Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 202. Apa kau marah karena membawamu karena dia?


“Komandan, maaf,” ujar Arnold yang segera berjalan ke arah Xavier dan Graciella yang baru saja ingin menuju ke arah restoran mereka untuk makan siang. Xavier dan Graciella pun hanya mengerutkan dahinya melihat wajah Arnold yang begitu sungkan.


“Ada apa?” tanya Xavier dengan nada sedikit tegas. Biasa dia gunakan jika berbicara dengan bawahannya. Graciella melirik ke arah wajah datar suaminya.


“Komandan, maaf. Tapi sepertinya ada masalah dengan reservasi restorannya. Mereka mengatakan bahwa reservasi restoran anda adalah untuk besok,” ujar Arnold. Dia tampak berwajah bersalah. Tapi karena dia seorang tentara dia tidak bisa menundukkan wajahnya.


Mendengar itu tentu langsung membuat wajah Xavier semakin keras. Graciella tahu pria ini tidak akan bisa mentolerir permasalahan ini. Dia pastinya akan marah pada Arnold karena begitu teledor untuk masalah seperti ini.


“Bagaimana ….” Nada suara Xavier mulai naik ketika Graciella menarik tangan suaminya yang membuat Xavier langsung menatap istrinya dan juga mengurungkan niatnya untuk memarahi Arnold yang tampak sudah siap dimarahi oleh Xavier.


Graciella menggelengkan kepalanya ke arah Xavier. Xavier langsung mengerutkan dahinya melihat Graciella.


“Tidak apa-apa, Arnold kamu boleh kembali,” ujar Graciella.


Arnold langsung melihat ke Xavier. Tentu saja walaupun Graciella sudah mengatakan hal itu dia harus mengikuti perkataan Xavier.  Xavier tak tahu apa yang diinginkan oleh Graciella. Tapi dia mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Graciella.


“Pergilah,” ujar Xavier.


“Siap Komandan,” ujar Arnold yang langsung pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


Xavier langsung melihat ke arah Graciella yang dari tadi melihat ke arah Xavier dengan senyumannya yang sangat teduh. Xavier mengerutkan dahinya. Luluh dengan tatapan tenang itu.


“Lalu bagaimana? kita akan makan di mana?” tanya Xavier.


“Tidak perlu marah, kita bisa mencari tempat makan yang lain. Dari tadi aku lihat banyak tempat makanan yang menarik. Kita juga bisa menyusuri pusat desanya. Sepertinya akan menarik, kita bisa kencan hari ini,” ujar Graciella merasa akan sangat menyenangkan menyusuri desa yang tampak sangat indah pada siang hari. Matahari mengeluarkan semua pemandangan yang tidak bisa mereka lihat di malam hari.


“Baiklah kalau begitu,” ujar Xavier yang mengikuti saja apa yang menjadi keinginan dari istrinya.


Mereka berjalan kembali menapaki jalan-jalan yang tersusun dari batu-batu. Memasuki pusat kota yang tampak cukup ramai tapi tidak terlalu padat. Graciella tampak begitu menikmati perjalanan mereka yang terasa sangat hangat walaupun angin laut malam terasa cukup kencang menghempas tebing, menyusup diantara rumah-rumah tradisional khas italia.


“Mau makan di sana?” tanya Xavier melihat sebuah restoran khas italia dengan gaya pedesaan kecil tapi terlihat begitu nyaman. Terletak di gang kecil yang cukup sepi.


“Ya,” ujar Graciella langsung jatuh cinta tempat itu. Mereka segera duduk di salah satu tempat duduk yang berada di pelataran restoran kecil itu. Seorang pelayan dengan celemek wana coklatnya segera mendatangi mereka. Graciella langsung melihat menu yang ada di sana.


“Aku pesan Caponata,” ujar Xavier yang langsung memesan makanan khas italia yang terbuat dari seledri, caper, minyak zaitun , saus tomat dan juga seafood yang terkenal di sana.


“Aku pesan  Fettuccini Alfredo saja,” ujar Graciella menyerahkan menu itu.


“Baiklah, berikan kami wine,” ujar Xavier lagi.


“Baik, Silakan ditunggu Tuan dan Nyonya,” ujar pelayan itu dengan senyuman ramahnya. Graciella membalasnya tapi Xavier hanya mengangguk pelan. Tentu aja senyumannya sangat mahal untuk orang lain.


Graciella kembali terpana dengan hangatnya suasana yang di sana. Banyak orang-orang yang berlalu lalang. Banyak juga hal-hal yang bisa dia lihat. Warna-warni gedung yang memang sengaja di cat begitu juga menambah pemandangan. Suara deru laut masih bisa dia dengar samar-samar menambah suasana di sana.


“Tempat ini indah sekali,” ujar Graciellla tak habis-habisnya menemukan hal yang bisa membuatnya terpanah.


“Ya, benar.”


Graciella lalu melihat wajah Xavier. Melihat  Xavier yang tampak memperhatikan dan menganalisa keadaan sekitar mereka. Matanya yang biasanya seperti elang saat ini tampak sedikit melunak. Menikmati keadaan sekitarnya terlihat sedikit santai dari pada biasanya.


“Ehm, aku jadi penasaran dengan seseorang yang memberitahumu tentang tempat ini, siapa dia?” tanya Graciella. Hal ini tidak terpikirkan olehnya sepanjang waktu, hanya saja dia teringat dengan perkataan dari Xavier saat mereka baru tiba di sini.


Xavier yang tadinya sedikit mendongak karena melihat dekorasi di atas gedung restoran itu. Langsung menatap ke arah Graciella ketika dia mendengar pertanyaan Graciella. Melihat perubahan dari wajah Xavier yang sedikit menunjukkan keterkejutan dan juga ingat bagaimana keengganan Xavier menjawab pertanyaannya kemarin siang. Graciella sedikit penasaran. Siapa kira-kira seseorang itu hingga membuat Xavier ingin membawa orang yang spesial ke sini? Apakah jangan-jangan seseorang itu pula yang merupakan orang yang spesial?


Graciella menggigit bibirnya, suasananya menjadi canggung karena apa yang sudah dia tanyakan. Di titik ini pula Graciella baru sadar. Dia sebenarnya tidak mengenal Xavier dengan baik. Bukan sifat atau kepribadian dari pria ini, tapi tentang bagaimana kehidupan pria ini sebelumnya.


“Tak perlu menjawabnya jika merasa tidak nyaman,” ujar Graciella. Dia juga merasa, jika Xavier saja bisa menerimanya apa adanya tanpa bertanya sedikit pun tentang kehidupannya yang sebelumnya. Kenapa Graciella harus mempermasalahkan tentang kehidupan masa lalu dari Xavier. Toh, saat ini dan di masa depan, mereka lah yang menjalaninya bersama.


Xavier menatap ke arah Graciella yang sudah menyunggingkan senyum. Senyuman itu malah membuat Xavier sedikit bimbang. Xavier memang tidak pernah mengatakan apa pun tentang kehidupannya yang dulu. Graciella pun baru kali ini menanyakannya.


“Wine Anda,” ujar pelayan yang langsung menuangkan Cirque Terre Costa de Campu ke gelas yang ada di depan Graciella dan juga Xavier. Xavier melihat ke arah Graciella yang memberikan senyumannya kembali kepada pelayan yang sudah selesai menuangkan wine itu. Graciella lalu melihat ke arah Xavier yang masih menatapnya dengan diam. Graciella mengerutkan dahinya.


“Ada apa?” tanya Graciella mengambil winenya.


“Aku pernah menyukai seorang wanita sebelum aku menyukaimu,” ujar Xavier tiba-tiba. Dia merasa tak enak untuk menutupi hal ini dari Graciella. Sebenarnya dia ragu untuk berkata hal itu, dia tidak tahu apakah Graciella ingin mendengarnya atau tidak. Tapi dia merasa tidak mungkin untuk menutupinya. “Dia yang mengatakan bahwa tempat ini sangat indah dan aku harus pergi ke sini suatu saat nanti bersama dengan orang yang spesial,” ujar Xavier.


Graciella menggigit bibir dalamnya. Merasa benar-benar salah sudah coba-coba untuk menanyakannya sekarang. Walaupun dia tahu itu adalah masa lalu Xavier tapi rasanya tetap tak nyaman. Graciella langsung meminum winenya.


Graciella lalu meletakkan gelas itu dan berharap pelayan itu datang lagi hingga pembicaraan ini akan teralih. Ah! Memang wanita selalu saja suka menanyakan hal-hal yang seharusnya mereka tak tanyakan.


“Apa kau marah karena aku membawamu ke sini karena dia?” tanya Xavier lagi merasa perubahan dari sikap Graciella.