
Laura menatap mata Graciella yang tampak menunjukkan binar kebahagiaan. Tentu saja, akhirnya temannya yang bodoh ini bisa mencintai orang yang tepat.
“Dia ….” Laura menceritakan hampir semua hal yang mereka jalani. Graciella bisa melihat kebahagiaan yang terpancar ketika Laura mengatakan semuanya. Graciella juga tidak menyangka bahwa Antony bisa begitu. Berubah untuk orang yang dia cintai, mencoba terus menerus untuk membuat Laura jatuh cinta. Terdengar begitu romantis.
Graciella hanya mencoba mendengarkan dengan baik apa yang diceritakan oleh Laura. Tapi tiba-tiba temannya itu berhenti berbicara dan terdiam sejenak. Graciela mengerutkan dahinya ketika Laura menatapnya.
“Kau pasti membenciku sekarang.” Laura menatap ke arah Graciella dengan wajahnya yang menahan tangis.
“Kenapa?” tanya Graciella bingung. Dari begitu semangat Laura seperti langsung terjun ke dalam sebuah kesedihan. Apa yang membuatnya sedih.
“Aku sekarang adalah wanita simpanan. Bagaimana pun, Antony sudah memiliki istri. Aku hanya simpanannya, benar bukan?” Laura mengusap air mata yang jatuh. Dia akhirnya ingat apa alasannya menyerahkan diri pada Graciella. Dia ingat bahwa dia ingin pergi dari hidup Antony agar dia tidak bisa merusak kehidupan Antony. Tapi kenapa? Kenapa terasa begitu sulit? Lalu bagaimana bisa, jika setiap helaian dan detak jantungnya hanya Antony seorang yang terkenang.
Laura juga tahu bagaimana bencinya Graciella dengan wanita-wanita penggoda suami orang. Dia juga sama bencinya dulu dengan wanita seperti itu. Tak pernah menyangka, di kehidupannya dia akan menjadi salah satunya.
Graciella terhenyak. Bagaimana bisa dia lupa bahwa Antony sekarang sudah memiliki Adelia. Yang dikatakan oleh Laura benar adanya. Dia adalah wanita lain dalam pernikahan Antony dan Adelia.
Graciella menggigit bibirnya. Ya, dia membenci semua wanita yang menjadi perebut suami orang lain. Dia sudah pernah tahu rasa sakitnya. Sakit yang hingga terasa bagaimana dunia ini tidak bisa dia injak.
Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana bisa Laura, sahabatnya sendiri malah menjadi duri dalam perkawinan Adelia. Apakah dia harus membenci Laura?
“Jika kau sekarang membenci dan tidak ingin melihatku lagi, aku tidak akan ada masalah.” Laura menghapus air matanya dengan keras. Dia juga tidak mau jadi simpanan. Hanya saja, bagaimana mengendalikan perasaan yang sudah terasa begitu berakar.
“Aku tidak menyangka kau masih saja bodoh!” Graciella mengembangkan senyumannya yang membuat Laura sedikit mengerutkan dahinya. “Walau tidakanmu selalu membuatku tidak habis pikir. Kau tetap akan menjadi sahabatku. Aku tidak tahu lagi bagaimana mencari wanita unik sepertimu ini.” Graciella menatap Laura. Laura memang salah sudah mencintai dan berhubungan dengan pria yang sudah beristri. Tak ada pembelaan untuknya. Tapi, bukan berarti dia harus meninggalkan wanita ini sendirian menghadapi semuanya.
Luara tersenyum sedikit sambil menghapus air matanya yang sudah membuat kedua matanya semakin bengkak. Semalaman dia menangis merindukan Antony. Bertanya apa yang terjadi padanya. Bagaimana tangannya yang terluka hingga melupakan apa yang menjadi tujuannya ikut dengan Graciella. Bukannya dia ingin melepaskan pria itu? Ah! Kenapa? Kenapa sekarang rasanya semakin menyesak. Bahkan Laura nyeri yang sangat di dadanya ketika memikirkan hal itu.
“Lalu, Laura, apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau ingin kembali bersama dengan Antony? Atau ….” Graciella tak tahu bagaimana cara mengatakannya. Tapi, dia juga ingin tahu apa keputusan dari Laura.
“Aku ….” Laura merasakan tenggorokannya tercekat. Seolah ada seutas kawat panjang yang langsung menebas lehernya. “Aku rasa aku ingin pergi darinya.” Laura mengatakannya dengan suara dan bibir bergetar. Semakin lama getaran itu terlihat nyata di bibir Laura. “Aku hanya akan menghancurkan hidupnya, bukan?” Air mata sudah mengumpul menghalangi pandangannya.
Graciella menarik napsanya menunjukkan wajah simpati. “Apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya.”
Laura awalnya ingin menghentikan tangisnya tapi entah bagaimana rasa sakit yang begitu sangat membuatnya tak bisa membendung rasa sakitnya. Dia langsung menangis tersedu-sedu hingga membuat Graciella kaget melihatnya. Graciella langsung bangkit dan memeluk Laura yang terus menerus menumpahkan rasa sakitnya. Graciella pun bisa merasakan bagaimana pilu hati Laura.
“Graciella, bagaimana ini bisa terjadi padaku? Kenapa saat aku sudah menyukainya, aku malah tidak bisa memilikinya? Kenapa dia sudah menjadi milik orang lain? Apa yang harus aku lakukan?” Laura meraung-raung. Perasaannya benar-benar sakit, seolah teriris sembilu yang sangat tajam. Jantungnya bagaikan dihunus pedang. Kenapa bisa sesakit ini?
Graciella hanya bisa diam. Memeluk erat sahabatnya yang terus saja menangis dalam pelukannya. “Laura, semua akan baik-baik saja. Aku yakin itu,” bisik Graciella pada Laura yang mencoba menenangkannya. Walaupun hal itu sama sekali tak berdampak untuk Laura. Dia terus saja meraung mencoba mengatasi rasa sakitnya. Sayangnya, semakin dia menangis, rasanya semakin sakit.
Cukup lama Laura mencoba untuk menenangkan dirinya hingga akhirnya dia merasakan mati rasa. Saat itulah dia barus bisa mengontrol dirinya. Graciella membiarkan Laura menumpahkan semua perasaannya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Di satu sisi, dia tahu bagaimana rasa sakit ketika kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita cintai. Di sisi lain, dia tahu, jika membiarkan Laura terus bersama Antony juga adalah hal yang salah.
Graciella membiarkan Laura untuk mengurung dirinya di dalam kamar. Walaupun khawatir tapi Graciella tahu bahwa wanita itu tidak akan melakukan hal yang membahayakan. Walau bodoh, tapi Laura tak sebodoh itu.
Laura hanya diam. Cukup lama dia diam hingga akhirnya aksinya itu terganggu oleh suara notifikasi ponsel yang ada di sampingnya. Graciella memang meminjamkan salah satu ponsel yang dia punya untuk Laura saat Laura memintanya sebelum dia mengurung diri di kamarnya. Awalnya Laura hanya ingin tahu bagaimana keadaan Antony dari berita di internet, tapi beritanya pun tidak membuatnya puas.
Laura mengambil ponselnya dan melihat layarnya. Ada sebuah email masuk ke dalam emailnya. Subjeknya terbaca sedikit.
Laura langsung membersarkan matanya dan segera membuka email itu. Melihat hasil yang terpampang di sana membuat Laura sampai harus menutup mulutnya.
POSITIF.
Itu artinya dia hamil. Dia mengandung anak Antony!
Tubuh Laura langsung lemas. Bagaimana bisa? Bagaimana hal ini terjadi? Saat dia ingin berpisah dan merelakan Antony, saat itu pula dia tahu bahwa dia mengandung. Lalu, apalagi yang harus Laura lakukan?
...****************...
“Jendral!” Ajudan Xavier langsung mendatanginya.
“Ada apa?” tanya Xavier menyipitkan mata karena silau matahari yang menantang matanya.
“Tuan Presiden menunggu Anda di ruang pertemuan.”
Xavier tampak tak terkejut. Dia sudah tahu bahwa Antony pastinya akan melakukan hal ini. Xavier mengangguk dan segera berjalan ke arah ruang pertemuan.
Xavier langsung membuka pintu ruangan itu. Dia bisa melihat Antony yang langsung menatap ke arahnya.
“Aku rasa kau ingin berbicara berdua denganmu sekarang.” Antony langsung berdiri dan mengungkapkan keinginannya. Memandang Xavier dengan tatapannya yang begitu serius.
“Baiklah.” Xavier melirik ke arah ajudan yang dari tadi mengikutinya. Mereka mengangguk mengerti. Antony melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Xavier. Dua orang Paspamres yang dia bawa segera keluar.
Xavier langsung menutup pintunya. Melihat hal itu Antony segera berjalan mendekat ke arah Xavier. Dua pandangan bereka beradu. Saling menunjukkan keseriusan antara keduanya.
“Aku tahu kau mengambil sesuatu dariku.” Antony mengatakannya dengan sangat serius.
“Aku tahu apa maksudmu.”
“Aku ingin kau mengembalikannya padaku.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
hai kak, terima kasih sudah menunggu begitu lama.
maaf aku mengecewakan. ada hal yang membuat aku harus Self healing untuk mulai lagi menulis di NT. insya Allah setelahnya aku akan terus menulis.
yang bertanya aku sehat, Alhamdulillah sehat semua.
semoga ini bisa membuat kangen hilang ya.