Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 258.


"Tidak ada yang namanya Takdir! Aku benar-benar menyesal sudah memberikanmu obat perangsang itu! Kau seharusnya tidur dengan Devina, tapi kau malah tidur dengan Graciella! Sial sekali!" Umpat Adrean. Hal ini menjadi penyesalannya sekarang. Jika dulu dia tidak mengikuti rencana kakeknya. Graciella tak akan pernah bertemu dengan Xavier.


Xavier mengerutkan dahinya dengan wajah yang tak percaya. Jadi malam itu, yang memasukkan obat perangsang itu adalah Adrean!


"Kau ingin menjebakku dan membuatku bertemu dengan Graciella dengan cara yang paling buruk! Lalu kau menyiksanya dengan kesalahan yang kau buat sendiri! Kau memang pria licik!" 


"Dan sekarang, aku akan mendapatkannya kembali!" 


"Bagaimana jika kita buktikan saja di sini. Siapa yang layak mendapatkannya! Kita selesaikan semuanya hingga titik darah penghabisan!" Ujar Xavier melemparkan senjata yang dia bawa tadi. Adrean melihat itu hanya menyipitkan matanya.


"Baiklah!" Adrean tiba-tiba saja langsung menerjang Xavier dengan pukulannya.


Untung saja Xavier langsung menghindar. Tapi karena mereka ada di atas kapal yang goyangannya sangat kuat. Membuat Xavier sedikit kesusahan untuk berdiri tegak. Adrean juga begitu. 


Tapi hal itu tak menghalangi mereka. Xavier langsung memberikan pukulan ke arah Adrean yang langsung dibalas pukulan lain ke Xavier.


Mereka sesaat saling adu pukulan yang sengit dan masing-masing mereka tapis, tak satupun mengenai mereka. Adrean tiba-tiba saja memberikan pukulan ke arah perut atas kiri Xavier, waat Xavier sedang menapis pukulan yang lain. Xavier melihat itu ingin menghindari tapi karena tidak sempat pukulan itu mengenainya hingga dia sedikit membungkuk.


Melihat Xavier yang membungkuk. Adrean dengan cepat ingin memukul Xavier lagi di bagian kepala. Tapi belum sampai tangan Adrean mengenai Xavier. Xavier langsung mencengkram tangan itu. Xavier menahannya dengan sangat kuat hingga akhirnya tangan Adrean terangkat tinggi bersamaan dengan bangkitnya Xavier. Sorot mata Xavier begitu tajam dan penuh amarah.


Dia lalu segera melayangkan pukulan dengan tangannya yang lain ke arah ulu hati Adrean. Tentu itu adalah pukulan yang telak hingga Adrean tersungkur jatuh.


Xavier hanya mengamati pria yang tersungkur jatuh itu. Dia tak langsung melayangkan pukulannya kembali karena dia ingin pertarungan yang adil.


Tapi sepertinya tak ada keadilan dalam kamus Adrean. Diam diam dia mengeluarkan pistol yang ada di dalam jasnya dan seketika menodongkan pistolnya ke arah Xavier yang kaget. 


"Aku akan mendapatkannya kembali, bagaimana pun caranya!" Teriak Adrean ingin segera mengakhiri semua ini. Dia ingin kembali bersama dengan Greciella sekarang.


Melihat keadaan sedikit genting di belakang. Sebastian yang mengamatinya dari kaca spion tengah itu merasa harus melakukan sesuatu. Dia langsung menungkik tajam yang membuat Adrean dan Xavier kehilangan keseimbangan. Suara tembakan terdengar walaupun meleset.


Xavier dan Adrean jatuh ke sebelah kiri dari Speedboat itu. Pistol yang digunakan oleh Adrean pun terlepas.


Mereka kembali mengadu tatapan tajam mereka. Mencoba untuk kembali berdiri. Sama-sama dengan emosi yang terpancar jelas.


"Aku akan berbelas kasih membiarkan anakmu yang ada di kandungan Graciella menjadi anakku. Aku akan bersama dengannya," ujar Adrean lagi mengutarakan keinginannya dengan senyuman yang begitu licik.


"Jangan banyak omong!" Xavier kembali memberikan sebuah pukulan. Adrean menepisnya lalu segera terjadi kembali perkelahian yang sengit antara mereka. Saling memberikan pukulan dan tapisan. 


Hingga akhirnya Xavier mendapatkan celah dan segera menendang perut Adrean yang membuatnya terpelanting dan tersungkur di bagian belakang speedboat itu.


Adrean jelas kesakitan karena mendapatkan pukulan itu. Dia memegangi perutnya yang rasanya begitu nyeri. Dia melihat Xavier yang berjalan ke arahnya masih dengan tatapan setajam elang.


"Kau mau mengakhirinya?" tanya Adrean lagi.


"Sebentar lagi kita masuk ke zona negara kita. Kau akan ditangkap dan dipenjarakan. Tidak akan ada yang bisa membuatmu keluar dari jerat hukum itu!" Jelas Xavier.


Adrean tertawa mengejek. "Kau terlalu pengecut untuk membunuhku? Kenapa tak membunuhku saja?" 


"Ya! Kecuali aku bisa membunuhmu dahulu!" Adrean menyodorkan kembali pistol yang ternyata dia dapat saat dia tersungkur jatuh di sana.


Duar!


Suara pistol yang memuntahkan peluru panas itu terdengar nyaring di antara hening lautan luas itu. Sebastian yang mendengarnya kaget. Apalagi dia melihat Xavier jatuh bersujud memegangi pundak kirinya.


Untung saja Xavier bisa menghindari tembakan Adrean. Kalau tidak peluru itu bukan menembus bahunya melainkan menembus kepalanya.


Adrean kembali menunjukkan senyuman liciknya. Dia segera berdiri dan mengarahkan pistol itu ke arah Sebastian yang menghentikan Speedboat untuk melihat keadaan Xavier.


"Jangan coba-coba mendekat! Atau aku akan menembaknya sekali lagi! Dan aku pastikan kali ink tidak meleset," Ujar Adrean kembali membidik Xavier yang bersujud menahan nyeri di bahunya. Sebastian mendengar itu langsung terhenti. 


Xavier melirik ke arah Adrean yang merasa sudah di atas awan. Sekali tembakan saja, maka pria penghalang ini akan hilang dari muka bumi dan dia akan kembali dengan Graciella.


Tapi saat Adrean hampir menekan pelatuk pistol itu. Xavier dengan mengesampingkan rasa nyeri yang amat sangat di bahunya, langsung berdiri dan berlari cepat ke arah Adrean lalu menumbangkan pria itu dengan dorongan bahunya, persis sama dengan seorang penyerang di olahraga Rigby.


Hal itu membuat tubuh Adrean langsung terpelanting jatuh ke air laut. Xavier langsung melihat ke arah lautan yang beriak. Tak lama, Adrean kembali muncul.


Mata Adrean seketika membesar saat melihat Xavier yang gantian menodongkan pistol ke arahnya.


"Aku kira aku akan membiarkan hukum yang menghukummu. Tapi aku berubah pikiran!" 


Duar! Duar! Duar!


Tiga kali suara pistol itu menggema yang tentunya langsung mengenai tubuh Adrean yang tampak hanya mendelik melihat ke arah Xavier.


Xavier bukannya tak memiliki pistol yang dia sembunyikan. Hanya saja dia merasa ingin menghajar pria ini dengan tangannya sendiri. Tapi ternyata pria ini sangat licik dan berbahaya. Bermain dengan adil tidak bisa diterapkan padanya. Karena itu, mau tak mau dia melakukannya.


Adrean perlahan tampak kesakitan. Tiga peluru itu menembus tubuhnya. Dua di antaranya mengoyak daging yang ada di dadanya hingga menembus paru-parunya yang membuat dia kesusahan bernapas karena genangan darah. Nyerinya jangan ditanya. Apalagi sekarang keadaannya dia sedang berada di dalam air. Gerakan mengapungnya membuat dia semakin kesusahan. Darahnya keluar bercampur dengan air laut. semakin lama dia semakin menggigil. Dan perlahan rasanya semuanya gelap dan sunyi.


Xavier melihat detik-detik kehidupan dari Adrean. Sorot mata penuh amarah itu masih ditunjukkannya walaupun perlahan menjadi wajah yang menatap ngeri. Sepertinya malaikat maut sedang menghampirinya. Hingga akhirnya, tubuh Adrean perlahan masuk kembali ke dalam lautan. 


"Jenderal!" Sebastian yang dari tadi mencari kotak P3K untuk Xavier akhrinya menemukannya. Dia langsung mengambil kasa dan menekan luka Xavier. Dilihat dari tempatnya. Tak akan berbahaya


"Di mana kita?" tanya Xavier. Jika mereka sudah masuk wilayah kedaulatan negara mereka maka dia pasti akan dihukum.


"Kita masih di wilayah zona laut internasional." 


Xavier hanya diam. Dia terus melihat ke arah lautan yang sudah kembali tenang. Tak seperti baru menelan sebuah tubuh yang sudah kehilangan nyawanya.


"Kita kembali ke kapal!" Perintah Xavier setelah mengamati beberapa menit. Jikalau pun tembakan Xavier tak membunuh Adrean. Dia pasti sudah kehabisan napas di bawah sana. Jadi bisa dia pastikan. Pria itu sudah musnah dari muka bumi ini.


...****************...


3 dulu ya kak. semoga suka