Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 237. familiar tapi terasa asing dalam waktu bersamaan.


Tak lama berselang. Pintu kamar itu terbuka. Perawat wanita sudah mencabut selang infus dan melepas kateter yang dipasang di tubuh Laura.


"Apakah sekarang dia boleh makan dan minum?" Tanya Antony


"Tentu, untuk sementara hanya bubur. Lima hari tak terisi, pastilah lambungnya akan kaget jika diberi makanan yang berat dan jangan terlalu memaksa jika dia sudah tak sanggup untuk makan," ujar Dokter itu tersenyum.


"Baiklah, siapkan makanan Nona dan bawa ke kamar secepatnya," perintah Antony sebelum dia kembali masuk ke dalam kamar itu.


Dia masuk dengan perlahan. Dengan diam dan hati-hati melangkah ke arah Laura yang sudah kembali terduduk. Matanya kosong menatap ke arah langit-langit ruangan yang penuh dengan ukiran-ukiran indah itu.


Saat Antony hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya barulah Laura memindahkan pandangnya ke arah Antony. Antony hanya diam menerima tatapan menghakimi dari Laura.


"Kenapa kau biarkan aku hidup?" tanya Laura dengan Suaranya yang masih serak. Antony hanya diam saja. Dia melangkah dan duduk di sisi ranjang Laura yang terus memandangnya dengan sinis.


"Aku tidak bisa biarkan kau mati." Suara Antony terdengar rendah.


"Kau masih ingin menyiksaku lebih lama ya?"


Antony kembali hanya diam tapi dia melihat lurus ke arah mata Laura. Ada kesedihan yang terpancar. Mata indah itu mulai berkaca-kaca.


"Kenapa? Kenapa tidak langsung membunuhku saja? Kau benar-benar ingin menyiksaku begitu berat ya! Belum puas! Kenapa tidak memuaskannya dan langsung mengambil nyawaku! Kau ingin memaksaku lagi! Paksa saja sampai kau puas! Siksa saja! Buat saja aku sampai mati, toh di dunia ini, kau sudah memberitahu pada semua orang bahwa aku sudah mati kan! Kau memang pria yang kejam!" teriak Laura dengan air mata berderai. Tak menyangka, beberapa hari lalu air matanya sudah tak lagi bisa keluar. Sekarang malah begitu derasnya.


Laura tidak tahan memikirkan bagaimana sekarang keadaan orang tuannya. Dia juga tidak bisa memikirkan bagaimana hidup dalam penjara seumur hidupnya. Jadi daripada seperti itu, dia ingin mempercepat kematiannya.


"Aku tidak melakukannya. Keadaan ibu dan ayahmu baik-baik saja. Aku hanya menggertakmu," ujar Antony menerima semua teriakan Laura.


Laura menggigit bibir dalamnya hingga bibirnya tampak bergetar. Dia memalingkan wajahnya.


"Lepaskan aku!"


"Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu!" Dari semua permintaan Laura, dia rasa ini yang tak akan bisa dia lakukan.


"Kenapa? kenapa kau tidak bisa melepaskanku? Apa kau benar-benar ingin menahanku selamanya? Sebenarnya kau ini ingin apa dariku? Ingin balas dendam? Ingin menyiksaku? Ingin apa? Katakan padaku, kau ini ingin apa? Kemarin kau sangat kejam padaku. Sekarang kau ingin pura-pura baik dengan merawatku? Kau ini sebenarnya ingin apa?" Ujar Laura yang memang tampak sekali dalam keadaan yang labil.


Antony hanya diam dengan dahinya yang berkerut. Tampak sesuatu yang ingin dikatakan tapi tidak bisa keluar dari bibirnya.


“Apa kau takut aku akan melaporkanmu? Kau takut aku membuka ini ke publik? Kau takut akan kehilangan kedudukan dan semua yang kau sudah dapatkan! Benar seperti itu!” tuntut Laura dengan emosi yang meledak-ledak.


“Aku hanya takut kehilanganmu!” Antony menatap Laura dengan wajahnya yang begitu serius sehingga membuat Laura seketika terbungkam sejenak.


Laura menatap pria itu dengan hidung yang sedikit berkedut dan bibir yang berkerut. Tapi tak lama dia malah menyunggingkan senyuman tak percayanya. “Saat seperti ini berhentilah berbicara tentang hal-hal bodoh seperti itu. Kau pikir aku akan tersentuh mendengarnya? Seorang Presiden rela kehilangan semua tahtanya hanya demiku?”


Antony hanya diam. Dia hanya memandang Laura yang tampak menganalisa wajahnya. Tapi semakin dilihat, semakin tatapan membuat perasaan Laura tak nyaman. Keseriusan dari Antony, sangat mengganggu Laura.


Saat semuanya hening. Terdengar suara pintu yang diketuk. Antony dan Laura segera melihatnya. Antony tanpa banyak bicara langsung berdiri. Laura hanya mengerutkan dahinya melihat punggung bidang yang terbalut kemeja polos berwarna putih itu berjalan ke arah pintu.Lagi pula kenapa sepertinya pria ini tampak jadi lebih pendiam? Seseorang menyerahkan senampan makanan. Bubur yang diminta Antony sudah datang.


Laura hanya melihat ke arah Antony. Sikap pria ini sepertinya tidak banyak berubah. Dia tetap melakukan hal-hal untuk Laura. Tapi yang paling kelihatan dari perubahan seorang Antony adalah sifatnya. Dia lebih banyak diam dan tidak lagi terlalu ramah. Senyumnya yang selalu manis terlihat dengan lesung pipinya yang dalam, menjadi barang langka. Semenjak dia bertemu dengan Antony beberapa hari yang lalu. Dia bahkan tidak pernah melihat pria ini tersenyum.


Antony menyodorkan sesendok bubur yang masih hangat tapi tidak terlalu panas karena sudah dia aduk untuk mengeluarkan panasnya. “Makanlah.”


Laura melihat itu hanya mengerutkan dahinya. Dia pikir Laura akan dengan mudah membuka mulutnya? Bubur putih itu bahkan terlihat sangat menjijikkan untuk Laura sekarang. “Tidak. Aku tidak akan makan itu.”


“Sudah lima hari perutmu kosong. Dokter menyarankan untuk makan ini dulu.” Antony mencoba untuk bersabar dengan kelakukan Laura. Dari dulu memang seperti ini, sedikit merepotkan sejujurnya.


“Tidak. Aku tidak suka bubur. Aku tidak akan pernah makan makanan itu bagaimanapun kau memintanya.” Laura menyipitkan matanya melihat Antony.


“Aku tidak memintamu. Aku memaksamu! Bukalah mulutmu sekarang!” bentak Antony dengan nada tegas. Menyodorkan sendok penuh dengan bubur itu tepat di depan bibir Laura.


Laura tentu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Antony. Terutama nada bicara pria ini. Biasanya dia tidak pernah membentak Laura. Pria ini biasanya selalu berbicara dengan lembut padanya. Bahkan dulu jikalau pun dia marah dengan Laura. Dia pastinya akan berbicara dengan baik. Nadanya pun sangat sabar hingga membuat Laura merasa pria ini sama sekali tidak menyenangkan. Cenderung membosankan.


Tapi kali ini Laura benar-benar kaget. Bagaimana Antony bisa membentaknya hanya karena hal seperti ini.


“Buka sekarang,” ujar Antony. Walau tidak lagi membentak. Tapi nadanya masih tegas membuat Laura mau tak mau membuka bibirnya.


Antony segera menyuapkan bubur itu. Laura merasakan bubur yang ternyata terasa cukup enak di mulutnya. Gurihnya membuat perutnya menuntut lebih. Baru dia rasakan ternyata dia sangat kelaparan.


Laura melihat lagi pria yang ada di depannya. Tak berbicara apa pun, dia kembali mengambil sesendok penuh bubur dan menyuapi Laura lagi. Bensr-benar senyap tanpa sedikit pun kata keluar dari bibirnya. Laura malah merasa aneh dan tak percaya di depannya ini adalah Antony. Perbedaannya benar-benar terasa bagi Laura.


Tapi Laura terus menerima suapan dari Antony dan memendam rasa penasarannya. Tanpa perlu waktu lama, bubur itu sudah hampir habis setengahnya.


“Aku tidak ingin makan lagi. Sudah cukup,” ujar Laura. Perutnya sudah terasa penuh. Mungkin karena sudah lama tidak diisi, lambungnya menjadi mengecil. Bukankah lambung bisa bersifat adaptasi.


Laura melihat Antony mengambil segelas air putih yang memang datang bersama dengan buburnya. Dia segera menyodorkan air putih itu. Laura meminumnya sedikit sambil melihat pria itu. Lagi-lagi tak banyak kata-kata yang keluar. Tak ada wajah ramah yang biasanya terlihat. Apakah dia begini hanya karena marah?


“Istirahatlah,” ujar Antony sambil berdiri dan membawa nampan itu. Sepertinya ingin keluar dari kamar Laura.


“Kenapa kau begitu berubah?” tanya Laura yang membuat Antony mengurungkan niatnya sejenak.


“Apanya?” tanya Antony.


“Kau? Apa kau sedang berpura-pura saja. Apa karena kau marah? Kau berubah sekali. Tidak banyak bicara atau tersenyum.”


“Banyak hal di dunia ini yang bisa berubah. Begitu juga sifat seseorang.” Antony segera ingin melangkah setelah mengatakan hal itu.


“Tapi, kenapa kau tidak bisa merubah perasaanmu padaku?” tanya Laura. Kenapa? Walaupun sudah dihancurkan hatinya. Antony tetap bisa melakukan semua ini pada Laura. Bahkan rasa bencinya pun, karena Laura.


Antony terhenti. Dia lalu membalikkan sedikit badannya agar bisa melihat wajah Laura yang menuntut balas. “Banyak hal yang mudah berubah di dunia ini. Tapi sayangnya, mengubah perasaan adalah hal yang paling sulit.”


Mendengar itu seperti ada yang memukul dada Laura hingga perasaannya jadi tak nyaman. Laura baru saja ingin mengeluarkan kata-kata ketika Antony langsung memotongnya. "Jika kau ingin mengatakan aku harus berusaha mengubah perasaanku padamu. Bagaimana jika aku membalikkan kata-kata yang ingin kau ucapkan. Bagaimana jika kau saja yang mengubah perasaanmu padaku?"


Laura terdiam. Apalagi melihat sebuah senyuman tipis di sudut bibir Antony. Senyuman yang bahkan dia tak pernah lihat sebelumnya di wajah Antony. Ada apa ini? Kenapa Antony bisa tiba-tiba saja terasa asing tapi juga familiar dalam waktu yang bersamaan?