
Graciella berguling-guling di kasurnya. Rasanya dia mengalami jet lag dan membuatnya tidak bisa menutup matanya sama sekali. Jika di Amerika sekarang sedang siang hari.berbanding terbalik dengan di negaranya, ini sudah hampir tengah malam.
Graciella akhirnya menyerah. Dia segera menghidupkan kembali lampunya kamarnya. Melihat ke arah sekelilingnya yang remang. Graciella lalu meraba ranjangnya. Dia mengerutkan dahinya karena tak mendapatkan apa yang dia cari.
Graciella menaikkan kepalanya menengok ke arah nakas di samping tempat tidurnya. Dia semakin mengerutkan dahi ketika tak menemukan ponselnya. Seketika saja Graciella langsung terduduk, dia menepuk dahinya pelan. Ah bodoh sekali! bukannya ponselnya tadi dia letakkan di atas meja di ruang tamu? ehm, apa tidak apa-apa dia mengambilnya sekarang?
Graciella mempertimbangkan hal itu cukup lama. Walaupun pria itu sekarang dengan melakukan pertemuan. Bukan kah ini rumahnya? sebentar saja mengganggu mereka rasanya tak akan apa-apa bukan? tawar menawar Graciella pada dirinya sendiri.
Graciella akhirnya membulatkan tekatnya. Dari pada dia bengong sendiri seperti ini lebih baik dia mengambil ponselnya. Graciella segera turun dari ranjangnya. Dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Dia bisa mendengar suara berat Xavier yang sedang berbicara dengan beberapa pria. Tak terlalu jelas apa yang sedang mereka diskusikan, tapi sepertinya begitu serius.
Graciella baru saja ingin melangkah keluar tapi perasaan ragunya muncul. Bukannya ini misi rahasia? Jika nantinya Graciella mendengar dan misi itu ternyata bocor. Bisa jadi dia akan disalahkan dan dituduh sudah membocorkan rahasia. Tapi sendirian di kamar dan hanya diam melihat dinding putih kamar itu, ehm … terasa sangat membosankan. Graciella akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan rencananya.
“Ehem!” Graciella berdeham kencang sebelum dia sampai di ruangan tamu itu. Suara dehamannya itu seketika membuat hening suasana. Graciella berhenti sedikit jauh dari ruang tamu itu.
“Ada apa?” tanya Xavier yang tiba-tiba muncul begitu saja. Suaranya yang berat dan juga terdengar cemas tentu membuat Graciella langsung kaget. Bahkan Graciella sampai memegangi jantungnya yang hampir meloncat keluar. Tanggap sekali pria ini, baru saja Graciella berdeham, dia sudah muncul di depan Graciella.
“Aku ingin mengambil ponselku, boleh?” ujar Graciella yang tersenyum sungkan.
Xavier yang mendengar permintaan Graciella hanya mengangguk pelan. Xavier segera meninggalkan Graciella sebentar dan tak lama pria itu kembali muncul dengan membawa ponsel Graciella di tangannya.
Graciella langsung mengambil ponsel yang disodorkan oleh Xavier. “Terima kasih,” ujar Graciella dengan sedikit senyuman.
“Tidurlah, sudah malam,” suara yang biasanya terdengar datar dan dingin itu tiba-tiba saja sedikit terasa menghangat dengan adanya nada kepedulian di dalamnya.
Mendengar itu Graciella langsung terdiam. Xavier hanya menatap ke arah Graciella yang sekarang terpaku melihatnya.
“Aku sepertinya mengalami sedikit Jet lag. Aku rasa aku butuh penyesuaian untuk tidur di sini." Graciella tampak sedikit gugup mengatakan hal itu pada Xavier yang terus memandangnya dengan pandangan penuh perhatiannya.
“Akan ku buatkan susu hangat, mungkin akan membuatmu sedikit nyaman,” ujar Xavier yang tiba-tiba saja ingin masuk ke arah dapur.
Melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Xavier membuat Graciella membesarkan matanya. “Eh! Jangan! Tidak perlu, tidak pelu membuatkan aku susu hangat. Aku bisa membuatnya sendiri,” ujar Graciella sembari menghalangi langkah dari Xavier lebih jauh. Xavier hanya melihat Graciella dengan kerutan dahinya.
“Lagi pula bukannya kau dan bawahanmu sedang punya sesuatu untuk dibicarakan? Lakukan saja. Aku akan buat sendiri. Pergilah bekerja!” ujar Graciella yang tersenyum manis.
Xavier tampak enggan melakukan apa yang diperintahkan oleh Graciella.
Graciella yang mendorong tubuh Xavier tanpa sadarnya malah terus masuk ke dalam ruangan tamu itu. Dia langsung kikuk ketika empat orang bawahan dari Xavier langsung menatapnya. Mereka yang tadinya tampak serius berunding sesuatu langsung berdiri melihat Graciella yang sedang mendorong Xavier. Graciella pun langsung terkaku. Tak menyangka banyak juga bawahan Xavier di sana.
“Dokter Graciella. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” seseorang dari mereka tiba-tiba saja menyapa Graciella.
Graciella yang tadinya kaget dan kikuk melihat para pria berseragam lengkap tentara langsung mengubah ekspresinya menjadi bertanya. Kenapa pria ini menyapanya seolah dia kenal dengan Graciella? padahal dia sama sekali tidak mengingatnya.
“Eh? kau mengenalku?” tanya Graciella menunjuk batang hidungnya sendiri. Sepertinya selama ini dia tidak pernah mengenal tentara manapun kecuali Xavier.
“Dokter? Apa kau benar-benar tidak mengenalku?” tanya Fredy mengerutkan dahinya. Apakah benar bahwa bukan hanya Xavier saja yang memiliki masalah dengan ingatannya, tapi juga dokter Graciella?
“Ehm? Tidak. Lagipula aku sudah tidak bekerja sebagai dokter. Jangan memanggilku dokter lagi, tidak enak jika didengar orang,” ujar Graciella tersenyum bingung. Di mana dia bisa mengenal pria ini?
Xavier melihat ke arah Fredy seraya menunjukkan gestur agar Fredy tidak menjawab lagi. Fredy yang memang sudah tahu sifat Xavier dari dulu langsung mengerti apa yang diinginkan oleh Xavier.
“Namanya adalah Fredy, dia adalah ajudanku lima tahun yang lalu,” jelas Xavier pada Graciella yang wajahnya masih bertanya-tanya.
“Lalu? Bagaimana dia bisa mengenalku?” ujar Graciella masih mengulik ingatannya. Seberapa pun dia mencoba mencari. Wajah dan nama pria ini tak sedikit pun muncul di otaknya. Aneh sekali, Graciella bukan orang yang mudah melupakan wajah orang yang pernah dia temui. Jadi walaupun sekali, jika dia tahu nama dan juga profesi Graciella sebelum ini, pastilah dia cukup dekat dengannya. Tapi kenapa Graciella sama sekali tidak ingat.
“Aku akan menjelaskan padamu nanti. Kami masih harus membicarakan beberapa hal. Apa kau tidak ingin mulai membuat susu dan mencoba kembali tidur?” tanya Xavier lagi.
Graciella mendengar hal itu seperti sebuah pengusiran halus. Walaupun dia cukup kaget dan penasaran dengan sosok yang tadi menyapanya. Graciella hanya mengangguk dan menurut untuk berjalan ke dapur, jika dia melupakannya maka kemungkinan besar pria itu tidak penting baginya, jadi ya biarkan saja, pikir Graciella yang sudah tidak ingin ambil pusing lagi. Satu hal yang dia sudah pelajari untuk tidak memikirkan hal yang menurutnya akan membebani hidupnya karena lebih banyak hal lagi yang harus dia pikirkan. Dan bukannya Xavier juga sudah mengatakan akan menceritakannya pada Graciella, lebih baik menunggunya dari Xavier.
Xavier melihat dan menunggu sosok wanita itu masuk ke arah dapur barulah dia kembali berkumpul dengan para bawahannya.
Xavier lalu memandang ke arah Fredy yang duduk di depannya. Semua perkataan pria ini membuatnya cukup terkejut. Pantas saja selama ini dia mencoba mencari apa yang hilang dari dirinya, tidak bisa dia temukan. Semua orang yang berkaitan dengan masa lalunya langsung dijauhkan darinya. Data-data pentingnya pun semuanya dilenyapkan.
Menemukan Fredy pun adalah kebetulan yang sangat berjodoh. Dari semua data yang diminta oleh Xavier. Dia malah menemukan data Fredy di berkas milik Graciella. Di sana dikatakan Graciella pernah mendapatkan rekomendasi kenaikan jabatan dari markas militer yang pernah dia pimpin dan kapten Fredy-lah yang menyampaikan berita itu pada direktur rumah sakit tempat Graciella bekerja.
Karena itu, Xavier langsung memerintahkan bawahan yang dia bentuk secara rahasia untuk menemukan Fredy yang ternyata dimutasi jauh darinya. Bahkan selama 3 tahun sebelumnya dia ditempatkan di luar negeri. Mendengar semua cerita dari Fredy, Xavier langsung menggenggam tangannya erat.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku! Kita akan melakukan sebuah misi rahasia mulai dari sekarang!” ujar Xavier menatap empat orang kepercayaannya yang sekarang menatapnya dengan tatapan tegas mereka.
“Siap! Jenderal!”