
“Siapa nama mereka?” tanya Stevan segera. Di dalam pikirannya yang pertama kali muncul adalah nama Graciella dan anaknya. Kalau begitu ayah dan ibu Xavier sudah tahu tentang hubungan dari Xavier dan Graciella?
“Maaf Tuan tapi aku tidak mendengar nama mereka. Aku hanya mendengarnya sekilas.” ujar dokter kedua itu lagi mencoba mengingat, tapi seingatnya memang Tuan David Qing tidak mengatakan nama siapapun.
Stevan memainkan rahangnya sambil memikirkan semua hal. Jika orang tua Xavier tega melakukan hal ini pada Xavier maka Graciella dan anaknya ada dalam keadaan sangat bahaya. Dia harus cepat menemukan mereka. Xavier juga pastinya menginginkan Stevan melindungi anak dan wanitanya.
“Kau!” ujar Stevan keras ke arah dokter pertama yang hampir terlonjak kaget karena ulah Stevan. “Mulai sekarang kau dan kau adalah informan dan juga bawahanku. Tugas kalian cuma satu yaitu memberitahu Xavier untuk tetap berpura-pura dalam keadaan yang baik sampai aku mengatakan bahwa keadaan mereka baik-baik saja. Jangan takut pada David Qing, sebagai perdana menteri dia bahkan harus tunduk dengan hukum. Jika dia meminta kalian memasukkan obat-obatan yang aneh-aneh lagi, masukkan saja vitamin pada Xavier. Kalian mengerti apa yang aku ucapkan!” ujar Stevan dengan suara yang begitu tegas.
Kedua dokter itu mengangguk tanda mengerti. “Tapi kami tidak akan ditahan kan Tuan?” tanya Dokter pertama dengan sedikit memelas.
“Jika kalian berhasil dalam tugas yang aku berikan aku pastikan kalian tidak ditahan. Jika gagal! mungkin bukan aku yang akan menahan kalian! tulis nomor ponsel kalian di dalam sini," ujar Stevan menyerahkan ponselnya pada kedua dokter itu. Mereka segera menuliskannya dan memberikan pada Stevan kembali.
Stevan segera berdiri dan berjalan ke arah Xavier. Dia melihat sejenak keadaan Xavier yang tampak tidur tenang. Tapi dia yakin sekali temannya ini berontak di dalam tubuhnya yang sama sekali tidak bisa dia gerakkan. Stevan berwajah miris. Bagaimana bisa orang tua tega mengurung anaknya dalam tubuhnya sendiri. Ini sangat kejam.
Stevan lalu mendekatkan bibirnya ke arah telinga Xavier. Dia tak tahu apakah Xavier bisa mendengarnya atau tidak, tapi dia hanya ingin mengatakan pada Xavier. “Aku akan melindungi Graciella dan anakmu, saat ini beristirahat saja hingga keadaanmu membaik. Jika kau sadar, tolong ikuti dulu perintah para dokter. Aku akan mengabarimu secepatnya.”
Stevan segera keluar setelah mengatakan hal itu. Tentu dia tahu bahwa dia harus berpacu dengan waktu. Bisa jadi saat ini David Qing sudah memerintahkan orang untuk mencelakaan Graciella dan anaknya kembali. Dia harus cepat.
“Stevan!” suara dalam itu terdengar seketika menghentikan derap langkah Stevan yang tadinya cepat. Dia terdiam, dia tahu pasti itu adalah suara David Qing. Tenang! Dia harus tenang. Tidak boleh mengundang curiga. Bagaimana pun David Qing juga orang yang punya kemampuan analisa yang baik. Sedikit kegugupan saja dalam matanya. Dia pasti akan mencurigai Stevan.
“Oh, Paman,” Stevan berbalik dengan gayanya yang santai dan tenang. Padahal jantungnya sudah ingin meloncat keluar.
“Kenapa terburu-buru?” tanya David Qing meminum minuman keras yang ada di tangannya. “Ayo minum sejenak dengan Paman.”
“Oh, aku tidak bisa Paman. Ajudanku melaporkan ada petunjuk besar yang aku dapatkan untuk kasus yang sudah lama aku tangani. Jadi aku harus cepat untuk membuka bukti dan menangkap tersangkanya.” Stevan melirik sedikit tajam ke arah David Qing yang mengerutkan dahinya mendengar hal itu.
“Baiklah, polisi memang pekerjaan yang tidak ada waktu istirahatnya. Selamat bekerja kalau begitu," ujar David Qing mengangkat gelas kristalnya untuk Stevan.
Stevan tersenyum sedikit, “Baiklah Paman.” Stevan langsung melangkah dan pergi meninggalkan David Qing. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya. Tapi sebelum dia pergi dia memakai earphone-nya dan segera menelepon ajudannya.
“Laporkan padaku tentang siapa saja yang terlibat dalam kecelakaan maut di mall Galaxy Star?!” ujar Stevan memundurkan mobilnya cepat.
“Tuan Xavier, seorang wanita dan seorang anak perempuan.” suara dari seberang terdengar.
“Baik komandan!” ujar ajudan Stevan segera. Stevan terus memacu mobilnya. Dia yakin mereka akan ada di salah satu rumah sakit terdekat dari tempat kejadian perkara.
...****************...
Graciella terbangun setelah merasa ingin ke kamar kecil. Saat ini dia mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan juga panas dingin karena efek dari kecelakaan tadi. Seharusnya dia meminta sedikit paracetamol untuk dia makan malam ini. Graciella berjalan pelan ke arah kamar mandinya ruangan itu. Melihat sekilas anaknya yang mengubah posisi tidurnya. Dia akan baik-baik saja.
Laura sudah pulang sedari tadi karena dia harus menghadiri perjamuan makan malam bersama keluarganya. Dia berdalih jika dia tidak datang lagi diperjamuan makan malam ini. Ayahnya akan mencoretnya dari daftar pewarisnya. Laura harus menurut walaupun itu tidak mungkin terjadi. pada siapa lagi warisannya akan diberikan kalau bukan putri semata wayangnya itu.
Graciella dengan cepat menuntaskan hajatnya. Dia segera membuka pintu dan langsung melihat ke arah Moira. Dia kaget melihat seorang perawat pria yang datang membawa sebuah suntikan yang ingin dia suntikkan pada Moira.
“Obat apa itu?” tanya Graciella langsung. Perawat pria itu tampak sedikit gugup.
“Hanya obat dari dokter anak," ujar pria itu menjawab.
“Ya, tapi apa kandungannya? Obat apa yang ingin kau berikan pada anakku?” tanya Graciella. Dia sedikit menganalisa pria ini. Dia tidak pernah melihatnya dan setahunya di ruangan anak tidak ada perawat pria. Apa mungkin ada perubahan peraturan. “Kau perawat baru?”
“Ya, aku baru beberapa minggu bekerja di sini," kata pria itu sambil berusaha untuk tetap menyuntikkan obat itu ke pembuluh darah Moira karena Moira memang tidak lagi di infus.
“Beberapa minggu?” ujar Graciella, dia bahkan baru satu minggu tidak bekerja di sini.
“Ya,” kata pria itu lagi tampak tak ingin menanggapi apa perkataan dari Graciella.
“Berikan padaku! aku saja yang akan menyuntikkannya,” pinta Graciella pada pria itu. Menjulurkan tangannya agar pria itu memberikan suntikannya. Pria itu tampak sedikit ragu, tapi karena tatapan tajam Graciella, dia perlahan memberikannya pada Graciella.
Graciella langsung mengambil jarum suntik itu dan melihat cairan bening di dalamnya. Dia mengerutkan dahi melihat obat itu, sepertinya cairan seperti ini terlalu banyak untuk ukuran tubuh Moira. Graciella melirik pria yang tampak sudah bersiap-siap mengeluarkan sesuatu dari balik jas dokternya. Ini tidak benar! Intusinya berkata demikian.
Graciella dengan cepat menancapkan jarum suntik itu pada lengan pria dan langsung memasukkan obat yang entah apa isinya. Tapi Graciella yakin obat itu bukanlah obat untuk anaknya.
Pria itu kaget dan langsung mengeluarkan pistol yang langsung dia ingin arahkan ke arah Graciella tapi ternyata efek dari obat itu lebih kuat dan cepat. Dia langsung tidak bisa mengontrol tangan yang tadi di tusuk oleh Graciella, tak lama dia mulai tak bisa mengontrol tangan kanannya dan pistol itu terjatuh begitu saja. Beberapa saat kemudian dia tampak ingin pingsan.