pada ayahnya. Dia menggertakkan gigi-giginya membuat wajahnya semakin tegas. Dia berusaha berontak dari kuncian anggotanya sendiri. Tapi kekuatannya tak setara dengan dua orang yang sekarang menahannya. Apalagi salah satu dari mereka mengacung pistol ke arah kepalanya.


 


 


Xavier sama sekali tak gentar. Dia tak takut dengan keadaan ini. Dia hanya merasa begitu kesal dengan semuanya. Bagaimana bisa mereka bekerja sama seperti ini! Pengkhianat! dia akui dia terlalu percaya dengan orang-orangnya sendiri. Selama ini berjuang bersama, ternyata malah berani menusuknya dari belakang.


 


 


"Apa maumu!" tanya Xavier dengan nada yang mengeram. Jikalau saja dia bisa melepaskan diri dari kuncian mereka. Dia pasti tak segan-segan menghajar ayahnya sendiri. Xavier sekali lagi sekuat tenaganya mencoba melepaskan diri, berontak dari pitingan mereka, tapi keadaan dirinya sendiri tak mendukung. Sial sekali! kenapa dia harus begitu lemah sekarang!


 


 


David Qing menaikkan satu sudut bibirnya dengan mata yang sedikit dipicingkan. Senyuman itu membuat wajahnya begitu licik. Dia segera berjalan ke arah Xavier yang menantangnya dengan tatapannya. David Qing lalu berjongkok di depan anaknya yang benar-benar ingin membunuhnya sekarang, begitu emosi hingga tak lagi berpikir pria di depannya dengan senyum remeh ini adalah ayah kandungnya sendiri.


 


 


 


 


"Kau tak akan membungkamku dan aku tidak akan mengikuti apa maumu! selama aku masih bisa bernapas, aku tak akan akan melakukannya!" geram Xavier. Dia mendorong tubuhnya agar bisa menggapai David Qing yang persis ada di depannya. Sial sekali! Lagi-lagi harus tertahan oleh orang-orang yang mengunci pergerakannya.


 


 


"Tenang saja, aku yakin kau akan mengikuti apa mauku. Jika tidak wanita dan anak harammu itu, akan merasakan akibatnya," ujar David Qing sambil tertawa kecil tapi dengan nada sarkasnya.


 


 


Xavier membesarkan matanya. "Jangan coba-coba! aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuh mereka!" Xavier kembali mendorong tubuhnya ingin menyerang David Qing. Mungkin karena emosi dan amarahnya yang sudah sangat membara, apalagi mendengar ancaman dari David Qing tentang Graciella dan Moira, Xavier menjadi punya kekuatan lebih. Sesaat dia hampir melepaskan dirinya dari kuncian itu.


 


 


Tentu hal itu membuat David Qing kaget hingga dia terjatuh ke belakang. Tak menyangka kekuatan anaknya begitu besar. Walaupun terluka, dia masih bisa membuat dua orang tentara khusus yang menahannya kewalahan.


 


 


"Bius dia!" desis David Qing langsung, tak ingin Xavier sampai lepas dan menyerang dirinya.


 


 


Tentara khusus yang menahan Xavier langsung mengubah posisi mereka. Satu orang yang tadinya memegang pistol langsung melingkarkan tangannya ke leher Xavier dan menahan leher Xavier. Tentara yang tadinya memegang tangan kiri Xavier ke belakang langsung menguruskan tangan Xavier dan membuka lengan baju Xavier hingga ke atas untuk memperlihatkan lipatan siku Xavier.


 


 


Begitu posisinya siap, seorang dokter membawakan suntikan berisi obat bius. Dengan cepat langsung membersihkan area lengan Xavier yang sebisa mungkin berontak agar dokter itu kesusahan untuk menyuntikkannya. Tapi sayang sekali, semakin Xavier berontak, semakin banyak yang mencoba menahannya. Sekarang, ajudan dari Jenderal Marco juga menahan Xavier.


 


 


Xavier melirik mereka dengan tatapan begitu marah dan mata yang memerah. Mereka hanya menundukkan pandangan. Tahu apa yang mereka buat salah, hanya saja tak berani melawan pemerintah jenderal mereka.


 


 


Obat itu langsung dimasukkan ke dalam arteri brachialis milik Xavier. Tak perlu waktu lama hingga Xavier merasakan efeknya. Dia mulai merasa tubuhnya begitu berat dan seberapa pun dia berusaha untuk tetap sadar. Pandangannya menjadi gelap perlahan dan seketika tubuhnya yang tadinya penuh tenaga melawan, sekarang lemas dan hilang kesadaran.


 


 


David Qing hanya memperhatikan hal itu, menikmati tatapan sinis terakhir anaknya sebelum Xavier pingsan. Jenderal Marco lebih memilih tak melihat proses itu, dia sejujurnya tak ingin melakukan hal ini, tapi semua balik ke kekuasaan. Ada hal yang harus dia jaga, jika tidak melakukan hal ini, maka dia sendiri yang akan hancur dibuat oleh David Qing. Orang paling licik yang pernah dia tahu.


 


 


"Bawa dia ke ruangan bawah tanah rumah ku!" perintah David Qing pada tentara yang memegangi tubuh lunglai Xavier. Mereka hanya mengangguk dan menyeret tubuh Xavier yang lemas.