
“Silakan,” ujar petugas itu memberikan pena pada Adrean, “Nona ini sudah menandatangani surat ini sebelumnya,” ujar petugas yang juga kaget karena ternyata sudah ada tanda tangan Graciella di sana.
Adrean mengambil pena itu. Melihat sejenak ke arah dokumen yang ingin dia tanda tangani. Graciella hanya menunggu pria itu untuk menandatangani lalu semuanya selesai. Tak ada lagi tali penghubung antara dirinya dan Adrean. Akhirnya di umur dua puluh enam tahun, Graciella siap menyandang status jandanya.
“Aku ingin meminta sesuatu padamu,” ujar Adrean meletakkan pena itu kembali. Gracciella mengerutkan dahinya dengan wajah kesal. Kenapa tak langsung saja?
“Apa?”
“Aku hanya minta syarat yang kemarin aku katakan. Kau tidak boleh berdekatan dengan Xavier dan izinkan aku untuk tetap bisa melihat Moira dan dirimu cukup dua kali dalam sebulan, bagaimana?” ujar Adrean. Petugas itu memandang Graciella.
Graciella mengerutkan dahinya. “Setelah ini aku dengar kau akan segera menikah. Jangan mengulangi perbuatan yang sama. Aku tidak ingin istrimu kelak merasa terganggu akan hal seperti itu dan aku tidak mau dikatakan menjadi perusak rumah tangga orang lain. Jadi maaf jika aku menolaknya,” ujar Graciella.
“Kalau begitu, jangan mendekati Xavier! Kau harus berjanji untuk tidak berdekatan dengannya. Kau jangan berharap untuk menikahinya,” kata Adrean dengan sedikit emosi karena keinginannya ditolak.
Graciella memiringkan wajahnya menatap Adrean dengan wajah bertanyanya. “Setelah bercerai, bukankah hidupku menjadi urusanku dan hidupmu adalah urasanmu. Lebih baik kita tidak lagi mengurusi hidup yang lain.”
“Jadi kau benar-benar ingin menikahi pria itu?” tanya Adrean tak menyangka Graciella sudah jatuh cinta pada Xavier.
Graciella menghela napasnya kasar, “Sudah ku katakan, aku dulu begitu lama menerima kehadiranmu tapi kau menyia-nyiakan hal itu. Menurutmu apakah aku bisa dengan cepat menerima dirinya? Tenang saja, aku tidak akan langsung mencari pasangan. Aku akan menikmati hidupku bebas dari pria manapun, kau tak usah khawatir lagi denganku,” ujar Graciella menatap ke arah Adrean yang tampak emosi.
Adrean menahan emosinya. Apa yang mau dikata, setelah ini dia memang tak punya hak sama sekali mengatur hidup Graciella. Dia hanya takut jika Graciella mendekati Xavier maka orang-orang yang tak punya belas kasihan itu akan menghabisi dirinya. Biar dia tidak bisa lagi bersama dengan Graciella, asalkan dia masih bisa melihatnya di dunia ini.
Adrean mengambil pena itu. Dengan berat hati menandatanginya. Petugas di depan mereka segera mengambil dokumen itu dan memotong sertifikat pernikahan mereka.
“Silakan membayar uang administrasinya, setelah ini kalian sudah tidak lagi suami istri.”
Adrean mengeluarkan uang dan segera memberikannya pada petugas itu.
“Baiklah, silakan tunggu di ruang tunggu untuk sertifikat perceraian kalian,” ujar petugas.
Graciella mengangguk pelan dan segera berdiri untuk menunggu di ruang tunggu. Adrean yang melihat Graciella bangkit langsung mengikutinya. Dia rasanya tak bisa menerima hal ini. Membayangkan Graciella yang pergi menjauh darinya. Rasanya membuat sesak.
“Aku akan berusaha membuatmu kembali padaku.” Adrean berkata dengan lantang. Graciella menghentikan langkahnya dan segera membalikkan tubuhnya melihat ke arah Adrean.
“Aku tidak bisa melarangmu tentang hal itu. Tentang berusaha itu adalah urusanmu. Tapi untuk menolak dan berusaha agar tidak jatuh lagi di lubang yang sama adalah hak dan urusanku. Itu saja yang harus kau tahu,” ujar Graciella yang langsung melanjutkan langkahnya keluar dari tempat itu menuju ke ruang tunggu.
Adrean memipihkan bibirnya. Dia lalu mengikuti Graceilla. Saat dia keluar dari sana, Sarah langsung berdiri dan mendekatinya.
“Bagaimana?” tanya Sarah dengan senyumannya yang mengembang. Tapi, Adrean tak memperhatikan wanita cantik di depannya. Dia malah melihat Graciella yang diam saja di sudut ruangan “Adrean! Bagaimana?” tanya Sarah lagi dengan wajah cemberut tahu ke mana sorot mata Adrean tertuju.
“Nona Graciella Luo dan Tuan Adrean Han,” terdengar petugas memanggil nama mereka.
Graciella segera berjalan dan dengan cepat menerima surat sertifikat percerainnya. Graceilla tersenyum, rasanya lebih senang dari pada saat dia menerima sertifikat pernikahannya dulu. Adrean tampak malas untuk mengambil sertifikat perceraian itu. Dia melihatnya sekilas dan memberikannya pada Sarah yang tampak sumringah mendapatkan sertifikat itu.
Graciella menatap ke arah Adrean. Dia sedikit tersenyum bijak, “Baiklah, sekarang kita sudah tidak punya ikatan apapun. Aku harap hidupmu akan lebih baik. Selamat tinggal.” Graciella segera meninggalkan Adrean yang hanya mengepalkan tangannya. Merasa menyesal sudah kehilangan gadis itu.
"Di mana Xavier sekarang?" tanya Stevan yang berjalan di lorong rumah sakit. Mengamati keadaan yang cukup ramai.
"Dia ada di ruang radiologi Tuan," suara salah satu dokter keluarga Qing.
"Baiklah, aku akan ke sana. Kita bertemu di sana." Stevan segera mematikan ponselnya. Stevan langsung melihat ke arah papan petunjuk tapi dia tak juga menemukannya.
"Maaf, dimana ruangan radiologi?" tanya Stevan.
"Ada di ruangan belakang terpisah dari gedung utama." Perawat itu menunjukkan jalannya.
"Oh baiklah, terima kasih," ujar Stevan segera melangkah mengikuti apa yang ditunjukkan oleh perawat tadi. Selain itu dia juga melihat papan tanda yang sudah menunjukkan arah ke bagian Radiologi.
Stevan langsung keluar dari gedung utama, menyisir jalan menuju ke tempat yang dia tuju. Tapi baru saja dia sampai di tempatnya. Stevan buru-buru berhenti. Kaget melihat begitu ketatnya penjagaan di sana.
Stevan harus mencari cara untuk masuk ke dalam sana. tapi dia tidak menemukannya. Tidak mungkin dia pergi mencari baju untuk kamuflase dan itu juga belum tentu ada.
Stevan menarik napasnya, memberanikan diri untuk segera berjalan ke bagian Radiologi itu dan benar saja dia langsung diberhentikan.
"Maaf, area ini sementara ditutup untuk umum," ujar penjaga.
Stevan mengeluarkan tanda pengenal kepolisiannya.
"Inspektur Jendral Stevan," ujar Stevan langsung. "Aku di sini untuk melakukan penyelidikan terhadap Letnan Jendral Xavier tentang kecelakaan yang terjadi padanya, siapapun yang menghalangi penyelidikan akan ditahan." Stevan segera menjelaskannya.
"Baik Komandan," ujar Penjaga itu. Bagaimana pun mereka juga diambil dari abdi negara. Lagi pula mereka hanya diperintahkan untuk tidak membiarkan orang awam masuk ke dalam, bukan seorang Inspektur Jendral bukan?
Mereka segera masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat dokter keluarga Qing ada di sana.
"Bagaimana? Di mana Xavier?" tanya Stevan.
"Dia ada di ruang tunggu. Kami baru selesai melakukan CT-scan pada beliau, tapi …." kata dokter pertama sambil mengikuti Stevan yang mulai melangkah.
"Tapi apa?"
"Aku rasa Tuan David Qing sudah curiga. Dia sekarang sedang menuju kemari, aku rasa akan tiba sebentar lagi."
Stevan hanya menggertakkan giginya. Kenapa David Qing bisa datang ke sini. Bukankah biasanya dia selalu sibuk?
Dokter pertama itu membuka pintu ruang tunggu. Membiarkan Stevan segera masuk. Stevan mengerutkan dahi melihat Xavier yang hanya duduk di kursi rodanya.
"Lama sekali!" Ucap Xavier.