Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 170. Panggil Ayah!


"Laporkan padaku," ujar Xavier yang sudah hampir sampai di tempat yang dilaporkan oleh bawahan Xavier.


"Tuan Robert masih ada di dalam, dia tampak masih berbicara di dalam," ujar bawahan Xavier.


"Apakah dia masih berbicara dengan gadis kecil itu?" tanya Xavier lagi.


"Sepertinya Tuan Robert juga seperti mencari seseorang. Dia berulang kali melihat gadis-gadis kecil yang ada di tempat ini. Dia sekarang sedang berbicara dengan gadis kecil yang ketiga, karena itu dari tadi kami tidak bisa melakukan penyergapan," lapor bawahan Xavier.


Xavier mengerutkan dahinya. Apakah itu panti asuhan hingga banyak anak-anak kecil di sana? Mungkin  saja apa yang ingin dikatakan oleh ayahnya adalah Robert mengirim anaknya ke sebuah panti asuhan.


"Apakah itu sebuah panti asuhan?" tanya Xavier lagi.


"Ini-eh- Ini adalah sebuah rumah bordil," lapor bawahan Xavier lagi.


Mata Xavier langsung membesar. Rumah bordil! apakah Robert sudah mengirim putrinya ke rumah bordil? Xavier benar-benar kaget dan juga seketika marah. Bagaimana bisa dia mengirim putrinya ke sana!


"Pantau terus dia! jika dia membawa seorang gadis dari sana, langsung sergap pada waktu itu juga!" perintah Xavier langsung.


"Siap Komandan!" kata Bawahan Xavier.


Xavier langsung mematikan ponselnya. Tangannya mengepal kuat. Perasaannya bercampur aduk tapi lebih di dominasi kemarahan. Dia cemas, takut, juga tak percaya. Bagaimana jika benar Robert Kim sudah menjual anaknya ke rumah Bordil? bagaimana keadaannya selam 5 tahun ini? bayangan gadis kecilnya yang tubuh di tempat itu membuat Xavier tidak sanggup. Dia menutup matanya erat karena bayangan siksaan yang diterima putri kecilnya muncul begitu saja.


Umur putrinya mungkin masih enam atau tujuh tahun. Tapi dia sudah harus ada di tempat seperti itu. Apakah dia juga bekerja di sana? Xavier benar-benar ingin cepat-cepat sampai dan mengetahui keadaan sebenarnya. Menebak-nebak seperti ini rasanya benar-benar tak menyenangkan.


Mobil Xavier baru saja berhenti tak jauh dari area pengintaian bawahan Xavier. Tapi Xavier langsung keluar karena dia sudah tak tahan lagi untuk mengetahui bagaimana sebenarnya.


Salah satu bawahan dari Xavier langsung menyambutnya dan membawanya ke tempat pengintaian terdekat. Xavier menarik napasnya saat dia ingin mulai memantau keadaannya.


Dari teropong yang diberikan oleh bawahan Xavier. Xavier bisa melihat Robert Kim sedang merangkul gadis kecil. Gadis itu kurus dan tinggi. Rambutnya hitam diikat kuncir kuda. Apakah itu? Jantung Xavier langsung berdegup kencang.


"Siapkan penyergapan!" perintah Xavier cepat. Bawahan Xavier mengangguk dan segera memberikan kode melalui alat komunikasi yang ada di tangannya.


Robert Kim baru keluar dari rumah bordir bersama seorang gadis kecil. Dia merangkulnya, meletakkan lengannya mengalung di leher gadis itu. Senyuman licik terlihat menghiasi wajahnya.


"Diam di tempat! angkat tangan Anda!" suara bawahan Xavier langsung terdengar. Robert kaget melihat begitu banyak orang yang menodongkan senjata padanya.


Robert Kim tentu tahu bahwa dia sedang diincar oleh seluruh aparat di negara ini. Tapi dia tidak menyangka bahwa dia akan disergap di sini. Robert Kim segera langsung tampak begitu panik.


Tapi Robert tak hilang akal. Dia memang ingin menjadikan gadis kecil ini sebagai tamengnya. Dia segera menekan leher anak itu dengan erat hingga sang anak langsung kaget dan panik karena tercekik. Robert juga langsung mengambil senjata apinya dari balik mantelnya. Tentu itu membuat semuanya menjadi siaga.


"Robert Kim! lepaskan dia!" ujar Xavier yang langsung mendekati Robert dengan senjata api yang mengarah ke arahnya. Akhirnya menunjukkan diri pada Robert Kim.


"Oh! kau sudah datang? cepat sekali! aku harus mengapresiasi kecakapanmu! tapi jika kau mendekatiku lebih dekat lagi. Maka dia akan mati di tanganku!" ujar Robert dengan senyuman liciknya. "Apa kau tak bisa mengingat dirinya?"


Xavier melihat ke arah gadis kecil itu. Anak itu memandang Xavier dengan tatapan ketakutan dan juga minta tolong. Mata anak itu tampak mulai basah karena air matanya. Xavier tak tahu apakah itu Moira atau tidak. Tapi perasaannya tak tega melihat tatapan anak itu.


"Hei, kau boleh memanggil pria itu ayah! lihatlah, ayahmu akhirnya menyelamatkanmu! ayo panggil!" ujar Robert menekan moncong senjata itu di pelipis anak itu dengan kuat membuat wajah anak itu meringis kesakitan. Anak itu melihat Xavier dengan wajahnya yang tampak bingung. "Panggil!"


"A-ayah! A-ayah!" teriak gadis itu awalnya ragu tapi semakin kuat seperti jeritan minta tolong.


Xavier tentu mendengar itu langsung tak tega perasaannya. Dia tak sanggup melihat gadis itu meringis dan menangis ketakutan. Apalagi saat dia memanggilnya ayah. Entah bagaimana untuk pertama kali dia merasa perasaannya bergetar begitu hebat.


"Baik-baiklah, aku akan menurunkan senjataku! kau juga harus menurunkan senjatamu! jika terjadi sesuatu pada putriku maka kau akan terima akibatnya," ujar Xavier.


"Wah, akhirnya ayah melakukan sesuatu padamu. Seharusnya kau senang," ujar Robert menggoreskan moncong senjata itu di pipi putih anak itu. Xavier semakin tegang melihat hal itu. Xavier harus bersiap hati-hati. Tapi dia langsung melihat ke suatu titik. Dengan pelan dia mengangguk.


Jlubbb!!!


Suara timah panas langsung terdengar menembus daging. Salah satu anak buah Xavier langsung memuntahkan timah panas itu ke bahu Robert yang langsung membuatnya melepaskan gadis kecil dari sekapannya.


Robert tentu langsung kaget dan meringis nyeri karena sakitnya yang sangat di bahunya. Tapi dia langsung membidik ke arah anak yang lari menjauhi Robert ke arah Xavier.


Xavier membesarkan matanya melihat bagaimana Robert membidik ke arah anaknya. Xavier langsung ingin menggapai gadis kecil yang berlari ke arahnya mencari perlindungan.


Duar!!


Jlubb!!!


Dua suara senjata api tanpa peredam terdengar memecahkan suasana tegang malam itu. Satu peluru panas itu menembus tangan Robert Kim yang sedang mengarahkan senjata api ke arah Xavier dan juga gadis kecil itu.  Tapi ternyata Robert Kim sudah memuntahkan peluru panasnya.


Xavier benar-benar membesarkan matanya maximal dan langsung menangkap tubuh gadi kecil itu dan langsung menjadikanya tameng hingga peluru itu menyerempet pinggangnya. Xavier langsung melihat keadaan gadis kecilnya.  Matanya membesar maximal melihat baju di dada kirinya yang mulai merembes darah segar. Xavier langsung tampak tidak bisa menunjukan wajah kaget dan khawatirnya. Ternyata peluru itu menembus tubuh kecilnya sebelum menyerempet pinggang Xavier.


“Hei! Hei! Bangun,” Xavier mencoba untuk mengguncang tubuh gadis yang sudah tak sadarkan diri. Tentu saja dia langsung panik dan cemas. Walau dia tidak tahu pasti apakah gadis yang lemah di dalam pelukannya ini adalah Moira. Tapi tentu saja hal ini membuatnya sangat khawatir.


Xavier langsung menggendong tubuh kecil anak perempuan itu. Tangannya kembali bersimbah darah, tapi kali ini adalah darah dari gadis kecil ini.


Robert Kim langsung disergap dan dilumpuhkan begitu saja. Dia sudah kesakitan dan juga puas dengan kejutan akhir yang diberikan pada Xavier yang langsung berlari ke arah mobilnya. Biar saja pria itu merasakan bagaimana penderitaannya!