
Asap sedikit mengebul di udara tatkala air panas itu dituangkan di atas bunga Krisan putih yang sudah dikeringkan. Wanginya yang manis dan juga harum khas langsung tercium masuk ke indera penciuman. Siapapun suka menghirupnya dalam.
Dia mengangkat gelas kaca bening bermulut lebar dan menggoyangkannya di sekitar hidungnya. Berusaha untuk bisa menciumnya lembut aroma Krisan putih itu lebih dalam. Ah, cukup menenangkan. Setelahnya dia sedikit menyeruputnya. Hambar tanpa pemanis sama sekali.
Menyeduh dan meminum bunga Krisan putih ini bisa memiliki banyak manfaat. Begitulah yang pernah dia baca. Mulai dari detoksifikasi hingga mengurangi kelosterol. Tapi untuk saat ini dia hanya ingin menghilangkan sakit kepalanya saja.
Laura meletakkan kembali teh bunga Krisan putih itu dan segera bersedekap kembali. Udara di pegunungan memang selalu terasa segar tapi membuatnya menggigil. Mungkin sebentar lagi salju akan turun di Dolomites. Saat yang paling di tunggu oleh para turis.
Laura baru saja menikmati pendakiannya di Tre cime di laveredo. Tempat ini sangat indah, walaupun tak bisa melihat hamparan bunga-bunga yang hanya bermekaran di musim semi. Tapi cukup membuatnya mendapatkan banyak foto.
Laura juga melihat foto danau Karersee. Danau kaca indah yang ada di daerah pegunungan itu. Indah sekali.
Laura meletakkan kameranya dan kembali menyeruput teh yang dia buat tapi teh itu sudah jauh mendingin. Hidupnya begitu tenang. Menikmati hari-harinya mengelilingi dunia.
Laura tak pernah menyesal meninggalkan semuanya. Tabungan yang dia buat selama ini ternyata cukup membuatnya menikmati semua hal di tempat-tempat yang memang ingin menjadi tujuannya. Tentu saja, jika kemarin dia menikah, belum tentu dia bisa hidup sebebas ini sekarang.
Terkadang rasa rindu akan kampung halaman itu menghinggapi. Tapi, semua sepadan. Lagipula dia tidak bisa pulang sekarang. Ehm, mungkin beberapa tahun kedepan dia akan pertimbangkan.
Laura sudah hidup dan menetap di negara itu seumur hidupnya. Ayahnya tak pernah mengizinkannya untuk keluar dari sana. Berusaha menjadikannya wanita yang cocok menjadi istri seorang yang derajatnya sama dengannya. Karena itu ketika Antony datang, Ayahnya sangat terobsesi mendorongnya untuk menikahi Antony. Kalau dia pulang sekarang, mungkin ayahnya akan membunuhnya.
"Laura!"
Laura kaget dengan tepukan ringan dipunggungnya yang berlapis jaket tebal. Dia langsung melihat ke arah suara. Kate, gadis Eropa yang umurnya jauh lebih muda darinya tapi dengan wajah yang kelihatan lebih tua darinya. Laura merasa Kate boros sekali di wajah.
"Apa?"
"Kau meninggalkan kunci apartemen mu lagi di tempatku. Huh! Kenapa bisa selalu ceroboh. Kalau aku orang jahat, apartemen mu sudah habis aku buat," ujar Kate geleng-geleng kepala. Umur bisa lebih tua tapi kelakuan Laura bak anak kecil.
"Haha, kau ambil saja. Tak ada apa-apa di sana. But, thanks ya," saut Laura yang langsung memasukkan kunci itu ke jaketnya.
"Laura, lain kali jangan begitu. Kau sudah melakukan hal itu selama tiga bulan tinggal di sini. Bagaimana jika kuncimu yang hilang itu diambil oleh seorang serial killer atau psikopat?" Lirik Kate lagi. "Lavender tea, please!" teriaknya. Kehangatan teh cukup menggodanya.
"Kau baru menonton serial killer dokumenter ya? Tanya Laura balik.
Kate mengangguk. "Mereka mengerikan sekaligus sangat menarik diselidiki," ujar Kate yang memang bekerja di departemen forensik kepolisian. Mereka tak sengaja bertemu di kantor polisi ketika Laura melaporkan kehilangan beberapa barang atas kecerobohannya. Dan sekarang wanita itu tak berubah walau mereka sudah beberapa kali kehilangan barangnya
Laura terkekeh mendengarkan hal itu. "Jangan mencampur adukkan kehidupan dengan pekerjaan. Kau hanya terlalu tegang. Minum dulu teh lavendermu itu," ujar Laura.
Kate mengerutkan dahinya. Apa yang lucu. Bukannya itu benar. Tapi wanita ini memang berbeda. Wajahnya saja yang cantik, tapi kelakuannya luar biasa tak bisa ditebak.
"Malam nanti, ingin pergi ke Bar? Aku rasa kau butuh bertemu seorang pria agar tak terlalu ceroboh seperti ini," ujar Kate lagi menyeruput tehnya.
"Ehm, apa yang membuatmu berpikir aku butuh laki-laki?"
"Karena kau itu benar-benar ceroboh. Aku rasa kau butuh seseorang melindungi mu, lagipula kau belum pernah terlihat berkencan hingga saat ini," sindir Kate.
Laura mengerutkan dahinya dan segera memposisikan tubuhnya ke arah Kate.
Kate manaikkan baruhnya. "Buktinya kau bahkan tak dapat pasangan sampai sekarang. Turis yang datang ke sini, bahkan dalam satu malam bisa menggandeng dua pria."
"Hei! Bukan karena aku tak laku, tapi karena aku punya prinsip! Aku tak mau dengan sembarang pria. Jika ku ceritakan ada satu pria di negaraku yang saking cintanya bahkan jika aku minta untuk datang di tengah badai salju, dia akan melakukannya!" Bela Laura. Enak saja dia dibilang tak laku.
Kate mengerutkan dahinya. Rasanya tak mungkin. Tapi melihat wajah serius Laura. Kate hanya mengangguk saja.
"Jadi kau tak ingin ikut?" tanya Kate dengan wajah tak berdosa.
Laura memasang wajah ngambeknya, "Tidak! Aku mau berbelanja dulu!" Laura mengambil kunci yang yang ada di atas meja.
Kate langsung kaget. "Hei! Itu kunci mobiku!" Teriak Kate yang melihat Laura sudah meninggalkan mereka.
Laura berhenti. Dia lalu melihat kunci yang dia ambil. Benar itu kunci mobil Kate. Dia kira itu adalah kunci apartemennya.
"Aku tahu, aku hanya mengujimu," kata Laura mengeles. Melemparkan kunci ke arah Kate.
Kate hanya menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar-benar. Bagaimana dia bisa keliling dunia sendiri. Apakah orang tuanya tidak khawatir? Kate saja melihatnya khawatir.
Laura segera menuju ke arah apartemen kecilnya. Bukan seperti apartemen di negaranya. Apartemen di sini hanya seperti sebuah tempat tinggal dengan gedung tak terlalu tinggi. Apartemen yang Laura tinggali sekarang bahkan hanya terdiri dari tiga lantai.
Laura segera masuk dan berjalan ke dalam apartemen yang lebih mirip dengan rumah susun yang tak terlalu besar tapi bersih dan nyaman.
Laura segera memasukan kunci itu ke pintunya. Apartemen itu adalah apartemen keluarga. Sehingga Laura tak perlu khawatir dengan lingkungannya. Tapi malam itu adalah malam terakhir untuk menyambut musim liburan sehingga apartemen mereka lebih sunyi dan senyap.
Laura melirik ke arah ujung lorong tempatnya. Ada seorang pria yang berdiri seolah melihat ke arahnya. Tapi Laura hanya diam saja dan tak lagi memikirkannya. Mungkin penghuni lain yang ada di ujung sana sedang mengadakan pesta. Itu sering dia lakukan sehingga banyak orang asing yang ke sana.
Laura membuka pintunya, saat Laura masuk pria itu beranjak dari tempatnya.
Laura segera ingin menghidupkan lampu apartemennya yang gelap. Tapi baru saja tangannya menekan tombol lampu itu, tiba-tiba dari belakang mulutnya langsung dibekap oleh seseorang.
Laura tentunya langsung kaget. Bekapan pria itu sangat erat menutup hidung dan mulutnya. Bau aneh terhirup Laura yang langsung membuatnya pusing. Tapi dia terus saja berontak.
Namun, tenaga pria itu sangat kuat. Laura mencoba melihat siapa orang yang sudah menyerangnya. Apakah seorang pembunuh berantai seperti kata Kate. Tapi Laura tak bisa melihatnya. Hanya terlihat bahwa pria itu menggunakan sarung tangan hitam. Tak lama bau mengganggu itu semakin pekat terasa hingga akhirnya membuat dia mual dan juga pusing yang sangat. Perlahan-lahan pula pandangannya mengabur. Tenaganya pun melemah dan dia terkulai lemas dan jatuh ke lantai.
Pria dengan pakaian hitam-hitam itu hanya memandangi wanita yang tergeletak di lantainya. Sangat mudah, mudah sekali menaklukan wanita ini.
Dia segera mengambil ponselnya. Dia lalu segera menelepon seseorang.
"Tuan, kami sudah mendapatkannya!" Lapornya.
Antony di ujung sana yang sedang duduk di ruang kerjanya langsung menaikkan satu sudut bibirnya.
"Bawa dia! Kau tahu harus ke mana," ujarnya dengan sunggingan senyuman licik.
Akhirnya! wanita itu tak akan pernah lagi lepas darinya!