
Xavier menunjukkan senyumannya. Dia mengambil cincin itu dan segera menyematkannya ke jari manis Graciella yang langsung memeluk pria itu begitu dia selesai memasukkannya. Sebuah ciuman hangat diberikan oleh Xavier sejenak saja. Graciella benar-benar senang sekarang. Akhirnya, dia benar-benar jatuh cinta dengan pria yang semestinya dan dia rasa hidupnya akan sempurna.
Graciella menggenggam erat tangan Xavier saat pria itu memeluknya dari belakang. Mereka sedang menyaksikan matahari yang perlahan-lahan dilahap oleh lautan. Langit sudah tak lagi banyak mengeluarkan warnanya. Sejenak saja sudah mulai menggelap dan menguak keberadaan bintang-bintang yang indah.
“Dari mana kau bisa berpikir seperti ini?” tanya Graciella yang merasa ini bukan gaya Xavier sama sekali. Dia bukan pria yang romantis. Lebih suka melakukan sesuatu yang pasti dari pada harus bermanis seperti ini.
“Saat kau mengatakan aku tidak mengajakmu menikah dengan benar, aku bertanya dengan Fredy dan juga Arnold. Mereka mengatakan wanita akan suka hal seperti ini. Karena itu aku melakukan ini dan mereka yang mengatur semuanya,” ujar Xavier melirik wanita yang dia dekap dari belakang ini.
“Jadi ini semua ide Fredy dan juga Arnold. Kau benar-benar tidak romantis,” ujar Graciella tapi dibarengi dengan tawa kecil.
“Tapi walau begitu aku berusaha untuk memberikan yang kau mau,” ujar Xavier lagi yang tidak mau disalahkan oleh Graciella.
“Iya, iya, Tuan Jenderal. Aku senang dengan kejutan ini,” ujar Graciella memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Xavier. Mencubit kembali hidung mancung Xavier.
“Setelah menikah, jangan panggil Tuan Jenderal lagi,” kata Xavier dengan nadanya yang datar seperti biasanya.
“Lalu? Kau ingin dipanggil apa? Suami? Sayang?” tanya Graciella dengan wajah sedikit menggoda Xavier. Tentu hal itu membuat Xavier langsung sedikit menaikkan sudut bibirnya. Membayangkan Graciella memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’.
“Sepertinya kau boleh memanggilku sayang jika hanya ada kita berdua,” ujar Xavier lagi.
“Kenapa? Kau akan malu jika aku memanggilmu sayang dihadapan anak buahmu? Bukannya itu akan menjadi terdengar sangat romantis?” ujar Graciella semakin menggoda Xavier.
“Tidak juga, aku hanya ingin panggilan itu terdengar lebih intim untuk kita berdua,” ujar Xavier.
“Baiklah, aku akan mencoba untuk membiasakannya, Sayang,” ujar Graciella lagi. Tentu saja hal itu membuat Xavier menjadi begitu senang dan gemas dengan tingkah Graciella yang terus menggodanya. Xavier langsung mencium bibir tipis yang ada di depannya. Merasakan manisnya yang selalu memabukkannya.
Semilir angin malam menerpa tubuh mereka. Menjadi saksi awal persatuan cinta mereka. Xavier mencium Graciella dengan sangat lembut. Perlahan melihat mata sendu dan indah itu. Graciella pun melihat wajah prianya. Sebentar lagi, hanya tinggal beberapa jam lagi maka pria ini akan sah menjadi suaminya di mata negara. Mereka berhasil melewati semuanya. Meninggalkan semua hal yang lampau dan membiarkannya menjadi sejarah hidup mereka masing-masing dan memulai langkah untuk menyambut kehidupan baru. Kali ini, Graciella yakin, dia sudah menyerahkan dirinya pada pria yang tepat. Pria yang ditakdirkan dari awal menjadi prianya satu-satunya.
“Kita harus pulang sekarang. Ibu memintaku untuk memulangkanmu tepat waktu agar tidak terlalu lelah besok,” ujar Xavier lembut. Graciella hanya mengangguk pelan. Xavier menyusuri tangan Graciella dan segera menggenggam tangan Graciella. Menuntunnya perlahan turun dari tebing menyusuri pantai putih. Mereka masih harus menaiki beberapa anak tangga hingga bisa sampai di tempat mobil mereka diparkirkan. Tapi karena kebahagiaan yang menyelimuti keduanya dan rasa cinta yang menyertai, sejauh dan seterjal apa jalan yang dilalui semuanya terasa indah untuk dilewati.
****
“Graciella, kenapa kantung matamu begitu tebal?” tanya Monica yang pagi-pagi sudah menyiapkan semuanya, dia juga terlihat sangat sibuk. Mungkin karena memang tidak punya anak perempuan membuat Monica lebih sibuk mengurusi segala hal tentang Graciella. Dia bahkan tidak mengusik Xavier sama sekali. Atau karena dia tahu anaknya pasti tidak ingin dia ikut campur tentang dirinya.
“Aku hanya sedikit gugup,” ujar Graciella tersenyum pada Monica.
“Ya, pastinya. Semua orang akan gugup ketika menempuh hidup baru,” ujar Monica. Dia mulai memoles sedikit riasan di bawah mata Graciella agar menutupi kantung mata itu. Tentu tak ingin penampilan Graciella tampak lusuh di acara pernikahan mereka ini. Graciella hanya pasrah saja mendapatkan riasan dari calon ibu mertuanya itu. “Apa ini masih sakit?” tanya Monica begitu perlahan membubuhkan bedak di bekas luka yang ada di pipi Graciella. Monica bisa merasakan sakitnya.
“Tidak Bu, sudah tidak sakit,” ujar Graciella.
“Maafkan Ibu, seharusnya ….” Ujar Monica lagi dengan perlahan menutup luka itu agar terlihat lebih samar.
“Jangan berbicara tentang itu lagi Bu, semua sudah berlalu, dan kita sudah ada di sini sekarang,” ujar Graciella menatap ke arah Monica yang masih saja tampak bersalah.
“Iya, benar. Kita harus cepat, ayo, kita bersiap,” ujar Monica kembali lagi semangat mendandani Graciella.
Xavier mengetuk pintu kamar itu dengan gugup. Sejujurnya dia juga tidak tidur dengan baik tadi malam. Dia sudah sangat tidak sabar melihat foto mereka berdua ada dalam sebuah kertas, sertifikat pernikahan mereka.
Pintu kamar Graciella terbuka. Xavier kembali membesarkan matanya tanda dia kaget dan wajah itu langsung berubah kagum. Graciella bukan wanita yang sering berdandan hingga ketika dia sedikit saja berdandan, wajahnya benar-benar berbeda. Kali ini Xavier benar-benar mati kata melihat calon istrinya yang berbalut dengan gaun simple potongan A yang berwarna hijau sage. Benar-benar cocok dengan warna kulitnya yang putih.
Graciella pun terdiam melihat Xavier yang tentu saja sangat tampan dan rapi dengan jasnya yang berwarna abu-abu metalik. Cocok sekali digunakan olehnya bahkan seperti seorang model.
“Ehm, sudah siap?” kata Xavier yang hampir lupa untuk mengatakan hal itu karena saking terpanahnya dengan Graciella.
“Iya, dia sudah siap. Kalian cepatlah pulang, ibu sudah tidak sabar melihat kalian sebagai suami dan istri,” ujar Monica yang mengantarkan Graciella mendekati Xavier. Seolah sedang mengantarkan anak gadisnya menuju ke altar pernikahan. Xavier langsung menyambut Graciella yang berulang kali menarik napasnya. Mereka segera menuju ke arah pintu keluar dan memasuki mobil yang akan mengantar mereka ke kantor pencatatan pernikahan.
“Ibu aku pergi dulu,” ujar Graciella sebelum dia dituntun masuk ke dalam mobil itu oleh Xavier.
“Ya,” ujar Monica seadanya. Xavier langsung masuk lewat pintu yang lain. Monica melihat kedua calon pengantin itu bersanding. Benar-benar pasangan yang sangat serasi. Monica tetap melambaikan tangannya bahkan setelah mobil itu menjauh.
Graciella menggenggam tangannya sendiri. Sering dia lakukan ketika dia gugup. Xavier mengambil tangan itu dan menggenggamnya. Graciella melihat ke arah calon suaminya yang hanya menatap kea rah depan. Sama-sama pernikahan kedua, tapi rasanya seperti pernikahan pertama bagi mereka.