
Lelaki yang baru masuk itu. Dia teman Adrean. Kemarin aku diminta untuk melayaninya tapi aku kabur, Aku yakin dia masih mengenalku,” jawab Graciella pelan seolah pria itu akan mendengarnya padahal jarak antara mereka cukup jauh.
"Aku kira kau minta dicium," goda Xavier senyuman satu sudutnya.
"He!" Graciella kaget mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Xavier. Bagaimana bisa pria sedingin Xavier mengatakan hal itu. Seperti bukan dia saja.
Xavier menaikan kepalanya dan mencoba melihat pria itu. Dia akhirnya duduk tak jauh dari mereka. Xavier tidak habis pikir, bagaimana Adrean bisa dengan mudahnya memberikan Graciella pada pria hidung belang seperti itu.
“Apa yang sedang dia lakukan?” tanya Graciella karena tahu Xavier sedang melihat pria tambun itu.
“Tidak ada. Hanya duduk dua meja di samping kita," jelas Xavier.
“Benarkah?” kata Graciella yang bingung. Bagaimana dia bisa makan jika begini. Tentu dia tak mungkin makan sambil terus bersembunyi di balik jas Xavier.
“Ingin pulang saja? kita bisa meminta makanannya dibawa pulang,” ucap Xavier memberikan solusi. Dia tahu Graciella begitu tak nyaman.
“Oh! ya benar, begitu saja. Kita bisa makan bersama di rumah. Lagi pula aku pikir makanan itu terlalu banyak. Kita bisa mengajak Laura atau Stevan untuk makan bersama,” kata Graciella lagi dengan senyuman lebar yang mengembang.
Xavier mengangguk mengerti. Dia baru ingin bangkit tapi Graciella tetap menahannya hingga Xavier tak jadi berdiri.
“Bagaimana caraku untuk pergi dari sini?” tanya Graciela pada Xavier.
“Kau benar-benar takut padanya?” tanya Xavier balik.
“Aku hanya tak ingin bertemu dengannya lagi. Dia sangat menyebalkan. Dia memelukku ….” kata Graciella yang bermaksud mengatakan bahwa pria itu sangat menjijikan karena memeluknya dengan tubuhnya yang gempal itu.
Xavier menyipitkan matanya dan langsung mendorong kepala Graciella menempel di dadanya dan membawa Graciella masuk ke dalam pelukannya agar bisa mengontrol tubuh Graciella. Xavier langsung berdiri, “Sengaja ingin membuatku cemburu ya?”
Suara itu terdengar dingin. Graciella membesarkan sedikit matanya. Dia tidak ada maksud membuat Xavier cemburu.
Tapi Xavier langsung saja membawa Graciella berjalan menuju pintu keluar dengan menutupi wajah Graciella dengan cara memeluk Graciella dalam jasnya. Di tengah jalan mereka berhenti karena pemilik toko yang mendekati mereka. Pria tambun itu juga sedikit mengerutkan wajah merasa Xavier dan Graciella kelakuannya sedikit aneh.
“Dia sakit kepala. Bisa makanannya di bungkus saja? Nanti aku akan mengambilnya," ujar Xavier.
“Tentu Tuan. Nona, semoga cepat sembuh," ujar pemilik dari restoran itu.
“Terima kasih,” ujar Graciella menjawab. Xavier segera membawa Graciella ke mobil mereka.
“Tunggulah di sini dulu, aku akan mengambil makanannya.”
“Ehm, ya, baiklah.” ujar Graciella yang memposisikan tubuhnya agar merasa nyamannya. Besok dia benar-benar harus pergi ke dokter. Dia sudah risih dengan kakinya yang tak bisa leluasa berjalan.
Graciella melihat ke arah Xavier yang masuk ke dalam restoran itu. Xavier sekali lagi memandang pria tambun tua yang duduk bersama dengan dua orang wanita yang tampak merayunya dan juga dua orang penjaga. Tatapan Xavier itu ditangkap oleh pria bertubuh gempal tapi Xavier segera menuju ke arah tempat pengambilan makanan yang di bawa pulang.
“Tunggu sebentar lagi Tuan, ada makanan yang belum matang,” ujar pemilik restoran itu ramah. Xavier hanya mengangguk tanda mengerti. Namun saat dia sedang menunggu, sebuah tepukan terasa keras di bahunya.
Xavier memalingkan wajah ke arah suara itu. Salah satu dari penjaga itu yang menepuk bahu dari Xavier. Xavier mengerutkan dahinya memandang dua orang penjaga sudah berdiri di belakangnya. Pemilik restoran itu tampak cemas. Dia takut ada apa-apa di restorannya.
“Kenapa kau melihat bos kami dengan tatapan seperti itu? kau kira kau ini siapa?” tanya penjaga itu dengan nada seperti seorang preman. Xavier hanya diam menatap mereka dengan tajam lalu berpindah ke arah lelaki tambun yang hanya sibuk merokok dengan wajahnya yang sombong. Penjaga itu semakin tak suka dengan kelakuan Xavier yang seolah menantang.
“Kau menantang kami ya?” ujar penjaga yang lain.
“Tuan, Tuan, lebih baik diselesaikan dengan damai. Tolong jangan menyelesaikannya di sini,” ujar pemilik restoran itu takut restorannya akan rusak. Xavier mendengar itu sedikit mengerti, lebih baik tak menanggapi mereka. Xavier pasti tak enak dengan pemilik Restroran yang ramah ini. Xavier kembali membalikkan tubuhnya menghadap meja pengembilan makanan.
“Hei! Kau takut?” suara pria tambun yang mereka sebut bos besar itu terdengar. Xavier langsung melihat ke arahnya. Pria itu berdiri meninggalkan singgasananya dan berjalan ke arah Xavier. Xavier memperhatikan pria yang bahkan berjalan saja terlihat susah.
“Bos besar. Jangan seperti ini, Makanan yang Anda pesan akan datang sebentar lagi. Bagaimana jika saya berikan makanan ini gratis hari ini. Silakan Anda duduk kembali," ujar pemilik restoran dengan wajahnya yang sungkan ketakutan. Xavier hanya mengamatinya dengan tatapan tajam dan diamnya.
“Diam lah!” ujar Pria itu mendorong tubuh pemilik restoran hingga pemilik itu terjungkang jatuh. Xavier melihat itu semua dengan wajahnya yang datar. "Kau pikir kau siapa memandangku seperti itu? Hajar dia!"
Xavier menarik napasnya memindahkan pandangannya ke arah pria yang mencoba untuk melayangkan sebuah pukulan pada wajahnya. Dengan cepat dia menangkapnya dan menendang pria itu hingga dia terpelanting. Penjaga yang lain tak buang-buang waktu dan segera menyerang Xavier. Bersamaan dengan itu semua orang di restoran itu berteriak ketakutan.
Graciella masih duduk dengan manis saat dia melihat seorang pria terbang keluar dan tersungkur jatuh. Matanya membesar sempurna ketika melihat hal itu. Tiba-tiba pria lain pun terlempar keluar. Greciella jadi menegakkan tubuhnya. Xavier?
Graciella langsung membuka pintu mobilnya. Berjalan secepat yang dia bisa dan saat dia baru saja ingin masuk ke dalam restoran. Tiba-tiba Xavier muncul sambil menarik baju dari pria tambun itu. Jantung Graciella hampir meloncat keluar karenanya. Apalagi dia lihat pria itu menatap ke arahnya. Dia juga tampak kaget melihat Graciella.
"Lain kali, jika kau melihat wanitaku Jangan pernah berani menyentuhnya bahkan seujung kuku! Mengerti!" ujar Xavier.
Deg!
Kata wanitaku yang jelas di dengar oleh Gracilla membuat jantungnya berdebar begitu kencang. Diakui begitu membuat Graciella benar-benar tersentuh.
"Baik-baik! bisa tolong lepaskan aku!" pintanya sedikit memelas. Xavier mendorong tubuhnya hingga terjatuh. Pria tambun itu langsung pergi tunggang langgang dari sana.
Graciella melihat ke arah dalam restoran yang cukup berantakan bagian depannya. Pemilik restoran itu tamapk takut sekaligus bingung harus apa. Xavier mendekatinya.
"Aku akan mengganti semua kerugiannya, hubungi saja nomor ini. Katakan saja berapa yang kau butuhkan." Xavier menyerahkan sebuah kartu untuk pemilik yang langsung menampakkan secercah harapan di wajahnya.
"Baik Tuan, Terima kasih. Tuan, Nona, ini makanan Anda." Pemilik restoran itu menyerahkan makanan pada Xavier. Graciella yang masih syok dengan apa yang terjadi terdiam di depan pintu restoran itu. Xavier melihatnya dan segera merangkul pinggang Greciella yang ikut saja ke arah mobil mereka.
"Kenapa kau menghajar mereka?" Tanya Graciella ketika mereka sudah di dalam mobil.
"Mereka yang memulainya. Lagi pula aku masih tidak senang dia pernah memelukmu. Apa lagi yang pernah dia lakukan?" Tanya Xavier sambil mulai melajukan mobilnya.
Graciella memegang telinganya. Rasanya masih merinding ketika pria itu menjilat telinganya. Tapi dia rasa Xavier tidak perlu tentang itu. Dia takut pria ini malah akan memburu pria tambun itu. "Tidak ada."
"Baiklah, kita pulang. Supmu nanti dingin."
...****************...