Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 28. Aku akan melayani, tapi dengan satu syarat.


“Ke mana kau membawaku?” Graciella mulai panik melihat jalanan yang jarang dia lewati. Dia benar-benar menyesal sudah masuk begitu saja ke dalam mobil Adrean. Bagaikan kancil yang dengan suka rela masuk ke dalam kandang macan. Seharusnya dia tahu, sekian lama kenal dengan pria ini. Jika dia bersikap baik, pastilah lebih menakutkan dahi saat dia bersikap kasar.


“Kenapa begitu takut. Aku hanya ingin membawamu bertemu dengan teman-temanku?” ujar Adrean dengan wajah bertekuk. Graciella mengerutkan wajahnya. Selama tiga tahun bersama, Adrean bahkan tak ingin mengakui dia adalah istrinya bahkan dengan para tetangga mereka. Kenapa sekarang tiba-tiba ingin mengenalkannya pada teman-temannya. Apa sebelumnya kepala Adrean terbentur? hingga dia berubah seperti ini? “Kenapa?” tanya Adrean lagi karena Graciella menatap dirinya terus menerus. Risih rasanya mendengar Adrean dengan nada normal.


“Adrean, aku rasa aku lelah. Aku pulang saja. Tak perlu mengantarku. Aku pulang sendiri saja.” Graciella tetap merasa ada yang aneh. Walau nada bicara Adrean sangat baik. Tapi entah kenapa hati kecilnya menolak bahwa pria ini sudah berubah. Mungkin jika dia melakukan hal ini 2 tahun yan lalu. Graciella akan mudah percaya, tapi sekarang, dia tak bisa percaya begitu saja.


“Ada apa denganmu? Sial! jangan hancurkan moodku yang baik ini! duduk saja dengan tenang! Teman-temanku sudah menunggu!” kali ini nada bicara Adrean lebih meninggi. Graciella baru merasa berbicara dengan suaminya sekarang.


“Urusan apa temanmu denganku? toh dari dulu tanpa diriku kau tetap bisa berteman dengannya. Berhenti saja di sini! aku akan pulang sendiri. Berhenti Adrean! atau aku akan meloncat dari sini," ancam Graciella. Semakin Adrean memaksanya untuk ikut semakin dia yakin ada yang tak beres. Graciella menyiapkan dirinya. Biarlah dia mati terjun dari mobil ini dari pada harus ikut dengan pria ini. Dia yakin ada sesuatu di tempat tujuan itu.


“Kau ini!” Adrean memegang samping kepala Graciella dan dengan cepat menghantamkan kepala Graciella ke arah kaca yang ada di sampingnya. Hantaman itu keras hingga membuat Graciella pusing seketika. Adrean yang melihat Graciella masih sadar langsung memukul tengkuk Graciella yang seketika membuat wanita itu terkulai lemas. Graciella langsung pingsan.


Adrean meyipitkan matanya melihat wanita itu. Sudah berani berbohong padanya? mana mungkin menghadiri pesta seorang teman wanita begitu cantiknya. Adrean tahu bagaimana Graciella. Dia tak suka berdandan. Selain itu sebelum mereka melaju pergi, dia bisa melihat siluet pria yang tak terlalu tampak wajahnya sedang ada di belakang mobil mereka. Wanita ini dari awal memanglah wanita kotor dan murahan. Sekalian saja dijajakan kepada semua pria. Temannya pasti akan bersenang-senang malam ini.


****************


Graciella mengerutkan wajahnya. Suara lagu yang keras perlahan-lahan menganggu tidurnya. Dia mencoba membuka matanya tapi sedikit susah karena nyeri hebat di kepala dan tengkuknya yang berat.


Samar pandangannya. Lampu yang sangat terang seperti tepat ada di matanya. Tapi cahaya lampu itu meredup ketika siluet tubuh pria ada di atasnya. Siapa? dia seperti tidak mengenal pria yang sekarang ada di atas tubuhnya.


Pria! Graciella langsung berusaha keras mengerjapkan matanya agar pandangannya semakin jelas. Dia langsung melonjak kaget melihat seorang pria bertubuh sangat tambun dengan wajah yang seolah kelaparan melihat Graciella. Pria itu sudah tak menggunakan apapun, hanya ****** ***** pendek yang menutupi area pribadinya, selainnya tampak polos.


Melihat itu Graciella langsung melihat tubuhnya. Dia sedikit menghembuskan napas lega melihat bajunya masih lengkap. Dia lalu memutar matanya melihat keadaan sekitar. Ruangan itu seperti ruangan khusus yang di sewa oleh pria-pria hidung belang untuk melakukan hubungan badan. Suara berisik di luar seperti suara diskotik. Nyatanya dia terduduk di sebuah ranjang besar berbentuk hati dengan sprei merah yang mencolok. Bau rokok bercampur dengan bau pengharum ruangan. Membuat siapapun yang mencium menjadi sesak dan mual.


“Kau siapa?!” Graciella mendelik ke arah pria itu. Dia mengambil asbak yang ada di dekatnya. Jika ada apa-apa, dia akan memukulkan asbak yang lumayan tebal itu pada kepala pria tambun ini.


“Aku adalah teman Adrean. Dia bilang dia akan membawa wanita sebagai hadiah dari tender yang dia menangkan kemarin. Aku tidak menyangka dia akan membawa wanita yang sangat cantik sepertimu. Kau benar-benar membuatku berga’irah!” Graciella membesarkan matanya. Tak percaya apa yang dikatakan oleh pria itu. Adrean memberikannya untuk tidur dengan pria ini? bagaimana bisa! bagaimana bisa dia memberikan istrinya untuk ditiduri dan sebagai hadiah? Adrean benar-benar bedebah!


Pria itu meletakkan tangannya di paha Graciella. Graciella tentu jijik walaupun pria itu tidak menyentuhnya secara langsung. Graciella dengan refleksnya langsung memukulkan asbak pada pria tambun itu. Pria itu langsung terhuyung kesakitan.


Melihat pria itu kesakitan. Graciella tak menyia-nyiakannya. Dia segera turun dan hendak berlari keluar dari kamar itu. Tapi sialnya, pria itu dengan cepat menangkapnya kembali. Menahan tubuh Graciella dari belakang. Graciella benar-benar merasa jijik dipeluk dari belakang oleh pria tambun yang tubuhnya penuh dengan keringat.


“Lepaskan!” teriak Graciella.


“Kau tidak boleh ke mana-mana! lagi pula kau tidak akan bisa keluar. Pintu itu sudah dijaga oleh para penjagaku. Mereka ada banyak. Selain itu hanya aku yang bisa membukanya. Jika tanpa suaraku, pintu itu tak akan dibukakan oleh siapapun,” ujar pria itu berbisik di belakang telinga Graciella yang membuat seluruh tubuh Graciella merinding ketakutan. “Berteriaklah, tak akan ada yang bisa mendengarmu. Teruslah berontak, semakin kau berontak, kau membuatku semakin berga’irah.”


Graciella memutar otaknya. Bagaimana dia bisa keluar dari sini jika apa yang dikatakan oleh pria ini benar. Kalau dia memukul pria ini lagi dan membuatnya pingsan, tak mungkin dia bisa keluar dari sini. Graciella memutar otaknya. Melihat pintu lain di sudut ruangan. Kamar mandi!


“Baiklah,” ujar Graciella mencoba untuk menahan jijiknya dan tidak lagi berontak. Dia tak bisa keluar dengan paksaan. Jika nantinya dia lari ke kamar mandi, pria ini akan memanggil pengawalnya dan dengan cepat Graciella akan tertangkap. Dia harus bermain halus dengan pria ini.


“Baiklah apa?” tanya pria itu menjilat daun telinga Graciella. Graciella menggigit bibirnya. Benar-benar rasanya dia ingin berteriak.


“Aku akan melayanimu. Tapi dengan satu syarat!” ujar Graciella mencoba menegarkan suaranya. Bahkan mencoba sebisa mungkin terdengar merayu. Pria itu melepaskan tubuh Graciella dan membalikkan tubuh mungilnya. Graciella menggigit bibir dalamnya menahan rasa jijik yang menjalar ke seluruh tubuhnya melihat pria yang wajahnya memerah menahan *****.