
Melihat Graciella yang hanya diam menatapnya. Xavier mengerutkan dahinya. “Masih kurang nyaman?” tanya lagi bingung dengan arti tatapan Graciella.
“Tidak. Sudah cukup.” Graciella langsung sadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Xavier mengangguk pelan lalu dengan hati-hati menutup pintunya. Graciella menggigit bibirnya. Apa yang sudah dia lakukan? Dia tak boleh membiarkan ini terjadi. Graciella hanya melihat pria yang tegap duduk di sampingnya. Bagaimana caranya dia menjauh dari pria ini?
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Suasana di dalam mobil pun sama canggungnya saat mereka berduan di ruang perawatan tadi. Tak lama mobil itu memasuki ke daerah militer. Di depan gerbang utamanya mobil mereka kembali berhenti. Setelah melakukan pemeriksaan. Akhirnya mobil mereka diperbolehkan untuk masuk.
Mobil mereka kembali berhenti tepat di depan kediaman Xavier. Pria itu dengan sigap langsung keluar hampir bersamaan dengan Fredy yang langsung tanggap untuk membukakan pintu kediaman Xavier. Sedangkan Xavier langsung menuju ke arah pintu Graciella. Graciella yang yakin pria itu akan kembali menggendongnya sebisa mungkin membuka pintu dan ingin mencoba berjalan. Kakinya yang terluka hanya satu. Dia masih bisa berjalan walau dengan berlompat satu kaki bukan?
“Apa yang kau lakukan?” tanya Xavier melihat Graciella cepat turun dengan bertumpu dengan kakinya yang sehat. Graciella merasakan nyeri. Nyatanya walaupun kakinya yang tertusuk Cuma satu, tapi dia lupa, setelah semalam, badannya terasa remuk.
“Oh, aku hanya tak ingin terlalu manja. Tidak bagus juga jika aku terlalu lama tak bergerak.” Graciella tersenyum lebar dan mencoba mencari alasan yang logis agar Xavier bisa menerimanya. Nyatanya pria itu hanya memandangnya dengan tautan di alisnya. Tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Graciella.
“Bergeraknya nanti saja! Seseorang yang sedang terluka tidak perlu banyak bergerak. Istirahatlah jika ingin cepat sembuh.” Xavier langsung kembali menggendong Graciella. Graciella akhirnya pasrah saja. Lagi pula bagaimana Xavier bisa mudah sekali menggendongnya.
Xavier segera masuk ke dalam kediamannya dan langsung menuju ke arah kamarnya. Xavier dengan perlahan menidurkan Graciella. Saat ingin meletakkan kepala Graciella tanpa sengaja mata mereka saling bertaut. Tatapan yang membuat keduanya seolah menghilang sejenak dari dunia. Menyalurkan debar-debar perasaan yang bahkan keduanya tak bisa mengerti. Hening yang tercipta terasa menghayutkan. Hanya rasa hangat yang terasa mengalir di dada keduanya.
“Koman … dan … “ Suara Fredy mengantarkan Graciella dan Xavier kembali. Fredy menggigit lidahnya. Apa yang sudah dia lakukan?
Xavier segera meletakkan kepala Graciella dengan nyaman. Dia langsung melihat ke arah Fredy dengan wajah yang sedikit tak enak. Fredy hanya menundukkan wajahnya.
“Ada apa?” tanya Xavier dengan tegas.
“Pertemuan yang harus Anda pimpin akan segera dimulai. Anda sudah ditunggu,” ujar Fredy sedikit serak. Dia tetap menunduk.
Xavier mengeraskan sedikit rahangnya. Dia lalu melihat ke arah Graciella yang hanya bisa menggigit bibirnya.
“Aku akan pergi sebentar. Jika ingin sesuatu katakan saja, ada pelayan yang akan ku perintahkan menjagamu," ujar Xavier lagi.
“Eh, terima kasih. Bolehkah aku pinjam teleponmu, aku ingin memberitahu keadaanku pada Laura, aku yakin dia pasti khawatir karena aku tidak pulang,” ujar Graciella.
“Baiklah. Pakai saja ponselku," ujar Xavier langsung mengeluarkan ponselnya. Dia segera meniadakan permintaan kata sandi agar Graciella bisa dengan mudah menggunakan ponselnya.
“Eh? tidak! aku hanya butuh telepon.” Graciella bingung.
“Telepon ada di luar. Pakai saja. Aku sudah ditunggu," Xavier langsung menyerahkan ponsel itu pada Graciella. Graciella dengan segan mengambilnya. Kenapa dengan mudahnya Xavier memberikan barang pribadinya. Fredy memberikan sebuah penghormatan dan senyuman. Graciella hanya membalasnya dengan senyuman sebelum pintu kamar itu tertutup.
Graciella kembali diam. Dia memandang ponsel yang diberikan oleh Xavier. Tanpa pria itu, kamar ini benar-benar hening terasa. Bahkan suara dari luar pun tak terdengar. Mungkin sengaja dibuat agar tidak mengganggunya dalam beristirahat.
Graciella langsung membuka layar ponsel itu. Dengan cepat langsung menelepon Laura. Beberapa kali mendengar nada panggil, akhirnya panggilan itu tersambung.
“Halo, Laura. Ini aku, Graciella.”
“Gracie? Kau benar-benar gracie? Bagaimana bisa kau tidak memberiku kabar? Apa kau baik-baik saja? Ah! aku sangat khawatir, aku tidak bisa tidur menunggumu. Aku sangat takut Adrean melakukan sesuatu padamu,” cerca Laura seperti kereta api. Graciella hanya bisa mengerutkan dahinya, bingung menjawab pertanyaan yang mana dahulu.
“Keadaanku bisa dibilang baik-baik saja.”
“Kenapa ‘bisa dibilang’? Gracie, ada apa?” tanya Laura curiga. Apakah kekhawatirannya benar?
“Tidak apa-apa. Laura, ada yang ingin aku tanyakan,” ujar Graciella serius.
Mendengar suara Graciella yang serius membuat Laura mengurungkan niatnya untuk sedikit berbasa-basi dengan sahabatnya ini. “Ada apa?”
“Apa kau kenal dengan David Qing dan Monica Qing?” tanya Graciella. Dia tahu Laura memiliki pergaulan yang luas. Tidak seperti dirinya yang hanya terkungkung di rumah sakit. Status ayah Laura memungkinkannya untuk bisa berkenalan dengan orang-orang penting dan ternama. Melihat keluarga Xavier kemarin, dia tahu pria ini bukan dari keluarga yang biasa saja.
“David Qing dan Monica? Memangnya kau tidak kenal?” kata Laura dengan suara tak percaya.
“Maksudmu?”
“Ah! kau ini memang tidak pernah peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. David Qing adalah perdana menteri. Masa kau tidak pernah tahu?”
Graciella langsung ingat. Pantas saja kemarin dia serasa pernah melihat ayah Xavier. Namun dia tidak bisa mengingat siapa pastinya pria itu. Akhirnya dia tahu. Benar, jadi ayah Xavier adalah seorang perdana menteri. Graciella langsung merasa tak nyaman dalam hatinya.
“Gracie? Kau masih di sana?” tanya Laura yang tidak lagi mendengar jawaban dari Graciella. Dia kira panggilan itu sudah terputus.
“Oh, ya, aku di sini.”
Laura mendengar nada suara datar dan rendah dari Graciella. Dia yakin ada sesuatu yang tidak baik. Rasa penasaran Laura langsung membuncah.
“Ada apa kau bertanya tentang perdana menteri?” tanya Laura lagi.
Graciella menggigit bibirnya kembali. “Mereka orang tua dari Xavier.”
“What? Are you sure! Jadi Xavier itu anaknya David Qing? Wow! kau hebat sekali Graciella bisa mendapatkan ikan besar! Selamat ya! Ah, sudah begitu tampan, keren, dari keluarga terpandang lagi. Kurang apa coba? Keluarga Qing itu sangat terpandang. Mungkin dari leluhurnya dulu mereka adalah keluarga terpandang. Keturunan langsung dari raja! Aku sangat bahagia mengetahui kau akan bersama dengannya! Ah! akhirnya! Kau bisa bebas dari si ular Adrean! Dia dibandingkan dengan Xavier! Tentu tak ada apa-apanya!” ujar Laura begitu semangatnya memberikan penjelasan pada Graciella. Tentu dia sangat senang temannya akhirnya bisa mendapatkan pria yang layak baginya.
Graciella menekan bibirnya. Merasakan hati yang semakin tak nyaman mendengar deskripsi tentang Xavier yang di buat oleh Laura.