
“Halo? Laura, ada apa?”
“Gracie!! Kau di mana? aku sudah menunggumu semalaman dan kau malah tidak pulang! Bukannya kau sudah berjanji akan menemaniku hingga aku menikah nanti!” tuntut Graciella. Temannya ini, ditunggu semalaman dia malah tidak muncul juga. Graciella mendengar itu menepuk dahinya sedikit kuat. Dia lupa dia sudah berjanji untuk menemani Laura hingga hari pernikahannya.
“Laura, maafkan aku sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku kali ini. Aku harus bekerja sekarang. Ada kasus yang harus aku tangani dan tempatnya begitu jauh," ucap Graciella seraya menggigit kecil bibirnya.
“Jadi kau tidak bisa menemaniku menikah!” suara Laura begitu keras hingga membuat telinga Graciella sakit. Graciella berwajah sungkan. Tapi mau bagaimana lagi?
“Ya, aku akan usahakan untuk secepatnya menyelesaikan kasus ini sebelum tanggal pernikahanmu, tapi jika tidak bisa. Maafkan aku. Toh tanpa diriku kalian akan tetap menikah, bukan?” ujar Graciella pelan mencoba merayu Laura.
“Jahat sekali! Pokoknya kau harus datang! Jika tidak aku tak akan mau berbicara denganmu lagi!”
“Baiklah aku akan usahakan.”
“Aku akan menunggumu! Awas saja tak datang.”
“Baiklah. Tapi Laura, berjanjilah kau akan tetap menikah dengan Antony! Jangan bertindak bodoh dengan segala imajinasimu yang aneh itu. Menikah dengan Antony dan kehidupanmu akan baik-baik saja,” ujar Graciella. Tahu bagaimana gilanya pemikiran temannya ini.
“Iya, iya, kenapa sih kalian ini semua? Kau sudah terdengar seperti ibuku! Dari kemarin dia selalu mengatakan hal yang sama denganmu! Iya! Aku akan menikahi Antony apa kalian sudah senang?” gerutu Laura. Graciella yakin sekarang wajah wanita yang ada di seberang sana itu sedang tampak bertekuk.
Graciella hanya tersenyum. “Baiklah, aku harus siap-siap, malam ini aku harus pergi. Bye!”
“Bye!”
*******
Graciella menarik kopernya menuju peron kereta api yang dikatakan oleh Helena. Dari kejauhan dia akhirnya bisa melihat Helena melambaikan tangannya. Graciella langsung tersenyum melihat wanita berusia 25 tahun yang tampak masih penuh dengan semangat kehidupan.
Di belakangnya seorang pria yang jangkung dengan tubuh yang kurang berisi tampak berdiri memandang kedatangan dari Graciella. Graciella memang sudah kenal dengan Helena sebelumnya, tapi pria bernama Ferdinand ini, dia sama sekali belum pernah melihatnya.
“Selamat malam Nona Graciella, ini tiket Anda,” ujar Helena menyerahkan tiket untuk Graciella. Wajahnya sumringah karena baru kali ini dia mendapatkan tugas lapangan dari bosnya.
“Oh, terima kasih. Ehm, yang ini pasti Ferdinand, aku Graciella,” ujar Graciella memperkenalkan dirinya. Tapi Ferdinan hanya diam saja seolah terpukau dengan Graciella. Helena harus menyiku Ferdinand agar dia sadar dengan apa yang terjadi.
Graciella hanya mengangguk pelan. Dari wajah dan perawakannya, pria ini umurnya masih muda, mungkin setara dengan Helena. Sikapnya menunjukkan bahwa dia jarang bergaul, seperti orang yang kutu buku. Ferdinand yang merasa diperhatikan oleh Graciella jadi malu sendiri.
“Nona, baiklah, ayo kita pergi sekarang,” ujar Helena mengajak Graciella untuk masuk ke dalam gerbong kereta api mereka. Graciella mengangguk dan mulai masuk ke dalam gerbong itu. Graciella segera mencari nomor tempat duduknya. Gerbong itu tidak terlalu ramai, tempat duduknya pun lumayan nyaman karena Helena berhasil mendapatkan tiket kelas bisnis.
Graciella duduk bersama dengan Helena setelah mereka memposisikan barang bawaan mereka.
“Nona, maafkan aku, aku hanya bisa mendapatkan kelas bisnis. Tapi tenang saja, saat pulang kita akan naik kelas VVIP, Tuan Daren yang menyuruhku untuk mencarikannya. Karena mendadak, makanya malam ini kita harus duduk di kursi bisnis,” ujar Helena dengan wajahnya yang merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, tak masalah. Ini juga sudah lebih dari cukup,” ujar Graciella.
Tak lama kereta mereka mulai berjalan. Graciella melirik ke arah Helena yang sudah tidur lebih dari tiga puluh menit yang lalu. Sedangkan dia baru selesai membaca beberapa profil dan juga keterangan saksi.
Graciella menyandarkan punggungnya ke kursi yang bisa dia atur untuk sedikit tak terlalu tegak. Graciella menatap ke arah jendela yang ada di sisinya. Gerbong itu sudah lama gelap, segelap malam di luar sana. Graciella melihat ponselnya yang ada di dalam genggamannya. Cahayanya sedikit menyilaukan matanya sebelum perlahan kecerahannya turun.
Graciella sudah memeriksa ponsel ini lebih dari yang bisa dia ingat. Perasaan Graciella tetap tak nyaman setelah dia mengirimkan pesan itu. Dia juga tak tahu apakah pesan itu terkirim atau tidak. Apakah Xavier sudah membacanya atau tidak. Apakah dia tidak membalasnya karena belum membacanya atau apakah dia hanya tak peduli dengan semua hal ini.
Graciella memukul kepalanya kecil karena merasa menjadi terlalu banyak berpikir tentang Xavier. Bukannya yang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Xavier adalah dia? Tapi kenapa dia pula yang gusar dan ingin tahu apa reaksi pria itu! Ah! Kenapa Graciella bagaikan anak remaja yang baru memutuskan pacarnya dan berharap pacarnya itu memberikan respon padanya.
Graciella memutuskan untuk mematikan ponselnya. Jika dibiarkan terus menyala, bisa-bisa dia gila dan terus memeriksa ponselnya. Graciella baru saja menarik selimutnya ketika pintu gerbong yang ada di depannya terbuka. Graciella langsung terduduk ketika melihat seorang pria dengan pakaian dinas tentara masuk ke dalam.
Graciella menahan napasnya dalam. Matanya mengikuti semua gerak gerik dari pria itu. Di antara remang cahaya yang minim di gerbong yang hampir seluruh orangnya sudah tertidur. Graciella terus memandangi pria berbaju tentara itu. Jantungnya langsung berdetak begitu kencang ketika dia mulai mendekat.
Tapi, Graciella akhirnya menangkap sesuatu. Pria itu bukanlah Xavier. Bentuk tubuhnya mungkin hampir mirip, tapi semakin dia mendekat, dia yakin pria itu bukanlah Xavier. Wajah mereka tak mirip sama sekali. Tapi walaupun sudah tahu pria itu bukan Xavier. Mata Graciella terus mengikuti pria itu hingga kepalanya berputar ke belakang dan melihat pria itu keluar dari sisi gerbong yang lain.
Sial! Pikir Graciella seraya memukul kepalanya hingga terasa cukup sakit. Kenapa dia bisa begitu merindukan sosok pria itu. Apa karena mereka sudah pernah tidur bersama hingga ikatan itu terasa begitu kuat. Graciella tak ingat dia bisa begitu merindukan seseorang segila ini.
“Kak?” suara mengantuk Helena terdengar. Dia bangkit dan melihat Graciella. “Kakak, kenapa?”
“Oh, tidak! Aku hanya masih jet lag, tidur saja. Aku akan berusaha untuk tidur juga,” ujar Graciella salah tingkah.
Helena mendengar itu mengangguk-angguk pelan dan dia kembali dengan posisinya yang meringkuk di kursi itu. Graciella kembali menyandarkan punggungnya. Menatap langit-langit kereta api itu yang bergoyang seraya dengan gerakannya. Graciella manarik napasnya panjang. Cepatlah pagi dan semua akan terlewati, hanya itu doa Graciella.