Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 180. Satu kabar duka, dua kabar gembira menggantikannya.


“Xavier, bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Monica. Dia langsung memeluk anaknya. Ingin juga mendapatkan pelukan hangat yang dia lihat tadi.


“Aduh,” ujar Xavier yang tampak kaget dengan rasa sakit yang tiba-tiba muncul. Tanpa sengaja Monica menyenggol luka di pinggang Xavier.


Melihat hal itu membuat Graciella tiba-tiba merasa seperti matanya terbuka. Dia selalu mencari apa yang salah dari video yang bahkan sudah dia ulang beberapa kali. Dan ternyata, jawabannya sangat mudah.


“Maafkan ibu, apa kau baik-baik saja?” tanya Monica panik. Keinginannya malah membuat anaknya kesakitan.


“Aku tidak apa-apa. Hanya kaget dengan tekanan di lukanya.” Xavier tampak sedikit meringis. Tekanan itu membuat lukanya berdenyut.


“Xavier, apakah mereka memperlakukanmu dengan baik?” tanya Liliana mendekati cucunya. Graciella mundur perlahan memberikan ruang keluarga ini untuk bercengkrama. Dia lalu mengambil laptop yang dia bawa.


“Tenang saja Nyonya Liliana. Mereka tidak boleh memperlakukan Jenderal Xavier dengan tidak baik. Mereka tidak boleh memberikan tekanan untuknya. Sekarang status Jenderal Xavier masih tersangka. Dia berhak diam dan tidak melakukan apa pun. Jika kita bisa menunjukkan bukti bahwa Jenderal Xavier tidak melakukan hal itu. Maka segala proses penyelidikan terhadap Jenderal Xavier tentang kasus ini akan segera dihentikan. Sekarang kita hanya butuh bukti bahwa pria yang melakukan ini bukanlah Jenderal Xavier,” ujar Jeremy itu segera menjelaskan semuanya. Xavier hanya memandang pria itu dan mengangguk. “Maaf, saya belum memperkenalkan diri. Saya Jeremy, saya adalah pengacara Anda.”


“Bagaimana jika dengan bukti ini?” tanya Graciella langsung. Akhirnya kepalanya yang dari tadi tidak bisa diajak kompromi bisa kembali bekerja dengan baik.


Semua orang yang ada di sana sedikit kaget dan segera melihat ke arah Graciella. Xavier menaikkan sudut bibirnya. Tentu saja dia tahu Graciella pasti bisa menemukan apa yang janggal dari video itu. Dia begitu yakin dan merasa tidak khawatir. Dia tak akan lama ditahan.


“Bukti apa?” tanya Jeremy. Dia sudah mempelajari kasus ini, tapi dia memang tidak terlalu mencari petunjuk karena itu adalah urusan dari penyidik. Dia sedang menunggu hasilnya dari mereka. Tapi wanita ini kenapa tiba-tiba ingin menunjukkan sebuah bukti.


“Ini,” ujar Graciella segera meletakkan laptopnya di depan meja agar semuanya bisa melihat. Dia segera memperlihatkan video CCTV yang dari tadi dia analisa.. “Lihatlah di detik ke empat puluh tujuh dari video ini. Sebelum menembak, pria itu bergumul dengan Tuan Robert. Jika kita perhatikan seksama dan memperlambat video ini, kita bisa melihat di detik itu Tuan Robert memukul pinggang pria itu. Itu juga terjadi di detik 50, dan di waktu satu menit lebih empat detik. Tangan Tuan Robert menarik baju pria yang diduga Xavier dan sejenak mengangkatnya. Tidak terlihat perban atau lukanya. Padahal jika itu adalah Xavier. Ada luka perban yang bahkan melingkar di seluruh perut dan pinggangnya,” ujar Graciella dengan wajah yang serius. Menjelaskan seperti dia biasa menjelaskan kasus.


Jeremy dan Xavier juga tampak serius melihat dan mendengar penjelasan dari Graciella. Monica dan Liliana yang juga mendengar hal itu hanya bisa menatap kebingungan. Mereka sudah melihatnya dengan seksama. Tapi mereka tidak melihat apa yang dilihat oleh Graciella. Semua gerakan di CCTV itu cepat. Hanya berselang beberapa detik dan menghilang. Untunglah ketika Graciella memperlambat video itu. Mereka akhirnya bisa melihatnya.


“Benarkah?” tanya Jeremy yang langsung melihat ke arah Xavier. Xavier langsung menaikkan pakaiannya yang sama persis yang digunakan oleh penembak itu. Dan apa yang dikatakan oleh Graciella benar adanya. perban terlihat melilit di pinggang Xavier. Jeremy mengerutkan dahi bagaimana wanita ini tahu itu.


“Walaupun Xavier mencoba untuk membuka perbannya dan menggunakannya kembali. Kita bisa buktikan bahwa ada luka besar yang membentang di sana. Dan pastinya akan terlihat ketika baju itu tersingkap. Bagaimana? bukannya ini bisa menjadi bukti sementara?” tanya Graciella melihat ke arah Jeremy yang langsung membesarkan matanya menatap ke arah Graciella. Dia lalu mengerutkan dahinya.


“Aku Graciella,” ujar Graciella yang bingung kenapa Jeremy malah bertanya dia siapa.


“Dia bekerja sebagai penyelidik swasta,” ujar Xavier yang segera memegang pundak Graciella. Jeremy melihat itu menandakan Xavier menunjukkan bahwa wanita ini adalah miliknya. Mungkin Xavier bisa melihat wajah kagum Jeremy hingga melakukan hal itu. Tentu saja kagum, belum pernah dia mendapatkan bukti secepat itu dan juga langsung dari kekasih kliennya.


Monica dan Liliana juga bingung. Monica hanya tahu bahwa Graciella dulunya adalah dokter. Tapi tidak tahu sekarang dia menjadi seorang penyidik seperti ini. Liliana semakin kagum dengan calon cucu menantunya ini. Dia memang tak pernah salah menilai seseorang.


“Bagaimana?” tanya Graciella lagi berharap. Semoga ini bisa membuat Xavier keluar dari penahanannya.


“Ya, tentu saja. Ini bisa jadi bukti yang kuat dan bukti awal untuk mengeluarkan Jenderal Xavier dari sini. Baiklah, aku akan mengurus semuanya, Anda akan segera keluar dari sini,” ujar Jeremy dengan senyumannya. Serasa tidak melakukan apa pun jika begini.


“Jika mereka butuh bukti yang lebih kuat lagi. Ambil sampel dari jejak kaki pelaku, di sini terlihat dia meninggalkan jejak kaki bukan? Samakan dengan hasil dari sepatuku. Seharusnya ada darah Tuan Robert di sana. Karena aku tidak sengaja menginjak darahnya saat penangkapan. Aku yakin di jejak itu tidak terdapat sampel darah Tuan Robert,” ujar Xavier lagi. Dia sudah memikirkan hal itu dari tadi malam. Tapi mencari, memeriksa dan juga menunggu hasil sampel itu pastilah butuh proses. Tapi itu adalah bukti yang paling kuat.


“Baiklah, aku akan menyampaikan itu pada tim yang menyelidiki kasus ini. Hanya sebagai bukti tambahan. Tapi aku yakin, Anda bisa keluar hanya dengan bukti ini,” ujar Jeremy dengan penuh percaya diri.


Mendengar itu semua langsung tampak bernapas lega. Graciella langsung tersenyum manis menatap ke arah Xavier yang hanya menaikkan sudut bibirnya. Graciella benar-benar wanita istimewanya. Tak salah dia rela melakukan apa pun untuk mendapatkan wanita ini.


Akhirnya, Xavier bisa keluar dari sini. Hanya itu yang ada di dalam pikiran Graciella. Untungnya dia akhirnya bisa mendapat petunjuk di sini walaupun dengan kepalanya yang sedang cukup sulit untuk diajak kompromi.


“Aku undur diri dulu dari sini. Aku harus segera menunjukkan bukti ini segera,” ujar Jeremy langsung ingin keluar dari ruangan itu. Xavier mempersilakannya dengan anggukan. Jeremy langsung segera pergi dari sana.


“Graciella, terima kasih! Aku benar-benar kaget ketika kau mengatakan kau punya bukti. Aku begitu senang kau bisa membuat Xavier keluar dari sini. Aku benar-benar tak salah membiarkanmu masuk. Ah! Nenek senang sekali!” ujar Liliana. Dia begitu senang melihat apa yang sudah dilakukan oleh Graciella. Dia sudah mengeluarkan cucu satu-satunya. Wanita ini memang sangat mengagumkan. Liliana segera ingin memeluk Graciella.


Graciella yang tadi duduk segera ingin berdiri untuk menyambut pelukan dari Liliana. Tentu tak sopan jika dia tidak berdiri. “Aduh jangan terlalu banyak berdiri, tidak akan baik untuk kandunganmu. Ah! Hari ini adalah hari baik untuk keluarga kita. Cucuku hari ini bebas dan aku akan segera mendapatkan cicit!” lonjak Liliana. Apalagi yang membuatnya tak bahagia. Satu kesedihan datang, dua kebahagian menggantikannya. Liliana langsung memeluk Graciella yang tampak tak mengerti dengan keadaan ini.


Graciella yang mendengar itu mengerutkan dahinya dengan tampang yang bingung dan kaget. Kandungan? Cicit? Graciella tak paham apa yang dikatakan oleh Liliana. Graciella lalu melihat ke arah Xavier yang dari tadi memang berdiri di belakangnya. Sama dengan wajah Graciella. Xavier juga bingung. Tapi dia hanya menatap dan menuntut jawaban pada Graciella. Graciella hanya mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu.