Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 223. Ibu Negara ingin bertemu dengan Anda.


Graciella dan Xavier baru saja memulai sarapan pagi mereka yang tenang bersama dengan Lilian dan juga Monica.


Semua hening saat tiba-tiba bel kediaman Xavier itu terdengar lagi. Graciella yang sedikit trauma dengan hal itu langsung mengerutkan dahi. Peristiwa kudeta seminggu yang lalu masih bisa dia rasakan ketegangannya hingga sekarang.


Serin yang berdiri tak jauh dari sana segera membukakan pintu itu. Dia tampak menerima laporan dari orang yang ada di luar pintu itu. Tak lama dia kembali berjalan ke arah ruang makan.


"Lapor Komandan," ujar Serin. Tubuhnya tegap untuk ukuran seorang wanita.


"Ya?" tanya Xavier mengerutkan dahinya. Jika ada apa-apa pastilah Arnold yang menyampaikannya.


"Di luar ada utusan dari Ibu negara, Adelia Chang, Utusan itu menyampaikan pesan bahwa Ibu Negara ingin bertemu dengan Nyonya, Komandan," lapor Serin lagi.


Graciella mendengar itu mengerutkan dahi. Semua orang yang ada di sana pun seketika memandang Graciella.


"Untuk apa Beliau ingin menemui ku?" tanya Graciella.


"Beliau hanya ingin berbincang dengan Anda. Nyonya, Beliau menunggu Anda pukul dua nanti siang di tempat yang akan Beliau tentukan," jelas Serin lagi sesuai dengan yang dikatakan utusan dari Adelia itu.


Graciella melihat ke arah Xavier. "Bagaimana?"


"Aku akan mengantarmu," jawab Xavier singkat.


"Baiklah, katakan pada utusan itu aku akan datang pukul dua," jawab Graciella. Tahu kata-kata itu bukti persetujuan dari Xavier.


****


Graciella dibawa masuk melalui lorong-lorong samping taman dari sebuah restoran yang terletak sedikit naik ke arah daratan tinggi. Saat masuk lebih dalam akhirnya dari arah berlawanan seorang wanita anggun berjalan mendekat.


Graciella langsung mengenali sosok kharismatik dan keibuan itu. Lebih cantik ketika dilihat langsung dari pada dari televisi.


"Nyonya Qing, maaf meminta Anda datang mendadak seperti ini," sambut Adelia dengan senyuman dan suaranya yang sungkan.


"Tak apa Ibu Negara. Saya yang malah kaget dan sungkan karena Ibu negara ingin berbicara dengan saya," jawab Graciella. Benar-benar wanita yang tahu bagaimana meletakkan kelasnya.


Adelia tersenyum. Matanya bergulir pada sosok yang berdiri tak ada empat langkah di belakang Greciella. Graciella melihat itu dan sejenak melihat suaminya lalu kembali ke arah Adelia.


"Beliau adalah suami saya," ujar Graciella memperkenalkan.


"Oh, Jenderal Xavier Qing. Maafkan saya, seharusnya saya sudah menebaknya. Tapi saya hanya takut untuk berbuat kesalahan," ujar Adelia lagi dengan suaranya yang lembut tapi tanpa kesan menggoda.


"Tidak masalah, Ibu Negara," ujar Graciella lagi. Tahu prianya ini sulit kali mengeluarkan suara terutama dengan wanita lain.


"Tapi, mungkin permintaanku ini sedikit berlebihan dan aku meminta, Jenderal Qing, bolehkan aku bicara berdua saja dengan istri Anda? Bukan aku tak menghargai Anda, tapi, ini hanya sebuah obrolan wanita ke wanita," ucap Adelia lagi.


Graciella mematap suaminya. "Tidak masalah Ini Negara. Saya hanya mengantar istri saya ke sini. Tak perlu sungkan." Xavier menjawabya dengan nada kaku seolah dia baru saja melaporkan keadaan di sana pada atasannya.


"Baiklah." Sunggingan senyuman tampak begitu indah menghiasi wajah Adelia yang tampak lega. Saking cantiknya, Graciella merasa minder sekarang. "Ayo minum teh."


Suasana restoran itu sepi. Satu restoran itu hanya diisi oleh mereka saja. Jalanan menuju tempat ini jika tanpa tanda khusus akan diminta berputar.


Graciella duduk dengan sedikit tegang di depan Adelia. Pelayan langsung menuangkan teh bercita rasa vanila ke cangkir porselen yang ada di depan mereka.


"Nyonya Qing, Anda ingin minum apa? Teh di sini sangat harum, Anda harus mencobanya," tawar Adelia lagi dengan senyumannya. Pelayan sengaja menunggu pesanan dari Graciella yang belum juga memesan apa pun.


"Air putih saja," jawab Graciella.


"Benarkah? Tak ingin mencoba yang lain?" Jawab Adelia.


"Tidak, suamiku melarang. Teh tidak baik untuk ibu yang sedang mengandung," ujar Greciella.


"Benarkah? Jadi? Wah, Selamat! Aku sangat iri padamu. Tak menyangka Jenderal Qing yang terlihat pendiam itu sangat perhatian," ujar Adelia dengan ekspresi senangnya.


"Ya. Dia sedikit lebih protektif saat aku begini," ujar Graciella bisa merasakan nyaman berbicara dengan wanita di depannya.


"Begitukah? Aku rasa aku harus cepat hamil agar Antony juga bisa begitu," ujar Adelia. Ada penurunan nada suara yang terjadi membuat Graciella sedikit mengerutkan dahinya.


"Ibu Negara …."


"Panggil saja Adelia. Panggilan itu -- ehm, terlalu berlebih," ujar Adelia lagi.


"Eh? Boleh saya tahu apa tujuan Anda bertemu saya?" tanya Greciella. Tentu saja bukan hanya karena Adelia butuh teman minum teh, 'kan? Mereka bahkan baru bertemu langsung sekarang.


Adelia menggigit bibirnya seraya mengaduk pelan tehnya yang tak bergula. Graciella memperhatikan hal itu, ada yang mengganjal di pikiran Adelia sekarang.


"Tolong jangan menghakimi ku dengan apa yang ingin aku utarakan," ujar Adelia langsung yang menbuat Graciella mengerutkan dahinya.


"Tentang apa?" Graciella menjadi penasaran.


"Tentang sahabatmu, Laura." Adelia menatap Graciella dengan pandangan sendu yang lurus pada mata Graciella. Graciella mendengar itu langsung mengerutkan dahi dan menarik dirinya mundur.


"Eh? Ada apa dengannya?"


"Aku tahu, Laura adalah sahabat baikmu. Kebetulan pula aku dengar kau adalah penyidik wanita terbaik di negara ini. Bahkan suamiku, Antony." Suara Adelia terdengar sedikit gemetar memanggil nama Antony. Graciella menangkap kepedihannya. "Dia menyewamu untuk memecahkan kasus Tuan Robert bukan? Jadi aku …."


"Anda ingin apa?" Tanya Graciella. Dia harus tahu jelas apa yang diinginkan Adelia. Apakah dia ingin Graciella membantunya untuk menyingkirkan Laura dari hidupnya dan Antony? Bukan kah itu keinginan semua istri yang tahu suaminya dulu mencintai wanita lain? Tentu dia ingin suaminya tak lagi punya hubungan apa pun dengan wanita itu?


"Aku ingin kau menyelidiki dan menemukan di mana Laura sebenarnya." Adelia menatap Graciella dengan berharap.


Graciella langsung menautkan dua alisnya. "Menemukan Laura? Untuk apa?" Tanya Greciella lagi. Tak ingin terjebak untuk kedua kalinya.


"Ini Aibku dan juga suamiku. bukannya kau tahu seharusnya Laura yang menikahi Antony dulu. Tapi, karena Laura pergi. Dia jadi harus menikah denganku. Tentu semua itu keterpaksaan. Karena itu, sejujurnya Antony tak bisa melupakan Laura dan aku rasa kebahagiaannya hanya ada pada wanita itu. Karena itu, Nyonya Graciella, apakah kau bisa menemukan di mana Laura. Aku ingin dia tahu bahwa suamiku, sangat mencintainya dan aku ingin mereka bahagia. Mungkin setelah tak menjabat lagi, aku bisa menyerahkannya seutuhnya," ujar Adelia dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Suaranya yang tadi riang perlahan memberat dan juga gemetar.