
"Sudah siap Komandan!" Fredy segera melaporkan.
Xavier langsung berdiri dan dengan perlahan mencoba menggendong wanita yang masih tak sadarkan diri di depannya. Seperti tak merasakan berat, Xavier segera berjalan dengan entengnya dengan Graciella di dalam gendongannya.
Di sisi ruangan yang lain ....
Rose tak pernah membuang pandangannya pada Graciella. Tadi dia cukup kaget melihat Graciella yang tampak emosional. Dia yakin wanita itu sudah kehilangan kewarasannya.
Tapi ada satu yang menggelitik rasa ingin tahu Rose. Siapa pria yang ada bersama Graciella sekarang. Melihat siluetnya, pria itu punya badan yang bagus dan tentunya punya kantong yang bagus pula. Bagaimana tidak, dia menggelontorkan $5000 hanya untuk duduk dengan Graciella.
Namun rasa penasarannya tak bisa terbayarkan. Dua orang penjaga bertubuh tegap membatasi wilayahnya untuk dimasuki siapa pun. Itu belum termasuk pria yang tadi menjadi perantaranya. Siapa pria itu hingga harus dikawal seperti ini.
Rose menyipitkan matanya ketika melihat pria itu berdiri dan mendekati Graciella yang sudah tampak mabuk. Rose sudah tak tahan lagi untuk mendekati mereka saat pria itu mulai menggendong Graciella dan berjalan keluar. Selagi para penjaga sedikit lengah karena mengawal pria itu keluar. Rose langsung memfotonya.
Sial! saat dia melakukannya. Flash lampu dari ponselnya menyala. Rose membesarkan matanya kaget ketika pria itu berhenti dan meliriknya.
"Bereskan!" Xavier memerintah Fredy. Fredy mengangguk mengerti. Dengan hanya gesturnya, Fredy memerintahkan dua pengawal yang mereka bawa untuk mengurus Rose. Sedangkan Fredy tetap mengikuti Xavier keluar membawa Graciella.
"Nona! dilarang memfoto. Saya minta ponsel Anda." minta salah satu dari penjaga itu. Wajah mereka tak bersahabat membuat Rose sedikit takut.
"Serahkan saja, atau nanti mereka akan menahan mu!" ujar Laura tiba-tiba ada di belakang Rose. Rose tentu kaget.
Melihat kelengahan Rose. Salah satu pengawal langsung menghapus foto yang hasilnya tetap saja remang dan goyang. Setelah menghapusnya mereka menyerahkan kembali ponsel itu dan langsung pergi begitu saja..
Rose tentu kesal. Tadinya dia ingin bukti untuk Adrean. Dia ingin melaporkan kelakuan istrinya. Dia tahu pasti Adrean akan marah besar lalu kembali memberi pelajaran pada Graciella seperti biasa. Tapi ... Ah! dia sudah tak punya bukti. Namun, mungkin Adrean masih mau mendengar katanya. Mudah-mudahan dia percaya walau tanpa adanya bukti. Rose menaikkan satu sudut bibirnya dan langsung melenggang pergi menelepon Adrean.
...****************...
Xavier menatap diam wanita yang sekarang tak sadarkan diri di sampingnya. Mereka sudah meninggalkan area diskotik. Xavier lalu sedikit memperbaiki posisi Graciella agar dia tampak lebih nyaman.
Kepala Graciella diposisikannya agar nyaman bersandar pada kursi belakang mobilnya. Saat inilah Xavier bisa melihat dengan dekat dan jelas wajah Graciella yang sesekali tertimpa lampu putih jalanan. Cantik dengan pipi putih mulus. Bulu matanya yang tebal dan lentik bahkan begitu indah saat tertutup. Hidung mancung dan bibirnya yang senatural warna buah persik.
Mata Xavier tertuju pada sebuah warna lebam yang kontras dengan kulit putih Graciella. Sobekan luka kecil ada di sudut bibirnya. Tadi siang saat mereka makan siang, Graciella tak terlalu bisa membuka mulutnya. Senyumnya kaku bagai tertahan. Apakah ini yang dia tahan dan sembunyikan?
Entah kenapa, tiba-tiba saja ada keinginan menyentuh luka itu. Mengusapnya seolah ingin menghilangkan rasa sakitnya. Namun, sentuhan itu membuat Graciella menggeliat. Perlahan kelopak matanya terbuka. Matanya masih menerawang. Xavier sedikit kaget.
Fredy memperhatikan itu semua dari kaca spion tengah mobil. Dia mengerutkan dahi sekaligus sedikit senang. Sudah bertahun menjadi ajudan pribadi Xavier. Dia tak pernah melihat Xavier bahkan menegur seorang wanita. Melihat Xavier dekat dengan Graciella, rasa senangnya muncul.
"Komandan, haruskah kita berhenti?" ujar Fredy yang melihat Graciella mulai bangun.
Xavier melirik begitu tajam pada Fredy melalui pantulan kaca spion. Fredy yang melihat itu langsung mengerti. Dia dengan cepat memposisikan kaca spion tengah itu ke arah bawah. Dia tahu Xavier tak ingin diawasi.
"Ke markas saja." Suara Xavier terdengar.
"Siap komandan!" ujar Fredy. Jujur penasaran dengan apa yang terjadi di sana tapi dia tak berani memalingkan wajah barang sedikit saja. Hal ini membuat lehernya kaku.
Graciella menatap ke arah Xavier. Wajahnya tampak lebih manja dari pada tadi. Menatap Xavier seolah menganalisa.
Xavier diam, tapi dia hanya mengangguk.
"Aku senang kau menyentuhku." Graciella mengalungkan kedua tangannya ke leher Xavier. Membuat Xavier mengerutkan dahinya. Ingin melepaskan diri tapi wanita di depannya punya aura menggoda yang berbeda. Padahal dia selalu bisa menolak wanita-wanita yang mencoba merayunya.
"Cium aku," pinta Graciella tanpa sadarnya.
Xavier kaget. Matanya tertuju pada bibir mungil Graciella. Entah dia juga mabuk karena minum sedikit minuman keras atau memang bibir Graciella tampak begitu memikat. Dia bahkan tak kuasa menghindar ketika Graciella yang mendekatkan wajahnya.
Rasa kenyal itu langsung membuat Xavier membesarkan matanya. Manis dan lembut menyapu bibirnya. Aroma alkohol yang terasa bukannya menganggu malah menambah memabukkan. Entah kenapa rasanya familiar hingga membuat nyaman. Xavier tanpa sadarnya pun hanyut dalam permainan bibir yang diciptakan oleh Graciella.
Xavier spontan memindahkan tangannya ke belakang kepala Graciella. Menahan agar wanita itu tak melepaskan pautan mereka karena Graciella mulai kehabisan napas akibat Xavier. Sejujurnya Graciella bukanlah pencium yang handal. Gerakannya sangat kaku, mungkin sudah tiga tahun dia tak pernah mencium siapapun.
Xavier menjadi lebih ganas menikmati bibir Graciella yang benar-benar terasa manis olehnya. Dia pun sama, entah sudah berapa lama dia tak merasakan sensasi lembut ini. Xavier menyedot semua napas Graciella hingga Graciella kesulitan bernapas. Tak membiarkan sedikit pun bagian dari bibir Graciella terlewat olehnya. Bibirnya mulai terlihat merah dan bengkak akibat lu'matan Xavier.
Fredy yang duduk di kursi depan hanya melempar pandang dengan supir yang sama-sama tak berani melihat ke belakang. Takut tertangkap basah dan dihukum. Tapi suara yang diciptakan di kursi belakang itu sangat menggugah rasa ingin tahu mereka yang sebisa mungkin keduanya tahan. Fredy hanya bisa menelan ludahnya. Sepertinya dia harus mencari pengaman untuk Komandannya.
Xavier melepaskan pautan mereka. Melihat wajah Graciella yang bersemu merah. Matanya yang coklat tampak sayu mengundang. Engahan napas Graciella, entah kenapa begitu menggodanya. Mereka sama-sama dewasa bukan? tak ada masalah untuk melakukannya? lagipula Graciella miliknya selama dua jam ini. Xavier mulai berkompromi dengan akal sehatnya.
"Adrean?" kata-kata itu muncul dari bibir Graciella.
Xavier sadar seketika. Membuat turun gairahnya. Graciella tidak sadar bahwa itu adalah dirinya. Berani sekali dia mencium Xavier tapi menganggapnya orang lain. Xavier langsung memipihkan kedua bibirnya. Memandang wajah sayu di depannya, lalu mendorong Gracilella pelan agar kembali berbaring di kursinya.
"Tidurlah."
Graciella yang mabuk hanya berwajah tak ingin, tapi Xavier sudah menjauh darinya. Graciella hanya bertampang sedih. Baginya, Adrean tetap menolaknya. Perlahan, kepalanya yang pusing menuntunnya kembali sehingga tak sadarkan diri.
...----------------...
Haloha Kakak! Quin is here ( alay amat)
Jadi mau membalas beberapa komen, Yes aku baca semua komen dan memeriksanya setiap menit kayaknya. Sebagian udah dibalas. Jika belum maafkan saya.
*Thor! semoga dilanjut Ampe tamat di sini ya! Jawabnya Hooh! saya pastikan lanjut di sini. Ga dipindahkan. kalo saya berubah pikiran, santet online aja Othornya.
Sekalian saya mau minta maaf, ga bisa konsisten up jamnya berapa karena kesibukan RL dan debay yang ga bisa ditebak kapan tidurnya. WKwkkw.
Tapi saya usahakan setiap hari Up! dan minimal 1 Bab.
BTW, makasih untuk hadiahnya. Melihat antusiasnya pada kasih saya hadiah. Saya bakalan buat Giveaway! untuk juara 1-10, tenang nanti di umumkan sampai novelnya tamat.
Entar yang menang dapat sedikit kenang-kenangan dari saya.
Makasih semua kakak2! tinggalin komen ya! semangatku karena komen kalian.