Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 21. Setiap orang punya kisah sedihnya masing-masing.


Pagi bergulir cepat menjadi siang. Graciella menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.58. Sebentar lagi Fredy akan menjemputnya. Dia ingin menyerahkan uang yang sudah dia pinjam dari Laura sehingga dia bebas dan tidak perlu menemui Xavier lagi.


“Dokter Graciella,” suara seorang perawat mengagetkan Graciella.


“Ya?” tanya Graciella cepat.


“Seseorang ingin menemui Anda, katanya beliau ingin menjemput Anda," ujar perawat itu lagi.


“Benarkah? di mana dia?” tanya Graciella buru-buru bangkit. Dia segera membawa ponselnya. Dia akan mengirimkan uang itu dengan internet banking.


“Di depan.”


“Oh, baiklah, terima kasih.” Graciella segera berdiri. Melihat ke arah jam sekali lagi, sudah pukul satu pas. Tepat waktu sekali.


Graciella membuka pintu ganda berkaca buram dari IGD itu. Dia segera mencari sosok Fredy di antara parkiran yang cukup luas. Karena seragam tentara yang cukup mencolok, dia bisa menemukannya dengan cepat.


“Dokter Graciella, selamat siang.” Fredy cepat mendekati dan menyapa Graciella.


“Selamat siang. Tuan ….”


“Maaf, Dokter, panggil saja Fredy,” sela Fredy. Masa wanita komandannya memanggil dirinya Tuan.


“Oh, iya, Fredy. Ehm … aku sudah mendapatkan uangnya.” Graciella tersenyum agak lebar.


Fredy mengerutkan dahinya. Tak ada dalam perintah komandannya yang menyebutkan akan menerima uang dari Graciella. Dia hanya diminta menjemput Graciella.


“Maksud Anda?” tanya Fredy bingung. Salah melakukan tindakan. Dia bisa dihukum oleh komandannya.


“Ya. Komandan Anda mengatakan jika aku tidak ikut dengannya. Aku harus membayar empat kali lipat dari uang yang dia keluarkan kemarin. Aku sudah mendapatkan uangnya.” Graciella tersenyum manis.


“Eh? Tapi saya tidak diperintahkan untuk mengambil uang dari Anda.”


Graciella menggigit bibirnya mendengar penjelasan dari Fredy. “Bisakah kau melaporkannya dulu ke Komandan?” tanya Graciella.


“Baiklah, saya akan menelepon Beliau.” Fredy segera mengambil ponselnya dan menelepon Xavier. Graciella melihat itu malah menjadi harap-harap cemas. Fredy segera melaporkan apa yang dikatakan oleh Graciella. “Dokter, Komandan ingin berbicara dengan Anda.” Fredy menyodorkan ponselnya pada Graciella.


Graciella sedikit kaget dan ragu, tapi dia segera mengambil ponsel itu.


“Halo?” ujar Graciella.


“Apa uang itu dari suamimu?” nada suara Xavier terdengar tak senang.


“Eh … Bukannya yang penting aku sudah mendapatkan uangnya?” tanya Graciella.


“Kau ini maunya apa sih? Kenapa begitu memaksa? Aku sudah mendapatkan uangnya, untuk apa harus tahu dari mana asalnya? lagi pula apa hubungan kita?” suara Graciella terdengar sangat kesal. Fredy yang berdiri di depannya pun sedikit kaget. Bagaiman bisa Graciella mengatakan kata ‘Kau’ pada Xavier.


“Aku sudah bilang aku tidak butuh uangmu. Jika memang mau membayarnya dengan uang. Uang itu harus dari suamimu. Aku tidak terima uangmu.”


“Ah!  kau menyebalkan!” ujar Graciella begitu geram dengan Xavier. Pria ini benar-benar pemaksa.


“Ikut dengan Fredy sekarang. Aku sudah menunggumu! Jangan meragukanku, Graciella. Yakinlah aku bisa melakukannya.” Ancam Xavier lagi. Graciella menekan kedua bibirnya karena geram. Dia juga mengepalkan tangannya keras. Pria ini! ah! tak tahu lagi bagaimana Graciella bisa mengutarakan perasaannya sekarang. Sangat keras kepala!


“Iya! Iya! Aku ikut dengannya, Kau sudah senang!” kata Graciella dengan nada sedikit keras. Mendengar suara marah Graciella entah kenapa membuat Xavier menaikkan sudut bibirnya. Graciella tidak menunggu jawaban dari Xavier dan langsung mematikan ponselnya dan menyodorkannya pada Fredy yang hanya tampak bingung harus bagaimana.


“Di mana mobilnya?” ketus Graciella. Fredy jadi kena getahnya.


“Tunggu di sini Dokter, aku akan membawa mobilnya ke mari.”


“Baiklah!” ujar Graciella melipat kedua tangannya di depan dada. Emosinya naik gara-gara Xavier. Susah payah dia meminjam uang itu dari Laura. Malah pria itu tidak ingin menerimanya. Apa sih maunya pria itu?


Graciella hanya bertampang masam duduk di jok belakang mobil milik Xavier. Fredy hanya memperhatikannya dari kaca spion tengah. Sepertinya suasana hati Graciella benar-benar tidak bagus.


“Dokter, apakah Anda ingin sesuatu?” tanya Fredy mencoba memperbaiki mood Graciella. Komandannya pasti tidak suka melihat Graciella berwajah bertekuk seperti itu.


“Tidak. Aku tidak butuh apa-apa. Fredy! Kenapa komandanmu itu menyebalkan sekali?” tanya Graciella masih ingin menuntaskan emosinya. Dia tahu dia tak akan bisa menumpahkannya jika sudah di depan Xavier.


Fredy menekuk alisnya lalu tersenyum manis sejenak. Graciella yang melihat senyuman manis itu dari pantulan spion langsung bertampang heran. Kenapa malah tersenyum?


“Maafkan kelakukan dari Komandan Xavier, Dokter Graciella. Komandan sudah lama tidak dekat dengan seorang wanita. Lagi pula dari dulu Komandan memang seperti itu. Dia anak satu-satunya, jika punya keinginan tak ada yang bisa melarangnya. Bahkan kedua orang tuanya saja tidak bisa mencegah apa yang diingkan oleh Komandan. Saya saja sedikit terkejut, Komandan bisa kembali dekat dengan wanita. Saya kira dia akan melajang seumur hidup setelah kekasihnya meninggal dunia.” Fredi menjelaskannya dengan sangat lembut.


Graciella yang tadinya penuh emosinya langsung terdiam. Bahunya yang tegang terangkat menjadi turun seketika mendengarkan penjelasan Fredy. Kekasih Xavier meninggal?


“Eh? Kekasihnya meninggal dunia?” tanya Graciella yang menjadi penasaran.


“Ya. Nona Malagha. Dulu saat Komandan berpangkat Kapten, beliau diutus ke negara timur yang sedang dilanda perang sebagai pasukan perdamaian dari negara kita. Di sana beliau bertemu dengan seorang wanita. Wanita itu berhasil mencuri perhatian dan juga membuat Komandan jatuh cinta. Dengan susah payah, komandan berhasil membawa Nona Malagha ke negara ini. Mereka sudah berencana menikah.” Fredy hingga memutar badannya ke belakang untuk menceritakan hal ini.


“Lalu?” tanya Graciella penasaran sekali.


“Saat Nona Malagha pergi untuk mencari sesuatu. Dia tak ingin dikawal oleh siapa pun, katanya dia ingin menikmati kota yang tenang, berbeda dengan kotanya. Komandan menyetujuinya karena ada beberapa tugas yang dia tak bisa tinggalkan. Tapi, hingga malam hari Nona Malagha tidak pulang. Dan saat dia mencari tahu keberadaan Nona Malagha. Dia menemukan Nona Malagha sudah terbujur kaku di kamar mayat sebuah rumah sakit dengan 7 tusukan. Sejak itu Komandan menjadi lebih dingin dan juga tidak pernah tersenyum lagi. Dia menjadi lebih keras dari biasanya. Bahkan sejak itu dia tak pernah lagi ingin kembali bertemu orang tuanya yang dari awal tak menyetujui hubungan mereka.”


Graciella mendengar itu terdiam. Dia tidak menyangka bahwa di balik pria dingin dan keras kepala itu tersimpan kisah hidup yang begitu menyakitkan. Pasti Xavier begitu mencintai Malagha hingga rela membawanya ke negara ini dan berharap menikahinya. Graciella menjadi simpati padanya.


“Jadi Dokter, maafkan jika Komandan bersikap begitu pada Anda,” ujar Fredy lagi dengan senyum tipis.


“Ya, aku mengerti," ujar Graciella memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ternyata semua orang punya cerita sedih mereka masing-masing.