
Xavier menatap gemas pada Graciella yang sudah membuatnya merasakan perasaan cemburu. Dia tidak tahu apakah dia pernah merasakannya atau tidak sebelumnya tapi untuk sekarang, dia merasa baru pertama kalinya merasakan rasa yang menyesakkan dada.
Xavier sekali lagi menatap lautan yang kelam di depannya. Graciella hanya mengerutkan dahi mencoba untuk melihat wajah Xavier yang masih tampak menutupi perasaannya.
Tapi tiba-tiba saja Xavier menyambar tubuh Graciella segera mengangkat tubuhnya dan memanggulnya. Graciella tentu kaget dan bingung apa yang dilakukan oleh Xavier. Graciella membesarkan matanya ketika pria itu dengan mudahnya berlari membawa Graciella ke arah air lautan.
“Xavier! Xavier! Kau ingin apa?” tanya Graciella. Di kepalanya timbul suatu kecurigaan.
Tapi Xavier sama sekali tidak menjawab dan langsung membawa Graciella ke lautan yang sudah sebatas pingangnya.
“Xavier, turunkan aku di pasir! ini sudah malam. Aku tidak ingin basah!” ujar Graciella yang tampak panik. Bagaimana bisa Xavier membawanya ke laut malam begini.
Xavier menurunkan Graciella. Graciella langsung berwajah masam. Gara-gara Xavier separuh tubuhnya sudah terendam air.
“Ah! Kenapa menurunkan aku di sini, aku kan bilang aku tidak ingin basah!” ujar Graciella yang kesal dan langsung ingin pergi keluar dari lautan yang berombak itu.
Tapi Xavier lagi-lagi menghalangi langkahnya dengan cara menahan tangan Graciella, Graciella bingung dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Saat dia membalikkan badan ke arah Xavier tiba-tiba saja pria itu mendekapnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke lautan. Graciella tentu kaget dan untungnya dia sempat menarik napas belum seluruh tubuhnya terbenam dalam air gelap pantai itu.
Graciella langsung gelagapan dan mencoba keluar dari air itu. Dia langsung mengusap wajahnya agar bisa melihat sekitarnya. Dia langsung terdiam kesal melihat Xavier sudah ada di depannya dengan wajah sedikit tersenyum. Mereka berdua mengikuti gerakan ombak.
“Kenapa malah tertawa! Aku sudah bilang aku tidak ingin basah!” kesal Graciella. Kenapa pria ini suka sekali melakukan sesuatu yang aneh dan memaksanya.
“Jangan membuatku cemburu,” ujar Xavier. “Rasanya tak nyaman sekali, rasanya seperti terbakar.”
Graciella terdiam. Jadi benar semua ini hanya karena Xavier cemburu. Beginikah cara dia melampiaskannya?
Xavier mendekati Graciella. Perlahan menatap mata Graciella dengan kelopak mata yang dihiasi oleh bulu mata tebal bak sebuah kipas kecil. Indah sekali. Bahkan menurut Xavier seluruh yang ada pada Graciella begitu indah terutama bibir merah itu. Selalu menggoda untuk dicicipi olehnya.
Xavier kembali mengecup bibir Graciella. Rasa asin itu menyeruak masuk ke dalam indera perasa keduanya. Xavier yang kembali memegang kedua pipi Graciella mengiring wanita itu untuk berdiri memperkokoh posisi mereka agar tak terbawa ombak. Pautan bibir itu terus terjadi bahkan dari pautan diam menjadi sedikit membara hingga akhirnya harus terhenti saat hujan tiba-tiba saja mengerubungi mereka.
“Ayo!” ujar Graciella yang merasakan hujan yang langsung begitu deras. Mereka berdua langsung berlari menuju pondok milik Graciella. Untung saja mereka sudah tak jauh dari sana.
Graciella langsung membuka pintu pondok itu dan membiarkan Xavier masuk sebelum dia menguncinya. Aneh sekali, tanpa aba-aba hujan itu langsung turun begitu saja dan begitu derasnya.
Graciella mengusap air di tangannya. Seluruh tubuhnya dan Xavier basah kuyup. Xavier memandang Graciella. Kaos yang Graciella gunakan tampak menempel di kulitnya karena basah. Tak sengaja menunjukkan lekuk-lekuk tubuh yang seharusnya tertutupi. Xavier menggigit bibirnya. Tapi dia terlanjur melihatnya dan dia adalah pria dewasa. Apalagi mereka pernah bersama dalam satu ranjang. Otaknya langsung memunculkan gambaran-gambaran menggoda itu.
Graciella menangkap tatapan Xavier yang tampak membersitkan nafsu memandangnya. Graciella ingin menutupi tubuhnya, tapi tidak mungkin lagi. Graciella malah menggigit bibir bawahnya, hal itu malah membuat Xavier merasa wanita ini menggodanya.
Xavier langsung merangkul pinggang kecil Graciella sambil mencium kembali bibir manis itu. Tapi Graciella sedikit menolak Xavier, hal itu membuat Xavier merasa penasaran.
“Kenapa?” tanya Xavier.
“Aku ingin mandi dulu, air laut membuat kulitku lengket,” ujar Graciella dengan senyuman tipisnya. Xavier tidak bisa melarangnya dan hanya melihat Graciella yang berjalan ke arah kamar mandi.
Tapi saat Graciella ingin menutupnya, Xavier langsung menahannya. “Aku juga ingin mandi.”
Graciella tentu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Dia tidak pernah mandi berdua dengan seorang pria seumur hidupnya. Jadi dia tampak cukup canggung walaupun Xavier tampak biasa saja. Dia bahkan sudah mandi di bawah pancuran air dan hanya membuka baju atasnya.
Graciella bingung, apakah dia harus menunggu Xavier selesai mandi saja? Ya, sepertinya harus seperti itu. Lebih baik dia menunggu Xavier selesai mandi dahulu.
“Boleh minta sabunnya?” pinta Xavier yang menjulurkan tangannya.
Graciella terdiam memandang tatapan yang bisa meluluhkan semua hati siapa pun yang melihatnya. Tak kehabisan pesona walaupun ada di bawah pancuran air.
“Kenapa tak mandi?” tanya Xavier lembut menatap lurus ke mata Graciella. Seketika saja membuat perasaan Graciella bergejolak.
“Aku menunggumu selesai,” ujar Graciella pelan.
“Kita mandi bersama saja.” Xavier langsung menarik kaos yang digunakan oleh Graciella ke atas agar terlepas. Lolos dengan mudahnya hingga membuat tubuh bagian atas Graciella terpampang jelas. Hanya bagian tertentu yang tertutup. Putih kulit dengan butir-butir air yang berkilau di bawah lampu membuat pikiran Xavier benar-benar melayang. Dia tak lagi menyerang bibir Graciella. Dia langsung mengecup leher Graciella yang langsung membuat si empunya tubuh menegang.
Dinginnya air dipadu dengan kehangatan tubuh mereka berdua saat bersentuhan benar-benar membuat sensasi yang berbeda. Xavier menyisiri bahu Graciella dengan bibirnya yang membuat Graciella tidak bisa menahan rasa geli yang muncul. Tangan Xavier bergerilya menyentuh perut, pinggang dan mengelus lembut punggung Graciella yang pasrah menerima serangan Xavier. Xavier menurunkan tali yang menganggu dirinya menjelajahi tubuh wanita yang ada di depannya. Tangannya memutar kenop air agar tak lagi terlalu kencang keluar agar dia bisa lebih leluasa. Dia ingin puas merasakan setiap jengkal kulit putih dan halus itu.
Graciella menarik napasnya panjang serasa menggigit bibirnya keras agar kesadarannya tetap ada. Tapi rang*sangan yang diberikan oleh Xavier membuatnya kehilangan kendali. Pria itu mengecup setiap jengkal tubuh bagian atasnya dan mempermainkannya seolah begitu gemas.
Saat Graciella larut dalam semuanya, tanpa dia sadari Xavier sudah menurunkan helaian benang terakhir yang membalut tubuhnya. Graciella tentu kaget karena dia sudah polos di depan Xavier. Sedangkan pria itu masih sama seperti saat dia masuk.
Graciella berinisiatif untuk membantu Xavier membuka celananya, tapi pria itu malah menangkap tangan Graciella dan segera menciumnya ganas, mendorongnya ke belakang hingga tubuh Graciella tertahan di tembok dan terhimpit tubuh Xavier.
Pautan itu terus terjadi, Xavier menyedot dan juga menarikan lidahnya dalam mulut Graciella. Tangannya Xavier memposisikan kedua tangan Graciella ke atas dan menahannya dengan satu tangan. Tentu hal itu membuat Graciella kaget, sangat berbeda dengan permainan pertama mereka, Xavier kali ini begitu ganas dan cukup kasar.
Mata Graciella membesar dan dia sedikit berteriak kecil tapi dengan suara tertahan karena bibirnya belum bisa lepas dari bibir Xavier. Hal itu karena dia merasakan ada yang sedang menyentuh daerah paling sensitif di tubuhnya. Gerakan jari jemari itu tentu langsung membuat Graciella menggila. Dia mencoba berotak tapi kuncian Xavier benar-benar menahan tubuhnya.
Graciella benar-benar dibuat tak berdaya dengan serangan yang cukup intens dari Xavier hingga akhirnya dia tidak bisa lagi menahan segala perasaan itu. Mata Graciella membesar dan tubuhnya tiba-tiba menegang. Ada sengatan listrik yang langsung menjalar ditubuhnya dan seketika membuatnya lemas. Xavier langsung melepaskan kunciannya dan segera menangkap tubuh Graciella yang lunglai.
Xavier membalut tubuh polos wanitanya dengan handuk. Dia melihat wajah Graciella yang sudah memerah akibat ulahnya. Wanita itu juga tampak lemas. Xavier menggendongnya langsung ke kamar. Membaringkan tubuh polos hanya berbalut handuk putih itu di ranjang. Graciella tampak mencoba mencari tenaganya.
Xavier melanjutkan mandinya sesaat sebelum dia keluar hanya menggunakan hanya lilitan handuk di pinggulnya. Dia tersenyum melihat Graciella yang nyatanya sudah meringkuk di bawah selimut putih tebal.
Xavier duduk di tepian ranjang dan mulai mengelus rambut Graciella yang melirik pria itu dengan wajah sedikit sinis.
“Kenapa?”
“Itu curang!” ujar Graciella dengan campuran kesal tapi juga manja.
Xavier menaikkan satu sudut bibirnya. Memandang wajah Graciella yang tetap bersemu merah. Xavier lalu mengecup dahi Graciella yang langsung melingkarkan tangannya ke leher Xavier membuat pria itu tidak bisa bergerak.
“Ehm? Mau melakukannya berdua?” tanya Graciella menggigit bibirnya. Malu sebenarnya mengatakan hal itu, tapi dia ingat, hanya dia di sini yang sudah terpuaskan, Xavier belum.
Xavier akhirnya tersenyum cukup lebar mendengar rayuan dari Graciella. Tentu undangan itu tidak disia-siakan olehnya. Xavier langsung menyingkap selimut tebal itu dan melepaskan handuknya. Segera naik ke ranjang di atas tubuh mungil Graciella.
Kali ini dia tidak sekasar tadi. Sentuhannya lembut dan pelan. Graciella pun mencoba untuk mengusap tubuh Xavier. Tapi Xavier sepertinya ingin menguasai permainan. Dia menutup jalan Graciella untuk menyentuh bagian tubuhnya tapi dia dengan leluasa memainkan semua yang ada di tubuh Graciella. ******* dan lenguhan juga ritme napas yang berat dan tidak teratur mulai terdengar menandakan betapa nafsu yang mulai memuncak.
“Sekarang?” bisik Xavier yang hanya dibalas anggukan dari Graciella yang tidak bisa lagi berkata-kata dengan semua perbuatan Xavier.
Graciella memeluk tubuh atas Xavier, membawanya menempel ke tubuhnya. Merasakan setiap gerakan yang dibuat Xavier membuatnya semakin terbang melayang. Xavier selalu suka bagaimana wajah Graciella menahan rasa yang ingin meledak dalam tubuhnya. Benar-benar begitu menggodanya.
Suara napas Xavier pun semakin lama semakin memberat. Graciela menatap mata hitam itu, Xavier mengangguk pelan sebagai tanda dia akan segera menuju puncaknya. Graciella pun mengerti dan memeluk pria itu lebih erat tapi karena itu pula dia merasa ingin kembali mendulang surga dunia. Dengan sebuah kecupan dalam tubuh keduanya bergetar menyalurkan kenikmatan yang sama-sama mereka rengkuh. Xavier merubuhkan tubuhnya ke samping Graciella agar tidak menimpa wanita itu. Tapi tangannya segera menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Xavier menarik selimut menutupi tubuh mereka yang polos.
“Selamat malam,” kecup Xavier melihat Graciella yang matanya sudah tertutup. Mungkin kelelahan dengan apa yang sudah dia dapatkan malam ini.