Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 190. Sepertinya itu kesalahpahaman.


Graciella melihat itu hanya tersenyum tipis. Dia melihat ke arah Xavier yang menunggunya di depan mobil mereka. Siap menyambut Graciella dan putrinya.


Graciella menggigit bibirnya. Melihat putrinya yang menangis begitu sedih. Tapi dia mencoba untuk menahannya mungkin karena tak ingin membuat mama dan papanya merasa tak enak. Karena mencoba untuk menahan tangisnya sehingga dia tampak kesulitan bernapas hingga terkadang tubuhnya tersentak karena menarik napasnya.


Graciella tiba-tiba saja berhenti. Hal itu membuat Xavier mengerutkan dahinya dan segera menganggukkan kepalanya. Moira yang melihat itu segera menatap mamanya. Graciella segera berjongkok agar bisa menyamakan tingginya dengan Moira. Dia melihat anaknya yang matanya sudah bengkak dan sembab. Graciella mengelus lembut pipinya dan menghapus pelan air mata yang berbutir turun. Tampak sangat kesedihan yang mendalam.


“Moira senang tinggal di sini?” tanya Graciella menatap lembut ke arah putrinya.


Tanpa pikir panjang Moira langsung mengangguk keras. Dia menghapus air matanya keras. Graciella mendapatkan jawaban itu tersenyum.


“Moira, Moira sayang papa dan mama?” tanya Graciella lagi.


“Sayang. Kaoru sayang Mama dan Papa.”


“Jadi jika Kaoru tinggal di sini, Apakah Kaoru akan melupakan Mama dan Papa?” tanya Graciella yang menahan tangisnya. Xavier mendekati mereka mendengarkan apa yang Graciella dan juga Moira sedang bicarakan.


“Tidak.” Moira menggelengkan kepalanya kuat. Menerbangkan rambutnya yang indah ke udara. “ Kaoru akan terus ingat dengan Papa dan Mama!” ujar Moira dengan lantang.


Graciella mendengar itu sedikit tersenyum menahan air matanya yang ingin jatuh. Dia menarik tubuh anaknya dengan begitu eratnya. Mencium pipinya dengan begitu dalam. Dia harus mengingat semuanya. Xavier pun akhirnya berjongkok di dekat mereka. Dia juga memberikan pelukan hangatnya untuk Moira. Anali dan Robbie yang melihat itu hanya mengerutkan dahinya.


“Sekarang, pergilah. Mama dan Papa tidak akan membawa Moira ke Kota. Moira boleh tinggal bersama dengan Ibu dan Ayah,” kata Graciella gemetar mengatakannya. Tapi dia lebih tak bisa melihat tubuh anaknya gementar menahan rasa sedihnya karena mereka ingin membawanya. Moira tampak sedikit bingung, tapi begitu, cahaya kebahagiaan tampak di matanya.


“Mama dan Papa akan sering datang untuk melihat Moira,” ujar Xavier yang memang sudah tahu keputusan ini akan diambil oleh Graciella.


“Janji ya!” ujar Moira memberikan kelingkingnya pada Graciella dan Xavier. Wajahnya yang tidak pernah tersenyum dari dia membuka mata, akhirnya berhiaskan senyuman.


“Mama berjanji,” ujar Graciella mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kecil Moira. Senang sekali melihat senyuman itu. Ternyata benar, yang terpenting adalah kebahagiaan putri kecilnya ini.


“Papa berjanji,” ujar Xavier juga melakukan yang sama dan tersenyum. Moira tampak begitu senang.


“Sekarang, ayo, Ibu sudah menunggumu,” bisik Graciella. Moira mengangguk pelan dan dengan tanpa ragu Moira segera berlari ke arah Anali yang tampak terkejut tapi langsung menyambut anak semata wayangnya dengan sangat haru. Dia bahkan tanpa kesusahan langsung menggendongnya. Ronnie pun tampak tak bisa menutupi harunya. Dia bahkan berulang kali membungkuk berterima kasih untuk Xavier dan juga Graciella. Seolah begitu lega, mereka tidak jadi kehilangan anak mereka.


Xavier merangkul tubuh Graciella. Lalu mengelus lembut bahu Graciella lembut. Dia melirik ibu dari anaknya dengan tatapan sendunya. Tahu ini adalah keputusan berat bagi Garciella, tapi dia tahu ini adalah yang terbaik. Graciella mengangguk pelan dengan senyuman tipis yang mewarnai wajahnya.


Graciella melihat Moira yang memberikan lambaian tangan dengan penuh semangat dan senyuman mengantarkan mereka sebelum mobil itu akhirnya benar-benar melaju. Graciella bahkan sampai melihat ke belakang dari kaca jendela mobil hanya untuk memberikan lambaian tangan hingga akhirnya sosok kecil itu tidak lagi dilihatnya.


Graciella menarik napasnya. Melihat ke arah Monica yang memberikannya sehelai sapu tangan karena air matanya yang turun begitu saja. Pastinya sangat susah melepaskan putri kandungmu untuk tetap tinggal dengan orang tua angkatnya. Tapi Graciella berpikir akan lebih susah melihat anaknya sedih sepanjang waktu.


Dan bukankah begitu kejam jika tiba-tiba mereka yang tak pernah datang dalam kehidupan Moira selama ini, merampasnya begitu saja dari orang-orang yang mungkin mengerahkan semua daya kemampuan mereka untuk melimpahkan kasih sayang bagi Moira. Graciella dan Xavier mungkin bisa dengan mudah jika ingin melihat Moira nantinya, tapi bagaimana dengan Anali dan Robbie yang bahkan hidup dengan begitu sederhananya.


Kerena itu, semalaman, Graciella sudah berpikir. Mungkin lebih baik membiarkan Moira menentukan di mana kebahagiaannya. Karena belum tentu dia akan bahagia bersama Graciella dan Xavier, walau sebenarnya mereka adalah ibu dan ayah kandungnya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Xavier yang melihat Graciella hanya termenung terdiam. Xavier memegang tangan Graciella dengan lembut. Graciella segera tersenyum. Rasanya ada yang hilang, tapi dia rasa akan secepatnya terbiasa. Bukannya 2 hari yang lalu pun Moira tidak ada bersama mereka, bedanya sekarang mereka tidak lagi menerka-nerka di mana keberadaannya dan akan merasa lebih tenang karena tahu bagaimana keadaannya.


“Tidak apa-apa,” ujar Graciella tersenyum. Xavier lega melihat senyuman itu. Dia kira akan lebih lama melihat senyuman Graciella.


“Tidurlah, perjalanan kita masih panjang,” kata Xavier. Kali ini mereka pulang dengan mobil, perjalanannya akan memakan waktu lebih dari enam jam.


“Nanti, carilah waktu agar kita bisa menemuinya lagi,” ujar Graciella menatap Xavier.


“Pasti, aku akan selalu mengusahkannya,” ujar Xavier dengan tegas.


“Jangan hanya itu. Cepat cari waktu untuk menikah. Kalian ingin menunggu adik Moira lahir dulu baru meresmikan hubungan?” tanya Monica yang duduk di belakang mereka.


Graciella baru ingat tentang itu. Dia lupa bahwa dia harus mengatakan yang sebenarnya bahwa sepertinya Liliana salah melihat testpack.


“Eh, tentang itu … Eh, sepertinya ada kesalahan,” ujar Graciella yang membuat wajah Monica dan Xavier langsung berkerut.


“Kesalahan apa?” tanya Xavier.


“Jadi, sebenarnya saat Nenek masuk ke dalam kamar mandi. Aku memang membuat testpack ke tong sampah, tapi … aku membuang testpack yang sama sekali belum aku gunakan. Jadi sepertinya Nenek menemukan testpack yang lain yang mungkin sudah digunakan wanita lain dan hasilnya positif,” kata Graciella dengan wajahnya yang tersenyum sungkan.


“Jadi?” tanya Monica.


“Jadi, ehm, aku tidak hamil,” ujar Graciella menggigit bibirnya.


Monica memandang Graciella dengan sedikit kerutan di wajahnya. Merasa untung saja kesalahpahaman ini tercipta. Jika tidak, mungkin saja matanya tidak terbuka tentang bagaimana Graciella sebenarnya dan hubungannya dengan Xavier.


“Tapi tetap saja, tidak hamil bukan alasan kalian untuk tidak menikah. Graciella, setelah ini kita akan menyusun semuanya. Pernikahan untuk wanita harus sesuai dengan keinginannya. Xavier, kau hanya harus menyediakan waktumu,” ujar Monica yang seperti tidak bisa dibantah.


Graciella dan Xavier yang duduk bersampingan di dalam mobil Alpard itu saling memandang. Graciella hanya tersenyum tipis diikuti oleh Xavier yang menaikkan sudut bibirnya.


“Baiklah Ibu,” kata Graciella.