Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 284. Kebimbangan Laura.


Mata Laura membesar melihat mobil Jeep berwarna hitam menghalangi jalan mobil mereka. Laura juga melihat ke belakang. Mobil yang sama pun sudah ada di belakang mereka hingga mereka tidak bisa mundur sama sekali.


“Siapa mereka?” tanya Laura panik. Padahal dia tahu calton pun tidak tahu siapa orang-orang ini.


“Tuan, apa yang harus kita lakukan?” tanya supir itu panik. Dia tidak tahu harus apa. Tak mungkin dia berbelok tajam dan akhirnya akan membuat mobil mereka di hantam dari sisi lainnya.


Calton melihat sekitarnya. Tidak ada jalan keluar bagi mereka. Dia mencoba untuk tenang dan berpikir. Tapi tetap saja pikirannya buntu. Ah! dia harus apa!


Tak lama, pintu mobil yang ada di depan mereka terbuka. Dua orang berpakaian rapi ala paspampres tampak turun. Calton melihat itu mengerutkan dahi. Ada apa mereka ikut campur dalam urusan ini.


Laura juga mengerutkan bagian di antara kedua alisnya. Dia melihat ke arah pria-pria berpakaian rapi itu. 


“Nona, Tunggu dulu di sini, aku akan berbicara dengan mereka,” ujar Calton. Sepertinya kalau Paspamres tidak akan berkutik dengan lencana kepresidenan yang dia punya. Calton langsung keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Laura.


“Tuan, saya mendapatkan perintah langsung dari presiden. Tidak ada bahaya di sini,” ujar Calton menunjukkan lencananya.


“Tidak. Anda punya sesuatu yang saya inginkan,” suara wanita terdengar dari mobil itu. Salah satu tentara membantunya untuk turun dari mobil yang cukup tinggi itu. 


Laura menyipitkan matanya. Dia melihat Calton menyerahkan lencananya. Tapi para paspamres itu tidak bergeming dan seseoran dari mereka seperti menolong seseorang untuk turun dari mobil itu.


Mata Laura seketika membesar. “Graciella!” teriak Laura yang langsung membuat supir di dalam mobil itu kaget.


“Nona, maaf, apa yang anda maksudkan?” tanya Calton tidak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita ini. 


Ternyata beberapa orang bawahan dari Xavier, terpilih menjadi anggota pengaman presiden. Karena itu Graciella bisa mengetahui persis di mana Laura berada setelah Antony memerintahkan penutupan rumah sakit itu. Selama ini Antony menutupnya dengan rapi sehingga mereka tidak bisa bertindak apa pun. Hanya orang-orang khusus yang selalu menjaga Antony hingga dia keluar dari istana kepresidenan atau kantornya.


“Aku tahu bahwa Nona Laura ada di mobilmu. Aku ingin dia sekarang. Atau aku akan membuat semua orang tahu tentang apa yang kalian lakukan, terutama Antony.” ujar Graciella tegas. Dalam benaknya sekarang, ternyata apa yang dikatakan oleh Adelia adalah benar. Antony mungkin sudah menculik Laura dan mengurungnya di villa itu. Kalau tidak kenapa Laura susah sekali untuk keluar. Graciella kenal Laura. Bahkan untuk diam sehari dalam rumahnya saja dia tidak bisa, apalagi dia harus berdiam diri di villa terpencil itu.


Laura menggigit bibirnya. Semua jadi kacau. Jujur saja, Laura senang bisa melihat Graciella kembali. Tapi sepertinya dia tahu apa maksud Graciella ada di sini. Pastilah dia ingin membawa Laura, dan walaupun otak Laura tak sepintar otak Graciella. Dia yakin wanita itu sudah tahu apa yang dilakukan oleh Antony padanya.


Tapi di sisi lain, ada perasaan begitu berat meninggalkan Antony. Dia ingin tahu bagaimana kabar pria itu. Laura, ingin bersama dengan Antony.


Dalam bimbangnya, Laura akhirnya memutuskan sesuatu.


“Nona, maaf, saya tidak mengerti,” ujar Calton yang mencoba untuk sedikit berpura-pura lagi sambil menekan tombol yang ada di lencana keprisedenan itu. Tentu dia ingin minta tolong. 


Tapi saat dia bertanya begitu, tiba-tiba saja pintu mobil itu terbuka. Calton kaget ketika melihat Laura dengan senyuman tipisnya keluar begitu saja.


“Hai, Gracie,” sapa Laura dengan wajah yang innocent. Seolah tidak ada keadaan genting sebelumnya.


“Laura!” Graciella langsung berjalan cepat ke arah Laura yang tak jauh darinya. Graciella melihat ke arah wajah temannya. Memperhatikan tubuhnya, walau terlihat kurus tapi sepertinya tak ada yang bermasalah dengna Laura.


“Nona, apa yang Anda lakukan?” tanya Calton kaget. Bisa mati dia kalau Tuan Antony sampai tahu bahwa dia membiarkan Nona Laura di bawa oleh mereka.


“Aku tidak apa-apa, kau seperti ibuku setiap kali aku pulang malam,” canda Laura yang garing sekali. Graciella tak terpancing. Dia malah mendengus kencang. 


“Calton, aku tidak apa-apa. Ehm, ini Graciella, dia temanku.” Laura menggigit bibirnya dengan kencang. Bukannya seharusnya dia senang dengan kedatangan Graciella yang akan menyelamatkannya. Sebentar lagi dia akan bebas, dia bebas ke mana saja, dan bebas dari hubungan rumitnya dengan Antony.


Tapi, perasaanya sekarang sangat buruk. Laura bahkan ingin menangis. Seperti seorang anak yang harus berpisah dengan sebuah tempat nyamannya. Laura merasakan itu. Dia tidak ingin meninggalkan Antony.


“Gracie!” Laura meledak tangisnya sambil memeluk Graciella. Graciella yang melihat hal itu tentu panik. Dia kenal Laura. Gadis yang jarang sekali menangis karena merasa hidup ini hanya permainan. Tapi sekarang dia menangis tersedu. Hal ini pula yang semakin menguatkan Graciella bahwa Antony sudah membuat Laura menderita.


“Kita akan pergi dari sini,” bisik Graciella. Tapi mendengar hal itu Laura malah makin meraung. Dia ingin mengatakan tak ingin, tapi dia tahu, bahwa kehidupannya dalam kehidupan Antony dalah sebuah kerikil. Semakin lama dia bersama pria itu, semakin banyak ancaman yang datang. Hari ini, demi Laura, Antony menyayat tangannya. Esok? apa yang akan dia pertaruhkkan untuk seorang Laura.


Graciella menuntun Laura yang tubuhnya masih gemetar karena menangis. Mereka tidak mungkin berlama-lama di sini. Ada dua orang lain yang mengejar Laura. Tentu saja dari Antony dan Adelia. Wanita bodoh ini menjadi incaran semua orang.


“Nona!” Calton tampak ingin menghalangi perginya Laura. tapi dia bisa apa. Bahkan dia sekarang diapit oleh empat orang berbadan besar dan sepertinya dia yakin di balik jas mereka ada senjata api yang siap mereka todongkan. Posisi mereka menyatakan hal itu.


Graciella langsung membawa Laura masuk ke dalam mobil mereka. Empat orang paspamres itu masing-masing mundur dan kembali ke kendaraan mereka masing-masing. 


Laura yang masih tak rela hanya melihat ke arah Calton saat mobil mereka perlahan meninggalkan tempat itu. Mata Laura  yang basah membesar. Apakah yang dibuat olehnya ini benar? Tentu saja benar, dia harusnya tak mengusik hidup Antony lagi. Dia seharusnya tidak menjadi benalu dalam hidup Antony. Dia seharusnya … tak rela jika memberikan pria itu kembali pada Adelia. Tapi bagaimana?