Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 251.


“Kenapa aku harus memberimu sesuatu?” tanya Laura dengan bibir yang dimajukan seperti paruh bebek.


“Semua tidak ada yang gratis di dunia ini. Jika kau ingin aku melakukan sesuatu. Kau harus memberikan imbalan,” ujar Antony lagi.


“Memangnya apa yang kau inginkan?”


Antony memandang wanita itu. Apakah dia polos atau memang pura-pura tidak tahu. “Kau tahu apa yang aku mau darimu.”


Laura menyipitkan matanya. Tentu saja dia sudah bisa membaca pikiran Antony. Ah! Menyebalkan sekali. Pria ini memanfaatkan situasinya. Masa hanya ingin menolong Graciella mencari siapa pembunuh ibunya dia harus menyerahkan dirinya pada Antony. Dia merasa itu terlalu berlebihan.


Saat Laura berkutat dengan pikirannya. Suara dering ponsel Antony mengagetkannya. Dia lalu melihat ke arah Antony yang segera menjawab panggilan telepon itu. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya tapi dia mendengarkannya dengan seksama dan wajah yang sangat serius.


Dia lalu menarik ponsel itu dari telinganya dan menyentuh sebuah tombol di layarnya. Itu tombol untuk me-loudspeaker-kan panggilan itu. Sepertinya, dia ingin Laura mendengar apa yang disampaikan oleh penelepon.


“Ulangi lagi,” perintah Antony.


“Lapor, Nyonya Graciella, istri Jenderal Xavier Qing dilaporkan diculik dari rumah sakit tempatnya di rawat. Saat ini Jenderal Xavier dan juga beberapa orang menyusur semua rumah sakit untuk mencari keberadaan Nyonya Graciella,” lapor mata-mata yang sengaja ditugaskan oleh Antony untuk memantau orang-orang yang menurutnya harus dia waspadai.


“Apa?” pekik Laura langsung kaget. Dia tidak percaya mendengar apa yang dilaporkan oleh orang itu.


“Laporkan terus perkembangannya.” Antony segera mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari seberang. Dia melihat wajah Laura yang kaget bercampur khawatir. Sejujurnya dia juga sedikit kaget. Tahu bahwa Adrean sudah mulai berulah. Tapi tidak menyangka dia akan langsung mengambil sasarannya.


“Itu benar? Apakah benar Graciella diculik? Bagaimana bisa? Siapa yang menculiknya? Jangan-jangan …,” cerca Laura dengan segala tanda tanya di dalam pikirannya.


“Adrean Han yang kemungkinan besar membunuh ibu Graciella karena balas dendam akibat kematian dari Ibunya. Ibu Graciella menggoda ayah Adrean dan membuat Ibu Adrean memutuskan untuk bunuh diri. Karena itu, sepertinya saat dia belum bisa menemukan ibu Graciella. Dia melampiaskan dendamnya pada Graciella,” beber Antony pada Laura yang membesarkan matanya.


“Benarkah begitu? Pantas saja Adrean begitu membenci Graciella. Aku juga berpikir, untuk apa Adrean melampiaskan kemarahannya hanya karena Graciella tidur dengan Xavier sebelum pernikahan mereka. Jika dia tidak menyukainya, untuk apa menikahinya bukan? Ternyata dia punya maksud yang lain. Jadi? Sekarang artinya Graciella ada di tangan Adrean? Bagaimana bisa?” Laura membesarkan dan menyipitkan matanya berulang kali. Menganalisa semuanya dengan pemikirannya. Begini saja dia sudah pusing karenanya.


“Adrean orang yang licik. Walaupun bergerak hanya sebagai bayangan. Dia mengerti dan tahu semua tentang apa yang terjadi. Dia punya banyak koneksi dan mata-mata yang memantau semuanya. Tentu saja dia bisa melakukannya. Apalagi jika kita lengah.”


“Dia juga sangat kejam. Dulu saja dia sering membuat Graciella terluka. Apalagi sekarang! Antony! Kau benar-benar harus membantu Graciella!” tuntut Laura dengan wajahnya yang sangat semangat.


Antony melihat itu hanya membuat alisnya bergelombang. Melihat tatapan dari Antony, Laura langsung ingat. Bukannya tadi Antony meminta sesuatu pada Laura?


“Aku akan memberikan jiwa dan ragaku jika kau bisa membantu Graciella dan membawanya dalam keadaan selamat!” ujar Laura dengan menggebu-gebu dan tanpa pikir panjang lagi. Tentu saja. Bagi Laura kehidupannya yang sama sekali tidak berarti ini pantas digantikan oleh kehidupan Graciella. Wanita itu dari kecil hingga sekarang, hidupnya selalu saja penuh penderitaan bukan seperti Laura yang hidup senang tapi berbuat onar. Seorang Laura bodoh diganti untuk seorang Graciella yang sangat cerdas. Pastilah setimpal.


“Kau yakin?” tanya Antony lagi melihat Laura yang menggebu-gebu. Dia tahu wanita ini tidak berpikir sama sekali saat mengatakannya.


“Yakin! Cepatlah! Tolong Graciella!” Laura tampak kesal dengan kelakuan Antony yang menurutnya tidak bertindak cepat. Jika sudah dengan Adrean. Pastilah keadaan Graciella tidak baik-baik saja.


“Aku pegang perkataanmu.” Antony segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


“Minta mereka membantu Xavier,” pinta Laura.


“Bantu Jenderal Xavier.”


“Ya! kalau bisa bunuh saja Adrean! Si kejam itu memang pantas mendapatkannya!” ujar Laura terbawa emosi.


Antony mengerutkan dahinya. “Bunuh Adrean!” Antony mengatakan itu dengan serius dan juga tegas.


Laura langsung sadar dan sedikit kaget. Apakah mereka akan benar-benar membunuh Adrean karena permintaannya.


“Kau benar-benar memerintahkan mereka membunuh Adrean?” tanya Laura. Itu keluar dari mulutnya karena dia sedang emosi tadi.


“Aku hanya mengikuti apa keinginanmu.” Antony mematikan panggilan teleponnya.


“Ha? Aku hanya emosi tadi.” Laura kaget setengah mati. Kalau benar Adrean sampai terbunuh. Berarti itu gara-gara permintaannya.


“Sudah aku katakan.” Antony hanya mengatakan hal itu dengan santai.


“Ha! Batalkan! Cukup tangkap saja dia!” ujar Laura gelagapan.


“Perintah yang sudah dikatakan, tidak boleh ditarik kembali.” Antony mengulas senyum liciknya. Padahal hanya tinggal mengatakan batal maka perintahnya akan dianulir. “Mulai sekarang, belajarlah untuk tidak sembarang mengatakan apa pun. Nasib Adrean ada di ujung lidahmu sekarang.” bisik Antony yang membuat Laura sedikit membesarkan matanya.


Kenapa malah begini? Pikir Laura yang merasa dia sudah melakukan kesalahan. Adrean memang kejam. Tapi Laura tak pernah menyangka, kata-katanya akan membuat seseorang kehilangan nyawa.


...****************...


Xavier menggenggam erat tangannya hingga urat-urat di tangannya tampak begitu nyata. Tubuhnya gemetar karena menahan amarah yang begitu memuncak.


“Bagaimana ini bisa sampai terjadi!” teriaknya keras yang langsung membuat semua bawahan yang ditugaskan olehnya ciut. Tapi mereka tidak bisa menunduk sama sekali. Hal itu tidak diperbolehkan.


“Xavier! Jangan melakukan hal ini!” ujar Stevan yang langsung datang ketika tahu kabar tentang Graciella. Dia mencoba menahan Xavier yang sudah berang melihat keteledoran yang dibuat oleh anak buahnya. Sial sekali, dia sebenarnya ingin cepat kembali ke rumah sakit. Tapi saat dalam perjalanan. Dia diminta untuk datang ke markas dahulu karena ada Jenderal besar yang datang untuk melakukan kunjungan. Karena itu, dia baru tahu keadaan Graciella sekarang.


Xavier sudah mencari ke seluruh sudut rumah sakit ini. Mencoba untuk mencari keberadaan Graciella. Tapi tidak menemukannya sama sekali. Mereka juga menyisir areal sekitar dari rumah sakit. Tapi semua orang tak bisa menemukannya. Bahkan kedua tentara yang menjaga Graciella hingga ke ruang radiologi mengatakan bahwa Graciella sama sekali tidak pernah keluar dari ruangan itu. Tapi bagaimana mungkin dia menghilang begitu saja.


“Xavier, bukan saatnya kita untuk menghukum mereka. Kita membutuhkan mereka agar bisa mencari keberadaan Graciella,” bisik Stevan. Bisa-bisa Xavier benar-benar mengamuk di ruangan itu. “Kalian cepat berpencar dan kembali mencari keberadaan Nyonya Graciella. Jika ada hal yang mencurigakan. Katakan pada kami!” perintah Stevan. Mereka harus berkepala dingin untuk memecahkan ini semua. Tak mungkin Graciella lenyap begitu saja dari ruangan itu.


...****************...


kak! sekali lagi ini mentahan. banyak typo dan kesalahan akan diperbaiki besok pagi. soalnya kalo di edit lagi. luama entar. hehe. maklum ya