
"Kenapa aku tidak boleh tersenyum? "Tanya Graciella seperti tidak pernah melakukan kesalahan. Dan memang Graciella merasa seperti itu. Dia tak salah bukan? dia hanya mencoba ramah.
Xavier mengerutkan dahinya, tapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Bahkan hingga mereka sampai di depan pintu mobil yang terparkir sempurna di depan kantor polisi itu. Xavier tetap tak mengatakan apapun.
Graciella hanya memasang wajah bertanyanya. Xavier membantu Graciella untuk bangkit dari kursi roda. Greciella tanpa sengaja melihat ke arah kantor polisi. Tak jauh dari mereka Daren nyatanya masih memandnag ke arah Graciella dan Xavier. Melihat Graciella memandang ke arahnya, Daren melambaikan tangan tanda perpisahan.
Graciella hanya mengerutkan dahinya. Namun tiba-tiba pandangannya tertutupi oleh Xavier yang langsung berdiri menghalangi pandangan Graciella terhadap Daren. Graciella langsung melihat ke arah Xavier yang tampak berwajah menahan marah. Masam sekali.
"Naiklah," perintah Xavier yang berusaha untuk tetap berbicara dengan nada baik pada Graciella. Namun tetap saja terdengar dingin.
"Baik," ujar Graciella yang mau tak mau patuh saja pada perintah Xavier. Graciella langsung naik dibantu oleh Xavier. Xavier dengan cepat menutup pintu mobil. Saat dia melihat ke arah Daren, pria itu hanya melontarkan senyuman penuh percaya dirinya. Xavier memainkan rahangnya tapi pandangannya begitu tajam dan dia segera masuk dari pintu sisi lain mobilnya.
Mobil mereka langsung berjalan meninggalkan tempat itu. Graciella melirik ke arah pria yang sekarang duduk di sampingnya dengan sikap sempurna. Tegap sekali dan tatapannya tampak begitu serius. Tangan yang diletakkannya di atas pahanya tampak mengepal. Sepertinya dia sedang mengatur atau meredam emosinya.
"Dimana Stevan?" Suara itu datar sekali.
"Ada di kantor itu. Tapi dia sedang rapat, jadi aku putuskan untuk menunggu di sana," ujar Graciella.
"Lalu kenapa kalian tiba-tiba pergi?"
"Stevan memiliki sebuah kasus. Jadi aku dan dia sedikit berdikusi tentang hal itu. Tiba-tiba saja dia bisa memecahkan kasusnya dan membawaku ke kantor itu karena dia mengatakan kau memintanya menjagaku dan dia tak mau meninggalkan aku sendirian di rumah," jawab Graciella menjelaskan semuanya.
"Lalu pria itu?" Xavier akhirnya melirik ke arah Graciella.
"Daren?" tanya Graciella memastikan. Xavier mengangguk, "Aku tak kenal dia. Dia tiba-tiba saja ada di sana dan mengatakan dia kagum karena analisaku dan mengajakku bekerja untuknya. Itu saja."
Xavier mendengarnya kembali mengepalkan tangannya. Rasanya aneh sekali. Benar-benar membuatnya panas dan terbakar dari dalam. Xavier belum pernah merasakan emosinya yang begitu berkobar hanya karena seorang wanita.
Xavier benar-benar mencoba untuk mengontrol dirinya. Berulang kali dia menghela napasnya dalam. Graciella hanya memperhatikan hal itu.
Bagi Graciella, dia tak mengerti kenapa Xavier harus marah padanya. Menurutnya dia sama sekali tidak berbuat salah. Adrean adalah pacar sekaligus cinta pertamanya dan pria itu tak pernah menunjukkan dia cemburu. Setelah pernikahan, Adrean malah semakin cuek dan jika dia ingin marah, dia akan marah dengan apapun yang dilakukan oleh Graciella lakukan. Jadi Graciella tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan pria yang sedang cemburu seperti yang dirasakan oleh Xavier sekarang.
"Kenapa kau ….?" Graciella baru saja ingin bertanya kenapa Xavier marah padanya. Tapi pria itu langsung memotong pembicaraannya.
"Bukannya aku sudah katakan untuk tidak terlalu cepat percaya dengan orang asing?" Xavier tak tahan juga. Dia tak tahu apakah Graciella pura-pura tak tahu bahwa dia sedang terbakar api cemburu atau memang wanita itu tak mengerti apa yang dirasakan oleh Xavier sekarang.
Mendapatkan ledakan emosi tiba-tiba dari Xavier membuat Graciella mengerutkan dahinya. "Aku tidak melakukan apapun, lagi pula aku sudah menolaknya, dia saja yang memaksa seperti itu."
"Lain kali jika ada orang yang asing yang berbicara padamu. Lebih baik diam saja, tak perlu menjawabnya."
"Bukannya akan tidak sopan."
"Graciella! turuti saja perintahku!" kata Xavier yang merasa kenapa Graciella keras kepala sekali. Tak bisakah dia mengatakan 'Ya' atau 'baiklah.'
Graciella mengerutkan dahinya. Dia kan bukan bawahan Xavier yang harus terus mengikuti semua perkataan Xavier lagipula hingga detik ini, dia dan Xavier tak punya hubungan apapun, bukannya yang harusnya bertindak seperti ini adalah Adrean?
Xavier perlahan sadar dengan apa yang dia lakukan. Tiba-tiba saja dia ingat perkataan Stevan tadi malam bahwa Graciella sudah melewati banyak penderitaan saat bersama dengan Adrean dan sekarang Xavier malah marah padanya. Greciella pasti berpikir Xavier punya sifat yang sama dengan Adrean. Tapi menahan rasa emosi saat cemburu benar-benar menyiksa.
"Maaf ...." suara Xavier terdengar dengan nada rendah sedikit bergetar.
Graciella mendengar itu sedikit tersentak kaget. Belum pernah dalam hidupnya seorang pria yang sedang marah meminta maaf padanya. Setidaknya tiga tahun bersama Adrean, pria itu tak pernah melontarkan satu kata maaf pun pada Graciella. Graciella tanpa sadarnya memandang ke arah Xavier. "Hanya saja, aku tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain. Itu sangat menyiksa. Tapi lain kali aku akan berjanji bisa lebih mengontrol diri. Aku tak akan membatasi dirimu. Aku akan percaya padamu tapi aku minta jangan terlalu sering mengujiku seperti tadi."
Graciella jadi terdiam mendengar perkataan dari Xavier. Dia tak pernah mendapatkan kata-kata yang walaupun terdengar datar dan gombal. Tapi itu benar-benar membuat perasaannya menjadi manis. Apalagi Graciella tak pernah menduga kata-kata itu bisa meluncur dari bibir Xavier. Seorang pria yang cukup kaku dan juga dominan. Dia pasti sangat menekan egonya untuk mengatakan hal itu. Sekarang Graciella yang merasa bersalah karena tidak peka atas perasaan Xavier.
"Eh, baiklah," ujar Greciella jadi bingung harus mengatakan apa.
Xavier tersenyum datar. Dia lalu kembali melihat ke arah depan. Graciella menggigit bibirnya. Apa yang harus dia lakukan untuk menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba tercipta.
"Eh? kemana kita akan pergi?" pertanyaan ini yang muncul di otaknya pertama kali.
"Sejenak ke markas militer. Aku masih punya beberapa pekerjaan. Tak banyak, mungkin hanya memakan waktu setengah hingga satu jam. Kau bisa menunggu sebentar." Jawab Xavier kembali dengan nadanya yang datar.
"Kenapa kau bisa mengetahui aku di sana? lalu kenapa kau tiba-tiba datang?"
"Selain Stevan, aku meminta bawahanku untuk menjagamu, begitu tahu dia membawamu keluar, aku langsung pergi untuk mencarimu. Aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu," ujar Xavier yang kembali membuat Graciella terdiam. Heran, kenapa Graciella menjadi susah untuk berbicara ketika berhadapan dengan Xavier?
Mobil mereka yang melaju cukup cepat akhirnya sampai di depan markas militer. Mobil itu berhenti sejenak untuk pemeriksaan masuk. Tapi di depan mereka sebuah mobil sedan hitam juga sedang di periksa.
"Ada apa?" tanya Xavier yang merasa pemeriksaan di depan mereka lebih lama.
"Sepertinya mobil di depan tak diizinkan masuk," ujar salah satu bawahan Xavier. Sengaja Fredy tak dibawanya untuk menggantikan sejenak tugasnya.
"Panggilkan salah satu penjaga itu dan tanya siapa yang datang?" kata Xavier.
"Siap Komandan!" ujar bawahan Xavier yang langsung keluar dari sana.
Graciella hanya memandang ke depan. Dia lalu menangkap sosok yang baru keluar dari mobil itu. Seketika wajahnya tampak kaget dan panik!
...****************...
Halo kakak! maaf ya hari ini aku sibuk banget, dan rasanya cuma bisa up 1 ini.
Besok aku usahain bisa dapat up lebih banyak. Terima kasih udah baca ini novelku. Kalo aku boleh minta kak, boleh minta like komennya ya kak! karena komen kalian buat aku semangat banget nulisnya.
Satu lagi! Ya, coba di tebak siapa yang datang! ini aku kasih sama 2 orang yang pertama kali bisa nebak ya! Hadiahnya 20K pulsa. Pengumumannya besok biar bisa aku hubungi ya.
Makasih kakak!