
Max tampak ingin membangunkan Laura. Tapi Antony segera menghalanginya. Dia tidak ingin lelaki lain menyentuh Laura.
Antony akhirnya berinisiatif memegang tubuh Laura. Kulitnya panas dan dengan sekali sentuhan saja dia langsung lemas terlentang.
Antony membesarkan matanya melihat wajah pucat Laura. Bibirnya sudah memutih dan banyak kulit yang terkelupas. Matanya cekung sekali dan menghitam. Antony langsung cemas dan panik melihatnya.
Dia segera duduk di tepian ranjang keras yang bahkan sekeras batu. Dia memegang dahi Laura. Demam, Laura demam tinggi.
“Laura? Laura?” panggil Antony tapi Laura sama sekali tidak merespon. Memegang pipi wanita itu yang mulai tampak cekung. Kenapa hanya tiga hari saja tak melihatnya perubahannya begitu ketara.
Antony yang panik langsung memegang leher Laura. Masih terasa denyutnya tapi tipis dan lemah. Antony tahu keadaan Laura benar-benar tidak baik. Dia langsung berdiri dan segera menggendong tubuh Laura.
“Panggilkan dokter kepercayaanku,” perintah Antony sambil segera sambil berjalan keluar menggendong tubuh Laura yang terasa ringan baginya. Dia memandang wajah wanita yang lemas digendongannya bagaikan tak punya nyawa. Antony dengan sangat cepat langsung membawa Laura ke kamarnya.
Antony meremas handuk yang sudah dicelup dalam air hangat yang sudah disediakan oleh pelayannya. Meletakkannya di dahi Laura yang masih saja tinggi demamnya. Max pergi menjemput dokter kepercayaan Antony melalui pintu lain dari tempat itu.
“Tuan ….” suara pelayan yang tampak ragu berdiri di samping Antony. Dia yang dari tadi menyiapkan air kompresan untuk Laura.
Antony bergeming. Tak menjawab atau pun merespon. Dia sibuk mengelap leher Laura dengan handuk yang lain.
“Tuan ….” Ulang pelayan itu.
“Hmm?” respon Antony yang baru sadar.
“Nona begini karena dia sudah hampir empat hari tidak makan dan minum,” lapor pelayan itu. Dia sangat kasihan melihat Nona ini. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk menangis. Air matanya yang keluar menambah berat dehidrasinya. Dia sudah mengatakannya pada Max, tapi pria itu seolah tidak peduli.
Antony mendengar itu langsung terdiam. Dia melihat ke arah pelayan itu. “Kenapa kalian tidak melaporkannya padaku?” tanya Antony dengan nada meninggi.
Pelayan itu hanya menunduk. Tentu dia tidak bisa melaporkan hal itu pada Antony langsung. Siapa dia? Bukannya tugas itu adalah tugas Max.
Antony hanya memandang marah pada pelayan yang menunduk itu. Tapi dia juga tahu, pelayan ini tidak mungkin langsung bisa melapor padanya. Antony segera melihat ke arah Laura. Pantas saja jika keadaannya seperti yang dilaporkan padanya. Pastilah Laura mengalami dehidrasi berat jika tak makan dan minum selama empat hari.
Antony tahu persis bagaimana Laura. Wanita ini penggila makanan. Dari dulu dia selalu tidak tahan dengan kelaparan. Dan jika dia sudah memutuskan menolak makanan, artinya dia sudah sangat tertekan. Dan semua itu gara-gara dirinya.
“Di mana dokter pribadiku! Kenapa lama sekali!” teriak Antony dengan sangat keras membuat semua orang yang ada di sana langsung ketakutan.
“Max sebentar lagi sampai Tuan,” lapor salah satu orang di sana.
“Kalian keluar dari ruangan ini sekarang!” Teriak Antony frustasi.
Semua orang yang mendengar itu langsung bergegas keluar. Tentu saja tak ingin berlama-lama di sana. Mereka takut menjadi sasaran dari kemarahan Antony.
Antony meraba tangan Laura. Jari jemari lentik nan halus itu terasa sangat dingin. Antony menggenggamnya erat. Berusaha menyalurkan kehangatannya. Mencium jari jemari itu dengan perasaan tak karuan. Ingin sekali membawa Laura ke rumah sakit, tapi dia ingat, dia tak mungkin bisa melakukannya.
Tak beberapa lama pintu itu kembali terbuka. Dokter masuk dengan tergesa karena sudah mendengar laporan dari Max. Antony segera berdiri dan memberikan ruang untuk dokter meriksa keadaan Laura.
“Dehidrasi berat! Sediakan infusnya sekarang,” perintah dokter itu pada seorang perawat yang dia bawa ke sini. Dia tahu dia tidak mungkin melakukannya sendiri.
Antony hanya menatap cemas ke arah dokter yang tampak sibuk melakukan pekerjaannya. Dehidrasi berat adalah keadaan yang mengancam nyawa. Tak boleh ada waktu yang terbuang sia-sia karena tak tahu sampai kapan wanita ini bisa bertahan. Setelah alat infus itu terpasang, dia langsung memegang tangan Laura.
Dokter itu melihat punggung tangan Laura. Dia melihat dengan seksama dan tampak kesulitan untuk mencari sesuatu.
“Ada apa?” tanya Antony yang melihat dokter itu tidak melakukan apa-apa, beberapa kali malah menepuk punggung tangan Laura dengan kuat.
“Aku tidak bisa menemukan dimana pembuluh darah vena-nya. Keadaannya sungguh gawat.” Dokter itu tidak memperhatikan Antony sama sekali. Tidak peduli yang sedang dia ajak bicara adalah seorang presiden. Sumpahnya untuk selalu mendahulukan pasiennya siapa pun dia.
“Apa tidak ada cara lain? Mencarinya di tempat lain?” tanya Antony semakin cemas.
Dokter itu tidak menjawab. Dia segera menaikkan lengan baju laura untuk melihat bagian dari lipatan sikunya. Dia menekan-nekan area itu. Dia memukulnya kembali bertujuan untuk lebih memastikan di vena itu berada. Setelah beberapa saat dalam keraguan, dia akhirnya mengambil tindakan.
“Abocath!”
Perawat itu segera memberikan abocath itu pada dokter. Dokter itu meletakkan jarumnya tepat di lipatan siku Laura. Dia menarik napasnya. Ini kesempatan satu-satunya. Vena-nya memang terasa tapi juga tidak bagus. Sekali saja dia menusukkan dan vena ini pecah. Dia harus mencari lagi vena yang lain yang belum tentu bisa dia dapatkan.
Laura tampak meringis ketika abocath itu masuk menembus kulitnya. Dokter mencoba untuk melihat apakah ada darah yang mengalir atau tidak. Sayangnya, tidak ada darah yang keluar.
Dokter itu menarik napasnya. Jangan sampai pecah. Mungkin saja dia salah perhitungan. Dokter itu menarik kembali sedikit abocath-nya dan mencoba untuk memiringkan sedikit jarum itu. Beberapa kali mencoba, Tak juga menemukan venanya.
“Apa yang kau lakukan? Dia kesakitan,” ujar Antony yang melihat ringisan wajah Laura setiap kali dokter melakukannya.
Tapi dokter itu seolah tidak mendengar kata-kata Antony. Dia tetap fokus dan mencoba sekali lagi. Tapi tetap saja tidak ada yang keluar dari sana.
Dokter itu menarik napasnya dan mengeluarkan jarum itu. Darah sedikit terlihat di ujungnya. Meninggalkan luka yang tampak berlubang di kulit Laura yang memerah sekitarnya.
“Kenapa dikeluarkan lagi?” tanya Antony. Tentu dia tidak mengerti tentang hal ini. Yang dia tahu Laura kesakitan karena ulah dokter ini.
“Venanya tidak bisa ditemukan. Aku akan mencoba di tangan satunya lagi. Tapi jika ini juga gagal. Mau tidak mau kita harus membawanya ke rumah sakit.” Dokter itu menatap Antony. Tahu Antony cemas sehingga tidak merespon walaupun Antony berbicara dengannya dengan nada marah.
Antony terdiam sesaat. Kalau Laura dibawa ke rumah sakit. Dia tahu dia akan kehilangan wanita ini. Dia tidak akan bisa pergi ke sana dengannya. Lagi pula, Laura akan melaporkan apa yang sudah dia lakukan dan tamatlah semua kehidupannya. Tapi jika Laura tidak di bawa ke rumah sakit. Maka kemungkinan Laura akan meninggalkannya selamanya.