
Belum selesai Graciella memikirkan hal itu, tiba-tiba saja ponselnya kembali bergetar. Dia langsung kaget melihat nomor itu adalah nomor yang memberikannya pesan. Graciella langsung bingung apakah dia harus mengangkatnya atau tidak.
“Siapa? Kenapa tidak diangkat?” ujar Laura yang terlihat sudah biasa saja. Walaupun masih sedih harus menikahi Antony tapi sepertinya kehadiran Graciella membuatnya lebih tenang.
“Oh, iya, ini aku akan mengangkatnya. Mungkin dari kak Daren, dia punya sebuah kasus sebelum aku ke sini. Eh, aku angkat dulu ya,” kata Graciella yang sedikit salah tingkah karena pertanyaan Laura. Laura hanya memandang Graciella aneh, kenapa harus minta izin padanya.
Graciella segera pergi menjauh dari Laura. Dengan cepat dia menjawab panggilan ponsel itu. Bukan dia ingin merahasiakan hal ini, tapi perkataan Daren sebelum dia pergi membuatnya merasa dia harus merahasiakannya dari Laura.
“Ehm, halo?” suara Graciella terdengar kecil.
“Apa Laura tahu aku yang menelepon dirimu?” tanya Xavier tiba-tiba. Suara berat itu ternyata semakin berwibawa tatkala di dengar lewat ponsel.
“Eh? Dari mana kau tahu aku sekarang bersama dengan Laura?” tanya Graciella. Dia tidak pernah melaporkan dirinya sekarang bersama Laura.
“Aku meminta beberapa bawahanku untuk mengikutimu. Jika kau bisa melihat keluar, akan ada tiga orang pria yang menggunakan gelang merah. Itu adalah bawahanku. Lalu ada tiga orang yang lain yang mengikutimu, itu dari Stevan,” jelas Xavier pada Graciella yang segera menuju balkon kamar laura. Kebetulan sekali langsung bisa melihat ke balik pagar rumah itu.
Graciella menyipitkan matanya melihat orang-orang yang lalu lalang di sana. Matanya menangkap sosok yang dikatakan oleh Xavier, dua orang tampak sedang bercengkrama seperti orang biasa, tapi mereka sama-sama menggunakan gelang merah.
“Bagaimana bisa mereka semua mengikutiku? Memangnya aku ******* harus diikuti begitu banyak orang dan diawasi begitu?” tanya Graciella. Merasa batas privasinya terlewati. Lagipula Graciella merasa dia bukan orang penting sehingga harus diikuti oleh para penjaga.
“Itu caraku untuk menjagamu. Kau boleh menanyakan alasan Stevan kenapa dia mengirim banyak orang untuk mengawasimu. Jika bisa minta dia menarik mundur semua penjaganya.”
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau bisa menarik mundur bawahanmu?”
“Tidak bisa! Aku tidak akan menarik mereka mundur.”
“Lalu? Bukannya itu sama saja, kau dan Stevan tetap akan mengawasiku,” ujar Graciella kesal. Dia merasa bagaikan anak kecil yang harus diawasi setiap saat.
“Temui aku malam ini, aku akan memberitahumu ke mana kau bisa menemui ku," ujar Xavier tak menanggapi apa perkataan Graciella. Tentu hal itu membuat Graciella semakin kesal.
“Untuk apa aku menemuimu?” tanya Graciella lagi sedikit ketus. Xavier saja tidak mau mengikuti kata-kata Graciella, kenapa dia harus menurut kata-kata Xavier. Memangnya dia siapa? Bukannya mereka hanya kenal sesaat.
“Ada hal yang ingin aku katakan padamu,” ucap Xavier lagi.
“Aku tidak janji akan datang. Aku sedang ada urusan dengan Laura,” ujar Graciella lagi.
“Ehm? Siapa itu?” tanya Laura yang mendengar namanya disebut oleh Graciella, lagipula kenapa wanita ini harus begitu menjauh hanya karena menjawab sebuah panggilan. Graciella kaget dengan pertanyaan Laura yang tiba-tiba.
“Aku akan menghubungimu lagi nanti malam,” ucap Xavier sebelum suara pemutusan panggilan itu terdengar. Graciella hanya menggigit bibirnya.
“Siapa dia?” tanya Laura yang melihat wajah Graciella. Pasti itu bukan panggilan biasa.
“Chris? Woh, dia menelepon langsung dari Amerika hanya untuk berbicara denganmu! Itu sungguh sangat romantis!” ujar Laura yang sudah kembali ke sifatnya yang asli. Graciella menyipitkan matanya dengan tampang sedikit kesal. Untuk apa dia tadi berkendara begitu cepat hanya untuk bisa melihat keadaan gadis bodoh ini! Dinikahi malah menangis! Pikir Graciella.
“Laura?” suara panggilan dan juga ketukan lembut di pintu itu terdengar. Laura segera membesarkan matanya. Graciella sudah bisa menebak siapa sosok yang berdiri di belakang pintu itu.
“Katakan padanya aku sedang tidur! Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya!” bisik Laura yang langsung berlari kecil ke tempat tidurnya. Dengan cepat dia langsung naik ke ranjangnya dan menggulung tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Graciella hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Laura. Entah apa maunya sahabatnya yang aneh ini. Sifatnya benar-benar membingungkan.
“Laura?” suara itu terdengar lagi.
Graciella jadi serba salah, dia melihat Laura mengeluarkan gesture agar dia membuka pintu dan mengatakan hal yang dia katakan. Graciella hanya mendengus sebelum dia membukakan pintu untuk Antony.
“Lau … eh, maaf, Gracie? Apakah Laura ada di dalam?” tanya Antony wajahnya tampak berharap untuk bertemu dengan Laura. Tentu saja Graciella jadi tidak enak menolak kedatangan Antony.
“Eh? Laura … dia ada, tapi sepertinya dia sedang tidak ingin bertemu denganmu,” ujar Graciella jujur saja. Tentu hal itu membuat Laura melotot. Dia langsung bangkit dari tidurnya.
“Aku harus melihat keadaannya. Terakhir dia begitu terpukul karena kejadian semalam,” kata Antony dengan wajah yang bersalah. Graciella tampak menunjukkan wajah terpukaunya. Pria begitu sempurna, ingin cari di mana lagi pria seperti ini.
“Ya, dia ada di sana sedang pura-pura tidur," ujar Graciella dengan entengnya membuka pintu kamar Laura. Tentu Laura kaget dan langsung berwajah kesal.
“Jangan masuk! Jangan coba-coba masuk!” ujar Laura yang segera melemparkan boneka-boneka yang ada di dekatnya ke arah Antony. Graciella membesarkan matanya melihat reaksi dari Laura yang selalu berlebihan. Apa yang disukai Antony dari temannya yang aneh ini?
“Laura! Aku … hanya ingin melihat keadaanmu!” kata Antony yang menghindar dari terjangan boneka yang dilemparkan oleh Laura.
“Aku sedang tidak baik karena kelakuanmu!” ujar Laura lagi.
“Maafkan aku, tapikan kau yang menggodaku.” begitu polos Antony mengatakan hal itu membuat Graciella semakin membesarkan matanya sambil menahan tawanya. Entah akan bagaimana rumah tangga mereka berdua nantinya.
Laura mendengar itu terdiam. Antony merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan tadi malam dan mengira Laura sedih karena apa yang dia lakukan kemarin padanya.
“Tapi aku tidak memintamu untuk bertanggung jawab! Kenapa kau bertanggung jawab padaku!” ujar Laura yang seketika membuat Antony yang tadinya mencoba membujuk Laura menjadi terdiam.
“Jadi kau sedih karena masalah ini? Kau tidak ingin aku bertanggung jawab?” tanya Antony yang sedikit merasa tidak percaya juga aneh. Sebegitu tidak sukakah Laura pada dirinya sehingga dia ingin bertanggung jawab saja dia tidak ingin?
Laura terdiam mendengar pertanyaan Antony. Dia ingin mengatakan iya, tapi dia juga takut menyesalinya. Graciella yang melihat keadaan ini mulai tidak sesuai akhirnya memutuskan mengambil alih keadan ini.
“Antony, bukan begitu. Laura hanya masih syok dengan semuanya, apalagi dia harus segera menikah dengan waktu cepat. Semua wanita pasti akan berpikir dan mengatakan hal-hal aneh karena dia sangat cemas dan takut dengan semua ini, dia hanya bingung, kau harus mengetahuinya kata Graciella.
Antony menatap ke arah Graciella. Dia hanya mengangguk kecil mencoba untuk mengerti apa yang dikatakan oleh Graciella. Graciella hanya tersenyum pelan lalu memasang wajah kesalnya menatap ke arah Laura yang hanya diam, merajuk.