
Xavier sudah bersiap dengan tim khusus yang dibentuk olehnya secara mendadak. Meminta bantuan pada teman-teman sejawatnya di angkatan laut. Dia mendapatkan pasukan untuk melakukan penyelamatan di laut.
"Apa ada laporan dari udara?" Tanya Xavier melihat peta perairan di negara mereka. Adrean bisa ada di mana saja sekarang.
"Belum, masih belum ada tanda-tanda, Jendral." ujar Laksamana Madya Sebastian.
Xavier memipihkan bibirnya. Ke mana dia harus mencari. Menyisir lautan apalagi semalam ini bukan hal yang bijak. Satu-satunya harapannya ada pada Stevan.
Baru saja dia selesai memikirkan hal itu. Xavier meraskaan ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Stevan.
"Halo?" Tanya Xavier tegang. Apakah Stevan sudah tahu di mana lokasinya?
"Aku menemukan koordinat dari Greciella. Dia ada di lautan lepas internasional. Aku akan terus mengirimiku koordinatnya. Sejauh ini dia masih belum bergerak."
"Baiklah!" Ujar Xavier yang langsung ingin mematikan panggilannya.
"Xavier!" Panggil Stevan agar Xavier tidak mematikan panggilannya.
"Menurut informan. Lebih baik menyergapnya diam-diam. Jangan libatkan helikopter walaupun akan lebih mudah. Jika ingin memantau. Pantau dari jauh. Adrean memiliki senjata." Jelas Stevan lagi. Walau tak seratus persen percaya dengan perkataan Elaine. Tapi patut dijadikan pertimbangan.
"Baiklah," ujar Xavier.
"Hati-hati," ujar Stevan merasa misi ini berbahaya. Jika mereka tewas di sana. Tak akan ada yang bjsa menuntut Adrean.
"Hmm!" Xavier langsung mematikan ponselnya.
Buru-buru dia melihat koordinat yang diberikan oleh Stevan.
"Peta!" Teriaknya.
Sebastia dan Arnold segera menujukkan peta di dekat Xavier. Xavier langsung membaca koordinat yang diberikan. Dengan cepat melingkari sebuah tempat.
"Di daerah selatan!" Xavier bergumam dengan tangan dan wajah gemetar menahan emosi. "Bersiap!"
Xavier segera ingin naik ke atas kapal yang sudah disiapkan. Mereka harus pergi sekarang. Tapi tiba-tiba mereka di hadang oleh beberapa tentara lain yang datang begitu saja.
Misi mereka memanglah misi rahasia. Orang-orang yang ikut juga hanya diperintahkan khusus untuk membantu Xavier. Mengerahkan tentara, alat-alat dan juga kendaraan milik negara sebenarnya adalah hal yang melanggar peraturan jika untuk keperluan pribadi.
Walaupun Greciella diculik. Seharusnya Xavier laporkan semua ini pada atasannya, Jenderal besar. Tapi karena birokrasi pastilah akan memakan waktu lama. Karena itu Xavier mengambil langkah belakang.
"Ada apa ini?" Tanya Xavier. Apakah langkahnya diketahui oleh atasan mereka?
Sebastian melihat pasukan yang terdiri dari 20 puluh orang di depan mereka tampak sedikit kaget. Ini adalah pasukan khusus dari angkatan laut. Apakah benar mereka ingin menghalangi jalan Xavier?
"Jenderal Xavier! Saya Laksamana Madya Harry! pimpinan pasukan elite khusus tentara angkatan laut melapor untuk bertugas!"
Xavier dan Sebastian hanya mengerutkan dahinya.
"Siapa yang memerintahkan kalian?" Tanya Xavier. Bagaimana pun dia tidak bisa meminta pasukan elite khusus angkatan laut untuk membantunya.
"Perintah langsung dari Presiden. Jenderal! Kami siap membantu!"
Xavier mengerutkan dahinya. Antony! Bagaimana dia bisa melakukan hal ini. Tapi Xavier tak mau ambil pusing tentang hal itu. Bagaimana pun ini lebih baik.
"Baik, kita tak punya waktu banyak. Kita akan pergi sekarang!"
"Siap Jenderal!"
Mereka segera naik ke atas kapal dan segera pergi menuju ke koordinat yang diberikan oleh Stevan.
"Apakah sudah?" Tanya Laura dengan wajah cemasnya.
"Pasukan khusus angkatan laut sudah diperintahkan untuk membantu Xavier!" Antony memandang wanita yang tampak penasaran.
"Benarkah? Kau bisa melakukan itu sekarang?" Tanya Laura sedikit tidak percaya. Melihat dengan serius wajah pria yang sedang duduk di kursi kerjanya. Ruangan kerja Antony salah satu ruangan yang belum dia kunjungi karena kemarin terkunci.
"Aku Presiden sekarang. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau." Antony memandang Laura dengan serius.
"Seharusnya kau lebih banyak melakukan hal seperti ini. Menolong orang lain. Bukan menculikku seperti ini?" Gerutu Laura lagi sambil memainkan salah satu pajangan di meja Antony.
"Aku membantumu untuk menyukaiku," ujar Antony. Laura melirik pria itu. Wajahnya datar tapi bicaranya gombal.
Antony segera berdiri. Membuat Laura kaget karena pria itu segera mendekatinya.
"Kau ingin apa?" Tanya Laura yang sedikit trauma jika Antony mendekatinya.
"Bukannya kau mengatakan bahwa kau akan memberikan dirimu padaku bukan?" Tanya Antony dengan senyuman sumringah. "Kau sudah menggundangku …."
"Tapi bukannya kau tidak punya waktu banyak?" Potong Laura dengan gugupnya. Dia sepertinya tahu apa yang ingin dilakukan oleh pria ini.
Antony diam menatap wajah gugup tapi pura-pura diberikan senyuman oleh Laura.
"Kau sudah mengundangku dan aku mau kau menemaniku makan malam," ujar Antony. Dia belum sempat makan malam karena langsung menuju tempat ini. Sebuah permintaan Laura yang dari dulu seperti barang wajib dia kabulkan.
Laura terdiam. "Eh? Makan malam? Bukan …."
"Berhentilah memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku tidak sedang mood untuk bersama mu malam ini," ujar Antony memukul pelan kepala Laura dengan gulungan kertas di tangannya.
Laura berwajah meringis walaupun pukulan itu sama sekali tidak sakit.
"Tak mood untuk bersamaku malam ini? Lalu berapa banyak wanita yang kau tiduri?" Tanya Laura. Dia tidak peduli. Tapi dia hanya penasaran. Ya! Dia yakin hanya penasaran. Mengejar Antony yang beranjak pergi keluar.
Antony tidak membalas apa yang dikatakan oleh Laura dan hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang membuat Laura semakin penasaran.
"Hei! Kalau ditanya kau harus menjawabnya!" Ujar Laura menarik jas Antony. Melarang pria itu keluar dari ruangan itu. Karena di luar sudah ada Calton dan Max.
"Kenapa? Kau begitu penasaran?" Tanya Antony membalikkan tubuhnya.
"Ya-- ya-- ehm, tentu aku penasaran! Karena -- ya -- karena kalau kau tidur dengan banyak wanita aku harus tahu bagaimana riwayat kesehatanmu. Nanti kau menularkan penyakit untukku," ujar Laura dengan wajahnya yang ngambek. Mencari alasan ternyata sudah juga.
Laura melirik ke arah Antony yang tampak mengeluarkan tatapan yang susah dia tebak. Serius tapi juga teduh.
"Hanya kau," ujar Antony sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. Jawaban itu membuat Laura terdiam. Hanya dia? "Kalaupun aku meniduri seseorang, itu karena aku menganggap dirinya adalah kau."
Laura kembali hanya bisa terdiam karena kata-kata Antony. Antony mendekati Laura yang langsung menahan napasnya. Wangi natural dari tubuh pria ini langsung melekat di otaknya. Membuat dia mengingat-ingat. Ternyata dia merindukan wangi ini.
"Aku minta maaf jika aku pernah memaksamu. Aku tidak akan mengatakan alasan apa pun tentang itu. Kau tidak perlu takut aku melakukannya lagi. Aku tidak akan melakukannya jika kau sama sekali tidak ingin. Itu saja," ujar Antony pelan. Laura merasakan hangat di hatinya. Seolah sosok yang hilang itu kembali datang. Ternyata dia sangat merindukannya.
Antony segera melangkah keluar.
"Kenapa kau bisa begitu mencintaiku?" Tanya Laura.
Antony kembali berhenti. "Anggap saja dalam kehidupanku, itu adalah kutukan bagiku. Sangat mencintai orang yang tak pernah menganggapku pantas dicintai."
Antony segera melangkah keluar. Membuat Laura terdiam, merasa tertampar oleh kata- kata Antony. Entah kenapa, untuk pertama kalinya. Hati Laura sakit mendengarkan kepedihan dari nada bicara Antony. Ah! Aku ini kenapa? Tanya Laura jadi bingung dengan perasaannya.