Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 23. Wanita bodoh dan ceroboh.


“Gadis ini  diculik dari kota B sebelumnya, sudah 3 hari dia menghilang. Dia adalah seorang penculik, pemerkosa, juga pembunuh yang sedang dicari oleh kepolisian kota B. Anda sangat berani Nona, menghampirinya dan melawannya,” jelas seorang polisi berusia pertengahan bertubuh sedikit tambun melihat ke arah Graciella. Mereka semua berkumpul di pos keamanan mall itu.


Graciella melihat gadis remaja itu, dia lalu melirik ke arah pria yang dipaksa masuk ke dalam mobil polisi.


“Terima kasih," ujar gadis remaja itu dengan wajah yang masih cemas. Dia pasti sangat ketakutan dan trauma.


“Sama-sama,” Kata Graciella mengelus pundak gadis remaja itu. Wajah gadis itu tampak sangat kacau menutupi kecantikan alaminya. Dia kembali menangis ketika salah satu polisi wanita membawakannya ponsel yang terhubung dengan keluarganya. Tangis sedih sekaligus bahagia. Setidaknya dia masih hidup sekarang.


“Anda sangat hebat Nona. Lalu bagaimana Anda bisa begitu tanggap dan mengetahui bahwa wanita itu dalam salah?” tanya polisi itu lagi dengan senyuman yang sedikit terlihat menggoda Graciella. Duduk begitu saja hampir berdekatan dengan Graciella. Xavier yang duduk di depan Graciella menyipitkan matanya melihat polisi tua itu mulai mendekati Graciella.


“Dia memberikan sinyal minta tolong. Aku pernah melihatnya," ujar Graciella. Sebenarnya bukan hanya pernah melihatnya. Graciella pernah mempraktekan cara meminta tolong seperti itu. Tapi sayangnya ternyata tak banyak orang yang mengerti isyarat minta tolong seperti itu. Itu juga tanda bahwa ada kekerasan fisik dalam rumah tangga. Seharusnya tanda itu lebih banyak disosialisasikan agar wanita-wanita yang butuh perlindungan dan pertolongan bisa dapat cepat ditolong.


“Benarkah?Nona, bersediakah Anda di panggil menjadi saksi? saya akan menjaga Anda di sana” tanya Polisi itu lagi semakin sumringah melihat Graciella.


“Ehem!” deheman dari Xavier membuat polisi itu melihatnya. Dia mungkin berpikir Xavier hanya orang biasa karena dia tidak menggunakan pakaian dinasnya. Menganggap pria ini pasti menghormatinya karena menggunakan seragam.


Graciella dan yang lain segera melihat seorang pria dengan menggunakan pakaian lengkap kepolisiannya datang menuju ke tempat mereka. Polisi yang tadi duduk di samping Graciella segera berdiri karena melihat atasannya datang. Dia pun langsung memberikan hormat kepada pria yang baru datang tadi. Pria itu membalas hormat polisi tua itu dan kembali melihat ke arah Graciella dan Xavier.


“Selamat sore, tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, Letnan Jendral Xavier,” ujar pria itu menjulurkan tangannya. Padahal Xavier sendiri yang memanggilnya datang karena tak suka dengan perlakuan dari polisi yang mencoba merayu Graciella tadi.


“Selamat sore, Inspektur Jendral Stevan," ujar Xavier berdiri dan menyalami Stevan. Polisi yang tadi mencoba merayu Graciella membesarkan matanya. Xavier kembali meliriknya. Dia segera menunduk dan gelagapan. Tanpa diperintah langsung keluar dari tempat itu. Stevan yang melihat bawahannya tampak kalang kabut akibat lirikan dari Xavier langsung melihat Xavier.


“Kau apakan bawahanku?” tanya Stevan santai.


“Kau harus menatar bawahanmu agar tak sembarangan menggoda wanita," ujar Xavier juga tampak akrab.


“Oh, Jadi?” Stevan melihat ke arah Graciella. Graciella hanya mengerutkan dahinya. “Nona, Saya Stevan. Aku dan Xavier teman sejak dari sekolah menengah atas. Apa bawahanku menggodamu? Nona?” tanya Stevan.


“Graciella," ujar Xavier tak membiarkan Graciella memperkenalkan dirinya sendiri.


“Wah aku mencium sesuatu yang mencurigakan tentang ini. Apakah pria ini menggodamu Nona Graciella?” tanya Stevan ramah pada Graciella yang bingung. Menunjuk ke arah Xavier.


“Jangan aneh-aneh Stevan. Jika membutuhkannya jadi saksi, cukup panggil aku saja.” Xavier langsung memasang badan untuk Graciella. Stevan melihat itu hanya tertawa kecil melihat kelakukan temannya ini.


“Kau hebat Nona bisa membuat Xavier jadi seperti ini. Ok, baiklah, aku akan menghubungimu nanti," kata Stevan.


“Silakan. Tak ada yang berani menahan seorang Xavier. Nona, tenang saja. Wajahnya saja yang galak, tapi dia tidak menggigit kok," canda Stevan.


Xavier menyipitkan matanya ke arah Stevan. “Mati saja kau!” jawab Xavier yang dibalas tawa oleh Stevan. Xavier langsung menggiring Graciella untuk keluar dari tempat itu.


Graciella sedikit merasa aneh berjalan berdua dengan Xavier seperti ini. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah berjalan berdua saja dengan seorang pria. Kenapa menjadi gugup hanya karena ini?


“Lain kali jangan bertindak tanpa berencana lebih dahulu seperti tadi. Bertindak tanpa berencana adalah tindakan yang ceroboh. Bagaimana jika tadi dia benar-benar membawa senjata api?” ujar Xavier tiba-tiba memberikan nasehat pada Graciella.


“Aku tidak memikirkannya, Aku hanya ingin menolongnya karena aku pernah ada di posisinya dan tahu bagaimana putus asanya ketika kita ingin seseorang menolong tapi tidak ada yang satupun yang datang.” Graciella menatap ke arah Xavier yang langsung diam melihat Graciella dengan senyuman tipis nan getirnya.


“Tetap saja. Kau gadis bodoh yang beruntung.” Xavier mempercepat langkahnya dan langsung melihat jam tangannya. Graciella bersungut mendengar perkataan Xavier. Kenapa dia suka sekali  memanggil Graciella bodoh. Kalau bodoh kenapa ingin ditemani olehnya? Pikir Graciella menyipitkan matanya sambil berhenti memperhatikan punggung Xavier yang tampak begitu bidang.  Xavier yang sadar Graciella tak mengikutinya langsung berhenti dan melihat Graciella dengan wajah ngambeknya.


“Cepatlah, kita tak punya waktu banyak!” tegur Xavier. Graciella mendengus mendengarkan kata-kata Xavier. Tapi mau tak mau dia  mengikutinya juga.


Xavier berhenti di sebuah butik wanita yang ternama. Graciella mengerutkan dahinya. Kenapa Xavier mengajaknya ke sini? apa dia ingin ditemani untuk mencari hadiah untuk wanitanya atau bagaimana?


“Kau mencari sesuatu di sini? ingin aku membantu mencarikannya?” tanya Graciella yang akhirnya buka suara. Xavier hanya melirik ke arah Graciella lalu segera kembali melihat ke arah beberapa pelayan yang langsung menghampiri mereka.


“Selamat datang Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?” sapa seorang pelayan ramah.


“Berapa lama untuk mendandani dia?” tanya Xavier menunjuk ke arah Graciella. Graciella yang sedang melihat beberapa koleksi tas di butik itu langsung melihat ke arah Xavier. Dia? Didandani? Untuk apa?


“Eh? aku? mau apa? aku tidak suka di dandani,” ujar Graciella. Dia paling tidak suka menggunakan make up. Rasanya seperti sedang menggunakan topeng yang menempel langsung ke wajah. Itu tak membuatnya nyaman.


“Mungkin satu setengah jam,” kata pelayan itu menganalisa.


“Baiklah. Dandani dia dan berikan dia sebuah gaun. Aku akan datang lagi setelah satu setengah jam," ujar Xavier seolah menitipkan Graciella pada para pelayan itu. Graciella langsung panik. Bagaimana bisa tiba-tiba dia harus didandani. Apa yang ingin Xavier lakukan?


“Hei? kau ingin pergi? ehm! Aku tidak ingin didandani!” ujar Graciella melihat Xavier hanya meliriknya dan mulai melangkah pergi.


“Lakukan saja. Setelah ini aku akan menganggap hutangmu lunas,” ujar Xavier melenggang pergi begitu saja. Graciella hanya bertampang masam.


“Nona, mari mencari gaun untuk Anda," ujar pelayan itu mempersilakan Graciella masuk lebih dalam ke butik itu. Graciella mau tak mau mengikuti para pelayan yang sekarang mengelilinginya sekarang.