
Jam sudah menunjukan pukul tiga pagi. Kabut menyeruak disekitar jalan desa menuju luar kota. Malam itu dingin dan sepi. Tapi Stevan sudah menunggu bersandar di mobilnya sambil sedikit menyipitkan matanya. Menerawang jauh ke depannya.
Sepasang lampu kendaraan yang tampak menyoroti jalan kelam itu perlahan membesar dan menjadi lebih jelas. Mendekat ke arah Stevan yang perlahan memandikannya dengan cahayanya. Bus antar kota itu seketika berhenti tepat di depan Stevan yang memang memblokade mobil itu dengan mobilnya.
mengerumuni bis itu.
Stevan melihat ponselnya. Menurut aplikasi pelacaknya. Wanita bernama Elaine itu sekarang ada di dalam bis ini. Dia menaikkan sudut bibirnya. Apanya yang lihai dalam melakukan pelarian?
Stevan berjalan santai ke arah bis itu. Dia melihat supir bis yang menatapnya bingung dan sedikit panik. Tentu saja panik, tiba-tiba banyak pol isi yang mengepung busnya.
"Selamat pagi," sapa Stevan sedikit
"Selamat pagi Pak polisi. Ada apa ini?" tanya supir itu.
"Bisa buka pintu busnya? Kami harus memeriksa bis Anda." Stevan menyipitkan matanya menunjukkan kesan tegas.
"Baik, silakan," ujar supir itu segera membuka pintu busnya.
Semua penumpang yang tadinya sedang tidur terbangun dan melihat penasaran kenapa bis yang mereka tumpangi berhenti.
Stevan segera masuk dan memperhatikan orang-orang yang menatapnya aneh dan bingung. Stevan melihat alat yang dia pegang. Menemukan tempat yang menunjukkan ping alat yang dia selipkan di baju Elaine.
Stevan menaikkan sudut bibirnya melihat seorang wanita yang sedang tertidur pulas sambil menutup wajahnya dengan selimut. Dia yakin sekali wanita ini pastilah Elaine.
Apanya yang ratu penipu? Begitu mudahnya Stevan bisa menangkapnya kembali. Kali ini dia tidak akan bisa kabur lagi dari Stevan.
Stevan langsung membuka selimut itu. Tapi yang terkejut bukan hanya wanita yang sedang tidur di depannya. Stevan pun kaget bukan kepalang.
"Ada apa Tuan?" tanya wanita tua yang terbangun karena ulah Stevan.
Stevan mengerutkan dahinya. Tak mungkin ini Elaine. Masa dia bisa berubah menjadi wanita tua hanya dalam beberapa jam?
Stevan melihat kembali alat pelacaknya. Benar, sinyalnya berasal dari tempat ini. Tapi bagaimana bisa?
"Nyonya, apa kau pernah melihat wanita ini?" Stevan langsung menunjukkan foto Elaine yang ada ponselnya.
"Oh, si nona cantik. Ya, tadi dia duduk di tempat ini. Tapi saat aku masuk, dan tidak ada tempat lagi, dia memberikan tempat ini padaku," ujar wanita tua itu sumringah. Tentu saja, wanita ini sangat baik.
"Lalu di mana dia sekarang?" Tanya Stevan mengerutkan dahi. Kesal karena ternyata dia tidak bisa mendapatkan Elaine sekarang.
"Dia sudah turun beberapa jam yang lalu." Wanita itu hanya mengerutkan dahi melihat wajah Stevan yang kesal. "Tuan, apakah kau seorang polisi?"
Wanita itu memandang Stevan yang memang tak menggunakan pakaian dinasnya. Hanya menggunakan kemeja putihnya.
"Ya, aku polisi," jawab Stevan seadanya.
"Oh, Nona cantik itu memberikan aku sebuah barang yang dia minta berikan jika ada polisi yang mencarinya," ujar wanita itu polos. Apakah dia tidak curiga kenapa polisi akan mencarinya?
Stevan membukanya perlahan dan wajahnya langsung saja berkerut. Dia melihat alat pelacak yang dia masukkan ke baju Elaine. Padahal pelacak itu benar-benar dia sembunyikan di antara kain di baju itu. Tapi kenapa wanita itu bisa tahu?
Di dalamnya juga ada secarik kertas. Karena
lampu bis itu memang sengaja tak di hidupkan. Stevan memanggil anak buahnya untuk menyorot isi kertas itu dengan senter yang mereka bawa.
Stevan membesarkan mata melihat isi kertas yang berisi dua buah gambar. Gambar pertama wajah seorang pria yang di bawahnya tertulis nama Stevan. Awalnya gambar itu terlihat tersenyum licik seperti senyuman Stevan tadi.
Lalu ada tanda panah di tengahnya yang menunjuk sebuah gambar pria yang tadi dengan rambut naik dan wajah yang kesal. Persis wajah Stevan sekarang.
Di bawahnya tertulis. 'Pak Polisi, kau kira aku bodoh?! Mencoba menjebakku dengan caraku? Sekarang selamat mencariku di seluruh negara ini! Salam! Elaine!'
Dua bawahan Stevan yang melihat isi dari kertas itu ingin tertawa melihat gambaran yang mirip dengan Stevan sekarang. Tapi mereka tahan karena Stevan langsung melirik ke arah mereka.
Stevan mendengus dengan kesal. Dia meremas kertas yang ditulis oleh Elaine itu dan membuangnya jauh-jauh. Wanita itu! Sudah mencemoohnya! Awas saja! Sampai ke lubang semut pun! Stevan akan mencarinya, pikir Stevan kesal dipermainkan oleh seorang wanita kriminal.
"Ayo, kembali ke markas! Kita harus mencari keberadaannya secepatnya!" ujar Stevan segera menuju ke arah pintu keluar.
Empat orang bawahan Stevan langsung saling pandang. Dari tadi mereka sama sekali belum beristirahat. Lalu sekarang harus kembali ke markas? Jenderal mereka memang kejam!
Tapi bagaimana pun mereka ingin mengeluh, tapi mereka tidak bisa. Mereka hanya mengikuti Stevan yang sudah duluan masuk ke dalam mobilnya.
****
Suara pintu terketuk membuat Antony langsung terbangun. Begitu juga dengan Laura yang kaget mendengar suara yang begitu kerasnya.
Antony mengerutkan dahi menatap ke arah Laura. Dia melihat ke arah jamnya. Sudah hampir pukul empat. Dia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu yang masih saja terketuk dengan kuat.
Laura mengucek matanya. Melihat Antony yang langsung berjalan ke arah pintu dan segera membuka. Laura ingin melihat siapa di luar sana yang sudah mengganggu tidurnya. Sedang enak-enaknya tidur malah harus terganggu.
Antony berwajah datar menatap ke arah Max yang nyatanya dari tadi mengetuk pintu itu.
"Tuan! Anda harus kembali sekarang atau akan ada hal yang tidak baik. Orang-orang yang ingin menjatuhkan Anda pasti akan mengatakan hal yang tidak-tidak tentang ketidakberadaan Anda di istana kepresidenan," ujar Max tegas tapi juga ada wajah sedikit cemas.
Antony mengangguk mengerti. Dia juga tak punya rencana untuk menginap. Tapi karena kelelahan dia jadi tertidur.
"Aku akan keluar sebentar lagi." Antony memasang wajah tak bisa dibantah.
"Baik Tuan." Max melirik ke arah dalam kamar. Menemukan Laura yang masih bertampang bantal hanya diam melihat ke arah mereka. Max menyipitkan mata. Lagi-lagi wanita itu membuat kedudukan Antony terancam.
Laura mengerutkan dahi menangkap tatapan sinis Max. Entahlah, ada masalah apa pria itu padanya hingga dia harus memandang Laura begitu.
Mata Laura lalu jatuh ke arah Antony yang mendatanginya. Dia hanya memandang Laura sejenak lalu mengambil jasnya.
"Sudah ingin pulang?" tanya Laura dengan suara serak karena baru bangun tidur.