Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 11. Aku menantangmu!


"Kau harus ikut!" Laura melihat Graciella yang sudah memakai pakaian tidurnya padahal jam baru menunjukkan pukul 6 malam.


"Tidak. Aku hanya ingin tidur dengan tenang," ujar Graciella menghempaskan tubuhnya ke kasur keras milik Laura.


"Kau harus ikut! bukannya aku sudah menemanimu bertemu dengan Tuan es batu tadi? sekarang kau harus membalas budi padaku. Temani aku ke pesta itu!" Laura bercekak pinggang melihat tingkah Graciella yang sudah menutup tubuhnya dengan seluruh selimut. Graciella memilih pura-pura tidur dari pada menanggapi ocehan Laura. "Hei! aku tahu kau masih bangun! Graciella! kau tak tahu balas budi!" Laura menarik selimut yang digunakan Graciella dengan kasar. Graciella mengerutkan dahi dituduh tak tahu balas budi.


"Tadi siang kan kau yang menawarkan diri untuk menemaniku! itu bukan hutang budi namanya!" sungut Graciella melihat temannya yang sudah berdandan cetar membahana dengan baju yang gemerlap bagaikan lampu disko.


"Tidak mau tahu! temani aku atau kau tak akan bisa mati dengan tenang nantinya karena aku akan menuntut hutang budimu," ancam Laura.


Graciella menyipitkan matanya kesal, bibirnya mencucu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Laura tadi. Masa semasa hidup dia sudah tak tenang, matipun tak bisa tenang hanya gara-gara wanita ini.


"Kau sangat mengesalkan! Ya sudah! tapi aku hanya menemanimu dan tak ikut terlibat apapun dalam pesta itu! satu lagi! jangan minta aku berdandan menor sepertimu!" kesal Graciella.


"Baiklah! itu tak masalah. Yang penting kau ikut. Cepatlah bersiap, nanti aku ketinggalan acara cari jodohnya. Umurku sudah dua puluh enam tahun dan aku bahkan belum pernah pacaran," keluh Laura.


Graciella lucu mendengar kata-kata Laura. Benar, temannya ini belum pernah pacaran sama sekali. Mungkin para pria ketakutan melihat sifatnya yang agresif. Tapi menurut Graciella itu semua ada sangkut pautnya dengan kedudukan ayah Laura yang merupakan seorang menteri. Ayahnya terkenal galak.


"Bukannya aku dengar kau akan dijodohkan dengan seorang pria?" tanya Graciella sambil membuka baju tidurnya dan menggantikannya dengan kaos putih polos.


"Antony? dia? Ah! aku tidak menyukainya! pria itu! menyebalkan!' kata Laura.


"Kenapa? aku dengar juga bukannya dia tampan? dia juga sangat romantis, kau mendapatkan banyak bunga pada hari Valentine darinya," ujar Graciella. Kali ini sambil memakai celana jeans hitamnya. Casual sekali penampilannya.


"Itu masalahnya! aku tidak suka dengan pria yang terlalu menunjukkan cintanya padaku! masa dia selalu bertanya apa aku sudah makan? apa aku cukup tidur? menurutmu? aku seorang dokter dan umurku dua puluh enam tahun! bukan anak umur lima tahun yang tak tahu kapan makan!" gerutu Laura.


"Bukankah itu bagus? dalam pernikahan nanti yang kau butuhkan. adalah pria yang seperti itu. Yang memperhatikanmu dengan setulus hatinya."


"Ya! bagaimana jika hanya awalnya saja? bagaimana jika dia sudah bosan melakukan hal itu pada saat mengejar ku dan berubah saat sudah menikah, seperti Adrean yang kau ceritakan!" celetuk Laura tanpa disaring. Hati Graciella sebenarnya langsung tak nyaman, tapi untuk apa marah, apa yang dikatakan oleh Laura benar adanya.


Laura tahu dia salah bicara. Dia bahkan menggigit lidahnya sendiri. Memang lidah ini tak bisa dikontrol sama sekali! pikirnya sambil memukul bibirnya. "Eh? kau sudah siap?" tanya Laura mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ya, begini saja."


"Begini saja? Gracie! kau ingin ke pesta atau ke pasar? masa hanya menggunakan kaos dan juga celana jeans?"


"Hei! kau sudah janji kan? aku bebas menggunakan baju apapun! jangan protes, kalau protes aku tidak jadi menemanimu!" ancam Graciella lagi.


Dentuman lagu yang keras khas diskotik segera menyambut mereka. Tempat itu sudah ramai dan padat dengan beberapa teman mereka. Graciella mengerutkan dahinya. Sejujurnya dia tak suka tempat ramai apalagi berisik seperti ini. Bau rokok dan juga minuman keras sesekali menyeruak pengap pada ruangan itu.


Laura menarik Graciella menuju sebuah meja. Pelayan datang dan menawarkan minuman. Laura tentu memilih minuman beralkohol, tapi Graciella hanya memesan minuman bersoda.


"Laura! ayo gabung!" seorang pria mendekati Laura. Laura membesarkan matanya dan wajahnya langsung sumringah. Itu Nickho, dokter spesialis mata yang terkenal ketampanannya di rumah sakit mereka bekerja. Mendapat undangan dari Nickho tentu Laura langsung menyetujuinya. Tanpa izin pergi begitu saja meninggalkan Graciella sendirian. Graciella hanya bisa menghela napas sabarnya.


"Oh, dia datang juga?" sayup-sayup suara itu sampai ke telinga Graciella. Orang yang mengatakan hal itu pastilah berbicara dengan sangat keras hingga bisa didengar oleh Graciella. "Mungkin dia ingin merayakan kenaikan jabatannya? Cih! untuk apa? apa dia tidak malu mendapatkan jabatan hasil tidur dengan direktur?"


Graciella langsung melirik ke arah sumber suara. Mendapatkan Rose, dokter senior di IGD. Dia sudah empat tahun bekerja di IGD dan dengar-dengar dia memang mengincar jabatan menjadi kepala IGD. Mengetahui bahwa Graciella yang dipilih tentu membuatnya sangat marah.


Saat Graciella menatapnya tajam, Rose dan teman-temannya yang lain tampak tertawa mengejek sambil sesekali meliriknya sinis.


"Ya! wanita murahan tetap saja wanita murahan! Dia tak bisa merayu pria lain, hanya bisa merayu pria tua bangka yang bahkan lebih tua dari usia ayahnya. Bukankah itu menjijikkan!" suara Rose terdengar lagi.


Graciella tak ada masalah mereka ingin menggunjing tentang dirinya karena marah artinya akan seperti mengiyakan kata-kata mereka. Tapi Graciella punya masalah sendiri dengan kata 'menjijikkan' dia benci sekali dengan kata-kata itu. Kata-kata yang dicapkan oleh Adrean pada dirinya.


Graciella langsung berdiri. Wajahnya tentu menunjukkan raut tak senang. Dia langsung menghampiri Rose yang tampak tertawa-tawa mengejek.


"Kenapa?" kata Rose seolah tak merasa berdosa membicarakan orang.


"Jangan pernah mengatakan lagi kata menjijikan apalagi menyangkut diriku!" kata Graciella langsung.


"Kenapa? ini mulutku! kenapa aku harus mengikuti kata-katamu? lagi pula bukannya hal itu benar? kau melakukan hal menjijikkan agar bisa mendapatkan kedudukan!" kata Rose dengan tenangnya. Malah seolah menantang Graciella.


"Kau pikir kau sangat bersih? ayolah Rose? sudah berapa kali kau aborsi? apa kau masih bisa punya anak lagi?! aku tak perlu melakukan hal seperti itu untuk bisa jadi kepala IGD! Jangan-jangan kau sendirilah yang sudah tidur dengan Direktur hingga kau menyebarkan semua hal itu di rumah sakit!" kata Graciella tak gentar.


Wajah Rose langsung merah padam. Teman-teman yang ada di sekitarnya pun hanya bisa tercengang. Walaupun sudah jadi rahasia umum Rose adalah penggoda. Tapi tak ada yang berani mengatakannya. Graciella tentu tahu perbuatan Rose. Dia salah satu wanita yang ditiduri oleh Adrean. Karena itu dia tak pernah menyukai Graciella.


"Graciella! benarinya ku!" Rose terlonjak dan langsung berhadapan dengan Graciella yang semakin menaikkan dagunya.


"Ya, aku memang berani! apalagi kalau hanya melawanmu!" ujar Graciella. Melawan peluru saja dia tak gentar. Apalagi hanya melawan wanita bertubuh kurus seperti Rose ini.


"Kalau begitu aku menantangmu!"


"Baiklah! aku terima!" kata Graciella mengikuti emosinya tanpa berpikir panjang. Padahal dia sendiri tak tahu apa yang akan dijadikan tantangan.