Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 18. Bagaimana kau bisa menyebut pria itu sebagai suami?


Graciella keluar dari kamar itu dan melihat Xavier sudah menunggunya di meja makan dekat dengan ruang tengah. Graciella lalu berjalan ke arah pria yang tampak serius membaca buku yang cukup tebal. Xavier lalu memalingkan wajahnya ketika mendengar suara langkah mendekat ke arahnya.


“Duduklah," ujar Xavier tanpa melihat ke arah Graciella. Kembali sibuk dengan bacaannya.


 


Graciella mau tak mau mengikuti kata-kata pria ini. Dia duduk di depan Xavier. Dia melihat makanan yang cukup banyak sudah ada di sana. Telur tomat, Daging masak kecap dan brokoli, Sup rumput laut dan bubur jahe,  juga ada beberapa buah-buahan yang sudah terpotong.


 


“Makan!” tawar Xavier tapi malah terdengar seperti perintah atasan pada bawahannya.


“Ehm … Aku banyak pekerjaan di rumah sakit. Ini saja aku sudah terlambat. Kasihan pasienku jika menunggu lama. Sepertinya aku akan makan di rumah sakit saja," ujar Graciella. Sebenarnya cukup berselera dengan makanan yang ada di atas meja itu. Apalagi kemarin perutnya baru terkuras dan rasanya sekarang tak nyaman. Memakan sup rumput laut panas dan bubur jahe itu pasti menyenangkan.


 


“Aku sudah mengirimkan orang untuk meminta izin untukmu.” Xavier melirik sedikit pada Graciella.


 


“Kau apa?” Graciella terkejut. Bagaimana Xavier bisa meminta izin agar Graciella tak masuk kerja hari ini. Apa kata orang-orang di rumah sakit nantinya? Baru saja dia digosipkan dengan direktur. Nanti, bisa-bisa dia digosipkan dengan pria ini.


 


“Mereka setuju untuk mengizinkanmu libur,” ujar Xavier sambil menutup bukunya yang tebal dan tampak sudah cukup tua. Menyisihkannya di pinggir meja.


 


“Tapi ….” Kata Graciella bingung alasan apalagi agar dia bisa keluar dari tempat ini. Kenapa dia merasa sedang ada di kandang singa?


 


“Makanlah selagi hangat, sup dan bubur itu akan membuat perutmu nyaman.” Xavier mengambil sebuah mangkuk, mengisinya dengan sup rumput laut lalu menyodorkannya pada Graciella. Graciella hanya bisa melihatnya. Bingung harus bagaimana.


 


Graciella melihat pantulannya di sup bening itu. Belum dia menyentuhnya, Xavier sudah menyodorkan bubur dengan potongan telur tomat di atasnya. Graciella melihat ke arah Xavier. Pria itu sudah sibuk menyiapkan makanannya sendiri. Kenapa tiba-tiba Graceilla merasa sedikit tersentuh.


 


Seumur hidupnya dia jarang sekali diberikan perhatian. Orang terakhir yang memberikannya perhatian adalah Adrean. Pria itu sebelumnya begitu baik pada Graciella. Memberikannya hujanan perhatian. Setiap kelakuannya lembut dan seperti melayani Graciella dengan setulus hati hingga semuanya berubah begitu saja. Graciella ingat bagaimana Adrean memaksanya untuk makan saat dia sakit karena terlalu banyak belajar. Pria itu menyuapinya dengan sabar. Sekarang, bahkan untuk makan semeja saja dengannya, Adrean merasa tak selera makan.


 


Graciella mengambil sendok porselen yang ada di mejanya. Dia menunduk memipihkan bibirnya. Tangannya sedikit bergetar menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul. Rindu akan perhatian itu menyesakkannya. Lalu kenapa pria di depannya ini malah mengingatkannya tentang hal ini? padahal Graciella sudah terbiasa untuk hidup dalam kesepiannya.


 


Xavier mengalihkan pandangannya ke arah Graciella karena mendengar suara sendok yang terkena mangkuk. Dia melihat tangan Graciella gemetar dan wanita itu juga menunduk. Dia mengerutkan dahinya.


 


“Ada apa?” tanya Xavier. Cukup datar sebenarnya.


 


“Oh, tidak apa-apa,” Suara Graciella terdengar sedikit gemetar, tapi dia berusaha untuk menunjukkan senyumnya. Ini bukan apa-apa. Dia hanya terlalu lama tak mendapatkan perhatian hingga perlakuan kecil seperti ini membuatnya tersentuh. Graciella! Ini bukan apa-apa.


 


Tiba-tiba Graciella ingat tentang perkataan Xavier pada Devina tentang pengakuannya tertarik dengan Devina. Ehm? Apakah harus dia menanyakan hal itu pada pria yang sedang fokus menghabiskan buburnya.


 


“Wanita tadi …?” tanya Graciella mencoba basa basi.


“Teman masa kecilku. Aku hanya menganggapnya adik," potong Xavier seolah tahu apa yang ada di dalam otak Graciella.


“Oh, tapi dia bilang kalian akan bertunangan?”


“Ayahku dan ayahnya adalah teman baik. Mereka ingin kami bertunangan. Tapi aku menolaknya.”


“Kenapa? dia sangat cantik dan juga terlihat berpendidikan. Kalian memang terlihat sangat cocok,” ujar Graciella sambil menyeruput kuah dari supnya. Rasa hangatnya langsung mengalir ke tenggorokan lalu masuk ke dalam lambungnya. Nyaman sekali rasanya.


 


“Lalu bagaimana dengan kita?” suara dan wajah Xavier begitu serius melihat Graciella. Graciella langsung menatap Xavier dengan mata yang terbeliak. “Temanmu itu mengatakan kita cocok.”


 


“Oh! Laura! Dia hanya asal bicara,” ujar Graciella dengan senyuman salah tingkah. Dasar Laura, apa yang sudah dikatakannya pada pria ini. “Lagipula tidak mungkin dan kau tidak boleh bersamaku.”


 


 


“Aku sudah menikah dan sudah punya suami,” ujar Graciella. Ada penurunan nada suara ketika Graciella mengatakan kata suami.


 


Xavier memandang Graciella dengan tatapan datarnya. Graciella yang menangkap tatapan itu menjadi salah tingkah kembali. Dia bingung kenapa Xavier mantapnya seperti itu. Tatapan yang tak bisa dia mengerti apa artinya. Untuk menutupi gugupnya, Graciella mengambil ingin mengambil satu daging kuah kecapnya. Namun Xavier lebih cepat, dia langsung mengambil daging itu dan meletakkannya di atas bubur milik Graciella. Sekali lagi hal itu membuat Graciella bingung.


 


“Bagaimana jika aku berencana merebutmu dari suamimu?” tanya Xavier yang seketika membuat Graciella tersedak. Dia tak menyangka pria ini akan mengatakan hal itu. Kenapa bercandanya keterlaluan. Graciella mengambil air putih dan meminumnya agar rasa tersedaknya hilang.


 


“Jangan bercanda terlalu kelewatan," tegur Graciella pada Xavier. Pria itu hanya memalingkan wajahnya kembali ke mangkuknya.


 


“5000 dollar. Kau hutang padaku 5000 dollar.”


 


“Ha? Itu dihitung hutang?” Graciella kaget. Kenapa sekarang dia malah berhutang pada Xavier, padahal tak ada yang memintanya untuk membantu Graciella kemarin.


 


“Ya, kau harus mengembalikannya," ujar Xavier serius. Pria ini saat serius dan bercanda tidak bisa dibedakan, pikir Graciella.


 


“Ehm … Baiklah, tapi bisakah dibayar dengan cara dicicil?” tanya Graciella, dia memang punya uang, tapi tak sebanyak itu.


“Aku tidak butuh uangmu.” Xavier benar-benar datar mengatakannya.


Graciella menautkan alisnya kembali, “Lalu?”


“Bayar dengan waktumu.”


“Waktu ku? maksudmu?”


“Besok Fredy akan menjemputmu.”


“Tapi hari ini aku izin, karena itu besok aku harus bekerja.”


“Besok kau hanya bekerja di shift pagi, pukul 1 siang kau sudah selesai bekerja. Fredy akan menjemputmu setelahnya.”


Graciella mengerutkan dahinya, bagaimana dia bisa tahu jadwal Graciella.


 


“Aku tahu semua jadwalmu," ujar Xavier seolah tahu apa isi otak Graciella. Graciella hanya bengong melihat Xavier.


 


“Lalu, bagaimana jika suamiku tidak mengizinkannya?” tanya Graciella berusaha lagi untuk mengelak bertemu kembali dengan Xavier.


 


“Maka minta suamimu membayar empat kali lipat dari hutang mu,” ujar Xavier serius.


 


Graciella melotot melihat Xavier, Bagaimana caranya dia membayar empat kali lipat dari 5000 dollar.. Itu uang yang sangat banyak.


 


“Itu pemerasan namanya!” Kata Graciella.


“Aku tidak peduli. Jika esok kau tidak ingin pergi denganku. Lalu suamimu tidak membayar uang itu. Aku akan langsung menagihnya pada suamimu dan mengatakan apa yang sudah kita lakukan tadi malam,” Ancam Xavier dengan senyuman yang terlihat licik di depan Graciella.


“Kau tahu suamiku?” tanya Graciella tak percaya.


“Adrean Han, Wakil ketua departemen kesehatan. Menikahimu tiga tahun yang lalu, tapi sampai sekarang masih mendekati begitu banyak wanita, bagaimana bisa kau menyebut pria seperti itu sebagai suami?” Xavier berdiri dari duduknya. Memasukkan tangannya ke dalam celananya.  “Aku tahu semua tentangmu. Sampai bertemu besok. Fredy akan mengantarkanmu pulang sekarang.” Kata Xavier langsung pergi begitu saja tanpa menunggu lagi jawaban atau sanggahan dari Graciella.


 


Graciella menggigit bibirnya. Apakah itu artinya Xavier tahu juga bahwa Adrean tak pernah menganggap Graciella istrinya? Graciella jadi merasa rendah diri di hadapan Xavier sekarang.