
“Ehm, jika boleh jujur. Ya, sedikit. Aku kira kau tahu mungkin dari temanmu atau siapa. Tapi ternyata karena wanita lain, tapi tidak masalah. lagi pula tidak mungkin kau tidak pernah menyukai wanita lain selain aku. Setidaknya aku adalah orang spesial yang kau bawa ke sini kan?” ujar Graciella mencoba untuk menghibur dirinya sendiri. Tentu saja, bukan wanita itu yang dibawa Xavier ke sini. Dialah yang di bawa ke sini.
“Ya.”
Diam sejenak hingga sesuatu muncul di kepala Graciella.
“Tapi, kenapa kau tidak membawanya ke sini jika memang dia yang merekomendasikannya tempat ini? Apakah ini ada hubungannya dengan masalah kita dulu?” tanya Graciella lagi. Setelah pertanyaan itu keluar dia menggigit lidahnya. Tak ingin tahu tapi cukup penasaran. Bagaimana cinta Xavier bisa kandas dan beralih padanya? Dia juga ingin tahu, apakah jangan-jangan hanya karena perbuatan mereka di Sangri-La dulu yang membuat wanita itu pergi dari Xavier. Jika benar, maka Graciella sudah merusak hubungan mereka.
“Tidak. Tidak ada hubungannya denganmu sama sekali. Lagipula dia sudah meninggal,” ujar Xavier langsung.
Graciella langsung terdiam. Dia menatap ke arah Xavier yang hanya diam di depannya sekarang. Graciella mencoba untuk mencari gurat kesedihan di matanya. Tapi pria itu tampak datar. Ekspresinya tak bisa dibaca oleh Graciella. Graciella benar-benar salah untuk bertanya tentang hal ini.
“Dia meninggal dua tahun sebelum aku bertemu denganmu di hotel itu,” ujar Xavier lagi. Graciella menarik napasnya, sedikit lega karena mengetahui bahwa dia bukan alasan mereka berpisah. Walau merasa jahat, tapi sejujurnya Graciella cukup tenang mengetahui wanita itu sudah tidak ada lagi di dunia ini.
“Oh, baiklah,” ujar Graciella bersamaan dengan itu makanan mereka datang. “Kita makan dulu saja,” ujar Graciella yang tampak langsung fokus dengan makanannya. Beda dengan Xavier yang masih menatap ke arah Graciella.
“Apa kau cemburu?” tanya Xavier. Dia memang pernah dekat dengan wanita ini, dia juga pernah menikah selama hampir lima tahun. Tapi untuk mencoba memahami wanita, baru kali ini dia lakukan. Dulu bersama Malagha, mereka hanya dekat beberapa bulan, tidak sampai setahun. Dia juga tidak terlalu memikirkan keinginan Malagha. Tapi dengan Graciella, dia begitu berhati-hati. Dia tak ingin wanita ini merasa tak nyaman.
“He? Kenapa bertanya begitu?” tanya Graciella menatap ke arah Xavier kaget dengan apa yang ditanyakan pria itu
“Aku hanya tidak ingin kau berpikir aku sengaja membawamu ke sini karena aku mengingat dia,” ujar Xavier yang memang selalu mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.
Graciella kembali menggigit bibirnya. Dia lalu tersenyum canggung menatap pria yang sekarang sudah menjadi suaminya itu. Pembicaraan ini seharusnya mereka lakukan sebelum mengikat janji suci. Tapi tak apalah, setidaknya Xavier tidak menutupi apa pun darinya.
“Mengetahui tempat ini adalah pilihan wanita yang dulu pernah kau sukai itu sedikit menganggu. Walau kamu pungkiri tapi pastinya hal itu karena kau mengingatnya. Tapi tidak masalah. Aku juga punya masa lalu dan mungkin masa lalu ku malah lebih menganggu dari pada ini. Jadi aku rasa aku tidak masalah dengan hal itu. Ehm, bisakah kita bicara yang lain? Ini bulan madu kita bukan? Walau ini dari wanita lain, tapi aku cukup senang dia merekomendasikan tempat ini, aku jadi tahu ada tempat seindah ini di dunia,” ujar Graciella mencoba untuk mencari sisi positif dari ini semua. Lagi pula dia tahu bagaimana suaminya ini. Dia orang yang tidak bisa spontan memberi. Jika Graciella ingin sesuatu, dia lebih baik memintanya dari pada berharap agar Xavier untuk melakukanya dengan spontan.
“Aku memang pernah berjanji untuk datang ke tempat ini bersama dengan seseorang spesial, tapi tidak pernah berjanji untuk datang ke sini bersamanya. Sekarang, yang aku bawa adalah dirimu. Karena bagiku kau adalah orang yang spesial itu,” ujar Xavier dengan nada bicaranya yang tampak begitu tulus. Tidak ada nada manis yang menggoda walaupun kata-katanya terdengar kembali cukup gombal bagi Graciella. Tapi karena hal itu pula, kata-kata itu langsung masuk ke dalam hati Graciella yang tadinya sedikit merasa tak nyaman. Graciella akhirnya sadar bagaimana usaha Xavier untuk membuatnya merasa bahwa dia membawanya ke sini karena merasa dia wanita spesial baginya.
“Baiklah, suami. Aku mengerti. Aku percaya denganmu. Kita makan ya, nanti makanan kita jadi dingin,” ujar Graciella tertawa kecil. Merasa terharu bagaimana cara suaminya mencoba untuk meyakinkannya.
“Hmm,” ujar Xavier mengangguk dengan patuh untuk memakan makanannya. Hal itu membuat Graciella menggelengkan kepalanya. Suaminya begitu patuh.
Mereka makan siang dengan diam dan nikmat. Graciella meminta untuk sekedar berjalan menikmati siang di kota itu. Bagaimana pun nanti sore mereka akan pulang karena Xavier memang tidak bisa libur terlalu lama. Xavier terus menggenggam tangan Graceilla dengan erat melewati jalan-jalan di sana.
Entah memang menjadi sebuah kebiasaan atau bagaimana. Tapi Xavier tampak siaga melihat ke segala arah seolah sedang mengamati semua keadaan di sana.
“Ehm, aku pikir aku ingin makanan manis,” ujar Graciella merasa mulutnya sedikit pahit. Jadi dia ingin makan manis sekarang.
“Ingin Cannoli?” tanya Xavier melihat toko makanan manis yang ada tak jauh dari mereka.
“Ya, boleh. Apa ada tiramisu juga?” tanya Graciella.
“Akan aku tanyakan. Tunggu saja di sini, duduklah, di sana sedikit panas," Xavier segera melangkah. Graciella melihat ke arah sebuah kursi yang ada di pinggir pantai berbatu. Graciella bisa melihat bagaimana teriknya matahari menyilaukan matanya, menyamarkan ujung lautan yang sekarang ada di depannya.
“Hei, Nona, boleh aku temani?” tanya seorang pria berpostur tubuh orang Eropa mendekati Graciella yang tentunya langsung kaget melihat tiga orang di dekatnya, tapi dia berpura-pura untuk tidak mengerti bahasa Inggris yang dilontarkan oleh pria ini.
“Sepertinya dia tuli atau bodoh, dia tidak mengerti bahasamu,” ujar pria lain. Graciella hanya diam tak ingin menanggapi. Dari bau yang menyeruak, Graciella tahu mereka pastilah sudah mabuk, tercium bau alkohol dan juga aroma rokok yang menyengat. Bagaimana orang sesiang ini bisa mabuk?
“Hei, Nona! Kau harus melihat orang yang menegurmu!” ujar pria itu mulai berani mencolek tubuh Graciella yang langsung membuat Graciella mendelik pada pria itu.
“Lihatlah, bagaimana cara dia melihatmu. Dia begitu imut,” ujar pria yang lain malah tertawa melihat kelakuan Graciella. Graciella tentu jadi naik pitam karenanya. Dia langsung berdiri dan merasa sangat marah dengan tingkah laku ke tiga pria yang sudah melecehkannya.
“Lihatlah, dia marah!” ujar pria lain yang melihat Graciella berdiri.
“Nona, dari pada marah. Ikut kita berpesta saja. Kau pasti akan menikmati hari ini dan tak akan bisa kau lupakan,” ujar pria yang mencolek tangan Graciella. Graciella mencoba mengabaikan mereka dan segera pergi meninggalkan ketiga pria itu. Ingin menyusul suaminya.
“Hei! jual mahal sekali!” pria itu memegang lengan atas Graciella untuk mencoba menahan Graciella lebih jauh.
“Oh, ternyata bisa bahasa kita. Tapi pura-pura tidak tahu ya,” ujar pria lain yang tahu Graciella sebenarnya mengerti bahasa mereka.
Tapi tiba-tiba saja sebuah tangan kekar langsung memegang tangan pria yang menahan Graciella. Mereka langsung memperhatikan pria yang terus meremas tangan pria asing itu.
“Hei! apa yang kau lakukan! Kau mematahkan tanganku!” kata pria itu meringis kesakitan.
“Berani menyentuh istriku! Ku patahkan tanganmu!” kata Xavier dengan sangat marah. Matanya menatap begitu tajam pada pria-pria yang sedari tadi sudah menganggu Graciella. Tak menyangka di sini pun ada orang yang berani mengganggu istrinya.
“Hei, Dude! Kami hanya bercanda! Benarkan Nona,” kata pria yang lain panik melihat wajah temannya sudah merah menahan sakit yang dibuat oleh Xavier yang benar-benar berniat meremukkan tangan pria itu.
“Minta maaf pada istriku, jika tidak!” ujar Xavier.
“Nona! Nona! Kami semua minta maaf! Minta suamimu melepaskan tangan teman kami!” ujar Pria itu segera ketakutan dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Melihat wajahnya saja mereka sudah ketakutan. Mereka yakin pria ini tidak becanda.
Xavier melihat ke arah Graciella. Graciella hanya mengangguk pelan dan barulah Xavier melepaskan tangan pria yang masih meringis kesakitan melihat tangannya yang merah dan hampir membiru.
“Ayo, pergi dari sini,” ujar Xavier sambil terus memandang para pria yang langsung tunggang langgang melihat tatapan Xavier. Menyesal sudah mencoba-coba menggoda wanita orang lain. Xavier pun langsung menarik Graciella yang hanya melihat prianya itu. Dari rahangnya yang keras tampak sekali dia benar-benar marah sekarang.
“Sudah, jangan marah lagi. Mereka sudah kamu beri pelajaran,” ujar Graciella memegang dada suaminya. Terasa sekali jantungnya yang berdegup kencang efek dari adrenalin yang terpompa.
Xavier melihat ke arah Graciella yang tampak tersenyum tipis padanya. “Lain kali kalo tidak bersama denganku. Jangan terlalu menarik,” ujar Xavier tampak cemburu.
Graciella mendengar itu mengerutkan dahinya, dia lalu tertawa kecil. “Aku begini kan karena dari tadi bersama denganmu.”
“Kalau begitu, aku tidak akan pernah melepaskanmu sendirian,” ujar Xavier lagi.
“Baiklah. Ehm? Cannoli dan tiramisuku?” tanya Graciella.
“Aku menjatuhkannya. Kita beli lagi, jangan khawatir,” ujar Xavier. Masih belum bisa mengontrol dirinya. Tampak sekali sesekali dia masih mengeraskan rahangnya.
“Suami? Cemburu ya?” tanya Graciella lagi dengan senyuman. Tadi Xavier yang bertanya dia cemburu. Sekarang dia juga boleh menanyakan hal yang sama bukan?
Xavier melihat ke arah Graciella. Tatapannya tajam seolah dia sedang marah dengan Graciella, tapi Graciella tahu bahwa Xavier hanya tidak bisa mengontrol dirinya.
“Tentu, aku ingin segera pulang dan mencuci tanganmu yang disentuh oleh dia.”
“Baiklah, kalau begitu kita pulang saja,” ujar Graciella dengan nada seperti seorang ibu yang berbicara dengan anaknya.
“Tapi kau ingin sesuatu yang manis,” ujar Xavier yang masih saja mengingat apa yang diinginkan istrinya walaupun dia sedang marah. Hal itu tentu membuat Graciella menjadi merasa begitu terharu.
“Aku sudah dapat yang manis,” ujar Graciella tersenyum dan berhenti dari langkahnya.
“Maksudnya?” tanya Xavier langsung mengerutkan dahinya.
“Mendekatlah,” ujar Graciella memanggil pelan suaminya. Xavier tetap menekuk alisnya tapi dia mendekatkan wajahnya ke arah Graciella.
Graciella langsung mencium pelan bibir suaminya. Xavier yang mendapatkan ciuman itu langsung membesarkan matanya. Graciella setelah menikah benar-benar penuh inisiatif. Tentu saja, dicium begini siapa yang emosinya tidak langsung turun begitu saja. Walau hanya ciuman singkat, tapi langsung membuat Xavier tenang.
“Aku sudah dapat yang manis,” ujar Graciella menggoda suaminya. Xavier mendengar itu menaikkan sudut bibirnya. Tadi, wajah pria ini sangat menakutkan tapi sekarang, wajahnya tampak bersemu merah. “Kita pulang ya,” kata Graciella lagi.
“Ya,” ujar Xavier langsung patuh.
Graciella dan Xavier melanjutkan liburan mereka dengan menjelajahi Cinque Terre. Menikmati waktu mereka yang tersisa di sana. Hingga sore harinya mereka harus kembali ke negaranya. Mereka sampai di negaranya saat tengah malam dan segera saja Xavier membawa Graciella ke markas militer yang menjadi tempat tugas dari Xavier.