
Graciella keluar dari apartemennya yang selama empat tahun ini dia tempati. Dengan menggunakan kemeja putih dan juga celana kerja. Graciella segera berjalan menuju ke arah pemberhentian bus yang ada di dekat apartemennya.
“Nona Graciella! apa kabarmu? aku dengar kau akan pulang minggu depan?” tanya salah satu ibu-ibu penghuni dari apartemen yang baru saja pulang bekerja.
“Nyonya Smith, ya, aku akan pulang minggu depan. Ini ada susu untuk Anda.” Graciella menyodorkan salah satu dari dua buah susu yang memang sengaja dibawa oleh Graciella. Dia memang sering berpapasan dengan nyonya Smith yang tinggal di lantai bawah apartemennya.
“Terima kasih Nona Graciella. Have a nice day," ujar Nyonya Smith yang tampak gembira setelah menerima susu dari Graciella, sehabis dia bekerja semalaman.
“Baiklah Nyonya Smith,” ujar Graciella segera kembali melanjutkan perjalanannya menuju pemberhentian bus.
Namun, baru beberapa langkah saja dia menuju ke sana. Langkah Graciella tiba-tiba terhenti ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di dekatnya. Kaca mobil itu dengan cepat di turunkan. Graciella yang penasaran melirik sedikit ke dalam mobil itu.
“Masuk,” kata Xavier yang lebih seperti perintah tak terbantahkan dari pada sebuah permintaan. Graceilla mengerutkan dahinya. Kemarin pria ini pergi begitu saja tanpa mengatakan alasannya. Lalu pagi ini dia datang begitu saja, tanpa basa basi meminta Graciella masuk ke dalam mobilnya. Memangnya dia pikir Graciella wanita apa yang bisa dengan mudah pergi dengannya?
"Kenapa aku harus ikut denganmu? Aku naik bis saja. Aku sudah biasa pergi sendiri!" tolak Greciella. Dia hanya tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi selama perjalanan dengan pria ini di sebelahnya. Dia takut perasaan aneh itu muncul lagi.
"Masuk saja. Kita sudah ditunggu oleh kepala penyidik di kantor polisi. Jangan suka membuat orang menunggu." Ujar Xavier sedikit datar dan ketus.
Graciella mengerutkan dahinya. Pria ini kenapa sekarang kembali menyebalkan seperti saat dia bertemu dengannya kemarin. Sepertinya dia memang pria yang sangat tergantung dengan suasana hatinya.
“Masuk, apa kau tidak mengerti bahasa ku? Get in!” ujar Xavier lagi hanya melirik sedikit ke arah Graciella.
Graciella semakin mengerutkan wajahnya menunjukkan ekspresi kesalnya. “Baiklah, aku akan masuk, tapi aku akan duduk di depan!” ujar Graciella yang membuka pintu bagian depan mobil Xavier.
Xavier melihat itu tidak mengucapkan apa pun. Setelah duduk Graciella melihat pantulan pria dengan wajah dingin dengan kemeja putih dan celana hitam. Graciella sedikit kaget, kenapa hari ini mereka pakai baju yang sama?
Perjalanan ke kantor polisi begitu hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang saling menyapa atau mengatakan sesuatu. Graciella begitu sibuk dan fokus dengan apa yang ingin dia tanyakan pada Nona Riana nantinya.
Xavier diam-diam hanya memperhatikan wanita yang tak sedikit pun lagi melihat ke arah dirinya. Wajahnya yang serius begitu menggoda, kulit putihnya terpantul indah di bawah matahari.
Mobil itu akhirnya menepi di sebuah kantor polisi. Ketika sudah berhenti sempurna. Graciella menyiapkan semua barangnya dan segera turun. Begitu juga dengan Xavier.
Mata Bruce membesar ketika melihat Graciella dan juga Xavier turun bersamaan. Walaupun tidak duduk bersama tapi melihat Graciella datang dan satu mobil dengan Xavier tentu membuatnya kaget. Wanita ini dikenal sangat mandiri. Dia jarang sekali mau pergi dengan orang lain, bahkan ketika Bruce atau Daniel menawarinya tumpangan, dia pasti akan menolak. Tapi dengan pria ini? apa daya tarik pria ini?
“Selamat pagi?” ujar Graciella menyapa Bram yang malah salah fokus melihat Xavier yang berjalan dengan gayanya yang cukup terlihat angkuh melewati dan masuk ke dalam kantor polisi itu duluan. “Hei, Bruce? Good morning!” ulang Graciella.
“Hanya menumpang. Tidak lebih. Hotelnya dekat dengan apartemenku,” ujar Graciella mengarang. Padahal dia tidak tahu Xavier tinggal di mana.
“Ehm … walau aneh, tapi ya, baiklah. Mereka sudah menunggu. Profesor Callahan hari ini tidak mendampingi, dia meminta dipanggil jika kita sudah menemukan sesuatu,” ujar Bruce.
“Okay, ayo masuk.” Graciella berjalan mantap ke dalam kantor polisi yang entah sudah berapa kali dia masuki. Bahkan beberapa dari polisi itu sudah mengenalnya. Karena itu Graciella langsung melayangkan senyuman-senyuman untuk membalas sapaan mereka.
“Nona Graciella. Silakan masuk,” ujar salah satu polisi yang membukakan pintu masuk ke ruangan penyidik.
“Terima kasih,” ujar Graciella.
Graciella masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar, mungkin hanya sekitar 3 x 4 meter, bercat krim bersih dengan meja dan juga kursi di tengahnya. Ada sebuah kaca besar di dindingnya yang berfungsi menjadi cermin dua arah. Bruce, Xavier dan yang lain sudah pasti mengamati dari sana.
Suara berdecit terdengar ketika Graciella menarik kursi besi di sana. Graciella dengan teratur meletakkan barang-barangnya ke atas meja. Xavier yang berdiri di balik cermin dua arah itu terus menatap wanitanya. Memandangnya dengan penuh perasaan, bahkan siapa pun yang melihat tatapan itu tahu bahwa Xavier memendam rasa pada Graciella.
“Isn’t she beautiful?” tanya Bruce yang memang sengaja berdiri di samping Xavier. Xavier bergeming, hanya lirikan mata singkat ke arah Bruce.
“Hmm ….” gumam Xavier sebagai jawaban.
“Apa kau menyukainya?” tanya Bruce yang mencoba untuk akrab dengan pria dingin di sampingnya. Aura yang dia pancarian seolah menolak siapa pun berdekatan dengannya.
Xavier kembali bergeming. Dia hanya menarik napas dan mengubah gayanya. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Tak punya minta sedikit pun untuk menjawab pertanyaan dari Bruce. Tak mendapatkan jawaban. Bruce hanya menggoyangkan bibirnya. Pandangan mereka berdua kembali fokus ke arah Graciella.
“Kalau kau menyukainya, kau harus berusaha, banyak pria yang …. “ ujar Bruce yang seperti memberikan nasehat pada Xavier. Empat tahun mengenal Graciella tentu Bruce merasa dia benar-benar mengenal Graciella.
“Aku dan dia sudah bersama sepanjang malam ini, bagaimana menurutmu?” ujar Xavier melirik ke arah Bruce.
Bruce membesarkan matanya kaget. “Kau dan Graciella? Berdua? Semalaman?” tanya Bruce tak percaya? Bagaimana bisa Graciella dan pria ini bersama? “Are you serious?” tanya Bruce lagi masih tidak percaya.
Xavier hanya mengangguk dengan wajahnya yang serius dan langsung membungkam Bruce. Di negara itu, pria dan wanita menghabiskan malam bersama, walaupun tak punya ikatan, semua orang pasti tahu apa yang mereka lakukan. Tapi Bruce tidak bisa membayangkannya, bagaimana bisa Graciella bisa menerima pria ini, padahal sudah empat tahun ini Graciella bahkan tak ingin berdekatan dengan pria mana pun.
Bruce langsung tak bisa lagi berkata-kata dan hanya melihat ke arah depan, menatap Graciella yang berdiri menyambut Riana yang baru saja dibawa masuk ke dalam ruangan interogasi.