
Graciella hanya menatap pria itu dengan penuh arti, tapi tatapan itu malah membuat Adrean merasakan rasa ngeri yang sangat. Apalagi tiba-tiba Graciella tersenyum dengan bibirnya yang biasanya berwarna merah muda, sekarang terlihat memutih memucat.
“Graciella, tolonglah! Jangan lakukan ini, aku berjanji aku akan memberikanmu kebahagiaan. Berikan aku kesempatan lagi Graciella. Kali ini aku akan memperlakukanmu dengan baik. Izinkan aku memperbaiki semua kesalahanku padamu Graciella!” ujar Adrean yang perlahan-lahan mendekati Graciella yang terus menatap ke arahnya. Adrean takut jika dia terburu-buru Graciella malah nekat untuk melompat.
“Adrean,” suara lemah Graciella terdengar.
“Ya, ya, ada apa Graciella?” tanya Adrean buru-buru. Suaranya seolah merayu Graciella. Seolah seorang ayah yang menjawab perkataan putrinya.
“Aku berharap di kehidupan selanjutnya, aku dan Moira tidak akan lagi punya jodoh denganmu,” ujar Graciella dengan senyumannya. Adrean jadi yakin Moira sudah meninggal. Begitu juga Laura dan Stevan juga Daren yang sudah tiba di sana.
Adrean membesarkan matanya. “Graciella, jangan! Graciella! Tolong jangan melompat, izinkan aku menebus semua kesalahanku padamu! Tolong tetap lah hidup!” ujar Adrean sambil perlahan bersujut di depan Graciella. Saat ini dia begitu cemas. Baru kali ini dalam hidupnya dia begitu takut kehilangan. Dia tidak ingin kehilangan Graciella. Tiga hari saja tanpa tahu kabar wanita ini dia benar-benar cemas hingga tidak bisa tidur. Bagaimana lagi dia bisa menerima kematian wanita ini yang bahkan terjadi di depan matanya. “Graciella! Aku mohon padamu! Tetaplah hidup! Aku akan melakukan apapun untuk membuat mu bahagia, walaupun kau menyuruhku untuk menjauhimu, akan aku lakukan asalkan kau tetap hidup, aku akan menjauhimu! aku janji!” pinta Adrean diantara sujutnya, matanya memerah, bukan karena emosi seperti biasanya, kali ini memerah karena menahan tangisnya yang ternyata tetap saja tidak bisa dia tahan. Air matanya lolos begitu saja. Seumur hidupnya baru kali ini dia menangis untuk seorang wanita. Rasa sakit ini benar-benar menyiksanya.
Laura, Daren dan juga Stevan juga sudah tiba di sana. Mereka tentu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Adrean yang mencoba menghalangi Graciella. Tak pernah membayangkan mereka akan bersimpati melihat usaha Adrean. Kali ini mereka yakin Adrean begitu tulus pada Greciella.
“Graciella, jangan begitu. Apa kau ingin meninggalkan aku?” Laura juga mencoba untuk menghalangi langkah Graciella.
Senyum Graciella pupus melihat wajah Laura. Tentu satu-satunya orang yang akan dia rindukan adalah Laura. Tapi itu tidak cukup untuk membuatnya tetap bisa bertahan di dunia seperti ini. Dunia yang penuh penderitaan baginya.
“Hiduplah yang baik,” ujar Graciella sebelum matanya berpindah pada Stevan yang tampak cemas dan juga Daren di sebelahnya.
Graciella mencondongkan tubuhnya. Perlahan dia menjatuhkan dirinya ke arah sungai yang berarus deras itu,
“GRACIELLA!!!” Adrean langsung terlonjak berdiri melihat tubuh Graciella yang mulai jatuh ke bawah. Semua orang yang ada di sana pun berteriak melihat Graciella yang tetap nekat menjatuhkan dirinya ke sungai deras itu.
Adrean langsung mencoba untuk menangkap tubuh Graciella, begitu juga Stevan dan Daren yang segera menuju pembatas tempat Graciella berdiri tadi. Tapi tubuh Graciella sudah tercebur ke dalam air yang langsung melahapnya.
Stevan dan Daren benar-benar kaget dengan hal itu. Stevan segera melihat ke arah sungai itu, sedangkan Daren segera memanggil para keamanan.
“Panggil tim penyelamat!” ujar Daren segera.
Adrean tidak menunggu lama, begitu dia tidak bisa lagi melihat tubuh Graciella dengan cepat dia membuka jasnya. Dia langsung ingin melompat untuk menyelamatkan Graciella. Dia tidak rela, dia tidak bisa, hidup tanpa melihat hembusan napas Graciella.
“Adrean! Jangan!” ujar Stevan yang tahu Adrean akan melompat.
“Lepaskan aku!” ujar Adrean langsung melayangkan pukulan pada Stevan. Saat Stevan sedang terhuyung jatuh karena pukulan dari Adrean. Adrean tanpa pikir panjang langsung melompat masuk ke dalam sungai itu. Semua orang langsung berteriak melihat kelakuan Adrean. Daren yang tidak tahu Adrean sudah melompat tampak kaget. Dia sampai memegangi kepalanya. Satu lagi orang yang harus dia temukan.
“Bagaimana ini?” tanya Daren pada Stevan yang hanya melihat ke arah sungai yang bergejolak.
“Kita harus menemukan mereka berdua,” ujar Stevan yang tidak melihat tubuh Graciella maupun Adrean.
...****************...
Graciella langsung mencari ke segala arah. Dia baru sadar dia berdiri di sebuah ruangan yang seluruh tempatnya bercat putih dan bercahaya temaram.
“Mama?” suara itu terdengar lagi. Graciella kembali melihat ke segala arah. Tapi dia tidak melihat Moira sama sekali.
“Moira!! Moira?” ujar Graciella pergi ke arah yang dia anggap ada Moira.
“Mama?”
Graciella membalikkan tubuhnya yang langsung mendapati Moira sedang berdiri di belakangnya. Moira langsung tersenyum begitu lucu melihat ibunya. Graciella langsung membesarkan matanya dan memeluk tubuh kecil anaknya yang tercium begitu harum. Air mata Graciella langsung turun. Akhirnya dia bisa memeluk kembali putrinya.
“Moira, maafkan mama! Mama tidak bisa menjaga Moira!” ujar Graciella dengan pelukannya yang begitu erat.
Moira menggeleng pelan, Graciella melepaskan pelukannya dan melihat ke arah wajah anaknya yang begitu berbinar. “Moira, apa moira sakit? Mana yang sakit sayang?” tanya Graciella.
“Moira, tidak sakit. Moira senang di sini!” ujar Moira dengan gaya anak-anaknya yang ceria.
“Benarkah? Mama senang mendengarnya. Mulai sekarang kita akan selalu bahagia, kita akan selalu bersama di sini ya sayang,” ujar Graciella dengan sangat semangat.
Tapi wajah Moira yang tadinya tersenyum menjadi sedikit mengerut. Dia lalu memandang Graciella dengan tatapan seolah dia murung.
“Kenapa?” tanya Graciella, tadi Moira sangat terlihat bahagia. Kenapa tiba-tiba menjadi murung?
Moira menggelengkan kepala, dia lalu memegang kedua pipi Graciella, tangan Moira itu terasa begitu dingin di pipi Graciella. “Mama belum boleh ada di sini, Mama harus pulang, nanti kalau sudah waktunya kita akan ketemu lagi,” ujar Moira seolah memberikan nasihat pada Graciella.
“Tidak! Mama hanya ingin bersama Moira!” kata Graciella yang menggeleng kuat. Kenapa malah Moira mengatakan seperti itu?
“Tidak boleh! Mama tidak boleh di sini sekarang, kalau mama di sini sekarang, kita tidak akan bisa bersama, mereka akan membawa mama jauh sekali!” celoteh Moira pada Graciella.
“Tidak! Mama tidak bisa hidup tanpa Moira! Mama hanya ingin bersama Moira!” ujar Graciella. Dia tidak ingin jauh dari anaknya. Di dunia dia tidak bisa lama bersama dengan anaknya, masa di dunia ini pun dia tidak bisa bersama anaknya.
“Tidak, mama bisa! Ini belum waktunya! Mama lupakan Moira ya?” ujar Moira lagi dengan senyumanya.
“Tidak, tidak! Mama tidak akan melupakan Moira! Mama hanya ingin bersama dengan Moira. Biarkan mama tinggal di sini dengan Moira!” ujar Graciella dengan sangat sedih memohon pada Moira. Entah kenapa dia merasa harus memohon seperti itu.
“Tidak bisa, Mama, kita akan bertemu nanti. Mama, lupakan Moira, Moira bantu!” ujar Moira segera menekan dahi Graciella dengan ibu jarinya.
Seketika saja rasanya tubuh Graciella tertarik oleh sesuatu yang sangat kuat hingga dia dengan cepat meninggalkan tempat itu. Graciella menutup matanya karena merasa takut karena kecepatan yang sangat. Dan tiba-tiba dia tersentak dan seketika membuka matanya.