Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 97.


“Baiklah, aku akan bersiap dahulu,” ujar Xavier langsung menutup pintunya. Xavier langsung berjalan ke arah ranjangnya. Melihat Graciella yang sudah berdiri dengan lilitan selimut putihnya. Memandang Xavier dengan wajahnya yang bertanya.


“Ada apa?” tanya Graciella menahan selimut itu agar melekat di tubuhnya.


“Aku harus pergi dulu. Atasanku memanggil,” ujar Xavier. Sebenarnya dia sangat enggan meninggalkan Graciella saat ini. Tapi bagaimanapun dia sudah bersumpah untuk tetap mendahulukan pekerjaannya. Jendral Marco pasti punya alasan sendiri hingga memanggilnya semalam ini dan pastinya sangat mendesak.


“Semalam ini? apa Jenderal Marco tidak tahu keadaanmu sekarang?” tanya Graciella yang juga merasa tak ingin ditinggalkan oleh Xavier. Dia juga khawatir dengan keadaan Xavier, bagaimana pun dia belum sehat betul.


"Luka seperti ini bukan alasan untuk tidak bisa menemuinya, lagipula aku harus siap untuk segala situasi. Aku harus cepat bersiap, Jenderal Marco bukan orang yang suka menunggu," ujar Xavier lagi segera masuk ke dalam kamar mandi, sedikit membersihkan dirinya.


Graciella hanya melihat ke arah perginya Xavier. Dia segera mengambil bajunya yang tadi dilempar oleh Xavier hingga berserakan di kapet kamar itu.


Saat Graciella baru saja menarik turun baju tidurnya, pintu kamar mandi itu terbuka. Graciella langsung melihat ke arah kamar mandi. Greciella menahan napasnya melihat pemandangan yang sangat menyegarkan mata. Walaupun dia sudah melihat bagaimana tubuh Xavier tanpa menggunakan sehelai benang pun, tapi pemandangan ini tetap saja begitu menggoda.


Xavier keluar dengan lilitan handuk putih yang melekat di garis pinggulnya. Tubuhnya yang berbentuk sempurna dengan cetakan-cetakan otot yang jelas, kulitnya tak terlalu putih, mungkin karena sering terpapar oleh matahari tapi terlihat sedikit bersinar karena masih ada butiran-butiran air yang belum sempurna dikeringkan. Graciella cepat membuang pandangannya saat Xavier mulai melepaskan handuknya. Tetap saja terasa malu-malu untuk melihat hal itu secara terang-terangan. Dia juga tak mau tertangkap basah oleh Xavier sedang menatap tubuhnya.


"Aku akan kembali secepatnya," ujar Xavier sambil perlahan memakai celananya. Sedikit kesusahan karena gips yang ada di kakinya. Dia juga harus menggunakan celana yang sedikit besar agar kakinya bisa muat. Xavier langsung menggunakan pakaian dinasnya. Tentu menambah gagah dan kharismanya.


"Bisa beri aku kabar nantinya jika sudah sampai atau kapan kau bisa?" ujar Graciella lagi.


"Aku hanya pergi ke rumahnya, tidak akan terjadi apa-apa. Biasakanlah, mungkin nanti aku akan lebih sering seperti ini," ujar Xavier menangkap wajah cemas dari Graciella.


"Baiklah," ujar Graciella membantu mengancingkan pakaian dinas dari Xavier. Sepertinya dia belum bisa terbiasa hidup dengan seorang abdi negara yang setiap saat harus siap untuk bertugas.


Xavier hanya menaikkan sudut bibirnya sejenak lalu mencium dahi Graciella.


"Tak perlu mengantarku, istirahat saja dan jaga Moira."


"Ya, berhati-hatilah," ujar Graciella, entah kenapa begitu tak ingin Xavier pergi. Mungkin saja karena apa yang sebelumnya mereka lakukan membuat Graciella merasa sangat terikat dengan Xavier sekarang.


Xavier hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Dia segera berjalan perlahan dengan tongkatnya dan segera keluar dan menutup pintu kamar itu.


Seketika saja Graciella merasa sangat hening. Entah kenapa kamar itu terasa begitu besar ketika Xavier tak ada di sana. Graciella menggelengkan kepalanya, dia hanya merasa kesepian karena kepergian Xavier. Bukankah Xavier juga mengatakan dia harus membiasakan dirinya? memiliki pasangan seorang tentara, pastilah harus rela berbagi perhatian dengan pekerjaannya, bahkan mungkin mereka lebih menomorsatukan pekerjaan mereka.


Graciella memutuskan untuk membersihkan tubuhnya kembali dan setelahnya dia langsung menghidupkan ponselnya. Ada beberapa pemberitahuan tentang kotak suara yang masuk selama ponselnya mati dan semuanya dari Adrean. Graciella segera menghapusnya karena merasa lebih baik tidak berhubungan lagi dengan pria itu. Greciella meletakkan ponselnya di nakas samping ranjangnya. Melihat sejenak ponsel itu dan berharap Xavier benar-benar akan menghubunginya.


Namun, mungkin karena kelelahan. Graciella sekejap saja langsung masuk ke alam mimpi.


...****************...


Adrean menghisap rokoknya dengan tarikan dalam. Membuat bara yang ada di ujung rokok itu menjadi lebih menyala. Dia mengeluarkan asapnya yang langsung melayang-layang mengerubungi dirinya.


Matanya bagaikan elang mengawasi dari jauh rumah yang tampak dijaga oleh beberapa orang tentara. Tak lama pagar rumah itu terbuka dan sebuah mobil Jeep Wrangler Rubicon berwarna hitam keluar dari sana.


Adrean kembali menghisap rokoknya, kali ini lebih dalam dari pada yang tadi tapi rokok itu langsung dilemparkannya keluar dari jendela. Dia menatap seorang tentara yang menunjukkan gestur untuk masuk padanya. Adrean menaikkan sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyuman licik. Akhirnya, dia akan mengambil kembali apa yang sudah diambil darinya.


"Semua sudah aman, tapi Anda hanya punya waktu lima belas menit sebelum mereka datang," jelas salah satu tentara para Adrean.


"Bagaimana dengan asisten Xavier?" ujar Adrean yang mendapat laporan bahwa Fredy sengaja tidak ikut dengan Xavier agar Fredy bisa menjaga Graciella dan juga Moira.


"Dia sudah tak sadarkan diri setelah kami mengejutkan dirinya dengan alat kejut listrik. Cepatlah! atau kita akan tertangkap!" jawab tentara itu lagi. Adrean mengiminginya uang yang cukup untuk pengobatan putrinya. Karena itu dia terpaksa menyetujui untuk mengkhianati komandannya sendiri.


Adrean tak merespon pria yang tampak cemas dan gusar. Adrean hanya berjalan menuju pintu yang sudah terbuka lebar untuknya. Dia melirik ke arah tubuh yang terkapar di lantai. Fredy sudah tak sadarkan diri. Dia tadi juga melihat beberapa orang tentara yang lain juga sudah terkapar, hanya menyisakan dua orang tentara yang dia sewa saja.


Salah satu dari tentara itu segera menunjukkan di mana keberadaan Graciella. Adrean menaikkan kembali bibirnya seraya memutar knop pintu kamar itu.


Udara dingin dari pendingin udara segera menyambutnya. Wangi segar khas maskulin menyentuh saraf penciuman Adrean. Dia berjalan perlahan agar tak membuat Graciella ataupun Moira terbangun. Perlahan dia bisa melihat Greciella sedang tertidur pulans bersama anaknya.


Ah! Dia sudah sangat merindukan wanita ini, padahal belum ada seminggu mereka berpisah. Adrean harus akui, dia sudah tergila-gila dengan wanita yang notabene adalah mantan istrinya ini.


Graciella mengerutkan sedikit dahinya karena merasakan gerakan sedikit kasar yang menggoyangkan ranjang yang dia tiduri. Graciella memang orang yang gampang untuk terbangun, mungkin memang pekerjaannya yang selalu membutuhkannya untuk siap siaga membuatnya begitu.


Graciella mengerjapkan matanya, samar dia melihat tubuh pria yang tampak mendekatinya, tentu dia pikir itu adalah Xavier. Akhirnya dia pulang juga, pikir Graciella yang matanya masih terasa cukup sepat. Dia kembali mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya bisa melihat dengan jelas. Bau tembakau itu masuk ke dalam hidungnya, sejak kapan Xavier merokok? pikirnya lambat.


Awalnya Graciella masih memproses pria yang sekarang ada di atas tubuhnya seperti posisi Xavier tadi, tapi seketika saja matanya membelalak besar melihat wajah pria itu


"Adrean!" pekik Graciella yang langsung berontak. Adrean dengan cepat membekap mulut Greciella dengan sebuah sapu tangan yang sudah dibubuhi olehnya zat chlorophom agar Graciella pingsan.


Tapi Graciella mencoba berontak. Adrean menyeret tubuh Greciella dari atas ranjang itu hingga turun. Mata Greciella bergulir melihat ke segala arah untuk melihat sebenarnya di mana dia sekarang. Graciella mengerutkan dahinya, dia masih di dalam kamar Xavier, tapi kenapa Adrean bisa ada di sini?


Adrean terus membekap Graciella seraya menahan berontakan dari Graciella. Greciella melirik ke arah ranjang melihat anaknya masih tertidur dan hanya menggeliat sesekali.


Graciella sebisa mungkin tak menghirup zat yang ada di sapu tangan yang membekap mulut juga hidungnya. Tapi perlawanannya membuat dia panik dan butuh oksigen lebih banyak dan tanpa sadarnya dia menarik napasnya panjang. Graciella mulai merasakan pusing dan pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa berat dan tiba-tiba saja seluruh badannya lemas dan semuanya menjadi gelap.


Perlahan tapi pasti, perlawanan dari Graciella mulai mengendur dan Adrean segera menangkap tubuh Graciella yang terkulai.


Adrean tentu tak mau mengambil waktu lama. Dia segera menggendong Graciella dan membawanya keluar dari kamar itu. Ada gurat wajah senang melihat wajah Graciella yang hanya tampak seolah tertidur di dalam gendongannya.


"Bagaimana dengan anaknya?" ujar tentara yang pertama.


"Biarkan saja. Biar mereka membawanya. Aku hanya membutuhkan dia," ujar Adrean yang segera melangkah keluar dan membawa tubuh Graciella masuk ke dalam mobilnya


...****************...


Halo kak, sedikit penjelasan, obat bius itu bereaksi setelah lima menit pembekapan, so! kalau di dunia nyata begitu, bukan kayak di film, asal tempel plek tidur ya kak! itu salah kaprah ok! hehe


enjoy kak!