
“Komandan! Kami tidak bisa mendekati rumah Letjen Xavier dan kami juga diminta pergi oleh beberapa pasukan yang mengatakan bahwa mereka diperintahkan oleh Jenderal Marco,” lapor bawahan Stevan yang memang sengaja dia tempatkan untuk mengintai dan menjaga rumah Xavier.
"Jenderal Marco? bagaimana dengan Xavier?” ujar Stevan yang langsung melonjak dari duduknya. Dia sedang ada di kantornya. Masih ada beberapa hal yang harus dia kerjakan. Bagaimana bisa Jenderal Marco tiba-tiba mengirimkan pasukan dan juga meminta anggotanya pergi. Bukannya Xavier juga sudah mengizinkan anggotanya untuk menjaga di bagian depan?
“Mobil Letjend Xavier beberapa menit lalu baru keluar dari rumah itu. Selanjutnya ada sebuah mobil yang masuk dan tak lama juga keluar. Kemudian mobil yang membawa pasukan dari Jenderal Marco datang dan langsung menyerbu kami,” lapor anggota Stevan sejelasnya.
“Mobil-mobil? apa kalian mengikutinya?” ujar Stevan yang segera buru-buru mengambil kunci mobilnya. Dengan cepat berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Instingnya mengatakan bahwa dia harus segera bertindak.
“Ya, mobil pertama adalah mobil biasa, aku tidak yakin itu dari kesatuan atau tidak. Tapi mobil kedua adalah mobil khusus dari pasukan Jenderal Marco. Aku sudah memerintahkan dua orang bawahanku untuk mengikuti mobil yang pertama kali masuk dan keluar dari sana. Tapi untuk mobil selanjutnya. Aku tidak bisa mengikutinya. Mereka tidak memperbolehkan kami bergerak. Tapi aku sudah menghubungi patroli untuk menemukan dan mengikuti mobil yang aku deskripsikan,” ujar bawahan Stevan.
“Baiklah, kabari aku terus. Ke mana mobil pertama pergi?” ujar Stevan. Minimal dia harus mengikuti salah satunya. Mobil kedua adalah mobil dari pasukan Jenderal Marco, dia kenal pria itu dari Xavier, dan sejauh ini dia tahu Jenderal Marco adalah orang yang baik. Bagaimana pun dia adalah atasan Xavier. Mungkin dia juga dimintai pertolongan oleh Xavier untuk menjaga Moira ataupun Graciella. Tapi mobil yang pertama cukup mencurigakan baginya.
“Menurut laporan mereka menuju ke jalan utara.”
“Baiklah! Kirim data mobil yang kalian ikuti dan terus laporkan padaku!” ujar Stevan segera masuk ke dalam mobilnya. Dengan cepat dia melajukan mobilnya dan segera menekan gas cepat. Dia juga mencoba untuk menghubungi Xavier tapi ponsel Xavier tidak aktif. Aneh sekali karena Xavier tidak pernah mematikan ponselnya. Ada apa ini sebenarnya?
Stevan hampir saja mendekati tempat yang dilaporkan tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Stevan langsung menyambungkannya dengan handsfree-nya.
“Halo?” tanya Stevan sekaligus fokus dengan jalanan yang ada di depannya.
“Halo, Komandan. Kami kehilangan jejaknya!” lapor bawahan dari Stevan.
“Bagaimana bisa?!” tanya Stevan dengan nada tinggi. Dia semakin curiga dengan hal ini.
“Dia mengecoh kami. Sepertinya dia tahu bahwa kami mengikutinya. Tiba-tiba saja muncul banyak mobil yang menghalangi kendaraan kami hingga kami tak bisa lagi mengejar mereka."
"Di mana terakhir kali kalian kehilangan mereka?" tanya Stevan.
"Jalan Boulevard III, kami tidak bisa menemukan mereka dan tak tahu mereka berbelok ke arah mana?" ujar bawahan Stevan.
“Baiklah, perintahkan semua unit yang ada di sekitar tempat itu untuk melaporkan apakah melihat mobil seperti yang kalian lihat atau melihat sesuatu yang mencurigakan, laporkan padaku segera!”
“Siap Komandan!” ujar bawahan Stevan.
Stevan kembali fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Dia juga sekali lagi menghubungi Xavier, tapi ponselnya tetap saja tidak tersambung. Stevan terus menyusuri jalanan di sekitar tempat yang dilaporkan tapi dia tidak juga melihat tanda-tanda mobil yang sama seperti yang dikirim oleh bawahannya.
Tiba-tiba ponsel Stevan berbunyi yang langsung dia menyambungkannya ke handsfree-nya lagi.
"Laporkan!" ujar Stevan segera.
"Ada sebuah kecelakaan yang terjadi di ruas jalan utara dan mereka melaporkan pelat mobil yang sama."
"Baiklah, aku akan ke sana."
Stevan segera membelokkan mobilnya menuju ke arah tempat kejadian perkara yang dilaporkan oleh bawahan Stevan.
Stevan langsung menepikan mobilnya dan segera keluar mendapati tempat kejadian sudah ramai bawahannya dan juga ambulans.
Stevan segera mendekati petugas ambulans yang sedang menandu seseorang. Mata Stevan langsung membesar melihat siapa yang sekarang ada di atas tandu itu.
Adrean membuka matanya. Kepalanya masih sangat pusing akibat dari benturan akibat kecelakaan tadi. Adrean mengerutkan matanya menatap wajah Stevan.
"Tolong, cari Graciella!" pinta Adrean walaupun dia susah mengenali Stevan saat ini.
"Greciella? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Stevan seketika saja panik.
"Dia dalam bahaya. Selamatkan dia! David Qing dalang segalanya! Jenderal Marco menjebak Xavier!!" ujar Adrean sebisa mungkin. Kepalanya benar-benar ingin pecah sekarang.
Stevan membesarkan matanya. Jenderal Marco? Apa maksudnya?
"Adrean! katakan! Ke mana dan di mana Xavier dan Graciella?" Tanya Stevan. Kota ini luas dan David Qing punya kekuasaan. Dia mungkin punya tempat yang tidak bisa dilacak oleh siapa pun.
Adrean mengerutkan dahinya lalu menggeleng kecil. Dia memang tidak tahu ke mana mereka akan membawa Xavier atau pun Greciella. Adrean kembali memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Tuan, Anda boleh menginterogasinya setelah keadaannya membaik, saat ini keadaan Tuan ini tidak baik, kami harus segera melakukan pemeriksaan dalam padanya," ujar dokter yang ada di tempat itu, merasa Stevan menghalangi pekerjaannya.
"Baiklah, bawa saja dia ke rumah sakit," ujar Stevan.
Dia melihat sekeliling tempat kejadian perkara. Dia lalu memanggil salah satu bawahannya.
"Apa ada CCTV atau pun penemuan yang lain di sini?" ujar Stevan, bahkan dia harus lurus atau berbalik saja, dia belum bisa memutuskannya.
"Tidak ada CCTV, tim sedang menyisir tempat ini, Komandan," ujar bawahan Stevan.
"Baiklah, beritahu aku apa pun yang kalian temukan secepatnya."
"Siap, Komandan!"
Stevan kembali melihat sekitarnya. Tempat itu cukup remang dengan penerangan yang seadanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang.
Stevan memulai langkahnya. Dia harus mencari tahu tentang Jenderal Marco. Itu satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang. Stevan segera kembali ke mobilnya.
Baru saja Stevan ingin melajukan mobilnya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Stevan mengerutkan dahinya. Atasannya menelepon malam-malam begini.
"Selamat malam Komandan," ujar Stevan segera.
"Stevan, hentikan." Suara Komisaris Jenderal Howard terdengar.
"Maksud Anda?" tanya Stevan mengerutkan dahinya.
"Hentikan semua penyelidikan yang sedang kau lakukan sekarang. Jangan melakukan apa pun tentang kasus ini."
"Tapi ….!" ujar Stevan sedikit tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar, bagaimana bisa atasannya meminta menghentikan penyidikan ini, padahal sudah jelas ada tindak kriminal di sini.
"Stevan, lebih baik kau menurut saja. Aku sudah meminta mereka untuk menyerahkan dirimu padaku, jika tidak mereka juga akan melakukan sesuatu padamu. Di sini bukan hanya jabatan dan keselamatanmu yang dipertaruhkan, tapi juga jabatan dan keselamatanku. Hentikan! atau kau akan kehilangan segalanya. Bukan kau saja, aku juga! Laksanakan, ini perintah langsung dariku!" ujar Komisaris Jenderal Howard langsung.