Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 270. Kami sudah saling mencintai.


Seharusnya aku tidak tidur di sini." Antony hanya melirik ke arah Laura dan segera membenarkan jasnya.


Laura hanya memainkan bibirnya. Dia lalu tersenyum kecut. "Kau tahu, aku seperti simpanan sekarang."


Antony menatap wajah Laura yang terpantul di kaca yang ada di depannya. Laura lalu segera berbaring dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Laura membelakanginya.


Antony tak bisa banyak berbicara apalagi merayu Laura yang tampak sedang merajuk padanya. Waktunya sudah sangat sedikit dan dia harus pergi sekarang.


"Aku akan pergi sekarang," pamit Antony.


"Hmm, pergilah," jawab Laura tanpa mengubah posisinya.


Antony hanya mengerutkan dahinya. Tapi dia benar-benar tidak bisa berdebat sekarang. Melihat Laura yang tak ingin melihatnya. Antony hanya meninggalkannya saja.


Laura membuka gulungan selimutnya. Lalu menatap ke arah pintu yang sekarang sudah tertutup rapat. Dia langsung meloncat keluar dari ranjangnya dan segera melihat ke arah jendela. Tak lama melihat Antony yang hanya melempar pandang pada jendela kamarnya. Melihat sosok Laura yang mengamatinya.


Antony melempar sebuah senyuman sebelum masuk ke dalam mobil dan mobil itu pergi meninggalkan Laura.


Laura hanya tertegun. Rasanya tak rela. Tapi itu semua kebodohannya. Pria itu seharusnya miliknya seutuhnya. Tapi sekarang, dia hanya memiliki pria itu pada waktu-waktu tertentu saja. Bukankah, itu terdengar benar-benar seperti seorang simpanan?


Antony memasang wajah datarnya selama di dalam perjalanan. Wangi dari tubuh Laura masih menempel di sisi tubuhnya karena wanita itu terus meringkuk dalam pelukannya. Wangi halus yang lembut.


"Dari mana kau tahu aku belum pulang?" Antony menatap Max yang duduk di depannya.


"Nyonya Adelia memintaku mencari Anda. Beliau bilang Anda tidak boleh tidak pulang. Karena pasti banyak orang yang akan membuat hal ini besar." Max menolehkan wajahnya ke arah Antony.


Antony menarik napasnya. Benar, banyak mata-mata yang selalu melihat dirinya. Kalau mereka tidak menemukan dirinya di mana-mana akan muncul berita yang tak akan baik nantinya.


"Adelia belum tidur?" tanya Antony lagi. Sudah pukul empat.


"Belum Tuan, Nyonya sangat cemas."


Antony memainkan rahangnya. Bagaimana pun dia punya perasaan. Membuat wanita itu menunggunya. Menimbulkan perasaan yang tak nyaman.


***


Antony segera berjalan menuju ke arah pintu istana kepresidenan. Saat membuka pintu itu dia langsung terhenti melihat Adelia yang menutup tubuhnya dengan selendang sedikit tebal. Menanti suaminya pulang entah dari mana sepagi ini.


Adelia tidak ingin bertanya dari mana Antony. Dia sedikit bisa menebaknya. Dia juga tak ingin mempertegas hal itu. Jika dia melakukannya. Itu sama saja mempertegas sakit hatinya.


Antony pun tak ingin menanyakan apakah Adelia belum tidur karena menunggunya? Hal itu akan memberikan kesan bahwa dia peduli. Walaupun sejujurnya dia cukup peduli tentang hal itu.


Mata Adelia hanya memandang Antony. Dia menggigit bibirnya dan segera berbalik untuk kembali ke kamarnya. Dalam beberapa jam lagi dia harus bangun dan bertingkah seolah tak ada apa-apa.


"Adelia," panggil Antony.


Adelia terdiam. Mendengar namanya dipanggil oleh Antony saja sudah membuat jantungnya berdetak dengan begitu kerasnya.


"Aku ingin berbicara denganmu."


Antony membawa Adelia ke ruang kerjanya. Satu-satunya tempat di mana Antony bisa merasa aman.


Adelia hanya diam. Tak ingin membuka pembicaraan. Perpisahan mereka malam tadi sangat tak baik. Dia juga bingung harus bagaimana.


"Aku dengar kau menungguku," ujar Antony menatap wajah cantik di depannya. Sangat cantik walaupun tanpa riasan.


"Aku hanya menjalankan tugasku di istana ini. Menjaga reputasimu," jawab Adelia.


"Aku berterima kasih untuk apa yang kau lakukan padaku. Tapi, aku rasa hal seperti ini membuatku merasa tidak adil padamu dan membuatku merasa bersalah."


"Kau tak perlu merasa bersalah. Aku sudah bilang, aku hanya melakukan tugasku."


"Ini bukan tugasmu. Aku minta mulai sekarang kau hiduplah dengan keinginanmu. Tak perlu memikirkan aku. Jika kau ingin pergi, kau boleh pergi. Jika kau ingin keluar dengan temanmu, kau boleh keluar. Dan jika aku seperti ini, biarkan aku yang melakukannya. Kau tidurlah dan jaga dirimu baik-baik." Antony menatap Adelia dengan wajah yang begitu serius.


Adelia menggigit bibirnya keras. "Apakah sekarang aku juga tak boleh melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh seorang istri?" Suaranya terdengar bergetar.


"Kau memintaku untuk tidak menunjukkan kepedulian walaupun sedikit. Aku akan mengabulkan permintaanmu. Karena itu, kau juga pun tak perlu berbakti padaku. Aku mau kita adil dalam menjalani kehidupan ini. Setelah semuanya selesai, aku tidak mau kau menyesal sudah menyia-nyiakan kehidupanmu untuk melayaniku."


"Tapi …."


"Keputusan ada di tanganmu. Tapi aku sudah mengatakannya. Adelia, cobalah mencari kebahagiaanmu. Hanya itu yang ingin aku bicarakan. Sudah cukup pagi, kau pergilah beristirahat." Antony bangkit karena merasa apa yang ingin dia sampaikan sudah sampai dengan baik. Antony segera berjalan menuju ke arah pintu keluar.


"Tapi bagaimana jika kebahagiaan ku hanya padamu?" tanya Adelia.


Antony terhenti. "Maka, mungkin kau akan mengejar sesuatu yang tak mungkin bisa kau dapatkan."


"Bagaimana denganmu? Laura tak pernah mencintaimu! Tapi kau terus berusaha untuk mencarinya! Sekarang apa posisi kita tidak sama?"


Antony terdiam. Dia tak bisa mengatakan apa-apa. Ingin membantah tapi apa yang dikatakan oleh Adelia benar adanya. Posisi mereka sama.


"Selama kau masih berharap bisa membuat Laura mencintaimu. Aku tak akan berhenti berharap bisa merebut perasaanmu darinya. Karena itu, jangan pernah menyuruhku berhenti melakukan apa yang aku bisa untuk mendapatkan hatimu. Aku akan merebut suamiku kembali."


Adelia segera melangkah pergi meninggalkan Antony.


"Aku dan Laura. Kami sudah saling mencintai," ujar Antony seketika menghentikan langkah Adelia.


Antony menatap wajah wanita yang berpaling wajah dan tubuhnya ke arah dirinya. Antony melihat mata wanita yang mulai berkaca-kaca menahan sakit yang amat sangat karena ucapannya.


"Baiklah, kalau kau merasa dia sudah mencintaimu. Aku hanya ingin lihat. Seberapa lama dia bisa bertahan di sisimu. Aku yakin wanita itu hanya ingin membuatmu merasa kau dicintai olehnya. Suatu saat nanti, dia akan pergi lagi dan meninggalkanmu terpuruk seperti dulu!" Histeris Adelia mengatakannya dan segera meninggalkan Antony yang hanya terdiam.


Dia tak percaya. Tak mungkin hal itu terjadi. Antony hanya mengatakannya agar Adelia menyerah.


Tidak! Walaupun memang Laura sudah memiliki perasaan dengan Antony. Dia yakin perasannya lebih dalam dari pada Laura. Antony adalah suaminya. Suami sahnya dalam bentuk apapun. Bagaimana pun mereka tak akan bisa bersatu selama dia masih ada dan dia tak akan membiarkannya terjadi. Selama dia masih bernapas! Antony hanya akan menjadi miliknya dan dia harus secepatnya menyingkarkan wanita itu!


...****************...


maaf lama kak, soalnya tadi tiba2 ada pasien tengah malam wkwkkw mentahan lagi ya