Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 286. Apa sekarang pria itu senang?


Adelia meremas gaunnya yang dia gunakan dengan sangat erat. Wajahnya menyiratkan kekesalan yang sangat. Bagaimana tidak, dia memang bisa membuat Antony sejenak ada di sisinya tapi ….


"Ada apa kau memanggil kami ke sini?" suara Ayah mertua Antony terdengar sedikit serius.


Jelas saja serius. Antony tiba-tiba mengundang mereka ke rumah ini. Apalagi baru saja mereka mendengar bahwa Antony mengalami kecelakaan yang membuat tubuhnya terluka.


Lebih mengherankannya lagi. Mereka dikumpulkan di sini dengan Ayah Antony dan juga ibunya. Mereka mengerutkan dahi dan saling menatap.


"Aku hanya ingin memberikan kalian sebuah kabar gembira, bukan begitu Adelia?" Tanya Antony sedikit dengan suara riangnya. Tapi bagi Adelia hal itu malah seperti mengejeknya. Adelia melirik ke arah suaminya itu. Kenapa pria ini malah menjadi begitu menyebalkan.


“Benarkah Adelia?” tanya Ibu Adelia dengan wajah yang sedikit sumringah. Dia sepertinya memiliki firasat bahwa ada kabar gembira tentang Adelia.


“Eh? aku ….” Adelia bingung menatap empat pasang mata yang menatapnya dengan serius. Sial! apa yang harus dia katakan sekarang.


“Adelia hanya malu. Kami ingin mengumumkan bahwa Adelia mengaku padaku dia sedang mengandung.” Antony melirik Adelia yang kembali menggigit bibirnya keras. Kenapa Antony malah mengumumkan hal itu. Apa  yang harus dia lakukan?


“Benarkah?!” 


“Benarkah?”


Suara ibu Antony dan juga Ibu Adelia terdengar hampir bersamaan. Tuan Louise dan juga ayah Antony mendengar itu wajahnya langsung melunak. Mereka kira ada hal lain yang ingin diberitahukan oleh Adelia dan Antony. Mungkin masalah ketidakcocokan mereka.  Ayah Antony dan juga ayah Adelia berharap bahwa hal itu tidak akan terjadi. Bisa gawat semuanya.


“Eh, itu belum pasti.” Adelia langsung memotong kesenangan kedua orang tuanya.


“Benarkah? kau mengatakan bahwa kau sudah mngandung anakku. Aku kira hal itu sudah kau pastikan.” Antony mencondongkan tubuhnya ke arah Adelia. Mentap dengan wajah sedikit sinis, memperhatikan bagaimana paniknya wajah Adelia sekarang.


“Aku hanya mengatakan bahwa aku merasa aku sedang mengandung. Aku merasa sedikit pusing dan  lemas juga mual setiap pagi.” Adelia menurunkan suaranya. Apa yang harus dia katakan pada mereka agar nantinya dia tidak terlihat sebagai pembohong.


“Jika memang begitu, itu memang tanda-tanda orang sedang hamil. Aku harap kau benar-benar hamil.” Ibu Antony menyahut. 


Mendengar itu Adelia sedikit tersenyum manis. 


“Benar, Besan. Aku juga berharap Adelia akan segera hamil,” ucap ibu Adelia dengan senyuman merekah.


“Setelah ini,  pergilah dengan Antony untuk memeriksakannya. Antony jangan terlalu banyak bekerja. Temani istrimu dan jagalah dia jika dia memang benar-benar mengandung.” Ibu Antony menatap anaknya dengan senyuman yang tak pupus.


“Aku sedang sibuk hingga bulan depan.” Antony terdengar dingin mengatakannya.


Adelia mendengar itu seperti sebuah angin segar. Bulan depan? Ya, tak masalah. Dia bisa menyusun rencana bagaimana agar telihat pura-pura hamil atau jika memang harus, dia bisa meminta seseorang menghamilinya. Bukannya wajah bayi sama saja. Adelia memutar otaknya.


“Tidak masalah. Lagi pula ini masih hanya sebuah gejala. Kau boleh melakukan pekerjaanmu. Bulan depan baru kita lihat, terlalu dini juga tak akan terlihat bukan?” Adelia tampak tiba-tiba saja antusias. Bagaimana pun dia harus hamil. Dia tak boleh kalah dengan Laura.


Antony melihat wajah Adelia mengerutkan dahinya. “Aku tidak punya rencana untuk menebak apakah kau benar-benar mengandung atau tidak.” Antony menatap Adelia seirus yang membuat senyum wanita itu pupus.


“Apa maksudmu?” tanya Adelia. Dia tidak suka dengan tatapan dan wajah Antony sekarang.


“Aku ingin membuktikannya sekarang.” Antony sedikit menyipitkan matanya. Sebenarnya tatapan Antony itu malah terlihat mengancam. Tapi segera dia ubah dengan senyuman palsu. “Karena itu aku juga memanggil dokter kandungan untuk langsung memeriksa bagaimana keadaanmu.” Antony melirik ke arah Calton yang sekarang berada di sampingnya. Max masih dalam perjalanan pulang.


“Kau apa?” tanya Adelia tidak percaya.


“Ya, aku memanggil dokter kandungan terbaik di negara ini. Aku ingin kalian ada di saat pembuktian ini. Maaf, aku hanya terlalu tidak percaya akan menjadi ayah dari Adelia.” Antony memberitahu tujuannya pada ayah dan ibu juga mertuanya. Tentu mereka memaklumi sikap Antony.


“Aku tak mau melewatkan momen ini Adelia. Ibu dan ayahmu juga harus menyaksikannya.” Antony berbicara seolah dia senang. Tapi Adelia tahu itu hanya cara Antony mengejeknya.


Calton langsung masuk dengan seorang dokter yang segera memberikkan salam untuk orang-orang penting yang duduk di meja bundar mereka.


Adelia mendengus pelan karena merasa Antony sudah sangat keterlaluan. Dia ingin menghinanya di depan orag tuanya. Bagaimana dia bisa sekejam ini.


“Dokter, tolong periksa istriku. Dia mengatakan padaku dia sudah mengandung anakku tadi. AKu sangat ingin tahu bagaimana kebenarnnya. Bukannya pemeriksaannya sangat mudah?” tanya Antony segera.


“Tentu Tuan. Alat USG juga sudah kami pindahkan ke sini. Jadi walaupun konfirmasi dari air seni tidak terlihat, kita bisa melihatnya menggunakan alat USG.” Dokter itu menjelaskan.


“Alat USG?” tanya Adelia dengan bingung.


“Ya, aku meminta satu alat USG untuk di bawa ke mari. Untunglah dokter ini memiliki alat USG tercanggih dan bisa dibawa ke sini, Aku benar-benar ingin tahu bagaimana yang sebenarnya.” Antony tersenyum manis.


Orang-orang di ruangan itu pasti berpikir Antony sangat menyayangi istrinya dan sangat senang dengan berita kehamilan Adelia hingga dia bisa menyewa alat itu untuk dibawa ke sini.


Hanya Adelia yang tahu betapa liciknya Antony yang sepertinya benar-benar ingin tahu kebenaran pengakuannya tadi.


Tentu Antony tak bisa percaya. Sudah begitu lama mereka tidak melakukan hubungan. Bahkan lebih dari dua bulan. Tapi bagaimana wanita ini bisa hamil? Jika dia benar-benar hamil, Antony malah lebih senang. Dengan begitu dia bisa meminta dokter untuk memeriksa DNA anak yang dia kandung dan menjadikannya bukti untuk memutuskan tali pernikahan mereka. Antony yakin, itu bukan anaknya.


“Baiklah. Nyonya Presiden. Bolehkah saya meminta Anda untuk menampung air seni Anda?” tanya Dokter itu memberikan sebuah wadah untuk menampung air seni.


Adelia menggigit bibirnya untuk mengambil wadah itu. Dia segera berdiri dan melirik Antony yang tersenyum tipis seolah mengejek. Adelia menggenggamnya erat dan segera melangkah.


“Calton, ikuti Nyonya. Aku tidak ingin dia terpeleset atau pun jatuh.” Antony memerintahkan Calton. Mendengar itu Adelia meremas wadah itu. Antony tak ingin dia berbuat curang hingga Calton di minta untuk menemaninya.


Sementara itu, ibu Adelia dan Ibu Antony hanya senyum-senyum saja mendengarkan hal itu. Mereka berpikir betapa perhatiannya Antony terhadap Adelia.


Adelia berjalan ke arah kamar mandi. Mau tak mau dia menampung air seninya. Dia berjalan cepat keluar dan segera berjalan ke arah Dokter dan juga Antony yang menatapnya berharap. Belum lagi orang-orang tua mereka. Bagaimana ini?


Adelia memutar otaknya. Jika tidak ada air seni, bukannya tidak akan ada test? Adelia berjalan lebih cepat dan tiba-tiba saja dia menjatuhkan dirinya.


“Adelia!” Ibu Adelia kaget. Dia segera menghampiri putrinya. Semua orang di sana kaget dan langsung berdiri. Tapi hanya Ibu Adelia yang menolong Adelia berdiri.


“Aku tidak apa-apa, hanya ceroboh dan tersandung.” Adelia menatap ibunya. Air seni yang dia bawa jatuh sudah.


“Apa kau baik-baik saja? apa ada yang sakit di daerah perutmu,” tanya ibu Adelia. Tentu takut cucu pertamanya gugur.


“Tidak Bu. Tapi bagaimana ini dokter? air seninya sudah jatuh,” ujar Adelia dengan wajah polos. Antony menyipitkan matanya.


“Tidak masalah Nyonya. Bukannya sudah ku katakan bahwa aku membawa USG? kita bisa langsung memastikannya.” Dokter itu tersenyum riang sambil memberikan kode pada para asistennya. Mereka segera menyiapkan alat itu di salah satu ruangan di sana.


“Tapi tak apa-apa langsung memeriksa USG tanpa pemeriksaan air seni?” tanya Adelia berharap dokter mengatakan bahwa harus ada pemeriksaan air seni sebelumnya.


“Tentu saja tak masalah. Itu hanya pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan konfirmasi utama adalah USG. Mari Nyonya,” ujar dokter itu segera.


Adelia membesarkan matanya. Benarkah? dia kira harus ada pemeriksaan testpack dahulu baru memeriksa USG. Setidaknya begitulah yang dia tahu sebagai wanita yang belum pernah memeriksakan kandungan. Jadi sekarang dia harus di USG. 


Adelia menatap Antony yang hanya diam. Adelia menyipitkan matanya. Apa sekarang pria ini senang?