Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 113.


Graciella menghabiskan waktu setahun untuk belajar bahasa dan hanya dalam waktu tiga tahun dia bisa menyelesaikan semuanya. Dia begitu handal dalam bidang studinya dan bahkan banyak membantu beberapa penyelidikan.


Dia juga sering diminta untuk mengikuti beberapa dosen dan profesornya untuk melakukan penyelidikan sebuah kasus. Karena kepintaran dan kerja kerasnya membantu dosen dan profesornya juga beberapa kali membantu FBI dalam penyelidikan, Graciella mendapatkan cukup banyak uang yang dia tabung untuk bekalnya kembali ke negeranya.


Ya, walaupun di Amerika, banyak orang yang mencoba untuk menahannnya atau merayunya agar tetap di sana dan masuk ke dalam lembaga mereka. Graciella tidak lupa akan kebaikan Daren yang sudah membukakan jalan baginya untuk bisa mengenal dunia penyelidik lebih dalam, dan nyatanya, Graciella lebih berminat dengan dunia penyelidik daripada profesinya sebelumnya.


Walaupun pribadi Graciella yang cukup tertutup, di sana dia mendapatkan cukup banyak teman-teman, terutama teman satu kelompok studinya di universitas itu. Saat ini Graciella sudah menyelesaikan semuanya, dia seharusnya langsung pulang ketika selesai di wisuda. Tapi Profesor yang selalu membantunya selama dalam pembelajaran meminta tolong agar Graciella menunda kepulangannya karena ada beberapa kasus penting yang sedang dia kerjakan. Graciella tentu meminta izin pada Daren dan pria yang benar-benar sudah menjadi seperti kakak pelindung bagi Graciella itu tentu mengizinkannya. Hidup Graciella yang sekarang lepas dari cinta, semuanya tampak begitu indah.


“Kau yakin ingin pulang minggu depan?” tanya Charlotte pada Graciella yang sedang menikmati membaca sebuah novel klasik berjudul ‘Pride and Prejudice,’ sudah lama dia ingin membacanya tapi belum sempat juga dia selesaikan. Kisah itu menceritakan tentang gadis yang tidak mau ditindas oleh siapa pun, walaupun nantinya dia akan menemukan cintanya dengan cara yang tidak biasa tapi tetap manis.


“Ya,” singkat Graciella sambil menutup bukunya yang sudah dia tandai dengan pembatas buku. Lalu menyeruput Latte panas, pesanannya.


“Ah, kenapa harus pulang, tinggal saja di sini, bukannya di sini lebih menyenangkan,” ujar Daniel, salah satu teman sekelasnya. Mereka sering berdiskusi.


“Bagaimana pun keluarga dan juga temanku banyak di sana, aku sudah meninggalkan mereka hampir lima tahun lamanya. Dan tetap saja, walau perantauan begitu menyenangkan, tanah kelahiran tentu punya kesan yang berbeda,” jelas Graciella.


Daniel menegakkan dan menyondongkan tubuhnya ke arah Graciella. Memandang wanita yang wajahnya tampak begitu cantik khas asia. Hanya sebuah bekas luka yang menganga di pipinya. Graciella tak pernah mau menceritakan kenapa dia memiliki luka itu. Dia akan selalu menjawab dengan sebuah candaan. Luka itu dia dapatkan saat dia berusaha menjadi seorang samurai. Tentu saja semua orang tak akan percaya dengan hal itu.


“Ada apa?” tanya Graciella menatap Daniel. Pria inggris dengan rambut coklat dan mata biru indah batu safir itu hanya menatapnya.


“Daniel pasti tidak rela jika kau pulang, dia akan sangat patah hati,” ujar Charlotte menyinggung tubuh Daniel yang duduk di sampingnya. Siapa pun di kelas tahu bahwa pria ini tergila-gila dengan Graciella bahkan sejak pertama kali mereka digabung dalam kelas kecil. Sayang sekali, menahlukan hati Graciella, diibaratkan lebih susah dari pada menahlukkan gunung Everest. Wanita ini sama sekali tidak menanggapi perasaan Daniel..


Graciella tersenyum tipis melihat mata teduh dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah Daniel ketika Charlotte menggodanya. “Datang saja ke sana jika kalian punya waktu. Aku akan senang membawa kalian berjalan-jalan dan mengenal negara ku dengan baik.”


“Benarkan? Kalau begitu aku akan segera menyusun jadwal agar aku bisa bertemu denganmu nanti di sana,” ujar Daniel semangat.


“Haha, lihatlah, dia sangat bersemangat. Tolong ajak aku juga ke sana jika kau pergi. Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya merasa aku butuh liburan dari sini setelah semua mayat dan pembunuhan yang sudah aku lihat,” ujar Charlotte.


“Jika kau ingin, katakan saja padaku, aku akan mengirim tiket untukmu,” ujar Graciella. Empat tahun ini Charlotte termasuk orang yang begitu banyak membantunya. Mulai dari kendala bahasa hingga kehidupan yang awalnya cukup sulit untuk Graciella beradaptasi. Hitung-hitung tiket itu untuk membalaskan budinya pada Charlotte.


“Benarkah? Okay! Kalau begitu aku akan segera melihat jadwalku! Ah! Graciella! Kau memang baik sekali!” ujar Charlotte tampak senang sekali sambil menyeruput coklat panasnya.


“Hei! Teman-teman! Graciella!” ujar Bruce yang tiba-tiba saja datang dan mengagetkan mereka dengan wajahnya yang penuh dengan semangat. Mereka memang menunggu pria ini dari tadi. Tak tahu dari mana, tapi pria amerika dengan mata coklat dan rambut pirang ini tampak begitu antusias. Dia bahkan tak melepaskan mantelnya.


“Ada apa?” tanya Graciella kaget namanya spesifik dipanggil oleh Bruce.


“Ada kasus baru dari Profesor Callahan. Dan dia memintaku untuk mencarimu, dia sudah menghubungimu dari tadi tapi tidak tersambung,” ujar Bruce menatap Graciella.


“Ponselku kehabisan baterai.” Graciella menunjukkan ponselnya yang padam.


“Dan, seperti biasa! Nona Graciella ini tidak ingin mengisi daya ponselnya selain di rumahnya.” Charlotte langsung menyeletuk. Memang sebuah sifat aneh dari Graciella. Dia hanya ingin mengisi ulang daya baterainya jika sudah sampai di rumah. Dia beranggapan jika baterai ponselnya sudah habis di luar rumah. Itu artinya dia sangat sering bermain ponselnya, jadi jika ponselnya mati, itu adalah batasan baginya sehingga dia tidak ingin mengisinya lagi.


“Kenapa Profesor Callahan memintaku?” tanya Graciella. Profesornya yang satu ini belum pernah memintanya untuk membantu menangani sebuah kasus. Bisa dibilang, Profesornya ini lebih memilih orang-orang Amerika dan Inggris yang menangani kasus bersama dengannya. Jika dibilang rasis, ya, sedikit rasis.


“Karena, korbannya adalah orang dari negaramu,” kata Bruce dengan mata berbinar menatap Graciella.


“Ya, namanya adalah Nyonya Hana Qing, dia menikah dengan seorang pria berkewargaan Amerika yang sangat kaya selama 25 tahun. Kemarin malam saat dia bersama teman-teman sosialitanya sedang menikmati waktu bersama di salah satu villa mewah milik mereka, dia ditemukan tewas hanya dalam waktu 3 menit saat lampu padam. Semua orang kaget ketika melihat tubuh Nyonya Hana sudah tergeletak dengan jarum suntik yang menancap di lehernya. Dia masih hidup, tapi tak lama dia kehilangan nyawa. Ada empat orang di dalam ruangan itu dan semua orang punya kesempatan untuk menancapkan jarum suntik itu pada Nyonya Hana Qing.” Bruce menceritakan garis besar dari kasus itu. Graciella mendengarkan kasus itu dengan seksama.


“Menarik sekali, pembunuhan yang sangat berani.” Daniel menganalisa. Graciella hanya diam, menyimpulkan suatu kasus langsung seperti ini tidak baik. Kita harus mengetahuinya lebih dalam lagi.


“Bagaimana Graciella? Apakah kau tertarik? Jika ya, aku akan menghubungi Profesor Callahan.” Bruce sangat semangat. Dia tahu bagaimana Graciella biasanya bisa berpikir diluar kebiasaan orang-orang.


“Sepertinya kasus ini cocok denganmu Graciella, lebih baik kau mengambilnya. Profesor Callahan juga bisa memberikan rekomendasi yang bagus jika kau berhasil membantunya,” ujar Daniel lagi lembut, mencoba merayu Graciella.


Graciella mengerutkan dahinya. Masih ada waktu untuk satu lagi kasus sebelum dia pulang minggu depan.


“Baiklah, aku ikut,” ujar Graciella.


“Yes! Aku akan menelepon Prof. Callahan,” ujar Bruce terlonjak senang. Melihat tingkah Bruce Graciella, Daniel dan Charlotte hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala.


...****************...


Graciella baru saja tiba di villa kejadian perkara bersama dengan Bruce dan juga Professor Callahan. Saat Mereka sedang di periksa untuk masuk ke dalam rumah itu. Sebuah mobil BMW X7 berwarna hitam berhenti di depan villa itu.


Graciella menatap ke arah mobil, melihat dua orang pria yang duduk di depan segera turun dan membukakan pintu untuk orang yang duduk di belakang.


Pintu belakang mobil itu segera terbuka. Menunjukkan sosok seorang pria dengan setelan jas body fit berwarna hitam. Dari estetik, pria itu sungguh menarik. Matanya yang tajam tiba-tiba saja mengarah ke arah Graciella yang langsung kaget. Serasa tertangkap basah karena memandangi pria itu.


Tapi pria itu lekas membuang pandangannya dan berjalan cepat masuk ke rumah itu melewati tim Profesor Callahan.


"Pria itu sepertinya adalah saudara wanita yang dibunuh. Aku dengar dia adalah seorang Jenderal tinggi di negaramu, apa kau kenal?" tanya Bruce.


Graciella memutar matanya beralih pada Bruce. "Tidak semua orang aku kenal, Bruce, memangnya kau kenal siapa jenderal tinggi di Amerika?"


Bruce menyengir kuda sambil menggaruk belakang kepalanya. "Tidak juga."


"Ayo masuk," kata Prof. Callahan.


Graciella dan Bruce segera mengikuti Prof. Callahan menuju ke tempat kejadian, di ruang tengah rumah megah itu.


"Selamat datang Jendral Xavier!" suara itu kembali mengalihkan Graciella melihat seseorang menyapa pria yang tadi datang bersamaan dengan mereka.


...****************...


Maaf kakak, lama ya upnya ya kak.


Soalnya saya harus pindahan, jadi heboh pindahannya. Banyak urusannya. maaf ya kak