
“Ada yang harus aku lakukan sekarang.” Antony bergegas memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Dia segera ingin meninggalkan Adelia yang hanya mengerutkan wajahnya.
“Bukannya kau sudah berjanji akan menemaniku di pesta ini? Kita bahkan belum bertemu ayah dan ibuku?” tanya Adelia lagi yang segera menghentikan langkah Antony. “Memangnya ada masalah apa hingga selarut ini?”
Antony hanya menghela napasnya sedikit panjang. Dia memang sudah berjanji untuk ada di sini bersama dengan Adelia. Tapi dia tidak bisa menahan rasa cemasnya. Mendengar keluhan kesakkitan dari Laura. Wanita itu pasti terluka.
“Maaf, tapi aku harus pergi sekarang juga. Aku akan kembali secepatnya jika aku bisa.” Antony tampak segera ingin bergegas lagi. Tapi belum sempat dia mengangkat kakinya. Adelia berjalan cepat menahan jalannya.
Antony menatap wajah istrinya yang tampak memunculkan raut sedih, tapi juga tampak sedikit kekesalan yang muncul di sana. Matanya yang indah tampak mulai berkaca-kaca. Antony hanya bisa memandangnya.
“Katakan padaku, apa kau sudah menemukannya?” tanya Adelia. Tingkah dari Antony beberapa saat ini sangat berbeda. Dia sering menghilang tiba-tiba tanpa bisa diketahui ke mana dia pergi sebenarnya. Hal itu tentu membuat Adelia menjadi curiga. Apakah benar Laura sudah ditemukan?
“Apa maksudmu?” tanya Antony. Tentu dia tidak mau Adelia tahu yang sebenarnya. Wanita ini, diam-diam sudah mengirimkan orang untuk mencari Laura. Dan Antony tidak ingin Adelia bisa bertemu dengan Laura.
Adelia bersidekap dengan tubuhnya. Menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menertawakan dirinya sendiri, bersamaan dengan itu air matanya turun begitu saja lolos di pipi putihnya yang mulus. Adelia langsung menghapus air matanya.
“Kalau kau tidak menyukaiku atau tidak punya rasa sama sekali padaku. Lebih baik tegaslah! Jangan membuatku merasa terkadang kau perhatian atau bagaimana padaku! Lebih baik tadi kau mengatakan bahwa kau sibuk dan tidak ingin pergi denganku dari pada kau pergi begitu saja di tengah acara seperti ini.” Adelia histeris tapi berusaha untuk mengontrol diri dan suaranya. Di balik pintu kaca itu, seluruh keluarganya berkumpul.
Antony hanya diam melihat Adelia yang sekali lagi mencurahkan seluruh isi hatinya. Dia berulang kali menghapus air matanya yang terus keluar berbulir.
“Aku harap setelah ini kau tidak perlu berharap apa pun padaku.” Antony mengatakannya dengan dingin. Memang lebih baik tidak memberikan harapan apa pun pada Adelia.
Adelia melihat ke arah wajah Antony yang datar. Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu. Setelah yang mereka lewati bersama? Tidak adakah sedikit saja rasa Antony padanya. Dia wanita yang sudah menyelamatkan nama baik dirinya dan keluarganya dan menghantarkan dirinya menjadi seorang presiden seperti ini.
“Kenapa kau mengatakan hal ini padaku sekarang! Kenapa harus mengatakan ini! Apa kau tidak punya perasaan sama sekali? Aku yang sudah menyelamatkanmu dan kau tetap memilih wanita itu!” Adelia memegang dahinya dengan kedua tangannya. Masih tidak habis pikir, semua sudah dia berikan bahkan nama baiknya dia serahkan untuk menyelamatkan nama baik Antony. Menjadi cemoohan orang dan keluarga karena menerima seorang pria yang bahkan sudah menolaknya, lalu gagal menikah.
“Karena itulah aku melakukan hal ini. Aku masih mengingat kebaikan dirimu dan orang tuamu yang sudah menyelamatkan nama baik keluargaku. Aku melakukan ini semua hanya karena itu.” Antony datar mengatakannya walau wanita di depannya sudah berderai air mata.
Adelia menahan dirinya. Rasanya dia ingin menampar pria di depannya ini karena sudah mengatakan hal yang sangat menyakitkan hatinya. Jadi selama ini, kebaikan ini hanya sebuah balas budi semata?
Antony menatap mata merah Adelia yang dia tahu pastilah sangat emosi karena ulahnya. “Baiklah kalau begitu maumu. Aku tidak akan lagi bersikap seolah memberikanmu harapan.”
Adelia membesarkan matanya mendengar jawaban Antony. Dia tadinya berpikir mungkin pria di depannya ini akan memikirkan apa yang dia katakan. Tapi Antony malah mengiyakan keinginannya dengan begitu mudahnya. Adelia semakin kaget ketika Antony langsung saja meninggalkannya begitu selesai berbicara.
“Antony! Antony! Kau ingin ke mana? Jangan pergi!” Teriak Adelia dengan suara sengaunya. Dia tidak bermaksud membuat Antony kembali cuek dengannya. Ah! Apa yang sudah kau lakukan Adelia? Bodoh sekali. Perjuanganmu untuk bisa kembali diperhatikan oleh Antony pupus sudah. Bahkan sekarang kau sendiri yang meminta dirinya untuk tidak perlu peduli denganmu! Adelia menangis denSedikit saja kebaikan Antony dia akan bertahan dengan itu. Walau hanya secuil perhatian dari Antony yang dia dapatkan. Dia akan tetap bersama pria itu selamanya.
"Antony!" Adelia kembali memanggil Antony yang sama sekali tidak mengurangi langkahnya dan malah membuka pintu menuju ruangan pesta. Tentu dia harus melewatinya untuk bisa keluar dari gedung ini.
Tapi saat Antony membukanya. Antony terhenti seketika melihat sosok yang ada di depannya.
"Ada apa ini?" Tanya Tuan Louise memandang menantunya yang seperti hendak pergi. Kontras dengan anak perempuan satu-satunya yang tampak sedikit merah wajahnya. Tampaknya baru saja menangis. "Ada apa ini?" Tegas Tuan Louise lagi yang berubah sedikit marah. Dia saja tak pernah membuat anaknya menangis kenapa pria ini malah membuat anaknya berderai air mata?
"Pa?" kata Adelia langsung, "bukan begitu, Antony ada sesuatu yang harus dikerjakan. Aku kesal dan marah padanya karena dia memilih pekerjaannya dari pada menemaniku. Aku kesal sekali hingga menangis." Adelia langsung mengambil situasi. Antony hanya melihat ke arah Adelia yang berusaha menutupi kesalahannya dari kedua mertuanya yang tampak bingung.
"Benarkah? Adelia, kau harusnya mengerti. Suamimu sekarang adalah seorang presiden. Dia tidak mungkin bisa selalu mengikuti kemauanmu. Dia datang sebentar saja sudah baik. Jangan bersikap manja seperti itu. Bagaimana jika ada yang melihat kalian begitu di sini dan mengira kalian sedang bertengkar. Reputasi suamimu akan jelek nantinya!" tungkas Tuan Louise yang merasa anaknya sangat kekanak-kanakan.
Adelia menggigit bibirnya. Antonya hanya memandangi wanita yang sekarang tertunduk menyeka air matanya. Karena Antony, sekarang dia yang dituduh dan dimarahi.
Antony sebenarnya tak enak membuang kesalahannya pada Adelia. Tapi bukannya wanita ini tadi dengan gamblang mengatakan jangan memberikannya sedikit pun harapan lagi.
"Ayah Mertua. Aku harus pergi sekarang," ujar Antony yang langsung membuat Adelia melihat ke arahnya. Pria itu hanya menatap lurus ke arah ayahnya yang dengan senyuman mengangguk pasti. Tak tahukah mereka, bahwa pria yang mereka sebut menantu ini sejatinya ingin bertemu wanita yang menjadi saingan anak mereka.
Tanpa permisi bahkan tanpa melihat ke arah Adelia. Antony segera berjalan dengan pasti meninggalkan Adelia dan kedua orang tuanya. Adelia menggigit bibirnya agar dia tidak kembali mengalirkan air mata.
Dia menghirup udara dalam-dalam. Karena dia, Antony sudah memperlakukannya dengan sangat dingin. Dia juga harus membohongi orang tuanya. Laura! Bagaimana pun akan ku rebut suamiku dari sisimu! Dengan cara apa pun akan ku lakukan! Adelia menggenggam erat tangannya hingga seluruh tubuhnya bergetar.