Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
bab 95


"Halo?" tanya Graciella dengan nada hati-hati.


 


 


"Bukannya aku sudah mengatakan padamu untuk tidak berdekatan dengan Xavier! Kenapa kau keras kepala sekali, Graciella!" suara yang sangat dikenal oleh Graciella langsung terdengar. Graciella langsung membesarkan matanya.


 


 


"Bagaimana kau tahu nomor ponselku?" Tanya Graciella lagi. Padahal ini adalah nomor barunya. Tapi bagaimana Adrean bisa mendapatkannya.


 


 


"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku mendapatkannya. Aku hanya ingin menagih janjimu untuk tidak berdekatan dengan Xavier!" ujar Adrean dengan tangan mengepal. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Dia tidak mungkin lagi menunjukkan sikap untuk melindungi Graciella secara terang-terangan lagi. Jika Kakeknya tahu tentang itu pastilah dia akan menutup akses Adrean agar tidak bisa mengetahui rencana apa yang akan mereka lakukan pada Graciella dan Moira.


 


 


Sekarang dia harus berpura-pura tak punya hubungan apapun lagi dan tidak peduli dengan Graciella agar kakeknya percaya padanya. Dia juga harus mengikuti semua keinginan kakeknya agar dia tetap bisa dipercaya.


 


 


"Aku tidak pernah berjanji apapun padamu," ujar Graciella dengan tegas. Tentu saja dia merasa Adrean melakukannya hanya karena dia tak suka Graciella mendapatkan pria yang lebih baik dari pada Adrean.


 


 


"Graciella! Aku tidak bermain-main dengan permintaanku saat bercerai denganmu kemarin. Lebih baik kau cepat menjauh darinya atau aku akan melakukannya!" kata Adrean.


 


 


"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Graciella. Melihat kedekatan Moira dan Xavier tadi, mana mungkin dia tega memisahkan ayah dan anak ini.


 


 


Adrean menggertakkan rahangnya kuat. Dia juga mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya. Sial! mana mungkin dia akan mengatakan bahwa dia takut bahwa kakeknya akan melakukan sesuatu jika Graciella berdekatan dengan Xavier. Bagi  kakeknya Xavier adalah tambang emas. Sekali Xavier menjadi presiden, maka kakeknya akan bisa berkuasa di atas segalanya.


 


"Ikuti saja apa perkataanku! Atau kau akan menyesal!" Tegas Adrean yang tak tahu harus bagaimana lagi.


Graciella mengerutkan dahinya. Baginya ancaman seperti ini sering sekali terlontar dari bibir Adrean dan sekarang dia serasa kebal dengannya. Lagipula untuk apa Graciella memikirkannya, toh dia dan Adrean sudah tak punya hubungan apapun.


 


 


"Aku rasa aku harus mengingatkanmu, bahwa aku bukan lagi istrimu. Kau tidak bisa lagi mengancamku atau mengaturku, lebih baik kita urus hidup kita masing-masing."


"Greciella!!!" teriak Adrean tapi disambut dengan suara pemutusan dari panggilan itu. Sial sekali! Sekarang apa yang harus dia lakukan?


Graciella merasa tidak ada gunanya lagi dia melanjutkan pembicaraan ini. Graciella langsung memutuskan panggilannya dan mematikan ponselnya. Rasanya akan lebih aman dan tenteram tanpa ponsel itu. Dia yakin Adrean pasti meneleponnya kembali.


 


"Siapa?" suara berat itu terdengar. Graciella langsung kaget dan memalingkan wajahnya ke sumber suara. Xavier baru masuk ke dalam kamarnya dengan perlahan.


 


"Ehm, hanya panggilan tidak penting, aku akan melihat Moira," ujar Graciella yang sedikit salah tingkah. Xavier pasti marah jika tahu barusan saja dia berbicara dengan Adrean.


 


 


"Ada apa?" tanya Greciella yang melihat Xavier masih memandangi ponselnya dengan tajam. Dalam benak Greciella bertanya, apakah dia benar-benar sudah memastikan ponselnya mati? Jangan sampai Adrean kembali menelepon dan Xavier tahu. Dia hanya tak ingin ada keributan.


 


"Tidak. Bersiaplah, kita akan pulang ke tempatku," ujar Xavier dengan wajahnya yang datar.


"Ke tempatmu? apa tidak apa-apa?" tanya Graciella yang berpikir Xavier mengajaknya ke markas militer.


 


"Untuk saat ini kalian belum bisa tinggal di markas militer, tapi aku akan membawa kalian ke rumah pribadiku. Kita sudah lama merepotkan Stevan," ujar Xavier lagi wajahnya masih datar.


 


Mendengar itu Graciella merasa masuk akal. Tidak mungkin selamanya akan tinggal di rumah ini. Bagaimana pun ini adalah rumah Stevan dan mereka tak ada sangkut pautnya dengan Stevan.


 


"Baiklah, aku akan segera bersiap," ujar Graciella.


 


Xavier hanya mengangguk kecil, disempatkannya melirik kembali ponsel Graciella sebelum pergi keluar. Graciella hanya mengulum bibirnya, apakah dia harus mengatakan pada Xavier bahwa yang tadi menghubunginya adalah Adrean, tapi Graciella sudah terlanjur mengatakan bahwa itu adalah panggilan yang tak penting.


********


 


 


Graciella meletakkan tubuh mungil Moira di atas tempat tidur dengan hati-hati. Dia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya. Tadi siang mereka sudah pindah ke rumah pribadi Xavier. Xavier langsung meminta izin untuk melakukan beberapa pekerjaannya yang langsung dia kerjakan bersama dengan Fredy dan beberapa orang bawahan Xavier. Hingga malam ini mereka belum juga selesai mengerjakan pekerjaan mereka.


 


Graciella mencium sejenak dahi Moira yang sedikit menaikkan sudut bibirnya walaupun matanya sudah tertutup rapat. Graciella memutuskan untuk membersihkan dirinya, dia menggosok gigi dan tidak lupa untuk mencuci wajahnya. Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian tidur yang memang dia bawa ke dalam kamar mandi, Graciella langsung segera keluar dari kamar mandi dan langsung kaget melihat Xavier sudah berbaring mendekap Moira. Kapan pria ini masuk ke dalam kamar? kenapa Graciella sama sekali tidak mendengarnya masuk? Apakah dia akan tidur di sini malam ini?


 


Graciella memandang wajah Xavier. Matanya sudah tertutup sempurna dan napasnya tampak teratur. Sepertinya pria itu sudah tertidur lelap. Graciella jadi tak enak untuk membangunkan Xavier. Mungkin saja Xavier kelelahan dengan begitu banyak pekerjaan yang dia harus selesaikan hari ini. Menumpuk karena beberapa hari dia tidak bisa mengerjakannya.


 


 


Graciella duduk di sisi ranjang yang satunya. Xavier dan Moira sama sekali tidak terusik dengan kedatangannya. Graciella perlahan berbaring dan memiringkan tubuhnya, sekali lagi mengamati wajah Xavier yang tampak damai, jika dia tertidur seperti ini entah kenapa terlihat begitu menarik. Mungkin karena wajahnya tak lagi terlihat keras, biasanya sorot matanya itu begitu tajam dan juga menghanyutkan.


Graciella ingin segera menutup matanya tapi rasanya begitu susah, seumur hidupnya dia tidak pernah tidur seranjang dengan seorang pria, sekarang harus tidur menatap wajah yang begitu tampan itu, membuat Graciella malah tak ingin menutup matanya.


 


“Ingin terus memperhatikanku?” tanya Xavier membuka matanya perlahan. Memperlihatkan bola mata yang kelam sekelam langit malam ini. Graciella yang tertangkap basah menatap ke arah Xavier membesarkan matanya.


 


“Aku kira kau sudah tidur,” ujar Graciella kaget.


“Tidak, hanya ingin mengistirahatkan tubuh  ada beberapa hal yang harus aku lakukan lagi nanti,” ujar Xavier.


 


“Ini sudah larut, tidak bisa besok pagi saja?” tanya Graciella. Kenapa harus mengerjakan tugas malam-malam begini. Xavier baru saja terluka tentu perlu istirahat yang cukup untuk membuat kondisinya membaik.


 


 


“Kenapa? Kau ingin tidur denganku?” tanya Xavier dengan nada yang sedikit menggoda. Graciella mendengar itu langsung membesarkan matanya, kaget dengan godaan Xavier, pipinya seketika panas bersamaan dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat, wajahnya sekarang pasti seperti udang rebus. Graciella ingin menutupi wajahnya, tapi jika seperti itu pastinya akan terlihat dia sangat salah tingkah karena kata-kata spontan


Xavier jadi dia hanya menggigit bibirnya.