Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 291


“Laura?!”


Sayup-sayup Laura mendengar suara itu. Perlahan dia membuka matanya yang terasa berat dan kabur. Dia bisa melihat siluet tubuh seseorang di depannya. Laura menarik napasnya panjang. Kenapa dengan dirinya?


“Laura? Kau mendengarku?” tanya Graciella yang sedikit cemas.


Dia baru saja ingin melihat keadaan Laura dan tiba-tiba saja melihat wanita itu sudah tidak sadarkan diri di lantai.


Laura mengerutkan dahinya saat pandangannya mulai jelas dia bisa melihat wajah Graciella yang panik.


“Eh? Ada apa denganku?” tanya Laura yang juga tidak ingat bagaimana dia bisa tidak sadar. Terakhir kali yang dia ingat adalah …. “Ahk!!!” Laura langsung berteriak dengan sangat kencang yang langsung Graciella terkejut setengah mati. Kenapa malah berteriak dengan sangat keras.


“Laura! Laura! Kau ini kenapa sebenarnya?” tanya Graciella memegang kedua sisi tangan Laura agar wanita itu bisa diam. Graciella tahu bahwa temannya ini terkadang terlalu berlebih dalam menanggapi suatu hal.


“Gracie!! Aku hamil!” Laura memasang wajah sedihnya. “Kenapa aku bisa hamil?” tanya Laura yang langsung memeluk Graciella yang bingung.


Hamil? Laura hamil? Graciella pun  tak tahu harus berkomentar apa. Dia tak mungkin bertanya bagaimana bisa Luara hamil? Dan, ya dia tahu pasti sekarang wanita ini semakin bingung dengna apa yang harus dia lakukan sekarang.


“Tenangkan dirimu dulu Laura.” Graciella menepuk pundak temannya pelan yang membuat Laura sedikit tenang akhirnya. Wanita itu menyeka bulir air mata yang masih mengalir di pipinya yang putih.


“Bagaimana ini? Aku benar-benar sedang berusaha untuk melepaskannya. Anak ini malah muncul begitu saja.” Laura tampak panik. Graciella mengerutkan dahi melihat ke arah Laura.


“Bodoh, bagaimana bisa muncul begitu saja. Kau dan Antony yang membuatnya. Anak tidak pernah datang karena kesalahan. Yang salah itu adalah orang tuanya. Mungkin juga, dia hadir sebagai jalan untukmu dan Antony.” Graciella mengusap pipi Laura yang tampak seperti anak kecil. Dia juga membenarkan rambut Laura yang tampak acak-acakan.


“Maksudmu? Dia hadir agar aku dan Antony tidak berpisah? Kenapa kau malah mendukung aku dengan Antony?” tanya Laura lagi.


“Aku tidak mendukungmu atau siapa saja. Aku hanya mengatakan hal itu. Saat aku tahu aku hamil setelah Xavier meniduriku dulu. Hidupku pasti lebih hancur dari padamu. Aku menikah dengan seseorang yang begitu kejam dan aku harus menyembunyikannya. Tapi sekarang aku tahu bahwa kehadiran Moira adalah suatu jalan agar aku dan Xavier bisa bersama. Dan kita tidak tahu kenapa Tuhan membiarkanmu memiliki anak ini. Walau aku sedikit khawatir karena dia akan punya ibu sepertimu,” canda Graciella yang langsung membuat Laura sedikit tersenyum sambil mengusap hidungnya yang berair.


“Iya, aku juga khawatir tentang itu. Apakah aku siap menjadi seorang ibu? Ah! Aku tidak bisa membayangkan perutku akan sebesar perutmu sekarang!” Laura bolak balik melihat perutnya dan juga perut Graciella.


“Nikmati saja, seluruh proses ini sangat menyenangkan.”


Laura tersenyum tipis lalu segera pupus. “Bagaimana aku memberitahukan pada Antony tentan kehamilan ini?” tanya Laura. Dia tidak punya nomor ponsel khusus Antony. Jika sembarangan menghubungi pria itu maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Ah! Kenapa Antony harus menjadi presiden? Kenapa dia tidak berubah sifat sebelumnya saja?


Graciella diam sejenak untuk memutar otaknya. “Aku rasa aku bisa meminta Xavier mengatakan hal itu pada Antony. Dia bisa bertemu dengan Antony.” Graciella menatap ke arah Laura yang langsung berbinar matanya.


“Tidak bisakah aku bertemu dengannya sekarang?” tanya Laura menggigit bibirnya. Bukan tak tahu bahwa hal itu sulit dilakukan. Hanya saja, dia benar-benar ingin mengatakannya secara langsung.


“Aku rasa saat ini aku belum tahu bagaimana caranya. Aku akan mendiskusikannya dengna Xavier terlebih dahulu dan mudah-mudahan dia bisa mendapatkan jalannya.” Graciella mencoba menenangkan ibu muda ini.


“Baiklah,” ujar Laura.


“Istirahatlah, esok kita akan pergi ke dokter untuk memeriksakan dan juga mencari suplemen vitamin untukmu. Aku keluar dulu.” Graciella langsung turun dari ranjang Laura dan segera keluar.


Graciella menarik napas panjang. Semakin rumit saja perjalanan Laura ini. Skarang di harus menghubungi Xavier dan bertanya bagaimana caranya agar Laura bisa bertemu dengan Antony.


“Nyonya, Jenderal sudah pulang,” ujar salah satu pelayan yang ada di rumah itu saat melihat Graciella keluar dari ruangan Laura.


“He? Dia sudah pulang?” Graciella melirik ke arah jam dindingnya. Masih cukup siang untuk Xavier pulang. Dia tidak pernah pulang sesiang ini. Apakah ada masalah? Tapi dia rasa ini saat yang tepat pula, mungkin dia langsung berbicara dengan Xavier.


“Ya, Jenderal ada di ruang tamu.”


Graciella semakin menekuk kedua dahinya. Xavier bukan orang yang suka duduk di ruang tamu. Bahkan selama mereka tinggal di sini. Dia hanya duduk di sana ketika menjamu seseorang saja. Selebihnya dia lebih suka langsung ke kamar atau paling sering di ruang kerjanya. Apakah dia sedang menjamu seseorang.


Graciella langsung melangkah ke arah ruang tamu kecil kediaman mereka di markas militer itu. Dia awalnya sedikit penasaran, tapi langsung membesarkan matanya ketika melihat sosok yang langsung berdiri ketika melihat dirinya. Apakah ini namanya jodoh?


***


Laura meringkukkan tubuhnya di bawah selimut tebal. Entah kenapa sekarang rasanya kamar yang dia tempati ini semakin dingin rasanya. Laura juga merasa pusing dan juga sedikit mual memikirkan makanan. Apakah dia sedang mengalami morning sickness? Tapi ini sudah siang. Lagi pula sebelum tahu bahwa dia sedang hamil. Rasanya tubuhnya baik-baik saja. Sekarang, semuanya terasa tak nyaman.


Laura mendengar suara decit pintu yang terbuka pelan. Dia tak punya minat untuk melihat siapa yang datang. Tentu saja dalam pikirannya itu adalah Graciella. Tak mungkin pelayan atau malah Xavier yang masuk ke dalam kamarnya yang sudah hampir gelap total. Cahaya yang masuk gara-gara pintu yang terbuka tak lagi ditutup membuat Laura terganggu.


“Gracie? Kenapa pintunya dibiarkan terbuka? Aku tidak suka cahayanya.” Laura mengeluh tapi tetap meringkuk bertahan dengan gayanya.


Laura bisa meraskan pinggiran ranjangnya tertekan. Sepertinya seseorang duduk di ranjangnya. Ah! Graciella, kenapa malah duduk tapi tidak menutup pintunya. Laura yang kesal langsung saja terduduk ingin langsung memarahi Gracilela. Tak tahu lah, entah kenapa dia mudah sekali marah. Mungkin karena hormonnya yang kacau. Graciella pasti memakluminya.


“Gracie! Aku sedang tidak ingin melihat … cahaya ….”


Mata Laura terbelalak besar melihat siapa yang sekarang duduk di depannnya. Laura mengucek matanya dengan sangat keras. Bagaimana seseorang bermimpi padahal dia tidak tertidur. Apakah dia sangat merindukan Antony hingga sosok ini sekarang ada di sini sekarang?