
Graciella perlahan mendekati Xavier dan Moira yang menghabiskan waktu mereka seharian bersama. Aneh, entah anaknya memang orang yang mudah menerima siapa saja atau ada hal lain, tapi bagaimana dia bisa begitu dekat dengan Xavier yang bahkan jarang tersenyum. Dari tadi yang Graciella lihat hanya Moira yang asik bermain di sisi Xavier. Tak mengajak pria itu ikut bermain, tapi dia begitu nyaman di sampingnya. Bahkan sekarang Moira tertidur bersandar pada tubuh Xavier. Xavier juga tertidur sambil melingkarkan tangannya ke tubuh kecil Moira.
Greciella menatap keduanya yang sekarang wajahnya saling bersanding. Mengerutkan dahi menatap wajah mereka yang menurutnya memang banyak kemiripan. Graciella menatap lebih dekat ke arah Xavier. Memperhatikannya dengan seksama. Ini tak bisa dia lakukan olehnya karena dia pasti langsung terpesona dengan tatapan matanya.
Graciella mengamatinya. Menutup bagian dahi dan setengah bagian hidung menyisakan bagian mata yang terbuka. Seolah seperti topeng yang digunakan oleh pria yang tidur dengannya malam itu.
Graciella membesarkan matanya ketika kilatan bayangan pria yang menidurinya malam itu langsung muncul. Kenapa begitu mirip Xavier? Graciella saking kagetnya sampai melangkah mundur dan kakinya menyentuh meja yang ada di belakangnya. Seketika membuat bunyi yang membangunkan Xavier.
Xavier tersentak kaget ketika mendengar suara yang langsung menbuatnya terbangun. Xavier langsung mengerutkan dahinya melihat ke arah Graciella yang tampak terkejut seolah baru melihat setan. Dia tak tahu kenapa Graciella memandangnya dengan wajah kagetnya.
"Kenapa?" tanya Xavier langsung.
Graciella tentu terkejut. Dia memang tak ingin menerka-nerka tapi Xavier benar-benar mengingatkannya pada pria malam itu. Bagaimana bisa? atau jangan-jangan ... Tidak, sekali lagi akal sehatnya berusaha mengingatkannya jangan asal menebak.
"Tidak, aku hanya ingin membawa Moira ke kamar," ujar Graciella sambil terus mengerutkan dahi memandang Xavier.
Xavier melihat Moira masih nyaman di sisinya. Seharian mereka bersama, tak banyak bicara. Anaknya hanya bermain di sisinya dan Xavier menyukai mendengar sesekali celotehan dari Moira.
"Baiklah," ujar Xavier yang melepaskan kalungan tangannya dari tubuh Moira. Moira menggeliat tapi malah semakin dekat dengan Xavier.
Melihat itu Graciella mengerutkan dahinya. Tapi perlahan dia mendekat dan mulai menggendong Moira. Greciella kembali menatap Xavier dengan tatapan bertanyanya.
"Kenapa?" tanya Xavier lagi merasa aneh melihat Graciella menatapnya seperti itu.
"Tidak, aku pergi dulu," ujar Graciella segera meninggalkan Xavier. Hati Graciella tetap bertanya-tanya.
Stevan memperhatikan semua itu. Dia melihat Graciella yang hanya melempar senyuman ke arahnya saat melewati Stevan. Stevan segera berjalan mendekati Xavier dan duduk di sampingnya. Stevan sekilas memperhatikan Greciella, memastikan wanita itu sudah masuk atau belum.
"Apa kau sudah mengatakannya?" tanya Stevan memandang Xavier.
Xavier yang tadinya masih melihat ke arah Graciella langsung menatap Stevan.
"Belum," singkat Xavier.
"Kapan?"
Xavier menarik napasnya, bukannya dia tak ingin mengatakan. Tapi dia baru saja merasa begitu hangat dan bahagia bisa dekat dengan Graciella dan anaknya. Dia takut akan kehilangan hal itu lagi nantinya.
"Aku belum tahu kapan bisa mengatakannya," ujar Xavier lagi. Matanya menyuram memikirkan hal yang bisa saja terjadi. Tidak! dia tidak ingin kehilangan Graciella dan Moira lagi.
"Kau harus mengatakannya." Stevan menatap serius ke arah Xavier. Xavier hanya memasang wajah ragunya. Stevan langsung mengerti dilema yang dirasakan oleh Xavier. "Aku rasa, kau harus mengatakannya jika ingin terus bersama dengan mereka, akan menjadi buruk sekali jika nantinya Graciella tahu dari orang lain. Mereka bisa memutar balikkan semuanya. Aku sudah bertanya pada Graciella tentang kasusmu, dia bilang kau harus membuktikan bahwa kau sebenarnya bertanggung jawab jadi sekarang waktu yang tepat. Jika memang dia punya rasa padamu, pastinya dia bisa menerimamu!"
Xavier membuang pandangnya. Dari wajahnya tampak dia sedang berpikir. Jujur saja dia masih sangat ragu.
"Katakan semuanya sebelum kau ingin bersama dengannya. Jangan lagi ada kebohongan. Graciella pastinya akan marah nantinya ketika tahu setelah kalian bersama. Jadi, jika kau mau mendengar saran bijak dari temanmu ini! lakukan malam ini!" ujar Stevan dengan senyuman sok bijaknya.
"Baiklah," ujar Xavier. Apa yang dikatakan oleh Stevan benar adanya. Sudah lama dia berpikir bagaimana cara untuk mengatakan hal itu tapi dia masih belum bisa mendapatkannya.
"Tenang saja. Malam ini aku akan pergi keluar dan menginap di apartemenku agar kalian lebih leluasa. Jadi berbicaralah dengan baik!" ujar Stevan lagi sambil berdiri. Dia ingin siap-siap mengungsi sejenak memberikan ruang untuk Xavier dan Graciella menyelesaikan semuanya.
"Ehm! di mana Graciella dan Moira?" tiba-tiba saja Laura yang baru selesai mandi muncul.
Stevan mengerutkan dahinya. Dia lupa wanita ini ada, tapi kenapa dia malah menginap di sini? siapa yang mengizinkannya?
"Siapa yang mengizinkan kau tinggal di sini?" tanya Stevan mengerutkan dahi.
"Sudah malam, kau tega sekali mengusirku! sudah aku malas berdebat! aku mau ketemu Grecie dulu!" ujar Laura yang segera ingin memutar tubuhnya.
"Ha? mau apa? aku malas keluar, aku ingin tidur dengan Gracie!" ujar Laura. Dia sudah tak tahan untuk menanyakan pertanyaan yang ada di kepalanya seharian ini.
"Tidak peka sekali sih! masa kau ingin tidur dengan Graciella! lalu Xavier tidur di mana? ayo keluar dulu!" ujar Stevan yang langsung menggenggam pergelangan tangan Laura dan langsung menarik Laura begitu saja keluar dari rumah itu.
Laura yang kaget karena pria ini tiba-tiba saja menariknya mau tak mau mengikutinya. Stevan keluar dari rumahnya dan berjalan santai di trotoar. Nyatanya apartemen miliknya tak jauh dari rumahnya ini. Bisa di tempuh dengan jalan kaki.
"Hei! pria mesum! bisa lepaskan tanganku?" tanya Laura dengan nadanya yang kesal.
"Akan ku lepaskan jika sudah cukup jauh. Aku takut kau malah lari dan kembali ke rumah!" ujar Stevan. Laura mengerutkan dahinya. Kenapa dia bisa membaca pikiran Laura. Padahal dia ingin kembali menemui Graciella.
Stevan menatap wajah Laura yang bersungut pasrah ditarik oleh Stevan. Sejujurnya, Laura punya wajah yang cukup imut, apalagi ditunjang dengan sifatnya, terkadang Laura bagaikan anak kecil. Tak ada yang percaya umurnya sekarang dua puluh enam tahun.
"Mereka sekarang sedang apa ya?" tanya Laura yang tangannya sudah dilepaskan oleh Stevan.
"Ya, kira-kira pria dan wanita berduaan, mereka melakukan apa?"
"Ha? lagi? tak cukupkah sekali saja?"
Stevan mengerutkan dahinya. "Kau ini memang tak tahu atau mau pura-pura tak tahu agar dibilang polos?"
"Aku ini polos tahu! aku bahkan belum pernah pacaran."
"Yang benar? ya, gak heran sih. Sikapmu bukan tipe yang banyak disukai pria."
"Stop!" Laura melompat di depan Stevan dan menjulurkan. tangannya menunjukkan gestur berhenti. Stevan yang kaget langsung berhenti. "Walau aku tidak punya pacar! tapi ada pria yang tergila-gila dengaku! tidak sepertimu!"
"Memangnya kau tahu aku bagaimana? jangan sok akrab!" ujar Stevan. Siapa yang mau punya wanita yang tingkahnya begini. Di bawa kemana saja membuat malu.
"Bukan sok akrab! dari tampangnya saja tahu bahwa kau ini playboy! hanya wanita bodoh yang bisa terperangkap olehmu!" ejek Laura.
Stevan memainkan bibirnya menatap wanita ini. Dia belum tahu bagaimana Stevan beraksi. Sekali tatap saja wanita bisa luluh dengannya. Stevan akan membuktikannya.
Stevan langsung memposisikan tangannya mencengkram belakang kepala Laura. Dengan cepat menarik kepala wanita itu dan mendekatkan bibirnya.
Laura terdiam terkaku. Melihat manik mata Stevan yang cokelat sekarang hanya berjarak beberapa inchi dari matanya. Bibir mereka tak bersatu tapi jaraknya sangat tipis. Sengaja dilakukan oleh Stevan agar wanita ini diam. Stevan menaikkan sudut bibirnya. Terpesona bukan?
"Laura!" suara pria yang cukup berat terdengar menegur Laura.
Laura yang tadinya kaget dan terkaku langsung sadar dan melepaskan dirinya dari aksi Stevan. Stevan dan Laura memandang ke arah asal suara. Antony sudah berdiri dengan wajahnya yang tampak cemburu.
Laura langsung gelagapan. "Calon tunangan ku datang! awas!" Laura segera menuju ke mobil Antorny dan langsung masuk. Anthony memberikan lirikan mautnya pada Stevan yang hanya tersenyum seolah tak ada apa-apa.
Laura melihat pria itu sudah memasang senyuman bodohnya! apa yang baru terjadi sehingga jantung Laura malah jadi berdegup begitu kencang. Stevan sudah melanjutkan langkahnya, tak peduli Laura dan Antony nantinya akan bertengkar karena kelakuannya. Bukannya Laura yang memancing dirinya melakukan itu? tanggung sendiri akibatnya
"Kenapa dia menciummu?" ujar Antony meremas setir mobilnya. Tapi tetap saja tak bisa menunjukkan kemaraannya pada Laura.
"Tidak! kami tidak berciuman. Hanya terlihat saja seperti itu! mana mungkin aku berikan ciuman pertamaku dengannya!" ujar Laura membela diri. Antony hanya memandangnya dengan tatapan dalam. "Kenapa? tak percaya? kalau tidak percaya ya sudah! antarkan aku pulang!"
Antony kembali menghela napasnya. Dengan cepat dia menekan gasnya. Laura melirik pria yang duduk di sebelah. Jelas sekali marah tapi dia memilih diam dan tak ingin menumpahkannya pada Laura. Laura jadi tak enak melihatnya.
Sebenarnya hatinya memaksanya mengucapkan kata maaf tapi entah kenapa bibirnya tak mau terbuka. Laura terlalu gengsi. Biarlah! kalau dia marah dan membatalkan rencana pertunangan mereka, bukannya itu lebih baik? benar kan?
...****************...
Malam kak, maaf jika ada Typo ya kak hehe