
“Dia ada di ruang interogasi kan?” tanya Xavier lagi bergegas ingin keluar dari ruangan Stevan. Dia yakin wanita itu ada di sana karena beberapa saat lalu Stevan mengatakan hal itu.
Stevan yang melihat Xavier yang hendak keluar dari ruangannya segera berdiri. Dia langsung ingin mengejar Xavier yang sudah duluan menuju ke arah ruang interogasi. Xavier tahu tempat itu. Sebelumnya dia pernah ikut dan juga menginterogasi Tuan Peter.
“Xavier! Xavier!” teriak Stevan yang mencoba menghalangi langkah dari Xavier. Tentu dia tidak ingin Xavier melakukan sesuatu pada Devina.
Tapi Xavier tidak memperlambat langkahnya. Dia malah lebih cepat melangkah agar Stevan tidak menghalaginya. Xavier lalu melihat ruangan itu ada di ujung lorong tempatnya sekarang. Begitu dia sudah sampai di depannya tanpa ragu dia langsung membuka ruangan itu. Dan Stevan langsung kaget melihat apa yang dilakukan oleh Xavier.
Bukan hanya Stevan yang kaget. Polisi dan juga Devina yang ada di dalam ruangan itu pun tampak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Tiba-tiba saja ada yang membuka ruangan itu saat interogasi yang sedang berlangsung.
Devina memandang wajah mantan suaminya yang tampak datar. Dia sedikit senang karena bisa kembali melihat wajah Xavier. Bagaimana pun dia cukup merindukan pria ini. Sudah lama dia tidak melihatnya.
“Xavier?” tanya Devina kaget. Tidak menyangka akan menemuinya di sini.
“Xavier!” ujar Stevan bersautan dengan Devina. Xavier tidak bergeming dengan kedua panggilan itu. Dia hanya menatap wajah wanita yang tampak sedikit sumringah melihatnya. Wajah cantik yang menutupi seberapa busuk hatinya.
“Komandan?” tanya polisi yang ada di dalam. melihat Stevan. Dia bingung kenapa tiba-tiba begini.
“Xavier.” Stevan mencoba untuk menegur Xavier yang terkuasai emosinya. Apa yang dilakukan wanita yang di depannya ini sama sekali tidak bisa dia tolerir. Dia sudah membahayakan dua nyawa orang yang paling berharga buat Xavier sekaligus.
“Aku hanya ingin berbicara dengannya. Kau bisa mengawasi dari sebelah,” ujar Xavier dengan nada datar tapi malah membuat Stevan semakin bisa merasakan hawa mencekam dari Xavier. Bahkan orang seperti dia saja merasa tertekan karenanya dan dia tidak berani membantah perkataan Xavier yang bagaikan titah yang tak boleh dilawan.
“Ehm, baiklah. Kita awasi saja dari sebelah.” perintah Stevan pada anak buahnya yang sedang mengintrogasi Devina tadi. Kedua orang itu langsung meninggalkan Xavier. Merasa hawa yang mencekam mengeliling pria itu. Hanya Devina saja yang bertampang sumringah.
Xavier menatap wanita yang tampak begitu senang melihat dirinya. Dia perlahan menutup pintu ruang interogasi itu.
“Xavier, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu?” tanya Devina senang Xavier berjalan ke arahnya. Berhenti tepat di batas meja besi yang ada di antara mereka.
“Apa yang sudah kau lakukan pada Graciella?” Nada suara Xavier begitu dingin hingga membuat siapa saja langsung menggigil. Sorot matanya yang hitam kelam itu tajam, menghakimi. Wajahnya datar tanpa emosi yang bisa dibaca.
Davina mengerutkan dahinya. Dari dulu dia memang tidak terpengaruh akan apa yang dilakukan oleh Xavier. Dia merasa mengenal Xavier sejak lama. Dia bahkan tidak bisa marah pada seorang wanita. Apalagi melakukan sesuatu. Pria ini adalah seorang pria sejati.
“Aku hanya ingin mengatakan ini. Dan kau harus ingat! Jangan pernah menghubungi istriku lagi! Jika kau berani menghubunginya. Maka aku tidak akan segan-segan melakukan sesuatu padamu,” ujar Xavier dengan wajahnya yang garang.
Devina hanya memutar matanya. Lihatlah, dari dulu Xavier hanya berani mengancam seperti ini. Tentu hal itu tidak pernah membuat Devina gencar. Lagipula, Istri? Kapan mereka menikah?
“Kau menikahi wanita murahan itu?” tanya Devina yang malah mengalihkan pembicaraan.
Xavier mengerutkan dahinya. “Jangan mengalihkan pembicaraan dan jangan pernah memanggil istriku dengan wanita murahan. Atau ….”
“Atau apa?! Kau ingin apa? Ingin memukulku? Pukul saja! Atau kau takut karena ada banyak yang akan menjadi saksi bahwa kau berani memukul seorang wanita,” Bentak Devina. “Lagi pula dia memang wanita murahan. Mana ada wanita yang menggoda pria lain saat dia sudah menjadi istri orang!”
“Kau tidak berkaca dengan apa yang kau lakukan.”
“Aku melakukan hal ini karena kau tidak pernah melakukan tugasmu sebagai suami!”
“Cukup! Aku di sini bukan untuk berdebat denganmu! Aku hanya akan memperingatkanmu. Sekali lagi kau berani menghubungi istriku dan menyebabkan dia seperti itu. Maka aku tak akan segan-segan melakukan sesuatu padamu walau kau adalah perempuan! Ingat itu!” ujar Xavier dengan nada yang begitu menekan dan juga sangat mengerikan. Devina melihat kemarahan itu terdiam sejenak. Xavier tidak pernah semarah ini padanya.
Xavier yang melihat Devina terdiam menganggap wanita itu sudah mengerti tentang ultimatum yang baru saja dia berikan pada Devina. Dia sudah begitu berusaha untuk mengontrol dirinya. Selain dia masih ingat Devina adalah seorang wanita. Dia juga sudah berjanji pada Stevan bahwa dia hanya akan memperingatkan wanita ini. Xavier segera membalikkan badan ingin keluar dari ruangan itu.
“Aku tidak akan berhenti sampai membuat kehidupan kalian berantakan seperti yang sudah dia buat kepadaku. Aku akan terus melakukan hal-hal yang akan membuatnya tersiksa! Jika perlu aku akan membuatnya tidak bisa merasakan kebahagiaan! Kau dengar itu Xavier! Aku bersumpah! Tak akan berhenti hingga aku bisa melihat wanita itu mati sengsara!” teriak Devina dengan penuh emosi. Dia benar-benar benci dengan Graciella. Baginya wanita itu sudah membunuh semua mimpinya. Semua cita-citanya hidup dengan seorang Xavier. Dia sudah merebut cinta pertama dan terakhirnya. Dia sudah memisahkan dirinya dengan obsesinya.
Mendengar itu, Xavier benar-benar sudah tidak tahan lagi. Dia tidak bisa mentolerir apa yang dikatakan oleh Devina. Dia begitu emosi mendengar Devina ingin membuat Graciella tersiksa. Karena itu dari tadi saat Devina mengucapkan sumpah serapahnya. Xavier sudah mengepalkan tangannya erat.
Xavier langsung membalikkan kembali tubuhnya dan dengan kekuatan penuh memukul meja besi yang ada di depannya. Seolah melampiaskan semua emosinya ke meja itu. Hal itu tentu membuat Devina begitu kaget. Bukan hanya Devina, Stevan dan yang lainnya yang ada di belakang kaca dua arah itu pun langsung kaget.
Pukulan itu begitu kuat hingga membuat suara yang keras. Devina langsung terpatung melihat hal itu. Matanya melirik ke arah tangan Xavier yang masih mengepal di atas meja. Masih gemetar menahan rasa emosinya.
“Jangan coba-coba untuk menembus kesabaranku. Atau mungkin saja aku akan kehilangan akal dan bukan meja ini yang akan menerima pukulanku. Mungkin saja ini bisa terjadi padamu. Ingat! Jangan coba-coba!”