
Graciella segera ingin turun dari mobil yang dikemudikan oleh Serin. Mereka baru saja sampai di parkiran cafe itu. Juga langsung menuju ke arah mobilnya. Saat dia sedang mencari kunci di tas kecilnya. Dia kaget melihat siapa yang berdiri di samping mobilnya dengan wajah yang ketat.
"Stevan?" Tanya Graciella, untuk apa pria ini ada di sini?
"Ke mana kau tadi malam? Kenapa nomormu sama sekali tidak aktif dan tidak bisa dilacak?" Ujar Stevan seolah mengintrogasi Graciella.
Graciella mengerutkan dahinya, sejak kapan dia harus memberitahukan keberadaannya dengan Stevan. Pria yang biasanya penuh dengan senyuman itu sekarang begitu tampak kesal karena kelakuan Graciella. Tentu bagi Graciella itu sangat berlebihan.
"Sejak kapan aku harus melapor padamu? Dan sejak kapan kau mulai melacak berdasarkan nomor ponselku? Apakah kau sudah meminta izin padaku?" Tanya Graciella. Rasa kesalnya tiba-tiba saja muncul. Bagaimana bisa mereka semua mengikuti Graciella. Di mana privasi hidupnya.
"Graciella, kau kira semua ini hanya main-main. Kau tidak tahu seberapa berbahayanya keadaanmu jika kau ada di negara ini!" Ujar Stevan yang tampak marah pada Graciella. Dia begitu khawatir mendapatkan laporan bahwa anak buahnya kehilangan jejak Graciella setelah masuk ke dalam cafe ini. Dalam benaknya mungkin saja David Qing sudah menemukan dia dan akhirmya menuntaskan pekerjaannya yang tak berhasil empat tahun yang lalu.
"Apa maksudmu aku dalam bahaya? Apa sebenarnya yang kalian tahu sedangkan aku tidak tahu? Ada apa sebenarnya?" Tanya Graciella sedikit kesal. Serasa benar-benar tak tahu apa-apa dan bodoh karena selama ini berpikir hidupnya sudah bebas dan aman.
Stevan terdiam. Dia terlalu khawatir hingga tak sengaja mengatakan hal itu. Sekarang Graciella pasti bertanya-tanya dengan keadaannya.
"Ini, di kota ini lebih berbahaya dari pada di Amerika. Jadi aku harus ekstra menjagamu. Di sini banyak wanita yang menghilang saat keluar malam hari, jadi ya aku …." Ujar Stevan mencoba mengarang bebas.
"Aku tahu bahwa banyak anak buahmu yang mengikutiku! Itu sangat tak nyaman, itu melewati batas privasi ku. Stevan! Jika malam ini aku masih melihat bawahanmu aku tidak akan lagi mau berbicara denganmu," ujar Graciella. Dia ingat Xavier meminta bawahan dari Stevan untuk mundur. Lagipula, diikuti begitu banyak orang, sangat tak nyaman.
"Tapi Nona Gracilella!" Ujar Stevan lagi. Ah! Karena salah bicara, hasilnya begini.
"Jenderal Stevan, aku berterimakasih jika kau ingin menjagaku, tapi aku juga butuh kebebasan, ini seperti semuanya di awasi oleh mu. Masalahnya adalah aku tak nyaman. Aku mohon boleh minta bawahanmu untuk mundur?" Ujar Graciella, dengan cara tegas mungkin tak bisa, dengan cara halus mungkin Stevan akan mengerti.
"Baiklah," ujar Stevan dengan suara rendah.
"Terima kasih Jenderal Stevan. Aku sedang buru-buru karena terlambat pekerjaanku. Tolong jangan ikuti aku lagi ya, aku pergi dulu," ujar Graciella. Dia segera masuk ke dalam mobilnya.
Graciella membuka jendela mobilnya dan melempar senyum saat melihat Stevan yang masih berwajah enggan. Graciella melajukan mobilnya dan melihat sekilas pria itu melambaikan tangan padanya. Graciella menarik napasnya panjang. Sekarang siapkah dia mengetahui semuanya?
*****
Graciella menggenggam tangannya sendiri. Meremasnya dengan sedikit erat. Dia tampak gugup menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut dokter yang berada di depannya. Dokter yang sama yang menjaganya setelah dia ditemukan akibat gagal bunuh diri.
"Nona Graciella, sebenarnya Anda mengalami amnesia disosiatif, saya tak perlu menjelaskan apa itu amnesia disosiatif bukan mengingat Anda adalah seorang dokter sebelumnya," ujar dokter itu pada Graciella.
Graciella memang hanya ingin tahu kenapa dia bisa melupakan Xavier. Dia ingin tahu pasti apa yang terjadi sebelum dia mengulik ingatannya.
Graciella tampak memasang wajah kagetnya. Dia tahu apa itu Amnesia Disosiatif, sebuah amnesia yang sanga jarang, bukan karena benturan ataupun penyakit. Tapi amnesia ini adalah pertahanan tubuhnya sendiri menghadapi ingatan atau sebuah kejadian yang sangat traumatis hingga otak yang sangat hebat itu menghapus memori spesifik menyangkut peristiwa itu dan pada kasus Graciella, dia melupakan Xavier, dan sudah pasti Xavier adalah salah satu bagian dari peristiwa itu. Graciella menggenggam tangannya erat. Sialnya dia benar-benar tak bisa mengingat apa pun bahkan sekelebat pun tidak.
"Nona Graciella, Anda sudah tahu bukan bahwa Amnesia Disosiatif sangatlah langka dan jarang terjadi kecuali ingatan itu sangat melukai Anda hingga ke dalam, jadi menurut saya, bukannya lebih baik Anda tak mencoba mengingatnya?" Saran dokter itu pada Graciella.
Graciella yang dari tadi tertunduk memikirkan bagaimana dia harus bertindak, apakah dia harus menyelidiki semuanya atau harus menerima saja? akhirnya Graciella menaikkan kepalanya.
"Tenang saja dokter, saya tahu harus bertindak apa,". Ujar Graciella berdiri dari duduknya. Dokter itu hanya menatap Graciella dengan cemas tapi dia tidak bisa melarang apa pun yang ingin dilakukan oleh Gracilella. Bagaimana pun itu adalah haknya.
"Gracie!" Ujar Daren yang merasa dia pasti sudah sangat terlambat. Wajah Graciella benar-benar.tampak syok.
Graciella menaikkan pandangannya menatap wajah Daren yang tampak bingung harus apa. Apakah Graciella sudah ingat! Apa dia harus mengatakannya pada Laura dan Stevan? Daren jadi benar-benar bingung.
"Jangan berwajah seperti itu, aku datang ke sini hanya bertanya apa yang terjadi padaku, dan dokter mengatakan bahwa aku terkena Amnesia Disosiatif. Aku yakin kalian bertiga tahu tentang keadaanku ini bukan?" Ujar Graciella dengan paksaan senyumannya.
Daren melihat itu tak mampu berkata-kata karena itu dia hanya mengangguk pelan.
"Jadi apa kau akan mencoba mencari tentang masa lalumu?" Tanya Daren, hal yang paling dia takuti. Dia takut Greciella yang penuh percaya diri sekarang akan berubah kembali menjadi Graciella yang murung dan penuh dengan kesedihan.
Graciella tersenyum kecil lalu dia menggelengkan kepalanya. "Aku rasa aku tidak akan mencoba untuk mengetahui ada apa dibalik ingatanku yang hilang, aku melupakannya juga ada maksudnya. Jadi aku rasa aku akan membiarkannya saja begini, walau penasaran, aku yakin ingatan itu akan menyakitiku, jadi lebih baik aku begini bukan?" Kata Graciella sudah memutuskan.
Daren mendengar itu akhirnya bisa menarik napas leganya. 5 Tahun menempa wanita ini agar menjadi lebih baik, dia kira akan sia-sia. Untung saja Graciella memutuskan begitu.
"Tapi kakak jahat juga!' ujar Graciella lagi.
"Kenapa? Kenapa malah aku yang jahat?" Tanya Daren dengan muka bingung.
"Kenapa saat aku bertanya tentang Xavier, Kakak malah tak mengatakan apa-apa, kenapa tak mengatakan bahwa pria itu mungkin akan berbahaya padaku sehingga bisa menjauhinya!"
"Aku, aku awalnya ingin melarangmu tapi, kau sangat semangat berbicara tentang dia, kau sangat ceria, dan aku belum bisa menemukan orang yang membuatmu begitu ceria. Karena itu aku tak tega melarangmu," ujar Daren dengan alasannya.
Graciella terdiam. Ya! Dia akui dia tertarik dengan pria itu, bukan hanya tertarik dia menyukai bahkan mungkin mencintai pria itu. Jika tidak dia tak mungkin begitu mudah di dekati olehnya. Terbukti berapa banyak pria yang dia tolak dulu, bahkan usahanya jauh dari Xavier tapi pria itu hanya dengan tatapannya saja sudah menghanyutkan dunia Graciella.
Tapi sekarang Graciella tahu apa yang terjadi. Bahkan tubuhnya sendiri dan otaknya menghapus pria itu dalam ingatannya, sudah pasti pria itu tak baik baginya. Jika dia baik atau bagaimana lah, pastilah tubuhnya tak akan membuat mekanisme rumit itu.
"Tenang saja kakak, aku tidak akan lagi berhubungan dengannya," ujar Graciella tegas.
"Ha? Kau yakin?" Daren kaget mendengarnya.
"Ya, sesuatu yang sudah susah payah dilupakan. Untuk apa coba-coba diingat kembali. Hidupku sebelum mengenal dia sudah sangat baik, kenapa harus diperburuk lagi bukan?" Graciella menyunggingkan senyum manisnya. Sayangnya, Daren malah menangkap kemirisan dari senyuman itu. Tapi dia tak bisa berkata apa-apa.
"Aku hanya akan mengikuti semua keputusanmu," ujar Daren.
Graciella hanya mengangguk dan segera berjalan. "Ayo pulang ke kantor, aku sudah tak sabar untuk bekerja!"
Mungkin dengan bekerja, sekali lagi dia akan melupakan pria itu selamanya.
...****************...
Halo kak, ini file mentahan, dan aku ga edit sama sekali, jadi pasti banyak typo.
maaf bukan males atau gimana, aku lagi di luar kota dan susah buat nulis untuk sementara. aku up aja, besok aku benerin ya. matanya kiyep2 ini wkkwk