Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 110.


Bola mata Greciella langsung bergerak liar ke segala arah memperhatikan semua hal yang ada di sekitarnya. Seperti orang yang baru saja bermimpi buruk. Jantung Greciella pun berdetak begitu kencang. Dia ada di mana sekarang?


Graciella memperhatikan langit-langit ruangan itu. Penuh dengan ukiran. Ruangannya pun luas bagaikan sebuah kamar tidur. Tapi dia tidur di atas sebuah ranjang rawatan. Di tangannya juga tertusuk jarum infus. Graciella berusaha untuk duduk tapi tubuhnya terasa berat, ini menandakan dia sudah cukup lama berbaring. Graciella tetap memaksa tubuhnya untuk duduk.


Graciella lalu merasakan perasaan linu dan ketat di bagian pipinya. Dia memegangnya menemukan luka kasar yang sudah mulai menyembuh. Graciella sekali lagi mengerutkan dahinya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Daren yang masuk ke dalam ruang rawat khusus yang dia peruntukan untuk Graciella langsung terpatung. Tentu dia kaget melihat Graciella sudah terduduk. Lebih dari seminggu setelah Graciella di temukan tersangkut di salah satu dahan di sungai itu. Wanita ini sama sekali tidak sadarkan diri. Dokter sendiri tidak tahu kenapa Graciella bisa begitu lama jatuh dalam keadaan koma. Padahal menurutnya keadaan Graciella tidak ada yang telalu mengancam setelah dia melewati masa kritisnya.


“Nona Graciella?” tanya Daren dengan senyuman lebar yang mengembang.


“Eh?” kata Graciella, dia sepertinya mengenali pria ini, tapi dia kurang bisa mengingat pria ini siapa.


“Daren? Kau ingat? Aku Daren, kita bertemu di kantor polisi dalam kasus Chloe?” kata Daren dengan suara yang sangat senang.


“Oh ya! Aku ingat!” ujar Graciella.


Daren terdiam terpukau dan masih tidak percaya, benar-benar senang melihat Graciella sudah bangun. “Aku akan mengatakan pada Stevan dan juga Laura. Mereka pasti sangat senang. Laura setiap hari menemanimu, tapi dia tiba-tiba harus kembali ke rumah sakit. Aku juga akan panggilkan dokter untuk memeriksamu, Nona Graciella, aku senang melihatmu sadar,” kata Daren begitu bersemangat.


“Baiklah, terima kasih,” ujar Graciella tersenyum manis. Daren membalas senyuman itu, tapi sedikit merasa aneh. Graciella tiba-tiba terbangun dengan keadaan yang sangat berbeda dengan terakhir kali sebelum dia berusaha untuk bunuh diri. Kali ini dia begitu cerah, bahkan bisa tersenyum. Entah kenapa Daren menjadi cemas.


Tadinya dia ingin menghubungi Stevan dan juga Laura sekaligus memanggil dokter yang sedang ada di ruangannya di rumah ini. Tapi Daren merasa tidak boleh meninggalkan Graciella sendiri. Siapa yang akan menjamin wanita ini tidak akan melakukan bunuh diri lagi. Daren tidak ingin mengambil resiko. Lebih baik dia menjaga Graciella lagi.


Daren segera menelepon Stevan dan Laura dan keduanya tentunya segera ingin menemui Graciella. Mereka berjanji secepatnya datang ke sana. Selain itu dokter yang dihubungi oleh Daren segera memeriksa Graciella.


“Semuanya normal, lukanya juga tidak ada masalah,” ujar Dokter itu memeriksa pupil Graciella, memeriksa tanda vitalnya. Semuanya normal dan juga baik-baik saja menurutnya.


“Baiklah, terima kasih dokter,” ujar Daren yang sangat senang mendengarnya.


“Terima kasih dokter,” ujar Graciella tersenyum. Daren merasa aneh, Tiba-tiba saja Graciella lebih sering tersenyum.


“Eh, Nona Graciella, apakah Anda menginginkan sesuatu?” tanya Daren lagi.


“Boleh aku minta segelas minuman, tenggorokanku sangat kering,” kata Graciella.


“Baiklah, aku akan meminta salah satu pelayan untuk membawakan minuman. Apa Anda merasa baik-baik saja?” tanya Daren lagi.


Graciella mengerutkan dahinya, bukannya Daren sudah dengar langsung dari dokter dia baik-baik saja? Kenapa harus menanyakannya lagi? “Aku baik-baik saja Tuan Daren, terima kasih.”


“Daren, panggil saja Daren,” ujar Daren yang merasa aneh dipanggil tuan oleh Graciella.


“Baiklah,” ujar Daren tersenyum.


Tak lama pintu kamar itu terbuka dengan begitu lebar. Stevan dan Laura masuk bersamaan, mereka segera datang ke rumah ini ketika mendengar bahwa Graciella sudah siuman. Untung saja Laura belum begitu jauh dari rumah ini dan Stevan juga harus menggunakan kendaraan khususnya agar dia terus bisa berjalan tanpa harus dihalangi oleh kendaraan lain. Karena itu mereka bisa datang secepatnya ke sini.


Graciella langsung melihat ke arah pintu. Dia tersenyum sedikit lebar melihat Laura yang tampak begitu kaget melihat dirinya. Laura bahkan sampai menutup mulutnya yang ternganga tak percaya. Dia tidak percaya bisa melihat Graceilla duduk dan tersenyum padanya.


Stevan pun tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Graciella tampak seolah tidak terjadi apa-apa padanya. Wajahnya yang cantik sudah tidak lagi tampak pucat. Semua seolah benar-benar tidak pernah terjadi apa-apa.


“Graciella!!! Ya tuhan! Aku berdoa setiap saat untuk bisa melihatmu seperti ini lagi! Ya Tuhan, aku sangat senang, Tolong jangan melakukan hal bodoh itu lagi Graciella! Kau harus hidup!” ujar Laura memeluk Graciella dengan begitu erat.


Graciella mengerutkan dahinya seolah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Laura. Sejujurnya dia tidak ingat kenapa dia harus di rawat di sini. “Tindakan bodoh apa? Apa yang sudah aku lakukan? Ehm? Luka ini, apa aku dapatkan saat melakukan tindakan bodoh itu?” tanya Graciella yang membuat Laura melepaskan pelukannya.


Laura mengerutkan dahinya, begitu juga Stevan dan Daren. Apakah Graciella tidak ingat bahwa terakhir kalinya dia mencoba untuk bunuh diri?


“Nona Graciella, kau ingat aku?” tanya Stevan langsung.


“Stevan bukan?” ujar Graciella tersenyum. Dia ingat pria ini.


“Ya! Benar! Senang kau bisa mengingatku!” kata Stevan senang tapi dia juga masih bingung kenapa Graciella tidak ingat apa yang dia lakukan sebelumnya.


“Ya tentu aku ingat dirimu,” ujar Graciella dengan senyuman tipisnya. Luka ini sangat mengganggu. Dia tidak bisa tersenyum lebih lebar karenanya. “Apa yang terjadi. Luka ini?” tanya Graciella lagi. Kenapa dia bisa mendapatkannya?


“Gracie, Maaf, tapi kami tidak bisa menemukan guci kremasi Moira, kami sudah mencarinya di mana-mana tapi kami tidak menemukannya,” ujar Laura langsung. Stevan langsung menyiku tubuh Laura, kenapa malah mengatakan hal itu padahal Graciella baru saja bangun. Laura hanya berpikir, dia tidak ingin menutup-nutupinya, Graciella berhak tahu, lagi pula mereka tidak mungkin menutupinya selamanya. Lebih cepat Graciella tahu lebih baik.


Graciella terdiam. Dia melirik ke arah Stevan, Laura dan Daren. Wajahnya tampak bertanya. Stevan merasa ini terlalu cepat untuk bisa diterima oleh Graciella.


“Kenapa kau mengatakannya sekarang? Kau ingin Graciella kembali sedih?” ujar Stevan yang merasa Laura sangat tidak tahu keadaan Graciella.


“Aku hanya tidak ingin dia kembali jatuh dalam kesedihan jika nanti bertanya tentang Moira, biar dia tahu sekarang dan kita bisa menata hatinya kembali,” ujar Laura pada Stevan. Memang tak pernah akur.


“Eh?” ujar Graciella tiba-tiba yang membuat Stevan urung mengatakan jawabannya.


“Ya?” tanya Stevan yang lebih memilih menjawab Graciella.


“Siapa Moira?” ujar Graciella.