Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 66. Mama ada di sini!


“Di mana Moira?” tanya Graciella langsung pada intinya.


“Di rumah. Dia tidur di kamarmu.”


“Kau bisa membuka kamarku?”


“Aku bisa membukanya dari awal. Hanya saja aku tidak suka menggunakan kamarmu,” ujar Adrean menaikkan satu sudut bibirnya. Graciella hanya diam, ya … dia pasti merasa jijik masuk ke kamar Graciella.


“Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Moira? bukannya kau bilang kau telah membuangnya?” tanya Graciella penasaran. Biasanya pria ini selalu melakukan apa yang dia katakan.


Adrean tersenyum sinis, “Aku tidak akan membuang sesuatu yang menurutku masih bisa menguntungkan untukku walau seberapa jijik pun aku melihatnya,” ujar Adrean melirik ke arah Graciella.


Graciella membesarkan matanya. Dia tahu, bagaimana pun lembut Adrean padanya, pria ini tetap saja iblis berbalut daging manusia. Adrean tiba-tiba menghentikan mobilnya bahkan belum jauh mereka berjalan dari gerbang perumahan itu.


“Mulai sekarang, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku akan mengumumkan pada semua orang bahwa kau adalah nyonya dari keluarga Han. Aku tidak akan kasar lagi denganmu dan kita akan menjalani semuanya seperti semuanya baik-baik saja.” Adrean melirik tajam pada Graciella yang mengerutkan dahinya dalam. Tak mengerti kenapa tiba-tiba Adrean mengatakan hal ini? Graciella bukannya senang, tapi malah menjadi bergidik ngeri. Ada apa di balik tawaran Adrean yang baik ini?


“Apa syaratnya?” tanya Graciella. Dia tahu, itu semua bukan semata karena ketulusan dari Adrean. Pasti dia melakukannya karena sesuatu.


“Syaratnya adalah kau tidak boleh terlibat apapun dengan Xavier. Bahkan berdekatan pun kau tidak boleh. Jika kau melanggar, kau sudah tahu aku akan melampiaskannya pada siapa.”


Graciella membesarkan matanya. Melihat senyuman licik itu rasanya sudah begitu mengerikan. Graciella tahu kenapa Adrean memutuskan untuk tetap merawat anaknya, pastinya dia ingin menjadikan Moira sebuah ancaman buat Graciella. Dia tahu, bagaimana pun Graciella tak mungkin bisa membiarkan anaknya mendapatkan siksaan dari Adrean.


“Aku sudah mengatakan padamu, Aku tidak akan memaksamu untuk ikut atau datang padaku. Perumahan itu tidak terlalu jauh dari sini, kau masih bisa dengan mudah berjalan kembali. Sekarang, aku akan bertanya. Siapa yang akan kau pilih? Anakmu atau kekasihmu?” ujar Adrean dengan senyumannya yang remeh menatap ke arah Graciella sambil membuka kunci pintu mobilnya.


Graciella memandang dalam wajah Adrean. Ingin rasanya dia membunuh pria ini sekarang. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan. Anak atau Xavier? Dia tentu akan memilih anaknya. Xavier baginya hanya seorang pria pendatang yang tiba-tiba masuk dalam lingkaran kehidupan Graciella. Dia bahkan tidak yakin Xavier bisa menerimanya setelah tahu sebenarnya Graciella sudah memiliki seorang anak dari pria lain yang entah siapa. Lagipula hidup Xavier masih bisa berjalan tanpa Graciella. Tapi anaknya, tanpa Graciella, dia bisa kehilangan nyawanya di tangan iblis ini.


Graciella akhirnya bergeming di tempat duduknya sambil terus menarik napas panjang yang terasa berat sambil menatap ke arah depan. Tak ingin menatap wajah menang dari Adrean.


“Jangan bilang aku tidak memberimu pilihan,” ujar Adrean seraya melajukan mobilnya kembali.


Graciella menelan semua napasnya yang terasa begitu sulit untuk di hidup. Air matanya ingin kembali keluar tapi berusaha sekuat tenaga di tahan olehnya. Sampai di sini saja hubungannya dengan Xavier, walau singkat, dia sudah senang pernah merasa kembali dicintai.


...****************...


Dia melangkah begitu pelan dan sesaat kemudian menemukan tubuh mungil itu tertidur lelap memeluk boneka Elmo merahnya dengan selimut. Wajahnya begitu polos bak seorang malaikat yang tertidur nyaman.


Graciella menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara karena tangisnya sudah pecah begitu melihat wajah Moira. Putri kecilnya begitu cantik. Bahkan tidur saja dia begitu menggemaskan. Graciella menghapus air mata yang membuat buram penglihatannya. Dia ingin melihat wajah anaknya dengan jelas.


Graciella duduk di tepian ranjang. Tangannya gemetar saat dia ingin menyentuh rambut Moira, air mata harunya keluar begitu saja. Kulitnya begitu bersih, hidungnya mancung dan bibirnya kecil seperti milik Graceilla. Graciella tersenyum senang walaupun air matanya tetap meleleh membasahi wajahnya.


“Moira,” Adrean yang mengikuti Graciella dari belakang hendak membangunkan Moira.


“Srtt … jangan! Biarkan dia tidur,” ujar Graciella yang tak mau kenyamanan tidur putrinya terganggu.


“Baiklah, masih pagi, kau juga tidur saja. Aku tidak akan mengganggu kalian,” ujar Adrean yang langsung melenggang pergi. Graciella hanya memandang pria itu menutup pintunya. Dengan cepat dia berdiri dan langsung mengunci manual kamarnya tapi dia mencabut kuncinya. Mungkin Adrean memang terlihat baik, tapi dia tak ingin mengambil resiko.


Graciella melepaskan mantel tidurnya dia lalu segera naik ke tempat tidur. Senyumannya mengembang melihat wajah Moira yang benar-benar sangat menarik hatinya. Tak menyangka hal ini akan terjadi. Graciella sudah lama mengikhlaskan kepergian putrinya. Ternyata, dia sangat bersyukur memiliki kesempatan bisa melihat putrinya yang begitu cantik. Graciella ingin sekali memeluk, mencium dan menumpahkan rindu hatinya pada Moira, tapi dia takut membangunkan putrinya ini. Jadi dia hanya memandanginya.


Graciella menyentuh hidung Moira. Hidungnya sangat mancung. Sepertinya itu bukan dia ambil dari dirinya. Mungkin dia ambil dari pria itu, pikir Graciella yang sekarang berpikir bagaimana sebenarnya wajah pria yang pernah menidurinya dulu. Remang cahaya dan wajahnya yang tertutup topeng membuatnya tak bisa mengenalinya, kecuali sorot matanya yang tajam. Sorot mata tajam? Kenapa otaknya tiba-tiba berpindah ke Xavier.


Mungkin karena merasakan kehadiran dari Graciella dan Graciella yang sering menyentuh pipi Moira dan juga mencium dahi, pipi hingga bibir Moira. Moira menjadi menggeliat dan perlahan-lahan membuka matanya. Graciella membesarkan matanya karena melihat keindahan mata yang gelap bagai langit malam hari. Mata Moira begitu hitam hingga memunculkan bayangan Graciella secara sempurna dan lagi-lagi Graciella mengingat sosok yang sama-sama memiliki mata seindah ini. Siapa lagi jika bukan Xavier.


Moira yang tersenyum lucu, dengan mata yang terkesan dipaksakan terbuka dia memegang kedua pipi Graciella. "Mama," suaranya khas anak-anak mengantuk. Manja terdengar hingga Graciella begitu merasa tersentuh. Belum pernah merasa begitu bahagia hingga rasanya beruntung dia masih hidup sampai sekarang.


"Ya, ini mama, Moira! Ini mama, Nak!" Ujar Graciella bergetar seraya membawa masuk Moira dalam pelukannya yang hangat. Moira nyatanya kembali tertidur dalam dekapan erat ibunya. Terbuai elusan-elusan lembut di kepalanya. Sekarang dia benar-benar jatuh cinta pada orang yang tepat dimana di bisa menyerahkan seluruh jiwanya hanya untuk Moira.


"Moira, mama janji tak pernah membuatmu merasakan sedikit pun penderitaan. Apapun akan mama lakukan untukmu, bahkan jika di dunia ini hanya ada rasa sakit, asalkan kau bisa tersenyum, mama akan tetap bertahan di dunia ini hanya untukmu," bisik Graciella pada telinga Moira yang sudah lelap kembali dalam pelukannya.


...****************...