Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 85.


"Moira, sekarang Moira akan tinggal sama Mama ya, hanya Moira dan Mama berdua," ujar Graciella seraya mengelus kepala putrinya yang tidur di dekatnya. Moira mendongak, menatap dengan kedua bola mata hitam yang selalu Graciella sukai.


"Papa?" bibir mungil Moira berucap sambil memasang wajah bertanyanya yang imut.


Graciella memipihkan bibirnya. Lalu dia mengulas sebuah senyuman tipis. "Papa sekarang harus pergi karena sesuatu dan Papa tidak bisa bersama kita lagi. Jadi mulai sekarang Moira akan bersama Mama, Mama akan memberikan semua yang membuat Moira senang." Graciella mencolek hidung Moira membuat empunya tersebut terkekeh.


"Es klim?" tanya Moira. Itulah yang membuatnya senang.


"Es krim? ehm ... boleh, nanti kita akan makan es krim setelah Moira tidur siang," ujar Graciella menggelitik anaknya. Moira langsung tertawa lepas, menggeliat kegelian akibat ulah ibunya.


Bersamaan dengan itu suada bel terdengar nyaring membuat Graciella dan Moira berhenti seketika. "Mama harus membuka pintu dulu."


Moira mengangguk tanda mengizinkan. Graciella tersenyum dan turun dari ranjang. Segera keluar dari kamar itu. Moira mengikuti ibunya perlahan berlari dengan langkahnya yang kecil.


Saat Graciella sampai di depan pintu. Seorang pelayan juga sudah ingin membuka pintu rumah Stevan.


"Biar saya saja," ujar Graciella. Merasa yakin di balik pintu ini memungkinkan besar adalah Stevan. Jantungnya berdetak tak karuan karena tiba-tiba berpikir mungkin saja Xavier juga ada bersama dengan Stevan.


Graciella menarik napasnya panjang. Entah kenapa tiba-tiba terasa sesak. Bukan, bukan rasa sesak yang menyakitkan. Ini lebih ke rasa sesak karena terlalu bersemangat akan sesuatu. Ah dada Graciella terasa sakit karena jantungnya benar-benar berdetak keras. Ah, kenapa dia malah seperti ini?


Graciella segera membuka pintunya setelah merasa cukup tenang. Dia langsung tersenyum tapi langsung dia kulum ketika merasa itu berlebihan. Pemikirannya salah, tak ada Stevan di sana tapi pria yang dari tadi ada dalam pemikirannya dan juga membuat jantungnya tak beraturan malah berdiri sendirian di depan pintu.


Mata Graciella bertautan dengan mata Xavier yang langsung berdiri di depannya. Tak ada kata-kata yang terucap untuk sesaat. Dalam pandangan itu tertumpah perasaan yang memgalir begitu saja. Menghangatkan hati keduanya.


"Hai! ehm, bagaimana keadaanmu?" ujar Graciella yang akhirnya membuka kesenyapan. Graciella memperhatikan keadaan pria itu. Sebuah tongkat menyangga dirinya. Kaki kirinya terpasang gif untuk menjaga kaki Xavier tidak memburuk keadaannya. Selebihnya terlihat kassa membalut beberapa luka di tangannya. Keadaan ini cukup parah, pikirnya.


Xavier melangkah dengan tongkat, mendekat selangkah ke arah Graciella. Xavier memamg sengaja tak ingin menggunakan kursi roda yang menurutnya membatasi gerakannya.


Graciella langsung terdiam, terhipnotis dengan tatapan tajam tapi lembut dari mata hitam kelam milik Xavier. Selalu saja membuat Greciella terperangkap di dalamnya. Dan rasanya sudah lama dia tak melihatnya.


Xavier memandang wajah Graciella lebih dalam. Baru beberapa hari saja tak memandangnya tapi rasanya begitu merindukannya. Semakin dipandang, semakin terasa dalam rindunya.


Graciella pun semakin takut, takut semakin terperangkap dan dadanya juga sudah ingin meledak. Graciella sekuat tenaga memalingkan wajahnya. Dia tak boleh begini, dia tak boleh menunjukkan perasaannya. Bukannya itu terlalu murahan? Graciella juga baru bercerai, jika langsung berdekatan dengan pria lain rasanya tak akan baik.


"Eh? Stevan mana?" ujar Graciella berusaha memalingkan tatapan dalam Xavier. Dia takut, benar-benar takut akan jatuh lebih dalam lagi pada Xavier hingga nantinya malah tak ingin melepaskan. Dia masih tak ingin merasakan hal-hal seperti ini. Terakhir dia membiarkan dirinya jatuh, dia harus membayarnya dengan tiga tahun hidup di neraka.


Xavier tak menjawab, tapi dia langsung menarik Graciella dalam pelukannya. Graciella mendapatkan hal itu hanya diam karena kaget. Xavier memeluknya erat sekali. Semerbak wangi maskulin yang nyatanya sudah tersulam baik di otak Graciella langsung membuatnya tenang.


Xavier tak lagi bisa menahan dirinya. Rasa rindu dan memori tentang rasa sakit yang sangat ketika melihat Graciella bersama dengan Adrean membuatnya memperketat pelukannya pada Graciella. Benar-benar ingin memiliki wanita ini selamanya dan seutuhnya. Xavier tenggelam dalam rasa nyaman yang tak bisa dia lepaskan. Ya! dia tak akan pernah melepaskan wanita ini untuk selamanya. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang begitu kuat hingga dia sendiri tak bisa menahanya.


"Mama?" suara kecil nan halus itu terdengar.


Xavier yang tadinya menutup mata karena menikmati rasa yang tercipta perlahan membuka matanya. Melihat sosok munggil drngan baju tidur berwarna pink dan boneka yang dia peluk sedang memandang mereka berdua.


Xavier tak lagi bisa berkata-kata, dia perlahan melepaskan pelukannya dari Graciella tapi matanya lekat pada sosok mungil yang balik memandanya dengan wajah bertanyanya.


"Moira?" tanya Graciella melihat putrinya. Timbul rasa ragu pada Graciella. Apakah Xavier bisa menerima keberadaan Moira setelah tahu jika Moira adalah anak dari pria yang sampai sekarang Graciella tak tahu siapa.


Moira berjalan perlahan mendekati ibunya, dia langsung menggenggam tangan ibunya tapi matanya lekat menatap pria yang terus memandangnya. Sedikit takut karena belum pernah melihat pria ini.


Xavier perlahan menekuk kakinya, berusaha mensejajarkan tubuhnya sejajar dengan Moira. Walaupun dia merasakan nyeri di kakinya karena melakukakan hal ini tapi Xavier tetap ingin melihat wajah anaknya dari dekat. Xavier tak bisa berkedip menatap dan mengamati wajah anaknya. Apa yang dikatakan oleh Stevan sama sekali tak berlebihan. Anaknya begitu cantik, bibirnya sangat mirip dengan Graciella tapi yang lain terlihat lebih mirip dirinya. Benar-benar perpaduan yang sempurna. Xavier menarik napas panjang berusaha menahan matanya yang mulai perih.


"Moira?" suara Xavier seketika parau. Moira mengangguk pelan.


Xavier sudah ingin menarik anaknya dalam pelukannya. Sudah begitu besar baru bisa melihat dirinya. Tapi Xavier berpikir bisa saja anaknya malah ketakutan jika dia betindak agresif seperti itu.


"Moira, ini Paman Xavier, panggil Paman," pinta Graciella yang awalnya kaget. Dengan kaki yang di-gif seperti itu Xavier berusaha untuk berjongkok hanya untuk bisa sejajar dengan anaknya.


"Paman." Moira patuh mengikuti perintah ibunya.


"Dia anakku tapi bukan dari Adrean," ujar Graciella. Dia tak mungkin menutupi asal usul Moira. "Dia ...."


"Aku tahu," ujar Xavier memotong. Graciella mengerutkan dahinya.


Xavier yang dari tadi berusaha untuk menahan diri agar tidak memeluk Moira akhirnya tak bisa menahan dirinya. Dia menarik gadis kecil itu dalam pelukannya. Rasanya bagaikan Xavier baru saja mendapatkan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupnya


. Dia akan melakukan apapun membuat anak perempuannya bahagia selamanya. Bahkan jika harus bertaruh nyawa, dia relakan semuanya.


"Paman!" Moira menegur Xavier. Xavier langsung melepaskan pelukannya, panggilan paman itu mengusiknya, dia ingin dipanggil ayah oleh Moira. "jangan nangis! Mama malah!" wanti-wanti Moira pada Xavier yang matanya tampak basah. Moira menghapus air mata Xavier yang jatuh begitu saja.


Graciella yang melihat itu mmengerutkan dahinya. Merasa ada yang aneh dengan hal ini. Apa yang terjadi? kenapa Xavier yang dia kenal dingin dan tangguh, malah meneteskan air mata saat memeluk putrinya? ada apa ini sebenarnya?


...****************...


Halo kak, Maaf satu dulu ya! otornya lagi kebanjiran! jadi nulisnya lama dan cuma bisa segini, besok mudah2an bisa Crazy up ya!