Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 281. Aku akan menunggumu di sini.


“Hasilnya masih satu garis,” ujar dokter itu dengan wajah yang sedikit kecewa.


“Ha? benarkah?” tanya Laura kaget tapi juga ada wajah senang terlihat. Setidaknya dia tahu bahwa dia tidak hamil sekarang. Dia benar-benar belum siap hamil dalam situasi seperti ini.


“Benar, Anda boleh melihatnya.” Dokter pribadi Antony segera memberikan hasil dari testpack itu. Laura segera mengambilnya dan melihat hasilnya. Benar, masih hanya ada satu garis merah di sana. 


“Apa itu artinya?” tanya Antony yang benar-benar tidak tahu apa itu artinya.


“Artinya aku tidak hamil! Ye!” ujar Laura senang. “Mana es krimku?” tanya Laura lagi.


Antony mengerutkan dahinya. “Benarkah?” ujar Antony sambil melihat ke arah dokternya.


“Benar Tuan. Tapi artinya juga bisa belum.”


“Belum?”


“Ya, belum terlihat dari pemeriksaan ini. Kepekaan alat ini untuk menentukan kehamilan berbeda-beda tergantung hormon HcG yang ada di dalam air seni. Jika kurang, maka tidak akan terlihat. Kita harus menunggu seminggu lagi.” Dokter itu menjelaskan. Tidak ingin mematahkan semangat dari Antony yang dari tadi tampak begitu bahagia.


“Seminggu lagi?” Antony melirik ke arah Laura yang sudah menemukan di mana es krimnya berada. Diletakkan di atas meja tak jauh dari mereka. “Jangan makan dulu, tunggu seminggu lagi.” Antony merampas es krim yang hampir saja dicomot oleh Laura.


Laura mendengus kesal. “Seminggu lagi es krim sudah mencair!” 


“Patuhi dulu saja. Kita tunggu seminggu lagi.” ujar Antony begitu serius seperti sedang marah pada Laura. Dan perkataannya tampak sama sekali tidak bisa dibantah. Karena itu Laura hanya memasang wajah ngambek dan kesalnya.


“Saya akan memberikan suplemen asam folat untuk Anda,” ujar dokter itu menuliskan resep untuk Laura.


“Katamu tadi, pemeriksaan ini kesensitifannya kurang. Apakah ada tes lain yang bisa mendeteksi kehamilan lebih cepat?” tanya Antony. Seminggu lagi rasanya dia tak akan tahan menunggunya.


“Ehm, ada Tuan. Dengan menggunakan pemeriksaan darah. Itu lebih cepat untuk mendeteksinya.”


“Kalau begitu lakukan saja!” Antony tampak kembali semangat. Menunggu adalah hal paling tidak menyenangkan.


“Tidak mau!” protes Laura yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Mendengar hal itu membuat Antony memandang Laura seketika. “Tidak mau kenapa?”


“Darahku akan diambil. Mereka akan menusukkan jarum di tanganku! aku takut disuntik.” Laura bertampang manja.


“Ha? bagaimana dokter takut di suntik?”


“Memangnya ada peraturan dokter tidak boleh takut disuntik. Banyak dokter yang takut disuntik. Bukan aku saja! ah! kenapa kau jadi menyebalkan!” ujar Laura yang menghentakkan kaki menunjukkan tanda kesalnya lal pergi meninggalkan Antony. Sudah tidak boleh makan es krim. Dia malah mau disuntik.


Antony melihat itu membesarkan matanya. Ingin memanggil Laura tapi wanita itu berlalu dengan cepat ke arah kamar Antony yang ada di lantai atas.  Dokter itu hanya tersenyum canggung melihat perilaku Antony dan Laura. Kenapa seperti anak-anak?


“Apa ada kemungkinan dia juga tidak hamil? maksudku, dia mengatakan bahwa dia sudah tidak haid, apakah ada kondisi lain yang bisa menyebabkan dia tidak haid?” tanya Antony yang belum puas bertanya. Dia harus memastikan dulu keadaan Laura bagaimana.


“Penyakit? penyakit apa?” tanya Antony langsung khawatir.


“Kelainan hormon, kista, dan lain-lain. Jika ada waktu memang lebih baik jika memeriksa keadaan Nona Laura ke dokter kandungan. Akan lebih jelas dengan USG.” 


Antony memainkan bibirnya sejenak sambil tampak berpikir.


“Apakah ada penyakit yang berasal dari berhubungan yang dipaksakan?” tanya Antony. Saat kemarin itu, waktu amarahnya masih menguasai dirinya. Dia pernah memaksa Laura melakukannya. Apakah mungkin bisa terjadi masalah karena itu? 


“Semua bisa mungkin terjadi. Karena pemaksaan bisa menyebabkan penyakit yang lain. Seperti yang saya bilang tadi. Kita harus memeriksanya dengan bantuan alat-alat yang lain.” Dokter itu tidak mau menyimpulkan tidak ada hubungannya dengan pemaksaan. Semua itu memang harus menggunakan alat bantu.


Antony menggigit bibir dalamnya. Matanya yang tadi berbinar sekarang tampak sedikit suram.  Wajahnya yang berharap sekarang tampak seperti bersalah. Dia lalu mengangguk.


“Baiklah, terimakasih.”


“Sama-sama Tuan Presiden.”


Antony langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua. Dia membuka perahan pintu kamarnya dan mengintip apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu.


Ternyata Laura sedang duduk. Melipat kedua tangannya di depan dada dan berwajah kesal yang kental. Entah kenapa melihat hal itu membuat Antony sedikit tersenyum.


Dia segera mendekati Laura yang mempertahankan sikapnya. Duduk di samping bocah besar yang sedang merajuk padanya.


“Marah padaku?” tanya Antony melirik Laura. Wanita ini memang beda dengan yang lainnya.


“Menurutmu?” tanya Laura balik. Masih tidak mau melihat Antony yang tiba-tiba jadi menyebalkan.


Antony menaikkan sudut bibirnya hingga lesung pipinya yang dalam terlihat sekali. “Aku hanya khawatir dengan keadaanmu. Tidak bermaksud apa-apa.” Antony mengadu pelan kepalanya dengan kepala Laura. Hal itu berhasil membuat Laura menurunkan tangannya dan melihat ke arah Antony. Antony tersenyum manis untuk meredam emosi wanitanya.


“Ya,  tapi kau sudah tidak memperbolehkan aku makan es krim dan sekarang malah setuju ingin mengambil darahku! kau saja yang di ambil darahnya, mau?!” kesal Laura.


“Kalau aku bisa mewakili kau dan mengetahui apakah kau hamil atau tidak. Aku akan melakukannya.” Antony sedikit tertawa kecil menggoda Laura.


Laura menyipitkan matanya. “Jangan tertawa! aku sedang tidak bisa digoda dengan tertawa mu yang manis itu.”


“Bagaimana dengan pelukan?” tanya Antony sambil menarik Laura dalam pelukannya. Tentu hal itu langsung membungkam Laura. “Dokter memintaku untuk membawamu ke dokter kandungan dan memeriksa bagaimana keadaanmu. Aku takut, karena ulahku waktu itu membuatmu mendapatkan akibatnya.” Antony mengatakannya dengan suara yang begitu tulus. Usapan halus dia lakukan di kepala Laura.


Laura melirik ke arah Antony. “Tapi bukannya kau tidak bisa keluar. Lagi pula jika aku bertemu dengan dokter kandungan. Bukannya ada kemungkinan seseorang akan melihatku?”


Laura sekarang malah khawatir dia akan menyusahkan Antony. Dia takut ada orang yang melihatnya menggunakan mobil Antony atau bagaimana. Dia dulu dokter di negara ini, tak menutup kemungkinan ada satu atau dua orang yang mengenalinya.


Antony terdiam sejenak. “Tidak masalah. Aku akan menunggu di sini. Aku akan meminta dokter pribadiku untuk menemanimu di sana. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu.” Antony tidak bisa ikut. Walau dia menggunakan penyamaran. Dia tetap takut akan menjadi sorotan karena orang-orang yang mengikutinya pasti sangat hapal bagaimana gerak geriknya. Orang-orang di rumah sakit itu juga bukanlah orang yang bisa dia percaya. Sedikit saja kesalahan, akan menghancurkan semuanya.